Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi jantung Sang Nenek, Kanaya rela menjadi ibu pengganti bagi pasangan suami istri Yuga Tjandra dan Zielin.
Tak mau melahirkan diluar ikatan pernikahan, Kanaya meminta suami dari Zielin itu menikahinya secara siri dan sepakat untuk bercerai begitu anak yang dikandungnya telah lahir.
Bagaimanakah kisah rumah tangga mereka selanjutnya, jika Yuga akhirnya juga mencintai Kanaya? Relakah Zielin membagi suaminya dengan ibu pengganti untuk anak mereka?
Jangan lupa rate ⭐lima dan follow akun medsos author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RK - Chapter 19
Bukannya menjawab, Yuga malah mencium kening Kanaya.
"Hati-hati ya selama di rumah, jangan terlalu capek! Jika Zi menyuruhmu mengerjakan pekerjaan rumah, tolak saja. Dan kalau dia masih memaksa hubungi aku, aku yang akan menegurnya," ucap Yuga sesaat setelah mengecup kening Kanaya.
"Tapi.... "
"Kamu bukan pembantu di sini, kamu juga istriku sama seperti Zi," pungkas Yuga.
"Tapi, tetap saja, Mas, aku ini hanya wanita bayaran. Wanita yang kamu dan Nyonya Zi sewa untuk menjadi ibu pengganti untuk anak kalian. Karena pada akhirnya setelah anak dalam perutku lahir, sesuai kontrak aku harus menyerahkan bayi ini kepada kalian tanpa bisa mengakui aku ini adalah ibunya. Karena pada hari itu kita juga akan bercerai."
Perkataan Kanaya membuat Yuga terdiam. Iya, sesuai dengan kontrak setelah bayi itu lahir, keduanya memang harus mengakhiri pernikahan itu. Dan memang itulah keinginan dia dan Zielin awalnya. Akan tetapi, entah sejak kapan tidak ada niatan sedikit pun di hati Yuga untuk bercerai dari istri sirinya tersebut.
Yuga tidak tahu dengan pasti alasan kenapa hatinya tiba-tiba berubah.
"Hari itu masih lama, jadi turuti saja perkataanku!" ucap Yuga. "Lagi pula bukankah jika kamu terlalu capek maka justru akan membahayakan anak dalam kandunganmu. Oleh karena itu lakukan perintahku."
Yuga kembali melangkah masuk ke dalam mobil dan langsung meninggalkan halaman rumahnya.
Setelah mobil itu tak lagi terlihat, Kanaya pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Sebenarnya cinta yang terlihat di mata Mas Yuga itu ditujukan untuk siapa? Aku atau anak dalam kandunganku ini?" batin Kanaya sambil mengusap perutnya. Dia juga kembali mengingat perlakuan Yuga tiap mereka melakukan hubungan intim tersebut. Dari yang awalnya kasar dan penuh kebencian. Hingga akhirnya berubah lembut dan seolah penuh cinta.
"Mungkin aku yang terlalu banyak berharap. Dia tidak mungkin mencintaiku, dia bersikap begitu karena membutuhkanku untuk melampiaskan semuanya karena Nyonya Zi sering pergi, dia hanya butuh seseorang yang bisa dijadikan tempat untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya." Kanaya berusaha untuk melogiskan pikirannya dan tidak mau hanyut ke dalam perasaannya sendiri. Dia berusaha memposisikan dirinya agar tetap berada di tempatnya agar ketika waktunya tiba, ia harus melepas semuanya hatinya tidak terluka terlalu dalam. Ia juga harus menanamkan di pikirannya sendiri jika anak yang sedang berada di dalam kandungannya adalah anak Yuga dan Zielin karena pada akhirnya begitu anaknya itu lahir, ia harus menyerahkan kepada mereka.
"Sayang, Mama sayang banget sama kamu. Tapi, maafin Mama ya jika kelak Mama harus meninggalkanmu bersama dengan Papamu dan Nyonya Zi. Tolong jangan benci Mama ketika hari itu tiba." Kanaya kembali mengusap perutnya yang masih rata.
Iya, pada akhirnya semua akan kembali ke tempat masing-masing ketika hari itu tiba.
***
"Za, apa jadwalku hari ini?" tanya Yuga kepada asistennya begitu ia tiba di ruang kerjanya.
Yuga meletakkan tas kerjanya di atas meja sebelum akhirnya ia mendaratkan bokongnya di kursi.
"Jam sebelas nanti ada rapat dengan pimpinan perusahaan Ammarta Grup," jawab Reza.
"Hanya satu itu?" tanya Yuga memastikan.
"Iya, Pak. Hari ini hanya itu jadwalnya."
"Ohya, Za. Kamu tahu dimana penjual cilok yang enak di pinggir jalan?"
Reza manautkan alis dan menatap bosnya penuh tanya. "Kenapa Bapak menanyakan hal itu?" tanyanya.
"Hanya ingin tahu saja. Akhir-akhir ini aku lihat jajanan itu lagi ngetrend. Makanya aku penasaran," jawab Yuga berbohong. Dia tidak mungkin memberitahu Reza, jika Kanaya menginginkan jajanan tersebut. Karena bagaimanapun, Reza tidak pernah tahu kalau dia memiliki dua istri.
"Apa Pak Yuga ingin menjadikan jajanan itu sebagai peluang bisnis baru buat Bapak?" tanya Reza lagi.
"Iya, kamu benar." Yuga berpura-pura membenarkan pertanyaan asistenya tersebut.
"Nanti saya akan cari tahu di internet cilok mana yang paling tranding akhir-akhir ini," ujar Reza.
"Oke, kabari aku saat kamu mendapatkan informasi itu."
"Baik, Pak," jawab Reza.
Yuga membuka tas kerjanya untuk memeriksa dokumen yang akan digunakan untuk rapat nanti. Akan tetapi ia tidak menemukan itu di dalam tas.
"Ada apa, Pak?" tanya Reza.
"Berkas untuk meeting nanti tertinggal di rumah," jawab Yuga.
"Bukankah kita punya file itu dalam bentuk digitalnya?"
"Iya, tapi pimpinan perusahaan Ammarta Grup selalu menginginkan dalam bentuk file fisiknya juga."
"Apa saya perlu ke rumah Bapak sekarang untuk mengambil dokumen itu?" tanya Reza.
"Tidak usah, biar aku telepon Kanaya dan menyuruhnya untuk mengantarkann berkas itu ke sini. Karena kalau kamu harus ke rumahku dulu tidak akan sempat karena ini sudah jam setengah sebelas.
"Pak siapa itu Kanaya? Apa dia pembantu baru Bapak?"
Pertanyaan Reza membuat Yuga menghentikan kegiatannya dan menatap asisten pribadinya tersebut.