"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."
Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.
Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Tingkah
Daffa berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah meja kerja sembari berulang kali menoleh. Jantung berdetak tanpa irama, hawa panas menyerang dengan begitu hebatnya, sekali lagi tanpa pernah bisa dipahami oleh dirinya sendiri, akan respon tubh ketika bersama Vania.
Bodoh ... bodoh ... bodoh! Kenapa harus ngomong kayak gitu, sih? Gimana kalau Nia marah atau sakit hati terus pergi lagi? Susah banget sih ngomong baik ke dia?
Maki Daffa dalam hati, atas apa dikatakan tadi. Hanya tidak ingin Vania pergi, tidak ingin jika dirinya bersama lelaki lain, dan begitu ingin memulai hubungan pernikahan seperti orang pada umunya, namun rangkaian kata sudah ada di kepala justru melenceng tatkala berhadapan langsung dengan Vania.
Kegugupan begitu kurang ajar merajalela, tanpa membiarkan otak bekerja sama dengan lisannya, bertutur kata yang indah dan mampu menggetarkan hati Vania. Ah, itu sungguh hal menyulitkan bagi Daffa, di mana satu saja kata terancang dengan sempurna ketika dia berbaring tadi, tak terucap meski hanya satu saja.
Kotak cincin diambil olehnya, membawa ke tempat sang istri masih duduk dengan perasaan yang tak dipahami, entah tenang atau kegelisahan, sakit hati atu bahkan amarah.
Daffa menyapu dada dengan telapak tangan kanan, sejenak ayunan langkahnya terhenti. Mengatur berulang napas, menasihati jantung agar tak berlompatan dan membuat itu ketahuan oleh lawan bicaranya.
Kamu bisa melakukannya, Daffa! Lakukan dengan baik, dan jangan berbuat bodoh lagi! Katanya tegas dalam hati, membuang napas kasar nan panjang dengan kedua sisi wajah menggembung.
Ah, tidak! Aku tidak bisa melakukannya! Tambahnya, berbalik arah meski baru satu langkah ia maju. Tapi, kalau aku tidak melakukannya, Sarip itu yang akan melakukannya!
Daffa terus berpikir, sampai meyakinkan diri dan memantapkan niat dalam hati. Sebelum mendekat, dia melompat-lompat dulu di tempat, memutar kedua tangannya, demi menenangkan diri lebih dulu dari rasa gugup yang menyerang tanpa tahu batas sekarang.
Vania mendengar suara sepatu menghentak, dia menoleh dan memiringkan kepala terheran. "Mas, lagi apa?" tanyanya polos, mengejutkan Daffa yang seketika berbalik badan ke meja kerja, hendak meluruskan kedua tangan dan bertumpu. Namun, justru terjatuh keras dalam posisi tengkurap. "Aduh!" keluhnya kencang.
Vania terperanjat dari duduk, memutar langkah dan menghampiri suaminya usai berseru kaget. "Mas!" teriaknya, dan langsung berdiri.
"Mas, kenapa bisa jatuh, sih?" tegur Vania, sudah bersimpuh memegang kedua pundak suaminya.
Daffa tak menjawab, sibuk menyembunyikan wajah merah akibat rasa malu. Terpejam kedua mata, memata kebodohan diri sendiri. Vania berusaha membantu suaminya berdiri, tapi ditepis segera olehnya yang berdiri seorang diri.
"A-aku baik-baik aja! Aku enggak jatuh, tapi lagi push up! Aku biasa ngelakuin itu, biar gak terlalu capek duduk karena itu bahaya buat kesehatan!" kilahnya sangat cepat.
"I-iya, Mas." Vania berusaha berdiri, matanya tak beralih dari sang suami. "Tapi, mas beneran enggak apa-apa? Ada yang sakit?" cemasnya.
Daffa menggeleng lebih cepat dari laju kereta api, "eng-enggak! Hahaha, mana ada sakit? Olah raga itu bikin sehat, Nia!" katanya, tertawa palsu dan menghindari tatapan istrinya.
Rasanya udah pengen masuk ke laut aja, serahin diri ke ikan hiu! Batin Daffa, memejamkan kedua mata rapat. Sakit? Jelas dia sakit, bahkan juga terkejut. Tapi, lebih memilih untuk menyembunyikan, tanpa mau menunjukkan yang semakin menambah rasa malu dirinya.
Duduk di sofa, wajah Daffa masih berpaling. Vania mengikuti, dia mengambilkan gelas berisi sisa air minum di atas meja. Duduk di dekat suaminya dan membantu untuk minum. Akan tetapi, Daffa hanya meraih gelas dan berpaling sekali lagi.
Vania mengulas senyum, dia mengatamati cincin yang ada pada jari manis suaminya. "Mas pakai cincin nikah kita?" tanya Vania, tersedak seketika Daffa mendengar tanya diberikan, olehnya yang sekarang menepuk punggung.
Daffa mengayunkan tangan ke belakang, berisyarat cukup dan tak perlu ditepuk sekali lagi. Dia meletakkan gelas di atas meja, setelah cukup reda rasa sakit dirasakan gara-gara air yang juga terasa sampai hidung mancungnya.
"Mas, baik-baik aja? Maaf, kalau aku udah ngagetin." Vania berucap sesal. "Tapi ... sejak kapan mas pakai cincin itu?" masih saja penasaran.
Daffa menghentikan kedua jari menekan hidung mancungnya, agar rasa tak nyaman segera hilang. Dia menoleh pada Vania, tersentak perempuan telah dipunggungi olehnya karena gerakan kilat dilakukan.
"Kita udah nikah kan, Nia? Salah kalau aku pakai cincin ini?" tanyanya, dijawab gelengan kepala. "Ya udah, jangan ditanya lagi. Harusnya kamu juga pakai, bukan cuma aku!" sambungnya.
"Cincinnya ada di rumah mama, Mas." Vania menjawab, celingukan suaminya mencari kotak yang tadi diambil dair meja.
Menegapkan tubuh ke arah sekitar meja kerja, mata menangkap kotak biru yang tanpa sadar terlempar. Daffa berdiri dan melangkah lebar, mengambil cincin di atas lantai.
"Ini!" ucapnya menyodorkan kotak cincin. "Cincin nikah kita, pakai itu biar semua orang tau kalau kamu udah nikah, jadi gak ada yang deketin lagi!"
Vania mengangguk, meraih kotak cincin dari tangan sang suami. Tapi, Daffa meraihnya kembali, sebelum Vania berhasil membuka dan melihat cincin sudah dilepaskan dulu.
"Biar aku aja!" kata Daffa.
Membuka kotak cincin, melemparkan kotak ke atas meja dan ia mulai duduk menghadap Vania. Melihat jari-jari lentik kosong, senyum lebar dikembangkan oleh hati Daffa. Setidaknya, itu membuktikan bahwa Arif belum memberikan apa-apa dan tak pernah menunjukkan niat melamar atau menikah.
Kalaupun ada, setidaknya itu harus diurungkan sekarang, karena cincin pernikahan yang memiliki arti lebih kuat akan menghiasi lebih dulu, pikir Daffa. Meraih tangan istrinya, sekilas menatap wajah cantik darinya yang lekat mengamati.
"Jangan pernah lepas ini, biarpun aku marah dan minta kamu buat lepasin. Ini bukan cincin hadiah kue, yang bisa kamu lepas gitu aja." Daffa berucap sebelum menyematkan.
"Aku tau, kalau emang udah salah ngelepas cincin pernikahan kita lebih dulu. Tapi, aku juga punya alasan, yang emang gak bisa dibenarkan, tapi itu emang alasannya. Ngerti gak sama omongan aku?" timpal Daffa.
Vania mengatupkan bibir, menahan senyuman dan mengangguk. Daffa mengernyitkan kedua alis, "ngapain ketawa? Aku lucu?"
"Enggak, Mas. Maaf," sahut Vania.
Daffa mengomel pelan, mulai memasngkan cincin pada jari manis istrinya. "Awas berani lepasin lagi!" ucapnya tegas.
"Iya, Mas." Vania mengangguk.
"Iya ... iya, aja!" gumam Daffa. "Nia, kalau ke sekolah juga kamu harus pakai cincin ini! Kalau perlu, angkat jari kamu tinggi-tinggi, biar semua orang lihat kalau ada cincin pernikahan di jari kamu, dan mereka tau kalau kamu udah ada yang punya! Angkat kayak gini!" tutur Daffa, memberikan contoh dengan mengangkat tangannya sangat tinggi.
Sekali lagi, Vania harus mengatupkan bibir menahan senyuman, merasa jika sikap suaminya begitu aneh hari ini, seperti orang lain yang dihadapi dan bukan lelaki yang kerap bersikap dingin juga ketus padanya.
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe