"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Efisien
Dunia Lavanya seolah berhenti berputar. Kalimat singkat itu—“Saya belum menikah”—terasa lebih mengguncang dibandingkan turbulensi pesawat tadi.
Lavanya mengerjap, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Otaknya mendadak hang. Selama setahun ini, ia dan seluruh warga kantor Limocom meyakini satu dogma suci: Pak Leo adalah suami orang, atau setidaknya sudah memiliki tunangan berkelas yang disembunyikan. Itulah sebabnya tidak ada karyawati yang berani terang-terangan mendekat, kecuali mereka siap dipecat atau dipermalukan.
"B-bapak... jangan bercanda," cicit Lavanya akhirnya. "Gosip di kantor dan Mbak Laila bilang..."
Leo memutar kursinya, menatap Lavanya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. "Kamu lebih percaya mulut tukang gosip daripada pernyataan langsung dari saya?"
"Tapi Bapak tidak pernah membantahnya!" Lavanya mencoba membela diri. "Semua orang tahu Bapak punya istri"
Leo menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada. "Membiarkan gosip itu beredar adalah strategi yang efisien, Lavanya. Saya tidak punya waktu untuk meladeni perempuan-perempuan yang mencoba mendekati saya hanya untuk mengejar status atau aset. Dengan membiarkan mereka percaya saya sudah terikat, hidup saya jauh lebih tenang. Saya benci gangguan yang tidak produktif."
Lavanya tertegun. Strategi efisien? Jadi, singa ini membiarkan dirinya difitnah sudah beristri hanya supaya tidak perlu repot-repot menolak cinta? Benar-benar pria dingin yang kalkulatif.
"Lalu kenapa sekarang Bapak bilang ke saya?" tanya Lavanya dengan suara yang hampir hilang.
Leo bangkit dari kursinya, berjalan mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Lavanya. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya. "Karena kamu bukan gangguan yang tidak produktif, Vanya. Kamu adalah target yang saya pilih sendiri. Dan saya tidak mau target saya lari hanya karena alasan konyol seperti status pernikahan yang tidak ada."
🦁🦁🦁
Begitu mendarat di Jakarta, Lavanya merasa seperti baru saja lolos dari dimensi lain. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sampai ia menginjakkan kaki di ruang tamu rumahnya.
"VANYA! BARU PULANG?!"
Ibunya muncul dari dapur dengan sutil di tangan. Alih-alih pelukan rindu, Lavanya justru disambut dengan tatapan menyelidik.
"Lombok panas ya? Kok wajahmu merah begitu? Apa kamu habis nangis karena ketemu Vani dan Farel di Lombok. Terus mereka panas-panasin kamu dengan prewedding mahal disana"
Astaga Ibunya titisan Conan ya. Kok bisa tau pasangan alay itu ada di Lombok.
"Vanya capek, Bu. Urusan kantor di sana benar-benar menguras tenaga."
"Halah, alasan! Tadi Tante Erni telepon, katanya kamu ketemu Farel dan Vani di sana. Kamu jangan mau kalah ya, Vanya! Ibu sudah siapkan jadwal. Pokoknya Sabtu ini kamu harus ikut Ibu ke acara arisan keluarga besar. Ibu sudah janji mau ngenalin kamu sama anaknya teman Ibu. Dia dokter, Vanya! Ganteng dan yang jelas kaya-raya"
Lavanya memijit pangkal hidungnya. Badai di Lombok belum reda, badai di rumah sudah menerjang. "Bu, Vanya lagi banyak kerjaan. Proyek besar. Bos Vanya lagi sensitif."
"Bosmu yang mau jadikan kamu madunya itukan? Namanya bahasa inggrisnya singa. Haduh ibu kok lupa ya. Yang penting Ibu nggak peduli! Mau dia singa, mau dia naga, kamu tetap harus ikut ibu! Kamu mau Ibu taruh di mana muka Ibu kalau sampai Vani nikah duluan?!"
Lavanya memilih kabur ke kamar sebelum telinganya berasap. Ia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit. Suara Leo yang membisikkan “Saya belum menikah” terus terngiang-ngiang bak kaset rusak.
🦁🦁🦁
Senin pagi di kantor Limocom terasa lebih mencekam bagi Lavanya. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju mejanya, berusaha menghindari kontak mata dengan siapa pun. Namun, sebuah lengan tiba-tiba merangkul pundaknya dengan semangat.
"NYA! CERITA SEKARANG!" Laila muncul dengan mata berbinar-binar, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Lavanya. "Gue dengar dari anak operasional, lo balik dari Lombok bareng Pak Leo naik jet pribadi? GILA! Lo diapain aja di atas awan, hah?!"
Lavanya buru-buru membekap mulut Laila dan menarik seniornya itu ke pojokan pantry yang sepi.
"Mbak, pelan-pelan suara lo! Bisa mati gue kalau yang lain dengar!"
"Ya habisnya lo bikin heboh! Yudi aja mukanya ditekuk seharian karena bukan dia yang disuruh nyusul. Jadi gimana? Pak Singa galak nggak selama di sana?"
Lavanya ragu sejenak. Ia menatap Laila dengan serius. "Mbak... lo yakin Pak Leo sudah menikah?"
Laila mengerutkan kening, lalu tertawa renyah. "Ya ampun, Nya. Itu kan rahasia umum. Kenapa? Lo kena peletnya ya? Ingat Nya, biarpun seksi, dia itu limited edition milik orang lain. Jangan mau jadi pelakor, ntar rahim lo nggak anget lagi tapi malah gosong diamuk istrinya."
Lavanya mendengus dalam hati. Istri mana, Mbak? Istri imajiner?
"Tapi Mbak, pernah nggak sih lo lihat fotonya? Atau denger Bapak teleponan sama istrinya?"
Laila terdiam, tampak berpikir keras. "Uhm... nggak sih. Tapi kan penampilannya itu lho, matang begitu. Masak belum ada yang punya? Eh, tunggu..." Laila menyipitkan mata, menatap Lavanya penuh curiga. "Jangan-jangan... lo tau sesuatu ya?"
Sebelum Lavanya bisa menjawab, suara bariton yang sangat ia kenali terdengar dari arah pintu pantry.
"Lavanya, ke ruangan saya sekarang. Bawa dokumen project di Lombok"
Leo berdiri di sana, berdiri tegak dengan setelan jas abu-abu yang membuatnya tampak lima kali lipat lebih berwibawa. Ia melirik Laila sekilas—tatapan yang sanggup membekukan aliran darah—lalu kembali menatap Lavanya.
"Baik, Pak," jawab Lavanya patuh.
Saat Lavanya berjalan melewati Laila, seniornya itu berbisik tanpa suara, "Good luck, pahlawan devisa. Jangan sampai khilaf!"
Lavanya hanya bisa menghela napas. Jika Laila tahu apa yang terjadi di pesawat, mungkin perempuan itu bukan cuma bisik-bisik, tapi bakal bikin konferensi pers satu kantor.
Memasuki ruangan Leo, Lavanya merasakan atmosfer yang berbeda. Pintu tertutup otomatis di belakangnya. Leo tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan berdiri di dekat jendela besar yang menghadap gedung-gedung Jakarta.
"Sudah selesai bergosip dengan Laila?" tanya Leo tanpa berbalik.
"Hanya menyapa, Pak."
Leo berbalik, tatapannya mengunci Lavanya. "Ingat kata-kata saya di pesawat, Lavanya. Status saya, urusan kita. Paham?"
Lavanya menelan ludah. "Paham, Pak."
"Bagus. Sekarang, mari kita bahas proyek Cita. Serta... jadwal Sabtu malam kamu. Saya dengar Ibu kamu ingin menjodohkan kamu dengan seorang dokter?"
Lavanya terbelalak. "Bapak... Bapak tahu dari mana?!"
Leo tersenyum miring, sebuah senyum yang membuat Lavanya sadar bahwa Singa ini benar-benar punya mata di mana-mana.
"Membatalkan perjodohan konyol itu jauh lebih mudah daripada memenangkan tender resort, Vanya. Dan saya lebih suka menang di keduanya."
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....