NovelToon NovelToon
One Sweet Day With You

One Sweet Day With You

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:138.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonAden119

Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.

Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.

Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.

Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Permintaan Hugo

“Kamu masih saja sama seperti yang dulu.” Lelaki di hadapan Ana itu tersenyum menatapnya, lalu dengan gerakan perlahan ia menggeser kotak tisu di depannya ke hadapan Ana. Mereka berdua tengah berada di sebuah kedai makan yang ada di pinggir jalan.

Ana menarik keluar beberapa lembar tisu dan mengusap mulutnya, lalu menoleh balas menatap pria muda yang duduk di sampingnya itu. “Menurutmu, Aku seperti apa dulu?”

Pria itu tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Ana, menarik napas sesaat sembari melipat satu tangan menyangga dagu di atas meja. “Selalu tampil apa adanya, dan tak pernah merasa malu untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Seperti sekarang, Kau tak ragu mengatakan padaku kalau Kau sedang lapar dan tak punya ongkos pulang.”

Ana meringis mendengarnya, ia mengalihkan pandangannya pada minuman segar berbahan utama serutan kelapa muda di depannya. “Aku pikir, Aku bisa menyembunyikan masalahku di hadapanmu dan berpura-pura tak terjadi apa-apa denganku.” Ana tertawa pelan. “Rey, Kau datang di saat yang tepat. Aku lapar, dan Aku tak punya ongkos pulang karena dompetku ketinggalan di tempat kerjaku.”

“Kalau begitu Kau harus berterima kasih padaku kali ini,” sahut Rey, lalu menukar gelas minum Ana yang sudah kosong dengan gelas miliknya yang masih terisi penuh.

“Terima kasih, Rey.” Ucap Ana tulus, dia senang dipertemukan kembali dengan pria itu. Pria yang pernah menjadi pengajar di tempatnya kursus memasak. “Senang bisa bertemu denganmu lagi.”

Rey memalingkan wajahnya sesaat, sorot mata tulus Ana membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tiga tahun sudah waktu berlalu, namun tetap saja rasa di hatinya pada wanita itu tak juga menghilang. “Aku dengar selentingan yang beredar di luar sana, Kau kembali ke rumah besar itu lagi untuk bekerja dengannya.”

Ana mengangguk, membenarkan. Ia lanjut bicara dengan nada santai. “Sebelumnya Aku datang untuk menghadiri acara pemakaman mantan papa mertuaku. Lalu minggu berikutnya Aku datang lagi sebagai seorang karyawan di rumah itu.”

“Cepat sekali waktu berubah. Kau pergi selama tiga tahun, lalu datang kembali tak lebih dari empat puluh delapan jam dan pergi lagi.” Rey menatap Ana lekat, ia butuh jawaban jujur Ana untuk meyakinkan hatinya lagi agar ia bisa benar-benar melupakan wanita itu dari hatinya. “Apa Kau masih mencintai pria itu? Itu sebabnya Kau mau kembali ke rumah itu dengan alasan bekerja untuknya?”

Ana hampir tersedak minumannya, pertanyaan Rey yang tiba-tiba membuatnya terkejut. Ia tatap lagi wajah pria itu dan tersadar kalau pandangan mata Rey masih saja sama seperti tiga tahun yang lalu.

“Kau sudah tahu jawabannya, dan Aku tak ingin membahasnya lagi.” Pungkas Ana dan segera bangkit dari kursinya. Sudah terlalu lama mereka bicara di sana. Perut Ana sudah kenyang, dan sudah waktunya ia harus kembali pulang sekarang.

“Kau jangan terlalu naif, Ana. Aku tahu pria macam apa yang sudah mengantarmu pulang barusan. Aku bukan remaja ingusan yang bisa kalian bodohi, Aku tahu dia menyukaimu dan sengaja ingin mendekatimu padahal dia tahu kalau Kau adalah istriku!”

Ana mengembuskan napas kasar, ucapan Hugo padanya malam itu kembali terngiang. Dan kejadian berikutnya membuat Ana menarik napas dalam. Mendadak tengkuknya mengencang, ia pijat perlahan dan Ana hampir terlonjak dari tempatnya begitu dirasakannya sentuhan lembut tangan seseorang menyentuh bahunya.

“Aku antar Kamu pulang sekarang,” kata Rey, ia berjalan terlebih dahulu menuju motornya yang terparkir di pinggir jalan.

“Rey!” panggil Ana kemudian, lelaki itu pun menoleh dan alisnya langsung bertaut heran melihat Ana berjalan ke arahnya dan tampak ragu-ragu saat ingin bicara padanya.

“Ada apa, Ana?”

“Ehm ... itu.” Ana menatap Rey, lalu menunjuk ke arah ponsel milik pria itu yang tampak menyembul keluar dari balik saku bajunya.

“Oh, ini.” Rey tersenyum senang, ia pikir Ana ingin meminta nomor ponselnya. Rey lalu mengambil ponselnya dan memberikannya pada Ana. “Simpan saja nomormu di ponsel Aku, biar sewaktu-waktu Aku bisa menghubungi nomormu lagi.”

“Bukan begitu maksudku, Rey.” Ana menggeleng, mendorong tangan Rey untuk menyimpan kembali ponsel miliknya. “Aku mau minta tolong sama Kamu, bisa gak pesankan taksi aja buat Aku? Jadi Kamu gak perlu antar Aku pulang.”

Satu jam kemudian Ana sudah tiba di rumah kembali, taksi yang mengantarnya pun sudah pergi beberapa menit yang lalu. Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan mendapati bik Ani tengah sibuk di dapur. Banyak macam buah terdapat di atas bak cucian piring ditambah lagi dengan bahan masakan mentah lain di atas meja.

Ana mencomot anggur yang sudah dicuci, menaruhnya di mangkuk dan melahapnya dengan cepat. Ia duduk di depan bik Ani yang tengah memilah sayuran dan membungkusnya rapi sebelum memasukannya ke dalam kulkas.

“Non, dari mana aja? Tuan sudah datang dari tadi, cari-cari Non tapi gak ada. Bibi kan taunya Non ke kantor, antar berkas.” Ucap bik Ani melihat kedatangan Ana, ia menepuk pelan tangan Ana yang berniat ingin membantunya. “Sudah sana temui tuan dulu!”

Ana mencebik, teringat peristiwa di resto tadi dan masih kesal dengan pria itu. Buru-buru ke kantornya, Ana jadi kelupaan dengan dompetnya. Tanpa diduga ia bertemu kembali dengan Rey, ditraktir makan dan menolak diantar pulang lalu pulang ke rumah kembali dengan menggunakan taksi.

“Tumben siang pulang,” sahut Ana tak jua beranjak dari duduknya. Masih asyik mencomot anggur di atas mangkuk dan memakannya.

“Tamunya gak jadi datang besok,” sahut bik Ani sambil lalu.

“Gak jadi? Terus bahan masakan sebanyak ini buat siapa?”

“Gak jadi besok, tapi malam ini datangnya. Makanya Bibi mau buru-buru masak buat nanti malam," sahut bik Ani.

“Waduh!” Ana kaget, itu artinya nanti malam ia akan bertemu lagi dengan duo julid anak dan mama.

“Ana, ke ruanganku sekarang!”

Belum hilang rasa terkejut Ana, tahu-tahu Hugo sudah berdiri di depan pintu dapur. Wajahnya tampak gusar dan menatap Ana dengan pandangan yang sulit diartikan. Bukan Ana saja yang terkejut, bik Ani bahkan sampai menjatuhkan sayuran di tangannya.

“Tuh kan, Non. Bibi bilang juga apa.” Bik Ani tampak cemas, tapi Ana hanya tersenyum menatapnya. “Tuan kelihatannya marah.”

“Bibi tenang saja, tuan Hugo gak mungkin marah. Lihat saja nanti, kalau itu terjadi dia pasti akan menyesalinya.” Kata Ana meyakinkan. Bik Ani hanya mengangguk meski tak paham dengan maksud ucapan Ana barusan.

Ana berjalan menuju ruang kerja Hugo, dilihatnya pintunya tertutup rapat. Ana menghela napas sebelum tangannya bergerak naik dan mengetuk pintu di depannya.

“Masuk!”

Ana melangkah masuk, dilihatnya Hugo berdiri di tengah-tengah ruangan dengan posisi membelakanginya. Ana menutup kembali pintu di belakangnya, ia baru saja hendak membuka mulut bertepatan saat Hugo berbalik dan langsung mencecarnya dengan berbagai ucapan yang membuat Ana terpancing emosinya.

“Aku kira Kau pulang karena ingin menepati janjimu pada bik Ani, tapi nyatanya perkiraanku itu salah.” Hugo menatapnya tajam, mereka berdiri saling berhadapan hanya berjarak beberapa meter saja.

“Aku memang berniat pulang menemui bik Ani,” jawab Ana, sejenak menghela napas lalu balas menatap Hugo. “Tapi niatku itu tertunda karena dompetku ketinggalan.”

Hugo bergerak mendekat, semakin dekat dan memangkas jarak di antara mereka. “Alasanmu saja!” Hugo mendekatkan wajahnya dan dengan suara berbisik ia melanjutkan ucapannya. “Kau pergi untuk menemui mantanmu itu dan lebih memilih untuk makan siang bersamanya.”

Ana mengerutkan bahu, mundur selangkah untuk menjaga tubuh agar tetap berjarak. Satu hal yang mengejutkannya, ia tak menyangka Hugo mengetahui pertemuannya dengan Rey kembali. “Aku bicara jujur, dompetku memang ketinggalan. Dan Aku tak sengaja bertemu dengan Rey di halte. Aku lapar dan tak punya ongkos pulang, dan Rey mentraktirku makan siang.”

“Kenapa Kau tidak kembali ke resto dan menemuiku? Kau juga bisa menghubungiku, tapi tidak Kau lakukan karena Kau begitu senang bertemu dengan pria itu lagi.”

“Sepertinya Tuan senang sekali melihat Aku ditertawakan oleh dua orang tamu wanita Tuan di resto tadi. Sekarang saja Aku bisa membayangkan apa yang akan mereka katakan saat melihat Aku kembali dan meminta bantuan pada Tuan.” Ana tertawa getir, ia memainkan buku jarinya sebelum kembali bicara. “Aku bertemu dengan Rey tanpa sengaja saat Aku berusaha menelepon bik Ani, tapi gak aktif. Dia menawarkan bantuan dan Aku menerimanya. Hanya itu, tidak lebih. Aku cukup tahu diri mana yang pantas Aku lakukan dan mana yang tidak pantas Aku lakukan.”

“Maaf! Aku tak bermaksud membuatmu merasa tak nyaman dengan pertemuan kita di resto tadi.”

Ana tersenyum tipis, “Aku hanya tak mengira mereka tahu soal rumah tangga kita dulu. Apa yang terjadi pada pernikahan kita waktu itu.” Ana menghela napas, lalu menatap Hugo lekat. “Aku merasa bodoh, merasa diri dipermalukan oleh orang yang bahkan baru pertama kali Aku temui tapi sepertinya tahu banyak masalah kita.”

“Livia dan mamanya akan menginap malam ini, Aku harap Kau tetap bersikap ramah pada mereka.”

Ana mencoba tersenyum, “Aku akan berusaha mematuhi perintah Tuan, karena biar bagaimana pun juga mereka adalah tamu di rumah ini.”

“Terima kasih atas pengertianmu, Ana. Aku sangat menghargainya,” ucap Hugo terlihat lega. “Oh, ya. Satu hal lagi. Selama Kau bekerja padaku, bisakah Kau tak bertemu dengan pria itu lagi?”

▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

1
Jetva
ini yg aq suka..ga perlu beranak pianak hingga ratusan episode..pe dek tp padat n sesuai tema..
Jetva
Ana kereeeen....biarkan dia tersiksa...udh dapat perawan tp marah krn merasa ditipu...ditipu juga tp balasanx lu dpt brg ori bukn bekasan...
Jetva
Hugo udh jatuh tp enggan mengakui klo dia terluk akibat jatuh☺☺☺..gengsi dipertahankan...entar ditinggal lagi bru kerasa...
Jetva
setelah tau cerita yg sebenarx..apakah Hugo masih membenci..??????
Bunga Cinta
Bagus bgt Karya mengandung kasih, sayang dan Cinta🌹❤️❤️❤️
Bunga Cinta
Terima kasih autor💕💕💕💕💕💕♥️
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹
Lenni Namora
Luar biasa
a57w
ceritanya bagus, tidak bertele-tele
Mba Wie
Luar biasa
Kadek Bella
smangat,, bagus ceritanya nggak bertele-tele,, trima kasih
Bunda
ikutan mampir Thor🙏🏻
Yulia
Luar biasa
reza indrayana
Mampir nich Thor ..., kisah yg menarik...👍🏻👍💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘
Kinara (Hiatus)
saran Thor : menurut sy agak aneh dg kata "hampir lupa". Karena itu merupakan syarat utama & Ana adl org terdekat Ibu pemilik cafe tsb. Seharusnya justru itu menjadi pembahasan utama di awal. Kan sdh merasa aneh dl, knp syaratnya Ana harus jd ART di tmp pemberi dana. Jd seharusnya itu dibahas di awal saat membicarakan dg Ana. Maaf ya Thor 🙏
Kim Ye Jin
semangat say 😚
Seo Ye Ji
Top dah, good luck say 😙👍👍👍
@yo jung shi💖
menyalah akakku ❣❣❣❣
MrsJuna
❣❣❣❣❣
Juna murat
Terbaik untukmu say 🥰🤗💝😚💖
captain Ri 👨‍✈️
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!