🏆 Juaranya 2 Lomba Tema Chiklit - Wanita Kuat S3
Aku Lucia. Seorang agent peringkat SSS di sebuah organisasi yang mengembangkan Sistem Reinkarnasi dunia modern di masa depan.
Masalah muncul pada dunia kecil yang terus bermunculan akibat manusia terus membuat novel dan komik.
Aku sebagai salah satu agent menjalankan reinkarnasi dan memainkan peran untuk mengubah isi novel atau komik karena permintaan dan ketidakpuasan pemeran pendukung pada bagian akhir cerita.
Aku bersama Momo si pendamping sistem menjelajahi berbagai dunia kecil dan dengan cepat meraih peringkat tinggi di organisasi.
"Nona, ada misi lagi. Wah, hadiahnya besar sekali kalau bisa menyelesaikan dengan peringkat sss."
Aku mendorong Momo ke pinggir hingga dia terjatuh karena kucing gemuk itu menutupi layar.
"Menjelajahi dunia kecil dan membersihkan sampah-sampah ini. Misi yang begitu mudah dengan hadiah yang besar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Aku membacanya dari buku," kata Lucia dengan polosnya.
"Aku tidak percaya. Ambil ini." Lion melemparkan sebuah pedang ringan ke arah Lucia. Reflek Lucia langsung menangkapnya dengan cepat. Lion tersenyum tipis dan berjalan agak menjauh dari kerumunan. Lucia mengikutinya di belakang. Prajurit yang lain begitu antusias sedangkan Dawson memiliki kekhawatiran diraut wajah.
Lucia sudah berganti pakaian. Awalnya dia menggunakan gaun kini wanita bermata biru itu menggunakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Rambutnya yang hitam bergerai juga telah dikuncir kuda agar memudahkan pergerakannya.
Lion pun mulai menyerang Lucia. Menurut Lion itu adalah serangan pedang yang sangat ringan tapi Lucia terlihat kewalahan. "Tuan Lion sebaiknya berhenti, Nona Lucia tidak bisa berpedang," ujar Dawson dengan cemas.
Lucia hanya terus menghindar tanpa menyerang. "Kak sudah aku bilang aku tidak bisa berpedang." Lion pun menghentikan serangannya. Tepat saat itu sebuah teriakan pun terdengar.
"Wah Kak Lion, keterlaluan sekali. Bagaimana kakak bisa menindas adik kita seperti itu?" Danny berlari kecil untuk bisa sampai di tempat Lion dan Lucia bertarung diikuti juga Edith di belakangnya. Danny melihat sekilas ke arah Lucia dan mendesah lega karena Lucia tidak terluka sedikit pun.
"Kak, walau Lucia hebat dalam memanah, dia belum tentu bisa berpedang seperti kakak. Untungnya Lucia tidak terluka sedikit pun."
"Ehm, kau benar, Lucia tidak terluka sedikit pun. Begini saja sebagai ganti Lucia, kau akan melawan ku berlatih pedang." Tanpa jawaban Danny, Lion langsung menarik kerah Danny dan membawanya ke lapangan luas. Terlihat wajah Danny tertekan dan dia berusaha memanggil Edith untuk menyelamatkannya tapi bocah itu tidak mendengarnya sama sekali malah bermain dengan Momo dan berjongkok bermain dengan si gembul itu.
Prajurit-prajurit khusus menghentikan latihan mereka untuk melihat pertarungan pedang antara Lion dan Danny. "Perhatikan semuanya dan pelajari semua gerakan yang aku dan Danny lakukan. Setelah pertarungan ini selesai aku akan mengevaluasi kalian satu persatu."
"Baik Tuan Muda Lion," jawab mereka serempak. Dawson mengambil kursi untuk Edith dan Lucia menonton pertarungan. Edith tidak memperhatikan pertarungan tapi malah terus bermain dengan Momo yang ada di pangkuannya.
"Nona, kenapa Nona tidak menunjukkan Ilmu berpedang Nona yang sangat luar biasa itu? Nona pasti bisa dengan mudah menjatuhkan Lion ke tanah. Nona sudah belajar puluhan ribu tahun berpedang mana bisa disaingi dengan orang yang baru beberapa tahun berlatih," gerutu Momo yang terdengar jelas di telinga Lucia melalui telepati yang seperti biasa mereka lakukan.
"Dasar bodoh! Jika aku menunjukkan semua keahlianku apa mungkin mereka tidak akan curiga? Sudah sangat tidak masuk akal untuk bisa memanah 9 burung. Apa aku juga harus ahli berpedang?"
"Pedang itu sangat berbeda dengan keahlian yang lain. Pedang lebih sulit untuk dipelajari sehingga untuk memperdalam kemampuan berpedang memang butuh bertahun-tahun untuk manusia biasa seperti mereka."
Momo menyilangkan kaki depannya sambil menganggukkan kepala membuat Edith heran dengan perilaku Momo yang seperti manusia. Dia pun tak henti-hentinya mengucurkan cemilan yang banyak untuk Momo.
Sementara di sisi lain, Lion dan Danny telah memulai pertarungan. Tebasan demi tebasan pedang membuat prajurit semakin bersemangat dan bersorak-sorai.
"Tidak heran Tuan Muda Danny bisa mengalahkan pangeran Damian, ternyata kemampuannya hampir menyamai Tuan Muda Lion. Sangat luar biasa."
"Sudah bukan rahasia lagi kalau Tuan Muda Danny itu sangat luar biasa dalam keahlian berpedangnya. Jika tidak, mana mungkin beliau bisa menjadi teman bertarung Pangeran Damian."
Suara pedang terjatuh mengalihkan pandangan Lucia kembali pada pertarungan. Dia melihat Lion mengacungkan pedangnya pada Danny yang jatuh terduduk karena kalah adu pedang dengan kakaknya. "Kakak luar biasa." Danny menunjukkan jempolnya pada Lion. Pemuda 20 tahun itu hanya tersenyum tipis kemudian menarik Danny untuk bangun dari jatuhnya.
Tentu saja Lion menang telak. Selain dia memiliki kemampuan dalam mengelola wilayah duke, kemampuan berpedangnya pun sebanding dengan Pangeran Clair, calon putra mahkota kerajaan Salvavor.
Tidak banyak yang terjadi setelah itu, Semua Prajurit Khusus di evaluasi oleh Lion. Menjelang sore hari semua Prajurit Khusus telah dievaluasi. Mereka pun besok akan kembali ke wilayah timur Lamboerge dengan rasa haru dan bangga.
Rasa bangga karena Evaluasi mereka yang memuaskan akibat petunjuk untuk latihan dasar yang diberikan Lucia memberikan efek yang cukup besar pada gerakan mereka. Rasa haru karena mereka bisa bertemu Lucia secara langsung tapi secepat itu juga mereka akan berpisah dengan Lucia. Mereka pun cukup beruntung menyaksikan pertarungan Tuan Muda Lion dan Lucia serta pertarungan Tuan Muda Lion dan Tuan Muda Danny.
"Nona Lucia, saya adalah Tan pemimpin kelompok 1 dari Prajurit Khusus ke 123. Jika Nona membutuhkan bantuan silahkan panggil saya," ujar seorang pria berwajah manis dan kekar dengan kulit yang kecoklatan.
"Nona Lucia, saya adalah Erik pemimpin kelompok 2 dari Prajurit Khusus ke 123. Jika suatu saat Nona akan berkunjung ke tempat kami di sisi timur Lamboerge, saya akan dengan senang hati menemani Nona berkeliling," sambung seorang pria berkulit putih pucat dengan badan yang sedikit lebih ramping.
"Nona Lucia, saya adalah Nourth pemimpin kelompok 3 dari Prajurit Khusus ke 123. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Nona hari ini dan berharap bisa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Nona lagi," ucap pria dengan rambut kuning dan kulit cerah. Wajahnya pun tidak kalah tampan dengan pemimpin kelompok 1.
Tapi sayangnya wajah mereka juga terlihat sendu saat Nourth mengucapkan kata-kata perpisahan seperti itu. Tentu saja Lucia langsung mengeluarkan kata-kata untuk menghibur mereka. "Aku pasti akan segera mengunjungi kalian secepatnya di wilayah timur Lamboerge. Jadi jangan murung lagi dan bersemangatlah."
Mereka pun merasa bahagia dengan ucapan Lucia tadi. Keesokan harinya mereka pergi dengan rasa sedih berpisah dengan Nona Muda yang cantik. Tapi setelah cukup lama mereka pergi. Prajurit Khusus ke 124 pun datang dan mengisi bangunan di belakang istana para Pangeran. Sama seperti kemarin mereka juga akan dievaluasi oleh Lion.
Tapi sayangnya Lucia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mereka karena dia harus mengurusi villa dan juga bangunan besar yang akan dijadikan restoran sekaligus tempat hiburan.
"Ayah, selain pembicaraan tadi aku ingin memberikan saran untuk pendidikan Lucia." Kalimat tersebut membuat Duke Afsan berhenti membuka beberapa berkas yang harusnya dia tanda tangani. Rasa penasaran mulai menyinggapinya saat dia bertanya-tanya Lion yang mulai memperhatikan Lucia.
"Maksudmu?" Duke bertanya tanpa mengurangi rasa penasarannya. Lion pun menceritakan bakat Lucia dalam berpedang meskipun belum sempurna. Dia juga menceritakan usaha Lucia dalam mengajari Prajurit Khusus dan mampu meningkatkan latihan mereka dan membuat Prajurit Khusus ke 123 mendapat hasil evaluasi yang sangat memuaskan.
Suara ketukan jari terdengar kencang karena Duke sedang memikirkan ucapan Lion. Selama ini belum pernah ada putri dari Duke mendapatkan pendidikan yang sama seperti seorang putra dari keluarga Duke. Tapi Duke Afsan kembali memikirkan bakat-bakat Lucia yang luar biasa dan langka.
Ketika jari berhenti dan Duke memutuskan bahwa Lucia akan mendapatkan pendidikan yang sama seperti putranya. Lucia akan menerima pelatihan yang sama berupa pelajaran mengenai sosial, ekonomi, politik, sejarah, astronomi dan yang lainnya lebih mendalam. Lucia juga akan ditempa secara fisik seperti laki-laki pada umumnya di keluarga bangsawan.
"Meskipun ini belum pernah terjadi tapi tidak ada aturan tertulis yang melarang seorang putri untuk menjalankan pendidikan seperti itu. Lagi pula itu karena wanita tidak sanggup akan latihan yang menguras fisik dan mental sehingga mereka lebih memilih merajut, melukis, atau kesenian yang lainnya."
"Berbeda dengan Lucia kita. Dia sangat tangguh dan aku yakin dia bisa melewati segala rintangan untuk menjadi lebih cerdas dan kuat," sambung Lion menanggapi ucapan Duke Afsan sebelumnya.