Aku masih berusia 17 tahun dan mereka dengan santainya mengatakan niatnya untuk menjodohkanku dengan putra sahabat ibuku. Apakah dunia hanya sebesar daun kelor? Bagaimana tidak. Calon suamiku adalah wali kelasku sendiri! Dimanakah aku harus menyembunyikan wajahku dari anak-anak satu sekolah? Bagaimana mungkin seorang Carlina Deani menikah dengan Krisan Yosia yang adalah wali kelasnya?
Tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan masa remajaku. Semua orang seusiaku umumnya baru mengenal cinta -meskipun itu cinta monyet, berpacaran, ya menjalani masa penjajakan. Tapi aku sekarang sudah harus menikah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eunike lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Gadis itu duduk di balkon kamarnya. Ia menatap burung-burung yang beterbangan meninggalkan sarangnya. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Hatinya benar-benar tak mengerti rencana sang Ilahi pada hidupnya. Ia bukan gadis yang sempurna lagi. Penyakit berbahaya itu kembali datang dalam hidupnya.
“Winda?”
Gadis itu tersenyum. Ia teringat bahwa hari itu tepat satu tahun ia menjalin kasih dengan Al. Rasanya baru kemarin statusnya berubah menjadi kekasih dari Al. Ternyata sudah satu tahun mereka menjalaninya. Cinta? Winda masih ragu apakah perasaan cinta menjadi dasar hubungan yang telah dijalaninya. Winda tahu dibalik hubungannya dengan Al, sebenarnya ia masih menyimpan rasa pada Fian. Ia masih merindukannya dan sesekali pun ia masih berusaha mencari keberadaan Fian.
“Kamu kenapa sih, Win? Tidak bersemangat?” tanya Al membuka pembicaraannya lagi. “Ini akhir pekan. Nggak minta jalan ke mall?”
Winda menggeleng. “Aku agak tidak enak badan, Kak.”
“Kamu sakit?” Al memegang kening Winda.
“Cuma flu saja kok.” Ia menarik nafasnya. “Kalau boleh… aku mau kamu membantu aku mencari seseorang.”
Al mengernyitkan dahinya. “Siapa?”
“Dia teman lamaku. Terakhir bertemu sembilan tahun lalu. Namanya Fian.”
Apa?
“Jujur, Kak. Aku –” ia menatap Al. “– masih mencintainya. Dia cinta pertamaku.”
Al tersenyum. Entah mengapa hatinya seketika menghangat. Ia sangat bahagia mengetahui bahwa Winda benar-benar mencintainya. Meski bukan sebagai Al, gurunya. Kalau kamu tahu siapa pria yang kau rindukan. Dia adalah aku, Winda.
“Makasih kamu sudah jujur padaku.” katanya. “Aku minta maaf tidak bisa membantumu. Mengapa? Aku cuma ingin kamu menjadikan diriku, Al, sebagai masa depanmu. Tidak lagi melihat masa lalumu.”
Winda menunduk. Ya ia tahu ucapannya salah. Ucapannya itu menyakiti hati Al, kekasihnya. “Maaf ya, Kak aku melukaimu.”
Al tersenyum lalu membelai kepalanya. “Tidak, Winda. Justru aku senang kamu mau jujur padaku.”
Winda menatapnya kemudian tersenyum. “Makasih, Kak.” Al menggenggam tangannya. “Kamu adalah masa depanku. Dan aku juga berharap kamu menjadikanku masa depanmu juga.”,
***
Mentari baru saja menyapa. Itu artinya pagi mulai menjelang. Ia membuka matanya perlahan. Jam menunjukkan pukul enam pagi dan ia harus segera bersiap untuk bersekolah. Namun mengapa tubuhnya terasa begitu lemas? Ia mencoba bangkit. Namun lagi-lagi ia terjatuh. Ia menatap gambar dirinya di cermin yang tepat berada di hadapannya. Wajahnya sangat pucat. Tubuhnya seperti tinggal tulang saja. Seganas itulah kanker yang dideritanya?
Perlahan ia mencoba kembali bangkit. Kali ini berhasil. Meski ia harus menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia harus kuat. Hari ini adalah latihan ujian yang kesekian kalinya. Ia tak boleh melewatkannya. Ia hanya ingin lulus dengan nilai terbaik kemudian menyusul Fian ke negeri Tirai Bambu.
Ia mengambil seragam sekolahnya yang telah disiapkannya semalam. Ia melangkah menuju kamar mandi dengan susah payah. Pening kembali dirasakannya. Ia merasa ada yang mengalir dari hidungnya. Darah!
“Winda, cepat, Nak! Sudah jam hampir setengah tujuh!” terdengar samar suara ibunya. Tubuhnya semakin lama tak dapat diajak kompromi. Kepalanya sudah sangat pusing. Dan perlahan suara ibunya tak terdengar lagi.
“Winda, cepat, Nak!”
Wanita itu membuka pintu kamar putrinya. Kosong. Pandangannya menyapu seisi ruangan. Ia melihat pintu kamar mandi tertutup dan terdengar suara gemericik air dari dalamnya. “Dek, cepatlah. Nanti kamu terlambat!” katanya sambil mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada jawaban. Hatinya mulai khawatir.
“Biar aku yang antar kamu ke sekolah aja, Win.” ia menatap ibunya yang berdiri di depan kamar mandi sambil mengetuk pintunya dengan keras. “Ada apa ini?”
Carlina menggeleng. “Dari tadi Mama panggil tidak ada jawaban.”
“Biar Natan dobrak pintunya.”
Ia terdiam sejenak kemudian mundur membiarkan Natan mendobrak pintu itu.
“Winda!!”
Tubuhnya terbaring lemas. Shower masih menyala dan membasahi tubuhnya. Wajahnya begitu pucat. Dan terlihat darah yang bercampur air menghiasi lantai. “Winda, bangun, Dek!”
Tak ada respon. Tubuhnya sangat dingin. Ia segera menggendong tubuh adiknya dan membaringkannya di tempat tidurnya. Carlina mengambil handuk yang masih tergantung di pintu kamar mandi kemudian mengeringkan tubuh putrinya itu. “Ma, sepertinya kankernya semakin parah.”
“Nak, telepon Om Krisna atau Al.”
“Al lagi di Jakarta, Ma.” Ia mengambil ponselnya dari dalam sakunya kemudian menekan nomor seseorang. “Halo, Om.”
“Eh, Natan. Pagi, Nak. Ada apa ya?”
“Om bisa ke rumah? Winda –”
“Ada apa dengan Winda?”
“Winda pingsan, Om!”
“Ya Tuhan!” Natan menatap ibunya yang semakin khawatir. “Kamu bawa langsung ke rumah sakit.”
“Tapi, Om –” ia tertunduk sejenak. “– jangan kasih tahu Kak Al. Natan nggak mau kalau kegiatan seminarnya di Jakarta terganggu.”
“Loh, tapi kan Al itu kekasihnya Winda. Masa Om mau rahasiakan?”
“Please ya, Om. Nanti kalau kondisi Winda sudah baik, dia pasti kabari Kak Al kok.”
“Ya sudah. Kamu cepet deh bawa ke rumah sakit.”
Natan memutuskan panggilannya dan segera mengangkat tubuh mungil adiknya. Ia terdiam sejenak ketika wajahnya tepat di atas wajah adiknya. Nafasnya kok...
Segera ia memegang pergelangan tangannya. Gawat! Carlina melihat perubahan wajah Natan ikut panik. Ia segera beranjak dan membukakan pintu untuk Natan. Carlina berlari mencari kunci mobil di dalam laci ruang tengah kemudian segera membuka kunci mobil. “Biar Natan yang nyetir ya, Ma.” Carlina mengangguk.
Air mata terus mengalir. Carlina tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi. Sudah cukup ia kehilangan suaminya. Ia tak ingin kehilangan putrinya juga. Hatinya semakin tak tenang ketika melihat putrinya semakin kesulitan bernafas. Jalanan sangat macet dan membuat hatinya semakin khawatir.
haii mampir ke karyaku yu.. ENDINGKU BERSAMAMU
kisah romansa dua insan manusia
jangan lupa like, vote, rate dan komennya..
sumpah bingung
thor klw penjelasaan ceritanya beraturan bagus loh critanya...ini kesannya dipotong2 critanya pingin cpt2 selesai kah thor?
sama judulnya jg jd g pas...
ujung2nya ke sana jg
g ada ketegangan nih...tp klw itu tulang sumsum krisan, jd dia g boleh capek2 loh..