"Apa tidak ada cara lain Pak?, mungkin jika cacat di salah satu kaki dan tangan saya masih bisa menerimanya tapi ini tuli dan bisu, bagai mana saya bisa berkomunikasi dengannya?" ucap Frayogha yang tidak bisa mengerti dengan permintaan seorang pimpinan sebuah pondok pesantren yang memintanya menikahi putrinya yang tuli dan bisu, hanya karena dia ingin menghalalkan makanan yang telah dia makan.
Di paksa untuk menikahi seorang yang tidak dia kenal, dan katanya tuli juga bisu, rasanya jika menikahpun pernikahan mereka tidak akan lama atau mungkin sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Diah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yakin 100%
Sepanjang makan malam Yogja tak henti-hentinya melirik Ainur, rasanya masih saja penasaran, apakah Nurr itu orang yang sama dengan istrinya atau bukan.
Padahal semua bukti mengatakan dengan jelas jika Nur berbeda dengan Istrinya, Nur bisa bicara dan mendengar, warna bola matanya juga berbeda.
Bola mata Nur berwarna coklat sedangkan bola mata istrinya hitam pekat.
Ingin rasanya dia membuka cadar gadis yang bernama Nur ini, agar dia yakin 100% persen jika mereka berbeda.
Sementara Ainur yang tahu jika dirinya terus di perhatikan, merasa jika makanan yang masuk kedalam mulutnya semakin lama semakin sulit untuk di telan.
"Kenapa dia terus merhatiin aku? apa dia curiga?, tapi rasanya tidak mungkin" ucap Ainur yang yakin, jika Yogha tidak akan menemukan kesamaan dirinya yang sekarang dengan dirinya yang dulu.
"Gha!!, kamu itu kalau makan liatnya ke piring!! bukan ke muka orang, kasihan Nurr pasti risih jika terus di tatap seperti itu". ucap Bu Fatma yang merasa kasihan pada Nurr, yang terus mendapat tatapan tidak bersahabat dari Yogha
"Iya, kamu itu Gha, kalau terus kaya gitu, kamu bisa beneran suka sama Nur, karena cinta itu berawal dari mata". ucap Pak Agung menimpali ucapan bu Fatma.
"Cih!! siapa juga yang liatin dia". Elak Yogha yang tak mau mengaku, padahal sejak mereka makan matanya tak berhenti melirik Ainur.
"Ya sudah terserah kamu, yang penting jangan sampai kamu nyakitin dia, mamah gak rela".
"Yang anak kalian itu aku atau dia? kenapa dari tadi kalian belain dia terus". Ucap Yogha, sambil memasang wajah cemberut.
"Ya Kamu lah!! tapi kalau Nur nikah sama kamu Nur juga akan jadi anak kami, iyakan mah??"
"Ohok, ohok, ohok"
Ainur tersedak, gara-gara mendengar ucapan pak Agung, rasa panas dan perih menjalar di area hidung, telinga dan tenggorokannya, Ainur terus berdehem agar bisa menghilangkan rasa perih tersebut.
Bu Fatma yang melihat Ainur tersedak langsung mrnyodorkan minum dan Ainur langsung mengambil Air tersebut dan meminumnya.
"Terimakasih Bu" ucap Ainur tulus dari dalam hati.
"Kenapa? gak hati-hati!! " ucap Bu Fatma sambil terus menepuk-nepuk punggung Ainur.
Sementara Yogha yang melihat Ainur tersedak, bukan merasa kasihan atau khawatir, dia justru berharap jika cadar Ainur terlepas, karena gerakan yang di buat Ainur bisa saja membuat cadarnya terlepas.
Namun sayang sampai Ainur kembali membaik cadarnya tidak berubah sedikitpun.
"Sial !!!, aku harus cari cara agar cadarnya terlepas tanpa di sengaja". batin Yogha yang sangat berharap jika cadar itu terlepas.
***
Pagi tepatnya pukul 04.30, Yogha sudah menggedor kamar yang di gunakan Ainur dan hal itu membuat Bu Fatma berteriak di bawah sana.
"FRAYOGHA...."
Namun Yogha menulikan pendengarannya dan dia terus menggedor pintu kamar Ainur, seperti seorang penagih hutang.
Bu Fatma yang kesal langsung naik ke lantai 02, dan dia langsung menjewer telinga Yogha dengan sangat keras.
"Aduh... sakit mah". ucap Yogha sambil menahan sakit saking kerasnya jeweran sang mamah, dan bertepatan dengan hal itu pintu kamar Ainur terbuka.
Ainur yang melihat kejadian itu langsung tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.
"Mamah!! lepasin malu". mohon Yogha karena saat ini harga dirinya terasa di injak-injak karena dijewer di depan Ainur.
"PUNYA MALU JUGA KAMU??". ucap Bu Fatma masih kesal tapi dia langsung melepaskan jewerannya.
Ainur yang tak tahan ingin bicara berkata "Ya ampun.. udah tua juga, masih saja harus di jewer, kaya bocah saja".
Yogha yang merasa malu sangat malu, langsung turun tanpa mau mendengarkan ucapan Ainur lebih jauh lagi.
"Mamah kalau jewer aku, lihat kondisi dan situasi, kalau begini mau ditaruh di mana muka aku" ucap Yogha pada sang mamah yang ada di belakangnya
Ainur yang di tinggal langsung menyusul dan berkata "Eh.. mas, tadi gedor pintu mau ngapain?".
"Bangunin kamu, takut kamu belum bangun". ucap Yogha beralasan padahal niatnya ingin membuat Ainur tidak nyaman tinggal di rumahnya.
"Ya ampun..., perhatian sekali mas Yogha ini mau bangunin aku, terimakasih" ucap Ainur berpura- pura senang, padahal tadi gara-gara Yogha dia hampir keluar kamar tanpa lensa mata juga cadarnya.
Yogha menatap Ainur heran, heran kenapa ada orang sejenis Ainur yang tidak marah justru senang saat pintu kamarnya di gedor seperti tadi.