persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angan sedang berangan....
Langit tidak begiru cerah...
Ada sedikit mendung menggantung disana. Angin pun bertiup semena-mena. Menampar wajah Mada yang tidak mampu menunjukkan sedikitpun senyuman. Walau hanya sekedar senyuman palsu penghias lamunan.
Disandarkan punggungnya pada bangku yang biasanya selalu ia pakai untuk merenung. Atau sekedar mengingat kenangan-kenangan masa lalu.
Ini bukan berbicara mengenai cinta manusia dengan manusia lainnya. Tapi cinta yang lebih luas maknanya. Cinta yang datang bukan karena keadaan yang menciptakannya, bukan juga karena kebiasaan yang terlalu mengikat sampai terasa kosong saat kebiasaan itu telah sedikit berubah, menjadi kebiasaan lain yang pasti akan sangat terasa asing.
Tapi perasaan hangat yang terkadang mampu membakar seluruh isi kepala. Sehingga tak memberikan kesempatan otak untuk lari walau hanya sekedar mencari perlindungan.
Itulah sebabnya otak tak bisa mengerti bagaimana kehangatan itu bisa bekerja sendiri membakar seluruh rumahnya.
Pandangan Mada tertuju pada gerombolan burung gereja yang hinggap ke sana kemari . Perasaan penat dan kesal berpaut bergejolak di batinnya yang benar-benar kacau.
“Hey!!!kalian suka main datang dan pergi sesuka hati ya? Menyenangkankah? Kau tak pernahkah memperhatikan daun yang masih bergoyang karena kau tinggalkan kah ?” Mada tampak melampiaskan kekesalannya sembarangan dengan berteriak sembarangan.
Jangankan jawaban, tolehan dari si burung pun tak akan ia dapatkan. Hanya terdengar cicitan riuh yang mungkin saja artinya sedang mengatakan hal buruk tentang Mada.
“Lihatlah....lihatlah... ada manusia gila yang berbicara dengan kita.” Seperti itulah mungkin arti cuitan sang burung.
“Kamu kenapa, Mada?” Sapa seseorang dari arah belakang Mada.
Mada menoleh, seketika raut wajahnya berubah merah menahan malu.
Mada berdiri menyapa lelaki bertubuh gempal, tinggi, dengan sapu di tangan kanan dan tangan kiri memegang ujung plastik besar berwarna hitam.
“Apa kabar pak?” sapa Mada sambil nyengir menahan malu.
"Yang kamu cari lama juga tak kulihat. Apa dia sehat?" tanya si penjaga taman dengan seragam orange membuatnya gagah dengan pekerjaan yang dijalaninya.
"Haaah?! Siapa yang Bapak maksud?" 🙄🙄 sahut Mada sedikit cemberut.
"Mas Tobia to Mbaaaak,,,,, masak anak saya." 😩 jawab petugas kebersihan sambil mengumpulkan ranting-ranting yang berserakan.
"Hehehehe.... Orangnya pindah kota, Pak. Nggak tahu, sehat apa nggak." kata Mada sambil membantu mengumpulkan ranting.
"Kenapa begitu? Apa tidak kasih kabar?"
"Boro-boro kabar.... Pamit aja enggak.."
"Kenapa?"
Mada menghela nafas, lalu duduk di bibir jalan setapak di dekat petugas kebersihan itu bekerja.
"Aku juga nggak tahu, Pak. Mas Tobia juga nggak pamit." ujar Mada sambil menahan perasaan sesak yang sulit tergambarkan.
"Kamu buat salah apa?" sahut sang petugas kebersihan tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Itu juga yang ingin ku ketahui, Pak. Tapi semenjak pergi, Mas Tobia tak pernah menghubungi aku." Mada semakin tampak sedih.
"Kenapa kamu tak coba menghubungi dia?"
"Aku tidak berani, Pak."
"Kenapa?"
"Takut dia semakin marah."
Si perugas kebersihan tampak menjadi kesal dengan jawaban-jawaban jujur Mada.
"Kalian sungguh luar biasa. Percuma saya mendengar curhatan anda. Tampaknya anda sudah terkena penyakit hmmmm."
"Haah? Penyakit apa Pak?"
"Penyakit Hmmmm!!" seru si petugas kebersihan dengan nada sedikit kesal.
"Penyakit apa itu pak?"
"Hmmmm!!!!"
"Apa itu penyakit Hmmm?!"🥴🥴
"Hmmm... Bagus sih, diem-dieman terus sampai tua."
"Maksud Bapak apa sih?" 😵💫😵💫Mada masih telmi-telmi polos.
"Ya kalau kamu penasaran kabarnya, kenapa nggak tanya duluan aja. Kamu takut dia marah? Itu artinya kamu buat salah."
"Tapi saya bingung salah saya apa , Pak."
"Makanya tanya!!!!!" seru si petugas kebersihan taman, lalu beranjak meninggalkan Mada.
"Kenapa semua orang marah-marah?" gerutu Mada sendirian sambil menatap punggung si petugas kebersihan yang masih tampak kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
...........
Sementara itu kita menuju pada doktee Harun dan dokter Stela yang tampak sangat lelah.
Setelah selesai menyelamatkan para pasiennya, dokter Harun dan dokter Stela tampak sangat kelelahan.
Mereka menepi sesaat di atap gedung rumah sakit. Keduanya duduk bersandar dinding pembatas degung, dengan kaki diluruskan kedepan.
Meski rasa lelah mendominasi tubuh mereka, namun perasaan lega dan bersyukur tak mampu mereka tutupi dari wajah mereka.
"kamu tadi darimana? Maaf ya, ternyata aku tidak bisa diandalkan." dokter Stela membuka percakapan.
"Hmmm... Tidak seharusnya aku menyerahkan pekerjaan berat padamu. Tadi itu benar-benar luar biasa."
"Benar..... Begitu banyak korban..... Anehnya,,, semua terjadi bersamaan." ujar dokter Stela.
"Jangan terlalu merasa bersalah. Dimanapun aku, dan apapun yang tengah kulakukan, sudah sewajarnya jika hal buruk terjadi, kamu harus memanggilku."
"Hmmm...baiklah.. Lain kali akan kulakukan juga."
"Semoga hal seburuk tadi, tidak terjadi lagi."
"Aku juga berharap begitu."
"Rasanya sangat sesak selalu mendengar rintihan kesakitan orang-orang."
Dokter Stela mendongak menatap dokter Harun yang duduk disampingnya. Tatapan penuh pertanyaan dan rasa tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Dokter Harun menghela nafas, lalu mendongak menatap langit, sehingga kepalanya bersandar penuh pada dinding.
Dokter Stela masih menatapnya tanpa berani berucap sepatah katapun saat melihat ekspresi serius memenuhi wajah sahabatnya itu.
"Sejak kecil aku selalu takut melihat darah. Aku selalu takut melihat orang sakit. Aku tidak tahan mendengar erangan kesakitan."
Dokter Stela masih terdiam mendengarkan. Ia membenahi posisi duduknya, sehingga seluruh punggungnya menempel dinding.
"Aaah... aku selalu mendengar erangan kesakitan Nenekku saat sakitnya kambuh. Aku sangat sedih saat itu. Aku tidak bisa melakulan apa-apa. Sampai akhirnya Nenekku dipanggil Tuhan. Saat itulah aku memutuskan untuk menjadi dokter."
Dokter Stela hanya mengangguk kecil sambil menyeruput kopi yang sedari tadi hanya dimainkannya.
"Aku merasa sangat bersyukur, saat rintihan kesakitan itu berubah menjadi senyuman dan semangat untuk melanjutkan hidup." ujar dokter Harun dengaan senyum sedikit pahit.
Dokter Stela menghela nafas. Seakan setuju dengan semua yang dikatakan sahabatnya itu.
"Aku tidak pernah berpikir apapun. Aku menjadi dokter hanya karena ingin menjadi seperti ayahku." kata dokter Stela menanggapi kisah dokter Harun.
"Beruntungnya, kamu memiliki kemampuan dan otak yang cerdas." tukas dokter Harun.
"Tapi tetap masih kalah hebat bila dibandingkan denganmu."
Dokter Harun tersenyum manis lebar. Tatapan bahagia terpancar di kedua matanya.
Dokter Stela pun ikut tersenyum. Seakan sangat memahani apa saja yang ada di benak dokter Harun.
Dokter Stela mengulum ludah beberapa kali menahan detak jantung yang sedikit tak beraturan. Dihelanya nafas beberapa kali. Namun perasaan sesak semakin menjadi.
Ditepuknya dada dengan kepalan tangannya sendiri. Beberapa kali dengan lembut.
Dokter Harun menyadari hal itu.
"Kamu kenapa?" tanya dokter Harun tampak khawatir. Lalu duduk bersimpuh menghadap dokter Stela.
"Hanya sesikit sesak disini." jawab dokter Stela masih sambil memijatkan kepalan tangannya di dadanya bagian kiri.
"Relax,,, tetep fokus. Coba tarik nafas panjang perlahan, lalu hembuskan dengan cepat dari mulut." dokter Harun msmbimbing dokter Stela.
"Lakukan lagi beberapa kali. Lepaskan yang membuatmu sesak." ujar dokter Harun sambil terus memegang pundak dokter Stela.
Dokter Stela mengikuti arahan sahabatnya itu.
"Bagaimana... Sudah baikan?" tanya dokter Harun lirih.
Dokter Stela mengangguk perlahan. Entah apa yang dipikirkannya, sampai merasa se sesak itu.
Tanpa banyak berpikir lagi, dokter Stela memeluk erat dokter Harun yang masih bersimpuh tepat dihadapannya.
Dokter Harun membelalak sedikit kaget akan apa yang dilaakukan sahabatnya itu. Ia berusaha mengerti dan membalas pelukan dokter Stela.
Dokter Harun menepuk perlahan punggung dokter Stela. Berusaha menenangkaannya. Namun tangis dokter Stela pecah.
"Apa tidak ada sedikit saja ruang untukku dihatimu?" seru dokter Stela disela isaknya.
Dokter Harun bingung harus bagaimana....
...****************...
To be continue...
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂