"Aku tak pernah ingin menjadi pahlawan, tapi aku hanya ingin menunjukan padamu langit biru yang sesungguhnya," kata Kakak sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Ideal White adalah sihir sempurna yang dapat mengabulkan segala keinginan sang pemanggilnya. Kekuatan yang menggoda para penyihir untuk mencarinya, tanpa mengetahui bahwa sihir itu hanyalah sebuah jebakan keji. Dan saat aku dan Kakakku sadar, semua telah terlambat. Pedang yang dahulu kami gunakan untuk saling melindungi kini berbalik menyakiti. Cinta dan kasih yang dahulu mewarnai hidup kami kini tercemar oleh obsesi yang fana. Karena obsesi itu aku pun kehilangan harta karun dalam hidupku.
Namun, di mata Sang Dewi, penderitaanku hanyalah sebuah drama yang menghibur kebosanannya. Tidak bisa kumaafkan. Suatu hari, dengan tangan ini... aku pasti akan membalasnya!
Daftar isi:
1. Garden of Sinners (Bab 1-64 - Sedang Revisi)
2. Unwavering Faith (64 - ongoing)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JA Chrysant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan untuk Melindungi (3)
— 18 —
Sekarang, kita lihat bagaimana pertemuan kecil ini akan berakhir.
“Kamu punya cukup nyali juga, datang kemari setelah mencurangi kami. Kamu menjual senjata pada kami, tetapi kamu membeli mesiu sihir, Aether dalam jumlah besar hingga kami tak kebagian. Senapan tanpa mesiu hanyalah seonggok besi yang tak berguna” kata sang Penjelajah Dunia. Dari suaranya, sepertinya dia adalah seorang perempuan.
“Aku memanggimu kemari demi jawaban,” lanjut sang Penjelajah Dunia.
Jun di satu sisi, melipat tangannya, “Ha?! Aether? Siapa yang mau membeli barang seperti itu di saat harga semua barang melambung tinggi?” kata laki-laki itu dengan gaya congkaknya yang familiar.
“Huh? Melambung tinggi…?”
Jun menghela nafasnya, “Untuk hidup aja, aku udah kecekik luar biasa. Apalagi setelah para pengungsi itu tiba-tiba membanjiri pasar dengan keping emas mereka. Semua harga sekarang melambung tinggi, melebihi rekor selama seribu tahun,” katanya.
Terhenyak kaget sang Penjelajah Dunia, “T-TT—T-Tunggu dulu, serius bukan kamu yang memborong habis Aether di negara ini?” tanya gadis itu.
Araraa, apa yang kutemukan ini? Sebuah kesalahpahaman? Menarik. Aku pun tertawa kecil melihat kedua orang itu melanjutkan perdebatannya dibawah.
“Auntie ketawamu itu loh… seperti tokoh antagonis di novel-novel,” kata Arthur.
“Memang,” kataku yang memperhatikan Luciel masih menunggu di balik bayangan.
Apa yang dia tunggu? Siapa yang dia incar? Tunggu, bila Jun dan sang Penjelajah Dunia bukan sosok “Lady Quina” yang memborong habis Aetherku… Lantas siapakah sosok itu?
Tiba-tiba aku pun mengingat kata-kata Paman Roger saat mengantarku beberapa hari yang lalu,
“S-Sejak para perawat meninggalkannya, Nona Dokter mendatangi rumah demi rumah untuk menjalankan prakteknya… “
Sebentar, mengapa aku baru menyadarinya!
"Pernahkah Ma Dame mendengar cerita Kota Alliese?”
Lumina mengetahui penyebab Wabah Nyght sekaligus… media penyebarannya. Tentu saja dia akan punya ide menggunakan Aether memurnikan sungai Arisia. Lumina, kamu… Tidak mungkin, tidak, tidak, tidak masuk akal. Meskipun seorang Dokter, Lumina tidak mungkin punya uang sebanyak itu!
“Kamu seorang Noctis, tapi kenapa mudah sekali kamu menundukan kepalamu itu?”
Senyum merekah di wajahku. Astaga, mereka benar-benar mengerjaiku. Bila Ma Dame Fan ialah Lady Quina itu, sangat mudah baginya membeli seluruh persediaan Arther. Dan pula, sebagai dokter yang sangat dipercaya di distrik tanpa nama, Lumina akan mudah berhubungan dengan Ma Dame Fan. Apalagi jika penelitiannya tentang Wabah Nyght sangat signifikan terhadap pertahanan kota Pei Jin.
… Tapi untuk apa? Apakah mereka mencoba mencegah plot Master Towa? Tidak, kalau Ma Dame Fan mau, dia dengan mudah dapat mendepak Master Towa dari kota ini. Dengan kata lain, Lumina dan Nenek tua itu ingin memancing ikan yang lebih besar. Seseorang yang sangat berpengaruh, punya uang yang banyak dan mungkin saja sangat kuat sehingga tak dapat mereka sentuh secara langsung.
Eh? Bukankah… aku memenuhi kriteria itu?
“Artie, kamu… membuat Lumina dari Magicite apa?” tanyaku tiba-tiba.
“Kok tiba-tiba ganti topik aneh gini?”
“Aku kepo aja, soalnya kristal yang kamu gunakan untuk membuat mata Lumina sangatlah indah.”
Agak enggan, laki-laki itu pun menjawab, “Aku… mencurinya dari seorang pengelana bodoh. Uhh… Kukira itu Magicite biasa… tapi dia persis seperti di catatan Auntie.
Quartz Megistus.”
Hmm, menarik.
“Magicite yang rumornya adalah inti jantung dari dewi pertama di dunia,” gumamku yang melipat tangan, “Ada yang pernah mengatakan, sebuah kristal sihir dapat merekam kejadian yang terjadi di sekitarnya. Semakin murni kristal itu… maka semakin kuat ingatannya,” lanjutku.
Apakah mungkin Lumina mewarisi ingatan Sang Dewi Pertama? Tapi aneh… bahkan aku pun tak pernah bertemu dengan sang Dewi, mengapa mereka mengincarku seperti ini? Seolah mereka tahu bahwa akulah antagonis dunia ini.
Ahhh…. alur dunia ini sudah melenceng jauh dari ingatanku.
Tapi, setelah berhasil menyentuh Ideal White di dunia sebelumnya… aku—
“Jun Aivelstadt, Quina Megistus. Kebetulan sekali kita bertemu disini,” tiba-tiba terdengar suara familiar.
Dia adalah Kuro, sang kepala Hwarang yang mengepung Jun dan si Penjelajah Dunia dengan pasukannya. Lengkap dengan senapan sihir, aku bisa merasakan niat membunuh pekat darinya. Sepertinya, Kuro dan para Hwarang dikirim kesini untuk menghabisi para pengkhianat Pei Jin.
“Tch, kamu menjebakku, Quin!” teriak Jun kesal mencabut pedangnya.
“Ish, bicara apa sih, aku gak ngerti apa-apa, tiba-tiba kekepung gini!” kata Sang Penjelajah Dunia yang memanggil tombak petirnya, “Sepertinya, ada orang yang menjebak kita berdua.”
Kuro dengan tenang menyalakan cerutunya, “Tenang, tenang. Tak perlu buru-buru saling menggigit ekor sama lain, ya? Ma Dame Fan hanya mengirimku kemari untuk satu hal,” katanya yang menghisap cerutu itu dan menghembuskannya dengan nikmat,
“Kembalikan pusaka yang kalian curi dari Tartarus semalam,” lanjutnya yang diikuti seluruh pasukannya menodong Jun dan Sang Penjelajah Dunia.
Tartarus, menara laboratorium sihir milik Ma Dame Fan? Bukankah tempat itu memiliki perlindungan yang sangat ketat, hingga seekor tikus pun tak dapat masuk? Wow, hebat juga maling yang bisa masuk kesana!
Jun mengacak-acak rambutnya, “Aaarggh, aku semakin tak megnerti apa yang terjadi disini! Udah aether, harga naek, terus sekarang aku dituduh mencuri sebuah pusaka? Ah, makanya aku benci Pei Jin,” kata laki-laki itu yang mencabut pedangnya,
“Tatapan matamu itu, kamu cuma ingin mencari kambing hitam bukan? BIar kukasih tahu, kau salah mencari mangsa!” teriaknya yang menyerang para Hwarang dengan gengnya.
Ya ampun, Jun… selalu tidak sabaran. Dia kira
“O-Oii, aku tak ingin terlibat,” kata sang Penjelajah Dunia yang ingin kabur, tapi para Hwarang membuka tembakan padanya. Refleks kilat gadis itu menepis tembakan itu dan menatap para Hwarang dengan garang,
“Huff, hampir saja. Kalau begini, tak ada pilihan lain selain menebrobos keluar!” teriak gadis itu.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, “Astaga, kenapa jadi perang geng gini. Entah mengapa aku merasa ada kesalahpahaman di antara ketiga kubu itu,” gumamku yang menyadari Arthur sudah gatal ingin menolong ayahnya.
Ledakan demi ledakan terdengar saat sang Penjelajah Dunia menggunakan sihir petirnya menghujamkan tombak-tombak petir pada para Hwarang. Akan tetapi, seragam Hwarang telah dibubuhi pelindung sihir yang keras. Dengan mudah mereka menepis serangan itu dan menghajar para Matrovska yang menghadang jalan mereka. Dalam sekejap sang Penjelajah Dunia itu pun tersudutkan oleh kekuatan pasukan elit Ma Dame Fan.
Sedang Jun sendiri, meski aku tak meragukan kekuatannya, dia sepertinya masih memegang idealisme heroiknya yang bodoh itu dan melindungi anak buahnya. Pedangnya yang dahulu tajam kini jadi tumpul. Termakan oleh rasa khawatir, dia bahkan tak menyadari seekor Hwarang telah membidiknya dari belakang.
Kuhela nafasku, “Padahal sudah kubilang… pahlawan harus datang terlambat,” gumamku bersamaan dengan suara tembakan keras dan melesatnya Arthur yang nyaris menepis peluru itu dan melindungi ayahnya.
Tapi di waktu yang sama, Luciel pun muncul dari persembunyiannya. Dihantamnya tanah dengan tombaknya, menciptakan dinding es yang menutup gang itu.
“Kesini, cepat!” teriak Luciel yang memandu Jun, Arthur dan gengnya kabur dari gang sempit itu. Tetapi dia tak mempedulikan sang Penjelajah Dunia dan Matrovska cs yang di gebuki para Hwarang.
“S-S-Sialan, dia pake kita buat kabur. Si anying itu!” teriak Sang Penjelajah Dunia yang sibuk menepis serangan Hwarang. Tetapi dia pun akhirnya tersadar, satu persatu Matrovska-nya sudah tumbang tak berdaya di tanah, lengkap dengan rantai sihir yang mengikat mereka.
Sang Penjelajah Dunia pun menelan ludahnya dan tertawa canggung. Dia pun mengangkat tangannya dan bergumam, “Nasibku apes banget sih. Kalau ketahuan, bisa-bisa aku digeprek Master Towa!”
Iba, aku pun melempar tabung berisi cairan merah yang meledak saat menyentuh tanah. Dalam ledakannya itu, ia membentuk gas yang sangat pedas di mata dan tenggorokan. Untungnya, gadis itu mengenakan topeng dan mantel tebal sehingga tak terpengaruh gas itu. Gas itu memukul mundur para Hwarang dan membuka kesempatan bagiku untuk turun dan mnepuk pundak bocah itu.
“K-Kamu!”
“Bising,” kataku yang memukul tengkuk gadis itu, menghilangkan kesadarannya lalu kabur dalam kegelapan.
Btw itu Clair kan si pedagang licik kok agak beda ya padahal bagusan yang dulu deskripsi sikapnya.