Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Bertemu sebagai musuh berakhir di pelaminan.
Kisah perjodohan untuk mempererat hubungan kedua keluarga.
Janganlah terlalu mencintai, siapa tau menjadi musuh.
Jangan terlalu membenci, mana tau jadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
*Di kediaman Shofi.
Shofi dengan wajah muram berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Tidak biasanya hari begitu lelah, mungkin saja karena Adit yang telah mengerjainya.
Yanti melihat anaknya yang sangat lelah, ia pun berjalan menghampirinya.
"Kenapa dengan anak Mama?" ucap Yanti sembari duduk di sampingnya.
"Lelah! Kesal! Ingin marah!" ucap Shofi memejam matanya. Ia begitu kesal dengan apa yang telah terjadi.
"Kenapa? Kok tumben anak Mama begini" ucap Yanti menatap Shofi dengan serius.
"Huff" Shofi menghela nafasnya dan membuka matanya.
"Adit, Ma!" Shofi menatap kedua mata Yanti.
"Kenapa dengan Adit?" Yanti mengernyitkan keningnya penasaran dengan apa yang dikatakan Shofi, tidak biasanya dia mengeluh nama seseorang, apalagi itu, Adit. Sebenci-bencinya Shofi, ia tidak akan pernah menceritakan keluh kesahnya pada orang lain. Namun kali ini sangat berbeda.
"Adit yang bikin aku gini, Ma. Dia menghukum aku di depan teman-teman ku yang lain" jelas Shofi kesal.
"Menghukum bagaimana? Coba kamu jelaskan ke Mama" ucap Yanti bingung.
Shofi membenarkan posisi duduknya dan menatap kedua mata Yanti dengan serius.
"Hari ini Adit jadi dosen menggantikan Pak Boy Gunawan. Aku terlambat masuk kelas dia, dan dia suruh aku berdiri di depan kelas sampai jam ngajar dia habis. Mama tau? itu sangat memalukan. Kaki aku juga pegel-pegel" jelas Shofi memelas.
"Hahaha.. kasihan anak Mama" ledek Yanti sembari tertawa.
"Iihh.. Mama..! malah ledekin aku" ucap Shofi kesal dengan memayunkan bibirnya.
"Lagian kenapa kamu bisa terlambat ke kampus? Di kamar ngapain aja?" tanya Yanti berturut-turut dengan tatapan penasarannya.
"Aku ngantuk, Ma. Selesai shalat subuh aku tidur lagi" jelas Shofi dengan polos.
"Memangnya semalam gak tidur?" tanya Yanti mengintrogasi Shofi.
"Itu semua gara-gara Adit gila itu, Ma. Coba aja dia antar aku pulang dengan cepat, pasti gak kaya gini" pekik Shofi kesal.
"Kamu pulang jam berapa semalam?" tanya Yanti dengan wajah serius.
"Jam 1 pagi, Ma" ucap Shofi polos.
"Apa? Anak Mama diantar pulang jam 1 pagi? Dia tepati kata-katanya?" pekik Yanti terkejut.
"Tepati apa sih, Ma?" ucap Shofi lesu melirik Yanti.
"Gak bisa dibiarin! Mama harus hubungi tante Salma, pokoknya pertunangan kalian harus dipercepat" ucap Yanti berjalan mengambil ponselnya di nakas.
"Mama! apa sih? Ngapain juga hubungi tante Salma" Shofi kesal dengan Yanti yang begitu buru-buru dengan tindakannya.
"Gak bisa, Nak. Kamu harus tunangan secepatnya dengan Adit." ucap Yanti menatap Shofi dengan serius.
"Ma! Aku dihukum sama Adit. Apa hubungannya dengan tunangan?" protes Shofi kesal.
"Ada dong. Adit bilang sama kami mau apa-apain kamu dan dia buktikan omongan dia. Buktinya dia bawa pulang kamu jam 1 pagi" jelas Yanti menatap Shofi dengan serius.
"Ya Allah..! Mama! Dia gak apa-apain aku, kami gak ngapain-ngapain. Lagian ini juga salah kalian" cerocos Shofi kesal.
"Kok jadi Mama yang disalahin?" tanya Yanti kaget.
"Iyalah, Ma! Kalau saja kalian angkat waktu Adit menghubungi kalian, gak mungkin juga aku pulang telat" ucap Shofi melipat kedua tangannya di dadanya.
Mama mengernyit keningnya, ia masih tidak paham dengan apa yang dimaksud Shofi.
"Semalam ban mobil Adit kempes. Dia hubungi ke semua orang tapi gak ada yang mau angkat. Terpaksa deh kami tunggu di mobil" jelas Shofi melas.
"Oh gitu! Tapi Mama juga harus hubungi tante Salma. Pokoknya kalian harus secepatnya bertunangan" ucap Yanti menghubungi Salma.
"Mama..! Bisa gak jangan bikin aku tambah pusing" pekik Shofi kesal.
"Assalamualaikum, Jeng" ucap Yanti lembut.
"Ma..! Ma..! Shofi mohon jangan hubungi tante Salma". Shofi menarik-narik lengan Yanti, namun Yanti menepis tangan Shofi dan pergi menjauh darinya. Shofi berusaha mengejar Yanti, namun semuanya nihil. Dia tidak bisa menghentikan Yanti. Rasa kesal semakin memuncak, ia segera berlari ke kamarnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Itu Shofi kenapa?" Salma bingung karena ia mendengar suara Shofi yang merengek pada Yanti.
"Gini, Jeng. Semalam Adit bawa pulang Shofi jam 1 pagi" ucap Yanti serius.
"Apa? Adit apa-apain Shofi gak atau apa?" cerocos Salma panik.
"Dari penjelasan Shofi sih gak ada. Tapi, aku mau menjadikan alasan ini untuk mempercepat pertunangan mereka" jelas Yanti dengan senyum liciknya.
"Wah! Ide yang bagus itu. Aku setuju banget sama kamu. Jadi, kapan aku bisa kesana melamar anakmu?" tanya Salma tersenyum bahagia.
"Kapanpun kamu mau datang aku selalu siap. Pintu rumahku selalu terbuka lebar untuk keluargamu" jelas Yanti tersenyum bahagia.
"Gimana kalau nanti malam?"
"Boleh, lebih cepat lebih baik"
"Baiklah kalau begitu, aku hubungi Mas Herlambang dulu ya"
"Iya, aku juga harus beritahu orang rumah. Kalau begitu sampai jumpa nanti malam ya. Assalamualaikum"
"Iya, wa'alaikumussalam warahmatullah"
-----
*Di kamar Shofi.
Shofi dengan rasa marah dan kesal yang menyelimuti diri masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kasar.
Ia terus berjalan mendekat kasurnya, ia menggerutu sepanjang perjalanannya.
"Mama kenapa sih sesuka hatinya aja? Gak pernah mau dengerin aku. Ini semua gara-gara si rubah licik itu, bukannya cari cara untuk membatalkan pertunangan ini, eh malam di percepat. Stupid..! Stupid..! Stupid..!
"Adit..! I hate you... Aku benci benci benci sangat membencimu" pekik Shofi sambil memukul bantalnya.
-----
Salma mengirim pesan kesemua anak-anaknya, ia menyuruh mereka pulang cepat hari ini. Termasuk dengan Herlambang. Tidak ada yang bisa menolak perintah Salma.
Mendengar suara Salma yang menyuruh Herlambang pulang, dengan segera mungkin ia pulang, begitu juga dengan Rangga.
Adit yang sedang berada di kampus terpaksa menunda keinginannya untuk mengunjungi kantornya. Ia berencana setelah dari kampus ia ke kantor untuk mengurus semua kegiatan di kantornya, tapi perintah Salma tidak bisa diabaikan, itu akan membuat masalah baru baginya.
Adit dengan rasa penasaran dan bingungnya ia langsung menyetir mobil dan pulang ke rumahnya.
"Assalamualaikum" ucap Adit membukakan pintu rumahnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" ucap mereka semua.
Adit berjalan dengan sedikit penasaran melihat semua anggota keluarganya berkumpul di rumah, padahal masih siang dan belum waktunya jam pulang kantor.
Adit berjalan langsung mencium punggung tangan Herlambang dan mencium kedua pipi Salma.
"Duduk, sayang!" ucap Salman menuntut Adit duduk di sampingnya.
Adit mengangguk kepalanya hanya menurut perintah Salma.
"Ada apa ini, Ma?" tanya Herlambang menatap Salma dengan serius.
"Jadi gini, Mama kumpulkan kalian semua karena ada hal yang ingin mama sampaikan" ucap Salma serius menatap mereka secara bergantian.
Semuanya mengernyit keningnya dengan rasa penasaran dengan hal yang ingin Salma sampaikan.
"Nanti malam kita ke rumah Yanti untuk melamar Shofi" ucap Salma tersenyum.
Semua mata membelalak mendengar omongan Salma yang mereka pikir itu sangat cepat.
"Kenapa secepat itu? Apa kamu sudah membicarakan ini kepada Bram?" tanya Herlambang serius.
"Sudah, Pa! Tadi Mama sudah berbicara dengan Yanti"
"Ma! Pernikahan Rangga 3 minggu lagi, dan sekarang mau melamar Shofi apa itu tidak terburu-buru?" tanya Herlambang menatap Salma mencoba memberi pengertian.
"Gak kok, Pa! Malahan ini akan lebih baik untuk mereka, lagian semuanya yang atur WO. Jadi, kita tinggal terima beres saja" jelas Salma santai.
"Ma! Adit gak mau" ucap Adit santai.
"Kamu harus mau" ucap Salma tegas.
"Gak, Ma!" ucap Adit datar.
"Sudahlah, Ma! Jangan dipaksakan. Biarkan dia menikmati masa kesendiriannya dulu. Lagian Rangga mau nikah. Setelah Rangga, baru kita pikirkan Adit" jelas Herlambang mencoba memberi pengertian.
"Gak bisa, Pa! Papa tau? Semalam Adit bawa pulang Shofi jam 1 pagi. Sebagai lelaki normal apa yang kalian pikirkan ketika berduaan dengan seorang wanita cantik?" tanya Salma menatap mereka bergantian.
"Adit?" Herlambang menatap tajam kedua mata Adit, begitu juga dengan Rangga. Mereka memikirkan Adit telah melakukan sesuatu hal yang tidak senonoh terhadap Shofi.
"Ada apa? Kenapa kalian menatap Adit begitu?" tanya Adit bingung.
"Apa benar yang dikatakan Mamamu?" tanya Herlambang menatap Adit dengan tajam, seakan tatapan itu menghunusnya.
"Iya" ucap Adit spontan.
"Adit?" pekik Papa geram.
"Papa tenang dulu. Adit memang mengantar Shofi jam 1 pagi, tapi itu salah kalian gak mau mengangkat telponnya." jelas Adit santai.
"Maksud kamu apa, Dit?" Herlambang kembali bertanya.
"Ban mobil Adit kempes. Adit hubungi kalian tapi gak ada yang angkat, untung Dimas yang datang tolongin Adit" jelas Adit dengan santai.
"Tapi kamu tetap harus bertunangan dengan Shofi! Mama gak mau bikin malu anak orang" jelas Salma. Ini semua rencana Salma dan Yanti untuk menjodohkan mereka. Ia tidak peduli seberapa kerasnya mereka menolak, yang paling penting mereka harus segera bersatu.
"Gak mau, Ma. Lagian Adit gak apa-apain dia" ucap Adit santai.
Salma menatap kedua mata Herlambang. Ia ingin menyampaikan agar Herlambang menyetujui idenya. Herlambang yang mengerti maksud Salma, ia langsung menganggukkan kepalamya, menandakan ia setuju.
"Papa setuju dengan Mama. Kamu harus bertunangan dengan Shofi" ucap Herlambang serius.
"Rangga! Lo bantu gue dong! Lo gak maukan acara wedding lo kacau gara-gara gue?" ucap Adit melas.
"Sorry! gue gak bisa, Dit! Gue ikut aja saran Mama dan Papa. Lagian wedding diurus sama WO" ucap Rangga santai.
"Karena semuanya sudah setuju, nanti malam kita ke rumah Mas Bram" jelas Yanti tersenyum bahagia.
"Adit gak mau, Ma"
"Harus mau!"
"Tapi, Ma"
"Gak ada tapi-tapian"
"Terserah Mama deh!" ucap Adit mengacak rambutnya.
Salma tersenyum bahagia karena semuanya berjalan dengan apa yang di harapkan.