Hidup bahagia menjadi ratu dalam sebuah keluarga. Memiliki suami dan anak yang begitu mencintainya. Husna namanya. Seorang ibu rumah tangga yang begitu dicintai suaminya dan keluarganya.
Namun, dia mendapatkan sebuah pesan rahasia yang membuat hidupnya berubah begitu drastis.
Apakah pesan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen's Suga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Arini
"Kita terbang di pesawat lain."
"Gak perlu. Aku dan Lean naik pesawat bareng yang lain aja. Makasih, ya, Fadel."
"Rin."
"Fad, please!" Arini sedikit menekan suaranya saat Fadel memegang tangan Arini. Fadel yang mengerti jika Arini benar-benar tidak ingin diganggu pun melepaskan tangannya dan membiarkan Arini pergi bersama rombongan. Tiket pesawat yang sudah dua pesan pun dibuangnya ke tong sampah begitu bis rombongan Arini pergi.
"Mama, ada apa? Kenapa mama tadi keliatan marah sama Om Fadel," tanya Lean saat mereka sudah terbang.
Arini memeluk putra tersayangnya. "Mama bukan marah, Nak. Mama hanya merasa malu sama Om Fadel."
"Malu kenapa? Mama buat salah ya?"
Arini mengangguk beberapa kali diiringi tetesan air mata yang jatuh di pipinya. Ingatan Arini kembali pada kejadian malam itu.
Farhan dengan kuat mendorong tubuh Arini ke dalam kamarnya. Dia membekap mulut Arini dan mengunci tubuhnya di atas kasur.
Arini berusaha berontak tapi tidak bisa mengalahkan tenaga Farhan yang memang memiliki tubuh lebih besar dan kuat, serta keinginan yang tidak bisa dibendung lagi untuk meniduri Arini.
Malam itu menjadi malam terpahit yang Arini alami. Dia merasa trauma dan jijik pada dirinya sendiri. Hatinya menjerit dan tidak terima atas apa yang Farhan perbuat, tapi bagaimanapun juga kejadian itu tidak bisa dikatakan sebagai pemerkosaan karena mereka belum bercerai.
Arini memeluk Lean dengan kuat, bukan untuk menguatkan putranya tapi untuk meminta kekuatan dari tubuh kecil itu.
Arini terus mengusap leher dan tubuhnya saat dia merasa jijik karena perbuatan Farhan padanya. Ingin menangis tapi tidak bisa karena terlalu sakit, ingin marah tapi bingung harus bagaimana. Butuh tempat mengadu entah kepada siapa. Arini hanya bisa menahan semuanya sendiri dengan ketakutan yang luar biasa.
Setiap mandi dia selalu menggosok tubuhnya dengan kuat berharap noda itu sirna bersama air yang mengalir. Tetapi tetap saja, Arini masih merasa jijik dan kotor.
Selain itu, dia lebih sering merasa kaget jika bertemu dengan seseorang terutama pria yang mendadak bersentuhan dengannya. Jantungnya akan berdetak lebih cepat. Tangannya dingin dan berkeringat.
Arini akan kesulitan saat dia masuk ke dalam mobil jika bersenggolan dengan lawan jenis. Tangannya akan gemetar hingga kesulitan untuk menyetir.
Dia butuh waktu lama untuk menenangkan diri jika kejadian itu terjadi.
"Ma."
Arini terhentak kaget saat Lean tiba-tiba ada di dekatnya.
"Ada apa, Ma? Kenapa mama sering kaget gitu kalau aku deket-deket. Mama takut? Takut sama aku?" tanya Lean.
Arini menggeleng sambil tersenyum.
"Mama kaget karena sedang melamun. Ada apa, Sayang?" tanya Arini sambil memeluk anaknya dari belakang. Lean duduk di atas pangkuan Arini.
"Aku boleh, gak, main sama Om Fadel. Aku mau beli sesuatu."
"Kapan?''
"Nanti sore. Boleh, ya, Ma? Sekali ini saja kok."
"Iya, boleh. Tapi pulang sebelum gelap."
"Assiiiik ... siap, Mama. Saaayang, Mama." Lean mengecup pipi Arini sebelum dia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Tiga puluh menit kemudian Fadel datang. Dia terlihat rapi dan bersih. Arini diam-diam mengintipnya dari balik tirai balkon atas.
Ada rasa yang begitu tidak enak menyusup ke dalam hati Arini.
"Lean, sudah siap belum? Om Fadel udah datang kayaknya," tanya Arini dari luar kamar Lean.
"Udah, Ma. Bentar lagi."
"Mama turun ya, mau buat minum buat Om Fadel."
"Iya, Ma."
Arini terlihat bersemangat saat menuju tangga untuk turun menemui Fadel. Saat dia melewati sebuah cermin besar yang ada di tembok bawah dekat tangga, Arini berhenti. Dia menoleh ke arah cermin lalu menatap tubuhnya sendiri.
Ingatan tentang sikap Farhan malam itu kembali muncul. Dia merasa jijik dan sangat marah. Keinginan untuk menemui Fadel pun sirna. Dengan lesu Arini membalikan badan menuju tangga.
"Tunggu."
Langkah Arini terhenti saat sebuah tangan menggenggam tangannya.
"Fad."
"Apa kabar, Rin?" tanya Fadel canggung dan malu-malu.
"Aku baik. Lama gak ketemu, Fad."
"Begitulah. Kamu sibuk menghindariku."
"Sorry."
"Bagaimana perasaan kamu karena sudah resmi bercerai dengan Farhan? Apa semua tuntutan kamu di setujui?"
"Ya, untungnya Lestari hadir dan dua menyetujui tuntutan yang aku berikan. Nafkah Lean dan biaya pendidikannya mereka yang tanggung."
"Syukurlah."
Mereka saling diam dalam situasi canggung dan salah tingkah.
"Mau minum? Biar nanti Mba yang bikin."
"Gak usah, aku gak haus. Emmm ini."
Fadel memberikan sebuah bunga untuk Arini.
"Makasih, Fad. Emmm, tunggu sebentar lagi nanti Lean turun. Entah sedang apa anak itu, kenapa dandan lama banget, sih."
Arini pun kembali ke atas untuk memanggil Lean. Belum sampai ke anak tangga paling atas, Lean turun.
"Ya ampun, kamu kenapa lama banget, Nak? Om Fadel nungguin kamu dari tadi."
"Iya, Ma. Ma, itu bunga dari Om Fadel?"
"Iya. Ya udah sana. Selamat bersenang-senang, ya, Jagoan." Arini mencium kening anaknya.
"Mama gak ikut?"
"Mama gak enak badan, mau istirahat aja di rumah."
"Oke. Bye, Ma."
Lean melambaikan tangan pada Arini. Entah apa yang membuat Arini kembali turun dan mengikut Lean.
"Kenapa mama ikut?" tanya Lean. Anak itu berhenti berjalan saat sadar ibunya mengikuti dari belakang. Fadel pun ikut penasaran dan menatap Arini. Menunggu jawaban.
"Mama mau anter kamu sampai depan," ucap Arini gugup.
Fadel tersenyum penuh arti.
"Bye, Lean. Have fun, ya."
Lean melambaikan tangan saat sudah di dalam mobil. Sementara Fadel masih berdiri di depan Arini.
"Kamu gak ikut aja sekalian? Sekali-sekali kita jalan bertiga. Lean pasti seneng."
"Belakangan ini aku merasa sering lelah. Aku ingin istirahat aja di rumah."
"Mau dibawain apa?"
Arini tampak berpikir. "Emmm yang manis dan lembut."
"Manis dan lembut? Apaan?"
"Gak tau aku juga bingung. Pokoknya aku mau yang manis tapi lembut."
Fadel menggaruk kepalanya karena bingung.
"Ya sudah, apa aja lah. Intinya yang manis-manis deh."
"Aku juga manis loh." Fadel menggoda.
"Kamu gak bisa aku makan, Fadel. Mau aku gigit?"
"Coba kalau berani." Fadel menantang Arini dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Arini.
Sikap Fadel membuat Arini teringat pada Farhan yang memaksanya saat di hotel. Hal itu membuat Arini takut dan langsung meninggalkan Fadel.
Melihat sikap Arini, Fadel merasa heran. Arini tidak tersipu saat dia goda, tapi terlihat begitu syok dan takut.
"Ada apa dengannya?"
"Om, ayoooo."
"Eh, iya. Om ke sana, Nak."
Fadel segera berjalan menghampiri Lean yang sudah sejak tadi di dalam mobil. Mereka pun pergi.
Arini masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Lagi-lagi dia menggosok seluruh tubuhnya dengan shower puf agar 'noda' yang dia rasa masih menempel, hilang.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bener ini 🤣🤣🤣novel isinya g harus perempuan merebut milik orla tp memang lakinya yg g benar🤭🤣🤣
lestari alamku lestari desaku....