Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa yang Terjebak
Kalau bukan karena permintaan ayahnya dan ingin melihat ayahnya bahagia, Edward tidak akan mau menemui gadis itu, menjatuhkan harga dirinya dengan memanggil Senja.
Sosok Edward muncul di dekat Senja kala gadis itu sedang asyik bercerita bersama Tina dan Rina. Ketiganya tertawa cekikikan, membahas satpam rumah sakit yang terang-terangan mendekati Rina.
Menyadari tatapan tajam seseorang yang mengintai mereka, ketiganya sontak diam dan serentak menoleh ke belakang. Benar saja, sosok menjulang tinggi melihat ke arah mereka setajam mata elang.
Rina dan Tina spontan berdiri untuk menunjukkan rasa hormatnya, menghargai kehadiran Edward, tapi Senja masih duduk dengannya.
"Aku ingin bicara denganmu," hardik Edward, masih dengan mata elangnya mengawasi Senja.
Senja sama sekali tidak menggubris, dia merasa pria itu sudah seharusnya diajarkan sopan santun dan bagaimana bersikap yang benar terhadap orang yang diajaknya bicara.
"Bukankah Anda yang butuh dengan saya? Kenapa saya harus datang ke tempat Anda?" ujar Senja yang kini justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, bersikap cuek dan tidak takut sama sekali.
Penolakan itu tentu saja membuat Edward begitu marah. Namun, dia membungkam kalimat sumpah serapannya untuk gadis tengil itu. Dia akhirnya mengalah untuk kali pertama dalam hidupnya, maju ke hadapan Senja dan meminta gadis itu ikut dengannya untuk menemui ayahnya dan tak lupa juga menegaskan kepada gadis itu bahwa itu adalah keinginan ayahnya, maksudnya agar Senja tidak salah paham terhadapnya.
Dalam diamnya Senja berpikir, apakah akan ikut dengan Edward atau tetap bergeming di tempatnya, tetapi karena tidak ingin melihat kedua wajah temannya tersiksa, Senja mengalah, mengikuti langkah pria itu yang bahkan sudah jauh di depan sana.
Kala Senja memasuki ruangan itu, Edward sudah dilihatnya duduk di sofa sembari memainkan ponsel, sementara Susan yang duduk di samping ranjang ayahnya melambai menyambut kedatangannya.
Lagi-lagi hati Senja menghangat melihat senyum Susan yang begitu tulus, berbeda dengan pria arogan yang bahkan tidak mau melihat ke arahnya ketika dia tiba di ruangan itu.
Senja mendekat agar bisa berbicara dengan tuan Rudolf.
"Selamat siang, Tuan, tampaknya Anda sudah sehat," Senja mengembangkan senyumnya dengan ragu-ragu. Dari kedua temannya, dia juga sudah mendengar riwayat tuan Rudolf Stanfield, pria itu 11-12 dengan putranya, jadi Senja putuskan mungkin menjaga jarak dengan pria tua itu adalah jalan yang tepat.
"Kemarilah, kenapa kau begitu jauh? Aku tidak menggigit," jawab tuan Rudolf tersenyum kala melihat sosok Senja.
Setelah dia sadar, baru kali ini dia bertemu langsung dengan Senja. Saat melihat bola mata dan juga wajah gadis itu, Rudolf merasakan kekuatan lain dalam diri Senja.
"Kalian berdua, bisa tinggalkan papa bersama Senja? Papa ingin bicara dengannya," pinta tuan Rudolf pada Susan dan Edward.
Awalnya Edward yang mengerutkan kening, penasaran mengapa ayahnya ingin bicara berdua saja dengan Senja, bukankah hanya cukup mengucapkan terima kasih kepada wanita itu, kalaupun benar perkataan ayahnya karena dirinya lah yang menolong ayahnya kala diambang maut?
Edward tidak mau mendebat, apalagi bertanya, dia memutuskan keluar bersama Susan.
"Apa sebaiknya aku mengantarmu pulang? Kasihan Leon udah berhari-hari kamu meninggalkannya," ucap Edward yang juga mengkhawatirkan keponakannya itu.
Tidak ada yang mungkin menyakiti Leon di rumah, dia dijaga oleh pengawal dan juga banyak pelayan, hanya saja dia pasti bertanya-tanya ke mana Om dan ibunya pergi selama itu.
Sebaiknya kau di sini, biar aku yang pulang. Bukankah ada Tommy di bawah? Mintalah dia yang mengantarkanku pulang," ucap Susan sembari meletakkan kepalanya di lengan pria itu.
Kedua pria di keluarga Stanfield begitu sangat menyayangi Susan dan melindungi dirinya. Satu hal kesalahan Susan saat dia masih muda memilih pria yang salah yang berakhir dengan perpisahan. Pria itu tidak pernah mengatakan kalau dirinya sudah menikah, dia yang bekerja sebagai pegawai di kantor ayahnya, menarik perhatian Susan dan mulai mengiriminya pesan cinta. Susan yang anak rumahan akhirnya jatuh cinta kepada pria itu dan hamil diluar nikah.
Oleh ayahnya yang terlambat mengetahui kedekatan keduanya akhirnya memutuskan untuk menikahkan mereka secara sirih. Hanya berselang beberapa jam setelah akad pernikahan itu, Rudolf dengan sadis membawa Susan kembali ke rumah mereka dan membiarkan pria itu menjadi gelandangan karena sudah dipecat.
Susan tidak membantah apa yang dilakukan oleh ayahnya, dia tahu dia yang salah sudah menjalin hubungan dengan suami orang.
Dia juga sadar dia sudah membuat rumah tangga seorang wanita hancur karena dirinya, oleh sebab itu dia memutuskan untuk meninggalkan ayah Leon, walaupun pria itu tetap saja mengejarnya dan memintanya untuk melarikan diri.
Susan menolak dengan tegas, tapi pria itu mengancam akan mengambil Leon secara hukum. Namun, Tuhan berkehendak lain, sebelum pria itu melakukan niatnya, kecelakaan terjadi, mobilnya hancur menabrak truk dan meninggal di tempat.
Hingga detik ini Leon masih tidak mengenal siapa ayahnya dan Edward bertanggung jawab memastikan kalau Leon tidak perlu tahu asal usul ayahnya yang telah tiada itu.
"Baiklah kalau itu maumu, aku akan mengantarmu ke bawah," jawab Edward membelai rambut kakaknya. Dia begitu menyayangi kakaknya itu.
Sejak dulu dia begitu kesepian tidak memiliki teman dan juga hanya mengurung diri di rumah, Edward kadang merasa kesepian, tapi sikap keras ayahnya membuat mereka tidak berdaya.
Setelah Leon masuk TK, Susan berkenalan dengan beberapa orang tua siswa dan membentuk kelompok menjadi kumpulan wanita sosialita yang sering kali melakukan pertemuan untuk arisan atau sekedar makan siang bersama.
Walaupun sebenarnya Susan tidak menyukai mereka, karena banyak di antara mereka yang munafik. Pada setiap pertemuan, hanya membanggakan harta dan kekayaan mereka, juga sering menjilat kepada Susan agar suami mereka dapat dibantu oleh perusahaan ayahnya.
Setelah menghantarkan Susan sampai lob rumah sakit dan melihatnya pulang bersama Tommy, Edward kembali naik ke atas.
***
"Duduklah Senja," ucap Rudolf dengan tatapan mengawasi gerakan Senja.
Gadis itu membeku, baru satu langkah dia berjalan, tersadar bahwa pria tua itu memanggilnya dengan Senja. Tidak ada orang yang tahu bahwa dirinya bukan Dinda, melainkan Senja.
Awalnya Senja menduga pria itu hanya salah menyebutkan nama, menganggap dirinya adalah kepala rumah sakit ini, Airin Senja.
"Kenapa kau jadi berhenti? Apa kau terkejut kalau aku memanggil namamu dengan sebutan Senja?" tanya pria itu tersenyum dengan penuh tanda tanya besar.
"Kemarilah, kita berbincang sebentar. Selain ingin mengucapkan terima kasih, aku juga ingin mendengar ceritamu, bagaimana ada sosok jiwa lain yang berada terperangkap di dalam tubuh itu?" tanyanya sembari menunjuk diri Senja.
Insting Senja memintanya untuk duduk tepat di hadapan Rudolf. Tampaknya pria itu mengetahui sesuatu hal mengenai dirinya yang masuk ke dalam dunia novel ini.
"Apa yang Anda ketahui? Mengapa Anda memanggil saya dengan nama Senja?"
"Karena kau memang Airin senja Bukan Dinda Dinata!"