TYPO BERTEBARAN DIMANA-MANA
BAB 1-95
Niat awal Zia hanya ingin belajar dengan rajin untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang guru dengan melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi karena ia mendapatkan beasiswa, tapi sebelum Zia lulus kuliah, ia justru mendapatkan sebuah proposal ta'aruf dari seorang pria yang tak ia kenal.
Bagaimana kisah Zia selanjutnya? Apakah Zia akan menerima ta'aruf dari pria tersebut atau Zia akan menolaknya dan mengejar cita-citanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suaminya Zia
Tanpa sadar Zia pun akhirnya terlelap hingga Fatih masuk ke dalam kamar Zia.
"Kamarnya sederhana," gumam Fatih.
Saya masih ke dalam kamar Zia, Fatih di suguhi pemandangan yang menyejukkan hati dimana ia melihat Zia tertidur.
"Masyaallah, Zi. Sepertinya saya benar-benar tenggelam dalam pesona kamu, saya sangat beruntung karena bisa mendapatkan perempuan yang sudah lama saya cintai," gumam Fatih.
Fatih pun menghampiri sang istri dan mengecup kening Zia, lalu Fatih merebahkan tubuhnya di samping Zia.
Meskipun Fatih tidak nyaman dalam tidurnya, tapi ia mensyukuri apa yang ia dapatkan. Ya, kamar Zia sendiri memang cukup sempit ditambah Zia yang tertidur dan menggunakan hampir seluruh kasur sehingga Fatih harus menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh.
Zia sendiri merasa ada tidurnya terganggu dan membuka matanya, betapa terkejutnya saya melihat Fatih yang tidur di sebelahnya.
Melihat Fatih yang tampak tidak nyaman dalam tidurnya, Zia pun langsung menggeserkan tubuhnya, "Astaghfirullah Zia, kamu enak-enakan tidur sedangkan Kak Fatih kayak mau jatuh gitu. Emang ya kamu ini istri gak tau diri," gumam Zia.
"Kak Fatih, geseran sini Kak biar Kak Fatih gak jatuh," ucap Zia.
Fatih pun membuka matanya, "Kenapa, bangun?" tanya Fatih dengan suara serak khas bangun tidurnya.
'Astaghfirullah, Kak Fatih kenapa bikin jantung deg-degan kayak gini sih,' ucap Zia dalam hati.
"Kenapa Kak Fatih gak bangunin Zia? tadi Zia lihat Kak Fatih hampir jatuh dari kasur," tanya Zia yang merasa bersalah.
"Gapapa, saya lihat kamu tadi nyenyak tidurnya makanya saya sengaja gak bangunin kamu, udah sekarang kita tidur aja," ucap Fatih dan diangguki Zia.
Tidak ada hal romantis dan dilakukan Fatih, mereka tidur dengan tenang hingga pukul 3 pagi Fatih terbangun untuk melaksanakan sholat malam.
"Zi, saya mau sholat tahajud kamu mau ikut?" tanya Fatih dengan berusaha membangunkan Zia.
"Eungh, iya sebentar Kak," ucap Zia lalu bangun dan bersiap-siap.
Selesai melaksanakan sholat malam, Fatih pun berpamitan pada Zia karena ia akan melaksanakan sholat subuh di masjid bersama dengan Bapak.
Sedangkan, Zia melaksanakan sholat subuh di rumah dan setelah melaksanakan sholat subuh. Zia pun keluar kamar dan membantu Ibu untuk memasak.
"Ibu masak apa? sini biar Zia bantu," tanya Zia.
"Ibu cuma masak tempe, Zi. Suami kamu suka gak ya?" tanya Ibu.
"Bismillah, semoga aja Kak Fatih suka Bu, Zia juga kurang tahu kalau itu," ucap Zia.
"Yaudah, kita masak aja dulu. Kalau memang suami kamu gak suka, nanti biar Ibu buatkan yang lain," ucap Ibu.
"Iya, Bu. Sini Zia bantu," ucap Zia.
Ibu dan anak itu lun memasak untuk sarapan, hingga beberapa saat kemudian Bapak dan Fatih pun datang.
"Wangi banget ini," ucap Bapak.
"Bapak ganti baju dulu setelah itu makan," ucap Ibu.
"Iya, Bu," ucap Bapak.
"Nak Fatih juga ya," ucap Ibu karena melihat ketidakpekaan Zia.
"Iya, Bu," ucap Fatih.
"Kamu nih ya, Zi," ucap Ibu.
"Loh Zia kenapa, Bu?" tanya Zia.
"Kamu nih ya kok diem aja harusnya kamu suruh suami kamu buat bersih-bersih juga, tapi kamu malah diem aja," ucap Ibu.
"Hehehe, Zia lupa Bu," ucap Zia.
"Kamu nih," ucap Ibu.
Beberapa saat kemudian, Bapak dan Fatih pun datang ke ruang tamu karena memang di sana tidak ada ruang makan sehingga keluarga Zia sudah terbiasa makan di ruang tamu.
"Nak Fatih mau lauk lain? mungkin lauknya gak sesuai sama selera nak Fatih biar Ibu masakin yang lain?" tanya Ibu.
Fatih pun tersenyum, "Gak usah, Bu. Fatih suka apa aja, lauk ini pun Fatih suka," ucap Fatih.
"Alhamdulillah kalau gitu," ucap Ibu.
Mereka pun sarapan dengan tenang dan setelah makan, Fatih ikut Bapak ke sawah sedangkan Zia tengah berada di ruang membereskan pakaian yang akan ia bawa ke kota.
"Kamu sama nak Fatih berangkat jam berapa?" tanya Ibu.
"Kata Kak Fatih sih berangkatnya sekitar jam 7 pagi besok, Bu," ucap Zia.
"Hati-hati ya di sana, sekarang kamu bukan tinggal di kos lagi yang bisa seenaknya. Kamu sekarang bakal tinggal dengan suami kamu dan juga mertua kamu," ucap Ibu.
"Iya, Bu. Insyaallah, Zia bakal bersikap baik demi menjaga nama baik Kak Fatih, Abi dan juga Ummi," ucap Zia dan Ibu pun memeluk Zia.
"Ibu gak nyangka ternyata putri kecil Ibu sudah menikah," ucap Ibu.
"Ibu kok bikin Zia sedih sih, padahal kan Zia gak mau nangis hiks hiks," ucap Zia dan akhirnya menangis.
"Loh kok nangis sih, nanti dikiranya Ibu habis pukul kamu lagi sampai kamu nangis," ucap Ibu dan Zia pun tertawa lalu kembali memeluk Ibu.
Disisi lain, Fatih saat ini tengah membantu Bapak membersihkan rumput yang tumbuh di tengah sawah, "Jadi, ini pertama kalinya kamu kayak gini?" tanya Bapak.
"Iya, Pak," ucap Fatih.
"Maaf, kalau kamu merasa seperti orang kurang mampu dengan menikahi Zia," ucap Bapak.
"Bapak tidak perlu minta maaf dan saya tidak pernah merasa seperti yang Bapak pikirkan, saya merasa beruntung karena bisa menikah dengan Zia. Lagi pula bekerja di sawah tidak buruk bahkan saya sudah mulai terbiasa," ucap Fatih.
"Siapa, Man?" tanya seorang pria paruh baya yang baru saja dari sawah.
"Menantuku, ganteng ya," ucap Bapak.
"Oh, suaminya Zia?" tanya pria tersebut.
"Iya, suaminya Zia," ucap Bapak.
"Selamat ya, situ gak buat pesta, jadi saya gak datang," ucap pria tersebut.
"Iya, gapapa. Niatku emang gitu kok," ucap Bapak.
"Yaudah, aku pamit dulu," pamit pria tersebut dan diangguki Bapak.
"Orang di sini emang gitu, mereka gak akan datang ke acara orang lain kecuali jika di undang," ucap Bapak dan diangguki Fatih.
"Zia itu anaknya suka takut terutama sama orang baru, dia bisa diam aja kalau dia ngerasa gak nyaman sama suasana yang ada. Jadi, Bapak harap kamu bisa hadapin sidat Zia yang seperti itu kadang Bapak juga bingung harus gimana supaya Zia bisa terbuka dengan Bapak, tapi sepertinya semuanya sia-sia. Karena kamu suaminya, Bapak harap kamu bisa gantiin posisi Bapak," lanjut Bapak.
"Posisi Bapak bagi Zia akan tetap sama walaupun Fatih sudah jadi suaminya, Bapak tidak melakukan hal yang sia-sia hanya saja baik Bapak atau Zia belum bisa merasakannya," ucap Fatih.
Bapak pun tersebut, "Sepertinya pilihan Bapak untuk menikahkan kamu dengan Zia tidak salah," ucap Bapak.
"Saya akan buktikan apa yang Bapak bilang itu benar," ucap Fatih dengan tersenyum.
Malam harinya, semua keluarga Zia lengkap dimana Mas Ghali dan Mbak Putri pun ada, "Besok jangan lupa loh kabarin Ibu kalau udah sampai," ucap Ibu.
"Iya, Ibu. Ibu udah lebih dari 3 kali bilang kayak gitu," ucap Zia.
"Namanya juga orangtua pasti khawatir lah, Zi," ucap Ibu.
Zia pun tersenyum, "Iya, nanti Zia bakal kabarin Ibu kalau Zia udah sampai ya," ucap Zia dan diangguki Ibu.
"Kamu udah bilang Pakde Marto, Li?" tanya Bapak.
"Udah, Pak. Besok pagi Ghali ambil mobilnya lagian kan berangkat jam 7," ucap Mas Ghali.
"Semua barang udah selesai?" tanya Ibu.
"Iya, Bum Zia gak bawa banyak soalnya kan masih ada baju di kos, jadi ini aja udah cukup," ucap Zia.
"Beneran cukup? mau bawa baju Mbak juga?" tanya Mbak Putri.
"Insyaallah cukup Mbak lagi pula di rumah, Fatih juga udah nyiapin beberapa pakaian buat Zia," ucap Fatih.
"Mas Ghali kayak gitu dong peka jadi suami, masa harus Putri yang bilang kalua mau baju sih," ucap Mbak Putri.
"Iya sayang, nanti ya kita ke pasar beli baju," ucap Ghali.
"Beneran Mas?" tanya Mbak Putri.
"Iya, sayang," ucap Mas Ghali.
"Oke, ditunggu loh," ucap Mbak Putri.
.
.
.
Tbc.