Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 19
Renggra menghembuskan nafas kasarnya. Apa ia terlalu sangat dingin pada gadisnya? Kenapa juga gadisnya sama sekali tidak tertarik terhadapnya? Apa yang kurang darinya? Sampai saat ini pun gadisnya tetap terlihat tidak mengingat apapun, dan bahkan masih enggan mau bersamanya?
Renggra menghempaskan bokongnya di kursi sembari menunggu gadisnya selesai mandi. Ia pun menepiskan pikirannya, terserah gadisnya mau apa, yang penting mereka menikah dulu. Renggra mengeluarkan ponsel dalam saku celana untuk melihat jadwal besok pekerjaannya.
Tidak begitu lama Laura selesai mandi. Ia mengeringkan tubuhnya dan seketika saja tersentak. "Gue lupa kalau ini tempat pak Renggra." gadis itu tak ingat bahwa ia tak bisa sebebas di panti. Laura sendiri tidur bersama Amina di dalam kamar. Kamar mereka yang hanya ada kamar mandi di dalam ruangan.
Saat ini pakaian gadis itu sudah basah kuyup, tergeletak di lantai. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Sekarang jalan keluar satu-satunya meminjam pakaian yang sudah di siapkan Renggra.
Ia memeriksa handuk yang ternyata bermodel bathrobe dan ada handuk kecil lainnya. "Ini juga sudah cukup." Laura bernafas lega, ia masih mempunyai jalannya untuk menuju ruangan itu.
Gadis itu pun dengan cepat menggunakan handuk dan perlahan membuka pintu kamar mandi. Sudah jelas ia berlarian untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Tak lupa mengunci pintu agar Renggra tak masuk ke dalam sana.
Hembusan nafas gadis itu seperti ia lari sangat jauh, padahal hanya berjarak beberapa meter saja. Tapi jantung dan tenaganya sangat tidak baik-baik saja.
Sedangkan Renggra yang sadar akan gadisnya lewat hanya menggunakan handuk dan berlarian tentu garis bibirnya meninggi. 'Apa sebegitu takutnya dia sama gue?' Renggra menjadi masa bodoh dalam pikiran gadisnya. Lagian ia tidak melakukan hal apapun, hanya mengancam saja.
Pria itu bergantian untuk membersihkan tubuhnya dulu sebelum membawa gadisnya keluar dari dalam kamar.
...***...
Setelah gadis itu berhasil menstabilkan nafasnya. Ia pun kembali melirik isi ruangan itu. Matanya melebar, ruangan yang sangat rapi dan harum. Pakaian dan semua aksesoris lengkap di sana. Tertera pakaian, sepatu, tas, tersusun di lemari dinding.
Gadis itu perlahan berjalan sembari memegang meja batu yang dilapisi granit. Di dalamnya terdapat aksesoris jam, anting, kalung, cincin, gelang, dasi, dan barang lainnya. Sudah jelas berlogo merek terkenal. Laura menjadi takut untuk masuk ke dalam ruangan itu. Takut ada yang hilang, ia tak dapat mengganti satu barang yang bernilai cukup fantastis. Mungkin satu barang yang murah di sana, tiga tahun gajinya.
Ia pun lebih baik bergegas mencari pakaian untuk di pinjam sebentar. Menyentuh semua pakaian khususnya yang di siapkan tadi, membuat alir liur gadis itu menjadi kelat untuk di telan. Ia pun mencari pakaian yang walaupun lebih murah tapi cukup fantastis itu maju mundur untuk di gunakan. 'Kalau nggak pakek baju, bisa bahaya juga.' Laura segera mengambil pakaian yang cocok untuknya kabur.
'Gue hanya meminjam aja. Entar gue balikin kok.' Walau pakaian dan alat-alat itu memang untuknya, Laura tetap enggan menerima itu semua. Ia tak pantas untuk pria dingin itu.
Laura tidak bisa berbohong dengan apa yang pria tampan itu miliki. Memang sungguh sempurna, dan bahkan gadis itu membenarkan, siapa saja yang melihat Renggra, pasti menginginkan hal lebih dari pria tampan itu. Gadis itu pun secara diam-diam juga merasakan hal yang sama. Namun ia lebih sadar diri. Sepertinya ini semua hanyalah sebuah mimpi terindahnya saja.
Setelah selesai menggunakan pakaian. Laura tak menyangka bahwa ukurannya sangat pas dan nyaman. Pria dingin itu ternyata sudah mengetahui juga setiap ukuran tubuhnya. Sontak saja dada gadis itu berdebar. 'Sadar Laura, sadar!' dari pada berpikiran lebih jauh, ia bergegas keluar ruangan.
Ternyata pria yang mengusik pikirannya sedang di dalam kamar mandi. Gemericik air yang terdengar dari dalam ruangan itu menjadi bukti bahwa pria itu sedang mandi. Laura memutuskan untuk menunggu sembari duduk di kursi.
Tak sampai tiga menit gadis itu duduk, Renggra keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk putih batas pinggang.
Laura dengan cepat melemparkan penglihatannya ke arah lain. Ini kedua kalinya wanita itu di suguhkan keindahan tubuh seorang pria. Ia pun melirik tubuhnya. Dada yang rata, dan perut banyak lemak, Laura memejamkan kedua matanya. Ia semakin sadar diri untuk menjadi istri dari seorang pria tampan yang nyaris sangat sempurna.
"Ayo kita turun untuk makan malam bersama dengan keluarga kita. Sekalian memperkenalkan mu pada mereka," ajak Renggra yang memecahkan lamunan gadisnya.
Sudah jelas Laura berdiri cepat. Ini kesempatan yang sangat ia nanti-nantikan.
Renggra sendiri menyeringai. 'Terlalu bosen di kamar kayaknya.' kalau kali ini ia tak kepikiran bahwa gadisnya masih tetap akan kabur. Pria itu juga santai saja, pengamanan yang ia kerahkan sudah jelas tidak bisa membuat gadisnya kabur.