NovelToon NovelToon
Pernikahan Impian

Pernikahan Impian

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Dia menikah, semata-mata hanya untuk terbebas dari siksaan keluarga. Namun, nyatanya, semua itu tidak sesuai harapan. Pernikahan dini yang dipaksakan, bukanlah pernikahan impiannya.

Seiring berjalannya waktu, semua perlahan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Baru

Perjalanan menuju kehidupan baru telah dimulai. Debar jantung tak terkendali, bertalu-talu memukul rongga yang mengurungnya. Rasa cemas perlahan hadir, tentang nasib diri yang akan dijalani. Akankah lebih indah, atau justru lebih buruk.

Helaan napas berkali-kali dihembuskan untuk mengurangi rasa gelisah yang mendera. Namun, tetap saja sesak ikut merundung, menghimpit segumpal daging dalam dada. Resah dan takut adalah hal wajar terjadi pada hati manusia dikala memikirkan tentang masa depan. Sesuatu yang akan datang yang tak dapat diprediksi dengan impian juga keinginan.

"Kenapa? Kamu terlihat gelisah," tanya Sandi setelah menelisik wajah sang istri juga helaan napasnya yang berkali-kali. Diraihnya tangan Wulan, ia genggam dengan lembut untuk menenangkan.

Gadis itu menunduk, mengusap wajah sebelum mendongak bertatap dengan kedua manik hangat sang suami. Ia tersenyum menyembunyikan segala resah yang melanda hati juga pikiran.

"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan keluarga baruku," jawab Wulan yang segera berpaling menghindari selidik mata Sandi. Tak sanggup rasanya berlama-lama saling menatap, manik itu amat menenggelamkan membuatnya hanyut ke alam bawah sadar.

"Lalu, kamu mau bagaimana?" tanya Sandi amat mengerti perasaan sang istri.

"Siapa saja yang tinggal di rumah Mas?" tanya Wulan lirih, perlahan ia menoleh bersitatap dengan manik sang suami.

Kegelisahan yang memancar jelas terlihat oleh mata Sandi, ia tersenyum memaklumi.

"Ada ibuku, juga Kakak dan suaminya. Memangnya kenapa?" ucap Sandi.

Perlakuan keluarganya pastilah membuat Wulan trauma. Kasihan istriku ini, aku tidak akan memaksa jika ia tak ingin tinggal di rumahku.

"Mmm ... tidak apa-apa. Aku ... aku hanya takut," lirih Wulan terbata sembari menoleh ke sisi yang lain.

"Jika Nona belum siap tinggal di rumah Tuan, tinggal saja di rumah kosong saya. Bagaimana, Tuan?" ujar sang supir mengerti betul kondisi perasaan Wulan yang pastinya mengalami trauma tentang sebuah keluarga.

"Bagaimana? Apa kamu tidak masalah?" Sandi balik bertanya kepada Wulan, rumah yang dimaksud supir tadi adalah rumah yang dulu ditempati anaknya dan kini kosong karena ia telah meninggal dalam kecelakaan.

"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan sama sekali," sahut Wulan dengan yakin. Seperti apapun rumah yang akan mereka tempati, sama sekali tidak masalah untuk Wulan.

"Tapi aku ingin mengajakmu sesekali menginap di rumah Ibu, bagaimana? Tidak masalah, bukan?" Sandi kembali bertanya karena bagaimana pun Wulan harus terbiasa dengan keluarganya.

Wulan menggelengkan kepala, tinggal berdua itu lebih baik baginya dari pada harus berkumpul dengan keluarga besar yang selalu membuatnya merasa takut. Takut akan perlakuan semua orang terlebih keluarga Sandi masih asing baginya.

"Tidak masalah, tidak mungkin aku melarang Mas untuk pulang ke rumah orang tua sendiri," jawab Wulan sambil tersenyum.

Sandi turut tersenyum, menghadapkan pandangan ke depan. Sejak kecelakaan itu, Sandi belum pernah jauh dari keluarganya. Sekarang, dia memiliki Wulan yang diyakini akan merawatnya dengan baik dan sepenuh hati.

"Ada satu masalah lagi yang ingin aku katakan padamu, Wulan," ujar Sandi setelah beberapa saat keduanya saling membisu.

Wulan menoleh, menelisik wajah datar suaminya yang berpura-pura gelisah.

"Ya, apa?"

Sandi diam cukup lama, mengundang debar dalam dada Wulan. Masalah apa yang sebenarnya ingin disampaikan Sandi. Wulan diam menunggu, pandangannya berfokus pada garis wajah Sandi yang mengeras.

"Kamu tahu kondisiku seperti ini, aku kesulitan untuk bekerja mencari uang. Hidup denganku tidak akan membuat kamu berubah karena aku tidak bisa memanjakanmu dengan uang. Aku akan bekerja, tapi aku tidak bisa menjanjikan kamu uang yang banyak. Apa itu masalah bagimu?" ungkap Sandi menoleh perlahan pada Wulan yang mendengarkan dengan begitu khusyuk.

Lama mereka saling mengunci tatapan satu sama lain, menyelami setiap rasa yang tersirat dari manik masing-masing. Sandi meneguk ludah, menanti jawaban Wulan membuat jantungnya kembang kempis gelisah. Lalu, senyum itu terbit dari bibir sang istri. Menampakkan lesung di pipi juga ketulusan yang tiada bertepi.

"Uang bisa kita cari sama-sama, tapi ketenangan hidup hanya kita yang menentukan. Sudah bisa keluar saja dari rumah itu aku sudah sangat bersyukur," ucap Wulan menengadah menatap langit-langit mobil dengan wajah penuh kelegaan.

"Apa kamu pernah berniat untuk pergi?" tanya Sandi penasaran karena seseorang tidak akan mungkin tetap tinggal di rumah seperti neraka itu.

Wulan menghela napas, beberapa kali dia melarikan diri dari rumah tetap saja Susi dapat menemukannya.

"Sudah beberapa kali aku melarikan diri, tapi entah bagaimana mamah Susi selalu bisa menemukan aku," jawab Wulan diakhiri helaan napasnya yang berat.

Ia menunduk, menatap tautan jemari mereka. Terbayang saat dirinya bersembunyi di sebuah bangunan terbengkalai, Susi selalu bisa menemukannya. Menyeret dengan paksa tanpa ampun, setelah tiba di rumah kurungan di gudang tanpa makan dan minum pun dia dapatkan.

Pernah juga dia berlari ke hutan dan bersembunyi di sana. Namun, orang-orang yang diutus Susi tetap bisa menemukannya. Wulan merasa tak ada lagi tempat bersembunyi untuknya. Maka pernikahan ini dia terima dengan harapan dapat keluar dari rumah itu.

"Sudahlah, jangan diingat-ingat lagi. Mereka tidak akan bisa lagi mengusik kehidupanmu. Siapapun orang yang membuatmu tidak merasa nyaman, aku akan berusaha menjauhkannya," ucap Sandi membawa tautan tangan mereka mendekati bibirnya.

Wulan mendongak, merasa haru dengan setiap perlakuan Sandi terhadapnya. Selain bibi asisten, Sandi adalah orang kedua yang memperlakukan dia selayaknya manusia.

"Terima kasih, Mas." Wulan melabuhkan kelapa di atas bahu Sandi, bersyukur karena pernikahan paksa yang dia terima.

"Kita sudah sampai, Tuan," ucap sang supir ketika mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern. Tak sebesar rumah Wulan yang dulu, tapi terlihat nyaman dan jauh dari keramaian.

"Ayo!"

Kehidupan baru akan dimulai dari titik ini. Menjalani dua peran sekaligus sebagai istri juga siswa. Tidak masalah, Wulan sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Pintu dibuka sang supir, kenangan tentang anaknya menyeruak ke permukaan. Membentuk awan mendung di hati sampai menggenang di pelupuk.

"Silahkan masuk, Tuan. Rumah ini mungkin kecil, tapi cukup nyaman untuk ditempati. Setiap Minggu istri saya selalu datang ke sini untuk membersihkannya," ucap laki-laki tersebut menjulurkan tangan ke dalam mempersilahkan mereka untuk masuk.

"Terima kasih, Pak." Wulan tersenyum, kemudian mendorong kursi roda Sandi masuk ke dalam rumah tersebut.

Cukup nyaman dan bersih meski tak sebesar rumah Sandi sendiri. Bahkan, jika dibandingkan dengan apartemennya ini masih terlalu kecil. Sebenarnya Sandi ingin membawa Wulan tinggal di apartemen, tapi dia masih ingin menguji ketulusan sang istri dengan kehidupan yang sederhana.

"Nyaman, ya, Mas. Aku suka rumahnya," seloroh Wulan sambil melihat-lihat sekeliling rumah.

Terdapat dua kamar, satu ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga, dapur, juga kamar mandi. Sandi menghela napas, melirik sang supir gelisah. Dia belum pernah menatap di bawah atap sesempit itu. Pak supir merasa tak enak, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan sesuai keinginan Sandi yang masih menyembunyikan identitasnya sebagai seorang kaya.

"Aku akan membereskan barang-barang kita dulu. Ah, apa di sini juga tersedia peralatan masak?" tanya Wulan menatap supir Sandi.

"Ada, lengkap. Anda bisa menggunakannya sesuka hati," jawab laki-laki itu sambil tersenyum. Dulu, dia begitu ingin melihat sang anak menikah, tapi takdir berkata lain.

Wulan merapikan barang-barang mereka, tempat tidur dan menyapu kamar sebelum ditempati. Sandi terdiam memperhatikan, berbeda sekali dengan Risna yang tak pernah melakukan apapun.

Dia memang sudah terlatih.

1
Uthie
mampir cari-cari,cerita dr Othor yg keren ini 👍😍🤗
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Sugiharti Rusli
oh ini awal si Wulan ditinggalkan dulu yah, berarti masih sekolah dan belum lulus,,,
Sugiharti Rusli
eh si mama mertua yah yang komen tuh, uda ada ular di rumah tersebut ternyata yah,,,
Sugiharti Rusli
awalnya masih manis yah mereka karena masih ada Sandi,,,
Sugiharti Rusli
oh ini awal malapetaka Wulan selanjutnya yah nanti,,,
Sugiharti Rusli
padahal si Sandi pasti udah tahu si Wulan pasti memaafkan mereka,,,
Sugiharti Rusli
kalo orang udah otak kriminal yah ga akan pernah kapok modelan si Salsa ini deh
Sugiharti Rusli
aduh Sandi udah balik lagi, si Arya kenapa kepala batu yah,,,
Sugiharti Rusli
si Arya yah itu, darimana dia tahu Wulan dirawat,,,
Sugiharti Rusli
kalo diserahkan ke Wulan mah dia pasti ga tegaan anaknya tuk mengeluarkan murid" pasti deh,,,
Sugiharti Rusli
memang dasarnya sombong yah si Susi sama anaknya tuh
Sugiharti Rusli
wah Sandi sudah mulai mengeluarkan taringnya nih,,,
Sugiharti Rusli
wah siapa yah yang akan Sandi suruh tuk membereskan orang" yang sudah menyakiti si Wulan,,,
Sugiharti Rusli
apa mau divisum yah si Wulan ke rumah sakit,,,
Sugiharti Rusli
semoga pak Andri bisa kasih pelajaran ke mereka deh,,,
Sugiharti Rusli
apasih masalah mereka semua ke Wulan, karena dia bisa diintimidasi akibat kekurangannya,,,
Sugiharti Rusli
bagus Lan, kamu harus berani melawan mereka apalagi si Salsa yang notabene adik kan,,,
Sugiharti Rusli
bahagia itu sederhana, bisa saling percaya dan memahami hati pasangan yakan
Sugiharti Rusli
apa si Arya masih ada hubungan kerabat sama Sandi yah,,,
Sugiharti Rusli
ada story apa yah antara Arya dan Sandi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!