Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.
Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.
"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.
Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Farel kembali ke Indonesia
Faira kembali masuk ke kamar Amalia. Sayup-sayup Fahira mendengar isak tangis dari sahabatnya itu dan suara gemericik air.
Fahira bergegas mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya. Fahira lalu memanggil sahabatnya itu namun ketukan dan panggilan Fahira tidak dihiraukan oleh Amalia. Fahira terus saja mengetuk pintu kamar mandi. Perlahan Fahira menyentuh gagang pintu hendak membukanya.
Ceklek. Pintu tidak dikunci, "Amalia, kamu kenapa? Aku masuk ya," ucap Fahira saat hendak masuk ke kamar mandi di mana Amalia berada.
"Amalia, aku masuk, ya?" tanya Fahira lagi.
"Tolong tinggalin aku sendiri," sahut Amalia dengan suara bergetar terdengar seperti orang yang habis menangis.
Fahira semakin khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Ada apa dengan Amalia? Kenapa dia seperti ini? Tidak biasanya. Fahira membatin.
"Aku nggak mungkin ninggalin kamu seperti ini Kamu kenapa? Ayo selesaikan mandimu!"
"Tidak, aku ingin sendiri, Fahira. Kembalilah ke apartemenmu!" usir Amalia.
"Aku nggak akan pergi. Mas Farel sudah nitipin kamu sama aku. Aku harus jagain kamu. Apalagi kondisi kamu seperti ini. Aku masuk, ya?"
"Tolong tinggalin aku. Aku tidak apa-apa, Ra. Aku hanya ingin sendiri," ucap Amalia.
Fahira menghela nafas panjang lalu menutup pintu kamar mandi.
"Lebih baik aku menunggu di kamar saja lah. Kalau sampai 5 menit Amalia tidak keluar juga, aku ketuk lagi deh," gumam Fahira.
Fahira dengan sabar menunggu Amalia keluar dari kamar mandi. Dia percaya sahabatnya itu tidak akan melakukan hal buruk terutama untuk dirinya sendiri.
Tak berapa lama, Amalia pun keluar dari kamar mandi.
"Fahira, kamu masih di sini?" tanya Amalia kaget.
Fahira menganggukkan kepalanya pelan "Mana mungkin aku tinggalin kamu saat kamu sedang kacau begini!" sahut Fahira yakin.
Amalia menghela nafasnya panjang, "Aku mau sholat dulu. Sudah dhuhur, kan?"
"Oh, iya. Aku juga belum. Kita berjamaah, ya?" ajak Fahira.
Amalia mengganggukkan kepala setuju. Mereka pun lalu sholat berjamaah.
**
Kini mereka sedang duduk bersantai di atas tempat tidur empuk milik Amalia.
"Kalau kamu belum mau cerita nggak apa-apa. Tapi kalau kamu butuh bantuan atau apapun, jangan ragu bilang sama aku. Kita sudah sahabatan lama, In Sya Allah aku akan bantu kamu!" ucap Fahira tulus.
Amalia menatap sahabatnya itu sekilas. Kamu nggak akan bisa bantu aku. Nggak akan ada yang bisa. Harapanku sudah kandas. "Aku nggak apa-apa, kok. Aku hanya sedang merasa lelah," jawab Amalia bohong dengan kepala menunduk sembari memainkan jari-jemarinya. Wajahnya masih terlihat sedih.
"Kamu tidak biasa seperti ini. Ayolah Amalia, cerita sama aku. Siapa tahu aku bisa membantu," bujuk Fahira dengan wajah memohon.
Amalia meneguk salivanya dengan susah payah, "Bener Fahira. Aku nggak apa-apa kok. Aku sedang tidak enak badan saja," jawab Amalia pelan namun dengan penekanan supaya sahabatnya itu percaya dan tidak banyak tanya lagi. Dan terutama, dia ingin supaya Fahira meninggalkannya sendirian.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat ya. Kamu mau makan apa biar aku belikan. Oh ya, aku tadi masak kok. Aku anterin masakanku ya?" tawar Fahira.
Akhirnya Amalia mengangguk setuju, "Terima kasih," jawab Amalia lirih.
"Aku kembali ke apartemenku dulu ambil makanan untuk kamu. Kamu istirahat saja, biar aku kunci dari luar."
Amalia kembali mengangguk dan Fahira lalu keluar dari apartemen Amalia menuju ke apartemennya. Sampai di apartemennya dilihatnya kakaknya Farel sedang duduk di sofa sambil menopang dagu.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Fahira.
"Wa'alaikumsalam," jawab Farel lirih.
Amalia lalu duduk di sebelah kakaknya itu, "Mas, Amalia bener-bener tidak seperti biasanya. Aku yakin mas tahu sesuatu. Kalian kan tadi pulang bareng. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi, mas!"
"Sudahlah, dek. Benar mas tidak tahu," jawab Farel sedikit gugup.
"Aku tahu kalau mas itu sedang bohong. Mas nggak biasa bohong. Jadi cerita, mas. Kalau mas terus seperti ini, aku tidak akan mau bicara sama mas!" ancam Fahira lantas berdiri meninggalkan kakaknya yang terlihat memijat-mijat pelipisnya. Fahira lalu menuju ke dapur mengambil makanan untuk di berikan pada Amalia.
Karena Fahira masih khawatir akan kondisi sahabatnya itu, Fahira memutuskan untuk menginap di apartemen Amalia walaupun Amalia sudah menolak tapi Fahira berkeras. Karena selama ini pun mereka juga sering tidur bersama. Kadang Amalia tidur di apartemen Fahira terkadang Fahira yang tidur di apartemen Amalia. Apalagi jika saat mereka sedang mengerjakan tugas kuliah bersama.
Setelah makan malam dan sholat berjamaah, mereka belajar bersama. Menjelang pukul sepuluh malam, mereka pun pergi tidur.
"Amalia, tidur, yuk. Supaya besok kamu sudah segar kembali. Besok ada mata kuliah Pak Ahmad. Jangan sampai kita membuatnya marah." Fahira lalu memberikan selimut pada Amalia dan mulai memejamkan matanya.
Sudah lewat satu jam, Amalia terlihat gelisah. Pikirannya masih tertuju pada laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta dan juga patah hati.
Begini rasanya patah hati. Memang seharusnya aku tidak memikirkan hal yang seharusnya belum waktunya aku pikirkan. Amalia mengusap matanya yang mulai terasa panas.
***
Keesokan harinya Amalia masih terlihat sedikit kurang baik. Setelah selesai sarapan yang di masak oleh Fahira, mereka berangkat kuliah bersama. Saat Amalia dan Fahira baru saja keluar, Farel sudah berdiri di depan pintu apartemen Amalia. Amalia langsung membuang muka saat melihat Farel.
"Mas mau ke mana?" tanya Fahira melihat kakaknya.
"Mas mau pulang ke Indonesia," jawab Farel.
"Loh, kok sudah mau pulang?" tanya Fahira kaget.
Amalia pun tak kalah kaget namun berusaha menutupinya.
"Mas sudah punya istri, tidak mungkin mas meninggalkannya terlalu lama," jawab Farel lirih sembari sesekali melirik ke arah Amalia.
"Jadi tujuan mas ke sini itu apa?" tanya Fahira penasaran.
"Mas ada perlu sama teman lama mas. Ya sudah, kamu kuliah yang benar. Mas mau ke bandara sekarang," pamit Farel.
Fahira menatap kakaknya dengan pandangan nanar. Dia masih tidak percaya dengan ucapan kakaknya itu yang memang tidak terbiasa untuk berbohong. Ada sesuatu yang ditutupi dan dia juga curiga ada sesuatu yang Amalia tutupi. Ada apa dengan mereka berdua. Apa mereka sudah melakukan hal yang salah? Aduh, tidak mungkin. Fahira bermonolog.
"Mas pergi. Jaga diri kamu. Amalia, mas pergi. Assalammu'alaikum," pamit Farel yang langsung berlalu dari hadapan Amalia dan Fahira.
"Wa'alaikumsalam," sahut Fahira lalu menatap kakak dan sahabatnya bergantian.
"Yuk, kita pergi sekarang!" ajak Fahira sembari menggamit tangan Amalia yang mematung.
Dengan langkah gontai, Amalia mengikuti langkah kaki Fahira.
Farel pun langsung menuju bandara dengan menggunakan taksi. Dadanya masih terasa sesak. Semoga keputusan yang aku ambil tidak akan menjadi penyesalan nanti. Dan Amalia bisa ikhlas. Maafkan mas, Amalia. Mas akan selalu mendoakan kamu. Semua yang terbaik untuk kamu.
tetap semangat up'nya
semangat thor...biar crazy up ya
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤