Nia seorang gadis yang baru lulus sekolah mengalami "kecelakaan" hingga mengakibatkan dia mengandung anak yang tak pernah ia harapkan.
Kekasih yang menodainya tanpa berdosa meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Menimbulkan kekecewaan dan frustasi hingga ingin menggugurkan kandungannya.
Namun akhirnya, Nia dipertemukan orang-orang baik yang menyayanginya. Bahkan, seseorang merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossa Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rival
Sudah menjadi rutinitas tiap pagi Raka menunggu Nia di depan gang untuk berangkat bersama. "Gak tega liat bumil jalan sendirian," katanya saat itu. Dokter muda itu sudah mengetahui tentang kehamilan Nia dari awal sejak Febi memperkenalkannya. Hal itu tak menjadi halangan untuk tetap mendekati Nia, terlebih ia tahu penyebab kehamilan tanpa rencana itu.
Awalnya Nia menolak karena tak enak ketika mendapati perubahan wajah Tari saat melihat kedekatan mereka. Rasa-rasanya Tari memang menyukai Raka sedari awal, namun Raka tak pernah menggubrisnya.
"Bumil, sudah siap?" tanya Raka saat Nia telah duduk di belakangnya.
"Stop! Jangan sebut aku Bumil! Kalo kamu masih sebut-sebut aku gitu, aku gak bakal mau lagi dibonceng sama kamu!"
"Hohoho, slow dong! Ibu hamil gak boleh emosi nanti bayinya ikut emosi di dalem!"
"Makanya cepet jalan aja. Kalo gak, aku turun nih!"
"Oke, oke! Aku jalan."
Beberapa minggu ini Raka menggunakan motor matic keluaran terbaru. Ini karena awal-awal Nia menolak untuk naik motor ninjanya dalam keadaan perut yang mulai membesar. Raka yang tak mau menyerah, memilih untuk mengganti motornya saat pergi bekerja.
Sebetulnya Nia sudah tahu maksud dari Raka yang terus mendekatinya. Bahkan, dokter muda itu pernah tanpa sengaja mengungkapkan rasanya. Namun dengan keadaan Nia yang seperti ini, Nia memilih untuk fokus terhadap janin yang tengah dikandungnya. Fikiran dan hatinya masih tertutup untuk orang baru, menjaga janji yang dibuat sang kekasih, ayah dari janin ini.
Tapi dengan penuh ketulusan Raka ingin turut serta menjaga Nia serta kandungannya. Minimal bisa menjadi ojeknya saat ia membutuhkan, seperti saat ini.
"Oh, ya, Nia. Kamu suka ikut kelas ibu hamil?" tanya Raka di tengah perjalanan.
"Kelas ibu hamil?"
"Iya."
"Emang ada?"
"Ya Ampun, masa gak tau. Kamu suka periksa kehamilanmu setiap bulannya?"
"Emmm baru du kali."
"Usia kandunganmu barapa sekarang?"
"Jalan 7 bulan, mungkin sekitar 26 atau 27 minggu."
"Ya ampun, padahal tinggal beberapa bulan lagi kamu melahirkan. Sepertinya penegetahuan kamu tentang kehamilan saja masih kurang, apalagi tentang parenting."
"Kok, kamu jadi cowok bawel banget sih!"
"Tentu saja, karena aku peduli! Ya udah nanti aku cari tau tentang kelas ibu hamil. Kamu harus ikut! Setidaknya dua kali pertemuan menjelang melahirkan. Aku punya kenalan seorang bidan."
Nia tak menjawab. Beberapa saat kemudian ia menepuk pria yang memboncengnya itu.
"Rak, aku turun di sini aja!"
"Kenapa? Tanggung dikit lagi!"
"Gak papa. Aku jalan aja dari sini, itung-itung jalan-jalan."
"Oke deh!"
Nia segera turun dari motor Raka. Sebetulnya alasan yang tepat ia tak mau cari gara-gara dengan Tari. Sudah beberapa hari Tari terus menyindirnya. Bagaimana pun dia seniornya, berkatnya pula ia bisa bekerja di sini.
***
"Nih aku udah dapet infonya."
Nia yang tengah menyandarkan punggungnnya di kursi sambil menutup mata terkejut saat tiba-tiba Raka sudah berdiri di sampingnya.
"Duh, ngagetin aja!"
"Bentar lagi jam istirahat yang berkunjung pun udah gak ada. Mau ku antarkan pulang?"
"Gak usah! Oh, iya, tadi mau bilang apa?"
"Ini info kelas hamil aku udah dapet. Jadwalnya besok kebetulan kamu liburkan?"
"Sip, makasih! Nanti kamu kirim aja alamatnya ke no.WA 'ku!"
Tiba-tiba Tari datang bergabung.
"Ada apa nih?" tanya Tari memandang Nia dan Raka bergantian.
"Ini nih masa bumil gak tau kelas ibu hamil?" jawab Raka.
"Eh, emang kamu jarang kontrol?" tanya Tari pada Nia.
"Eh, iya, Mbak. Aku jarang-jarang, suka lupa."
"Terus apa hubungannya sama Dokter?" Kini mata Tari menatap Raka.
Raka menggedikan bahunya berlalu meninggalkan mereka.
Tari mendekati Nia berdiri tepat dibelakang Nia yang tengah duduk di kursi. Tangannya mengalung pada leher Nia lalu mendekatakan kepalanya seraya berbisik.
"Nia, kamu tahu 'kan aku suka Dokter Raka? Aku harap kamu menjaga jarak dengannya."
Nia terkesiap, sikap Tari membuatnya tak nyaman. Tari melepaskan tangannya lalu berjalan gontai meninggalkan Nia yang masih gugup dibuatnya. Jika Tari sudah memberi peringatan maka artinya Nia benar-benar harus menjauhi Raka. Karena sebelumnya ia hanya menyindir-nyindir gak jelas.
Nia segera bersiap untuk pulang. Saat menuju halaman klinik, motor yang tadi pagi ditumpanginya kini sudah siap mengantar pulang. Nia membuang muka, pura-pura tak melihat ada pria yang sudah menunggunya.
"Ayo, aku antar!"
"Gak, Rak. Aku udah pesan taxi online. Gunakan saja waktumu untuk istirahat."
"Aku mau makan siang di luar. Masa makan sendiri nanti ketauan jomblonya."
Raka memasang mimik muka memohon agar Nia mau pergi dengannya. Sementara itu Nia melihat Tari keluar dari klinik. Ia melambaikan tangannya mengisyaratkan agar Tari menghampiri mereka.
"Ada apa?" tanya Tari.
"Ini loh, Mbak. Dokter Raka katanya mau makan siang tapi gak punya teman. Bukannya Mbak juga mau makan siang?" ujar Nia.
"Oh, iya, kebetulan sekali. Aku bisa menemanimu, Pak Dokter."
Tanpa ba-bi-bu Tari menaiki motor Raka. Raka melongo, menggerak-gerakan mata penuh tanya pada Nia. Nia hanya tersenyum mengejek pada Raka.
"Lekaslah berangkat nanti keburu panas!" Nia melambaikan tangan mengiring kepergian mereka.
'Haahhh lelah rasanya, hari ini juga lumayan panas' gumam Nia.
Nia merogoh tasnya mengambil ponsel, lalu tangannya lincah mencari aplikasi untuk memesan taxi online. Selang beberapa menit kemudian taxi dengan plat nomor sesuai aplikasi berhenti di depan gerbang klinik.
***
Drrtt Drrtt
Ponsel Nia bergetar tanda pesan masuk saat mobil melaju membelah jalanan.
[Kamu tega banget sih Nia]
Bibir Nia mengulum senyum melihat siapa yang mengirim pesan. Tentu saja siapa lagi kalau bukan dokter muda itu.
[Kirim aja alamat klinik kelas ibu hamil tadi!]
Tak menunggu lama, ponsel kembali bergetar.
[Ya Ampun, gak ditanggapi]
Nia tertawa kecil melihat balasan yang kembali diterima. Ia sudah menganggap dokter itu sebagai kakaknya, sedikit pun tak merasa keberatan jika diminta untuk menjauhinya. Hanya saja rasanya ada yang hilang jika kelak ia benar-benar harus menjauhinya.
***
Sesampainya Nia di rumah Febi tengah tertidur di atas kursi. Mungkin dia baru pulang karena kemarin kerjanya bagian shift malam. Nia menggoyang-goyangkan tubuh Febi guna membangunkannya.
"Mbak, tidurnya jangan di sini!" ucapnya.
Febi menggeliat lalu mengucek matanya.
"Eh, kamu udah pulang? Ya ampun, Mbak ketiduran."
"Kenapa tidur di sini?"
"Mbak sengaja nunggu kamu pulang."
"Ada apa, Mbak?"
"Ada yang mau Mbak bicarakan. Cepat ganti baju dulu, sekalian mandi!"
"Sekarang aja deh. Ngapain ganti baju dulu?"
"Biar rileks aja, kamu keliatannya kepanasan. Mbak mau bicara serius."
"Ih, dasar, aku malah tambah penasaran, Mbak."
Nia berlalu menuju kamar mandi segera membersihkan diri.
crt bagus tulisan dn tata bahas bagus 👍