"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Laela masih terdiam di kamarnya, sejak kembali tadi Laela sama sekali tidak keluar dari dalam kamarnya. Membuat sang nenek yang merasa kalau ada yang sedang di pikirkan oleh Laela menemuinya di dalam kamarnya.
Saat Zubaidah membuka pintu kamar Laela, gadis itu hanya tiduran dengan posisi tengkurap sambil melihat ke arah gaun yang ada di dekatnya di atas tempat tidurnya.
"Lho Laela, kok belum siap-siap, setengah jam lagi Arman akan datang menjemput mu?" tanya Zubaidah yang langsung duduk di sebelah Laela.
Laela kemudian bangun dan menatap malas ke arah gaun yang di berikan Arman.
"Nek, bolehkah kalau aku tidak pergi?" tanya Laela pada Zubaidah.
Laela benar-benar dalam keadaan yang tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini, apalagi pergi ke tempat ramai. Apa yang dilakukan Kabir padanya tadi sungguh membuat Laela merasa jengkel dan kesal, perasaannya juga menjadi sangat kacau.
Zubaidah merasa kalau pertanyaan Laela itu adalah pertanyaan yang sama sekali tidak butuh jawaban. Bagaimana pun juga dia sudah berjanji pada Arman. Bukan hal yang baik kalau sampai ingkar janji. Tapi karena melihat Laela yang seperti nya sedang sedih akan suatu hal, Zubaidah tidak langsung menegur Laela dengan mengatakan kalau dia tidak boleh ingkar janji pada Arman.
Zubaidah menyentuh bahu Laela dengan sangat lembut.
"Sayang, manusia itu yang di pegang ucapannya. Terkadang apa yang terjadi memang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi Laela, berdamailah dengan keadaan. Berusaha bersikap bijak lah agar tidak menyakiti perasaan siapapun!" nasehat sang nenek panjang lebar.
Laela hanya menghela nafas pelan, dia tahu ucapan panjang lebar neneknya itu pada int1nya mengatakan kalau Laela tidak boleh tidak pergi, artinya dia memang harus pergi.
"Baiklah nek, aku akan ganti baju dulu!" ujar Laela yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, Zubaidah membantu Laela untuk merias sedikit wajahnya. Zubaidah bahkan merapikan rambut Laela dengan sedikit memberi sanggulan modern sederhana yang membuat penampilan Laela menjadi lebih dewasa.
"Oh lihatlah, betapa cantiknya cucuku. Luar biasa!" puji Zubaidah.
Tapi memang apa yang dikatakan Zubaidah itu benar. Laela memang tampak seperti wanita berusia 20 tahunan yang cantik meskipun sebenarnya riasannya sederhana dan tipis saja.
Tak lama kemudian Arman pun datang, Asih pelayan di rumah Zubaidah mengetuk pintu kamar Laela.
Tok tok tok
"Nyonya, tuan Arman sudah datang!" seru Asih dari luar.
"Suruh dia tunggu sebentar!" sahut Zubaidah.
Sebelum keluar dari dalam kamar, Zubaidah memberikan nasihat pada Laela agar Laela bersikap baik dan ramah di tempat acara nanti. Jangan sampai membuat Arman malu dan merasa canggung di sana. Laela mendengarkan nasehat dari sang nenek dengan seksama.
Laela menarik nafasnya dalam-dalam sebelum keluar dari dalam kamar menyusul nenek Zubaidah yang berjalan di depannya.
Begitu tiba di ruang tamu, nenek Zubaidah yang melihat Arman telah duduk di sofa pun langsung menegurnya.
"Arman!" panggil nenek Zubaidah.
Arman langsung menoleh ke arah sumber suara dan berdiri dengan cepat begitu tahu yang memanggil dirinya adalah nenek Zubaidah.
"Laela kemari!"
Laela yang berada di belakang nenek Zubaidah pun mendekat ke ruang tamu. Arman sampai terpana melihat penampilan Laela. Gadis cantik yang biasanya pakai kaos berkerah dan celana jeans panjang itu, kini berdiri di hadapannya dengan gaun dan dandanan yang begitu sederhana tapi makin membuatnya semakin cantik.
Arman sampai tak berkedip melihat Laela. Hanya saja dia tidak sampai melihat dari atas ke bawah, hanya melihat wajah Laela saja dan penampilan yang lain secara sekilas.
"Ekhem!"
Nenek Zubaidah berdehem karena Arman tak kunjung bersuara. Menyadari dia terlalu terpukau, Arman langsung menggaruk kepalanya.
"Maaf nek!"
"Laela, kamu cantik sekali!" puji Arman.
Laela pun hanya menganggukkan kepalanya perlahan.
"Terimakasih bang!" sahutnya.
"Nenek, aku minta ijin mengajak Laela malam ini ya nek. Aku usahakan sebelum jam sepuluh aku sudah mengantar Laela kembali ke rumah!" ucap Arman sopan meminta ijin pada Zubaidah.
Zubaidah pun mengangguk.
"Iya, pergilah. Jaga Laela ya!" seru nenek Zubaidah.
"Tentu nek, aku pasti akan menjaga Laela!" sahut Arman.
Laela dan Arman pun akhirnya pergi dari rumah nenek Zubaidah. Di dalam perjalanan menuju ke rumah Jenderal Handoyo atasan Arman yang akan pindah tugas setelah dua puluh tahun di kota ini, Laela hanya diam. Dia bahkan hanya melihat ke arah jendela mobil di samping kirinya.
"Apa kamu tidak enak badan?" tanya Arman yang khawatir kalau Laela sakit.
Laela menoleh ke arah Arman dan bisa melihat jelas ekspresi khawatir dari Arman. Laela merasa kalau sudah saatnya dia melupakan kejadian di toilet itu. Lagipula Kabir juga mengatakan kalau dia akan segera meninggalkan kota ini. Laela merasa itu artinya Kabir akan pergi dari hidup nya, jadi untuk apa dia masih memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan Kabir.
"Em, tidak bang. Aku hanya gugup. Aku tidak tahu bagaimana caranya bersosialisasi dengan teman-teman bang Arman nanti. Aku takut membuat bang Arman malu saja!" jelas Laela memberi alasan kenapa sejak tadi dia diam saja. Padahal sebenarnya bukan hal itu penyebabnya.
Arman hanya tersenyum saat mendengar apa yang Laela katakan.
"Kamu jangan cemas, acara seperti tidak akan banyak hal ini itu yang di bicarakan. Hanya makan malam biasa dan mendengarkan kesan dan pesan dari Jendral Handoyo saja. Jika kamu takut akan salah bicara, kamu bisa terus berada di samping ku!" jelas Arman.
Laela pun mengangguk paham dan tersenyum pada Arman.
"Baiklah kalau begitu!" sahutnya.
Arman menjadi tenang, dia kira Laela tidak suka pergi dengannya. Tapi ternyata Laela hanya takut membuatnya malu di sana.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di kediaman jenderal Handoyo, saat tiba di sana sepertinya acara sambutan sudah di mulai. Arman langsung mengajak Laela masuk ke dalam setelah seorang ajudan jenderal Handoyo menghampiri mereka dan menunjukkan dan mengantar Arman dan Laela ke meja yang telah disiapkan untuk Arman.
Ternyata Arman satu meja dengan salah satu rekan kerjanya yang bernama Tommy.
Melihat kedatangan Arman, Tommy dan istrinya berdiri.
"Hai Arman, baru datang?" tanya Tommy menyapa Arman sambil mengulurkan tangannya.
Arman langsung menjabat tangan Tommy.
"Iya Tom, apa kabar?" tanya Arman berbasa-basi.
"Aku baik, oh ya kenalkan ini istriku. Namanya Mona!" Tommy memperkenalkan istrinya pada Arman.
Dan wanita itu pun tersenyum sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya sambil tersenyum.
"Salam kenal!" ucapnya ramah.
"Salam kenal!" kata Arman.
"Siapa wanita cantik di samping mu itu, jangan-jangan itu yang kamu bilang calon istrimu itu ya?" tanya Tommy sambil bercanda.
Arman malah menggaruk tengkuknya, dia takut kalau dia jawab iya. Laela akan tersinggung. Laela yang melihat kecanggungan Arman pun berusaha untuk memperkenalkan dirinya sendiri.
"Iya kak, namaku Laela. Calon istri bang Arman!" ucap Laela tak kalah ramah dari Mona.
Deg
Arman langsung melihat ke arah Laela dengan takjub. Dia tidak percaya kalau Laela akan mengatakan hal itu, hatinya sungguh berbunga-bunga.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍