Novel berpotensi pilihan editor karena menulis novel dalam 1 bulan dengan cerita horor yang mengerikkan dan menggemaskan.
Konon misteri istri pertama Sultan, dipercaya bahwa nantinya pewaris takhta kerajaan bisnis akan kena kutukan. Pangeran Sepna adalah pewaris takhta kerajaan bisnis, adalah putra dari Sultan Sandi.
Bahwa barang siapa yang nantinya dijadikan istri pertama Pangeran, akan mengalami kematian saat malam pengantin yang disebabkan oleh misteri kutukan itu.
Pangeran oleh Ibunya dijodohkan dengan Rani Apriliani. Namun Ibu tirinya Rani, berniat jahat untuk menjodohkan Pangeran dengan Tina.
Dan terjadilah teror hantu wanita misterius yang selalu menampakkan rupanya pada Rani, Tina, dan juga Ibu tirinya Rani.
Lalu siapakah yang akan dinikahi Pangeran?
Diantara Rani dan Tina, siapakah yang cintanya tulus pada Pangeran?
Kisah ceritanya membuat penasaran dan endingnya gak ketebak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irwan Aboy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Sinta bermimpi buruk bertemu sosok wanita hantu
Rani tertidur pulas, hingga tidak bermimpi buruk lagi lantaran dia sebelum tidur berdoa dulu. Sedangkan Ibu tirinya, malah bermimpi buruk bertemu dengan sosok wanita misterius.
“Kamu beraninya, merelakan anak tirimu sendiri untuk menikah dengan, Pangeran!” ucap Wanita Misterius itu, seraya datang menghampiri Ibu Sinta yang sedang duduk santai di ayunan taman istana.
“Siapa engkau ini, saya tidak mengenalimu?” tanya Ibu Sinta dengan ekspresi wajah yang bingung.
“Itu tidak penting, memang jelas kamu Ibu tiri yang tidak berperi kemanusian! Anak tirimu, dia anak yang baik mau menerima konsekuensi menikah dengan, Pangeran! Sedangkan anak kandungmu, tidak mau di nikahi Pangeran untuk di jadikannya istri pertama!” jawab Wanita Misterius itu.
“Ya jelas tidak maulah, anak kandungku bernama Tina ... di jadikan istri pertama Pangeran karena saat malam pengantin nanti, Tina akan mengalami kematian secara misterius yang disebabkan oleh misteri kutukan itu!" ucap Ibu Sinta.
"Lagi pula, anak tiriku bernama Rani ... sudah siap mau menerima konsekuensinya. Karena dia sudah terlanjur cinta dengan Pangeran Sepna, hingga dia tidak akan mundur dalam menjalani pernikahannya itu!” jawab Ibu Sinta dengan memberikan senyuman yang sinis pada wanita misterius itu.
“Dasar Ibu tiri yang jahat ... kamu dan juga anakmu ingin menjadi bagian dari keluarga Pangeran, hanya karena ingin takhta kekuasaan dan harta benda. Maka lihatlah wujud asliku ini!” ungkap Wanita Misterius itu, yang menampakkan rupanya menjadi sosok hantu dengan wajah menyeramkan.
Dan kedua tangannya itu mengeluarkan darah hingga membuat Ibu Sinta ketakutan.
“Ah ... kamu bukan manusia tapi hantu. Justru kamu hantu yang jahat! Pergi sana jauh-jauh dariku!” jawab Ibu Sinta seraya menjerit histeris karena takut dan kedua kakinya tidak bisa di gerakan hingga dia tidak bisa berdiri, hanya bisa terdiam duduk di ayunan taman istana.
Sampai-sampai Ibu Sinta terbangun dari mimpi tidurnya dan menjerit meminta bantuan pertolongan. Hingga membuat Tina terbangun dari tidurnya, karena mendengar rintihan suara Ibunya yang menjerit ketakutan.
“Kenapa, Bunda? Jangan ngaco, Bun! Bunda mimpi buruk ya, tenang ada Tina disini!” ucap Tina seraya memegang tangan kanan Ibunya dan menenangkan hati Ibunya.
Ibu Sinta membukakan kedua kelopak matanya dan bangun dari tidurnya seraya berkata, “Bunda takut Tina, karena bermimpi buruk bertemu dengan sosok wanita hantu ... yang menampakkan wujud aslinya menyeramkan!”
Tina berusaha menenangkan hati Ibunya, seraya mengatakan, “Tenang Bunda, sekarang tidak usah takut ... kan Bunda sudah bangun dari mimpi tidurnya dan ada Tina disini yang akan menemani terus. Saat Bunda beristirahat tidur siang dan tidur malam!”
“Terima kasih Tina, anak gadisku yang calak (cantik). Bunda haus nih, tolong ambilkan minum ya!” ucap Ibu Sinta dengan ekspresi wajahnya masih takut dan mengeluarkan keringat dingin dari wajah hingga lehernya.
“Baik tunggu sebentar ya, Bunda! Tina ke dapur dulu bawakan air minum!” jawab Tina seraya berdiri dari kasur yang empuk, berjalan untuk membuka pintu kamar dan langsung berjalan cepat menuju dapur.
Didalam kamar Ibu Sinta masih merasa ketakutan sampai pandangan matanya melamun melihat ke kaca jendela kamar, seketika ada bayangan sosok wanita yang memberikan senyuman sinis kepadanya. Sehingga Ibu Sinta saat melihatnya langsung menjerit histeris karena ketakutan.
Spontan sosok wanita hantu itu, menghilang dari kaca jendela kamar. Tina dari arah dapur, dia membawa segelas air putih seraya berjalan cepat menuju kamar tamu istana.
Saat masuk ke kamar, Tina sungguh terkejut melihat Ibunya menjerit ketakutan.
“Kenapa, Bun? Ini Tina, sudah ambilkan minum untuk, Bunda!” ucap Tina seraya memberikan air minum ke Ibunya yang terbaring di kasur.
“Ah Tina, Bunda takut melihat sosok hantu wanita itu ... dia memberikan senyuman sinis pada, Bunda!” jawab Ibu Sinta dengan ekspresi wajahnya ketakutan.
“Mana tidak ada, Bun? Coba Bunda minum dulu!” pungkas Tina dengan bulu kuduknya merinding.
“Barusan benar, Bunda melihatnya di jendela itu!” ungkap Ibu Sinta seraya memegang gelas yang terisi air dan meminumnya.
“Mungkin Bunda, melamun barang kali ya! Sudah tidak usah takut, kan ada Tina disini!" jawab Tina dengan berusaha menenangkan hati Ibunya.
“Bunda tidak berbohong Tina dan benar Bunda melamun, makanya melihat penampakan itu!” ucap Ibu Sinta dengan tangannya gemetar.
“Ya sudah Bunda, jangan khawatir! Tina cek ya, lihat ke kaca jendela!” pungkas Tina seraya berdiri dari kasur dan berjalan ke jendela kamar untuk memastikan kalau sosok wanita hantu itu memang sudah tidak ada.
Siapa sangka, saat melihat ke kaca jendela kamar memang sudah tiada bayangan sosok hantu itu. Namun saat Tina membukakan kaca jendela, dia melihat bayangan sosok hantu itu, dengan terbang secepat kilat.
Tina pun terkejut, saat melihat penampakan itu, segera dia menutup kembali kaca jendela dan menutupnya dengan tirai.
Saat melihat jam dinding di kamar tamu, ternyata sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Tina berpura-pura kalau ia tidak melihat bayangan hantu itu, malah mengabarkan kalau hantu yang dilihat Ibunya tidak benar adanya.
“Tidak ada Bunda hantu itu, ayo kita keluar kamar karena waktunya makan malam! Mungkin Pangeran dan Ibu Kintan ... sudah menunggu kita di ruang makan!” ucap Tina seraya dia berjalan menuju Ibunya yang terbaring di kasur dan menuntunnya untuk berdiri dari tempat tidur.
***
Mereka berdua langsung berjalan ke pintu kamar dan Tina menutup pintu. Untuk segera bergegas menuju ruang makan. Ternyata benar, Ibu Kintan dan Pangeran sudah menunggu kedatangan mereka untuk segera makan malam bersama.
“Eh Ibu Sinta dan Tina, akhirnya datang juga kesini! Barusan saya, mau bangunkan kalian berdua di kamar tamu!” ucap Ibu Kintan dengan memberikan senyuman pada mereka berdua.
“Oh iya terima kasih, Ibu Sinta! Ngomong-ngomong, Rani kemana ya?” tanya Tina dengan membalas senyuman Ibu Kintan dan segera Tina duduk di kursi ruang makan.
“Sama-sama Tina, Rani sedang di dapur membantu Ibu Kintan masak!” pungkas Ibu Kintan.
Ibu Sinta pun, duduk di samping dengan anaknya dan tidak menceritakan soal kejadian mimpi buruknya. Tak lama datanglah Rani dari dapur, dengan dia membawa piring untuk makan malam bersama.
Rani segera menyimpan piring di meja makan, lalu dia menuangkan air teh dari teko untuk di tuangkan ke dalam cangkir yang kosong dan memberikannya air minum kepada mereka.
Akhirnya, mereka makan malam bersama dengan bersuka ria dan setelah makan mereka segera pergi berjalan menuju ke ruang keluarga untuk menonton televisi.
Tak terasa sudah, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan mereka mulai mengantuk. Lalu, mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk segera tidur malam.