NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Rianti

Takdir Cinta Rianti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:364.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Sandrila Patilima

"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"


Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.

Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.

Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.



Genre : Romantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Suara Galih

[PoV Galih]

"Sayang, aku haus, tolong ambilkan aku air yah," pintaku pada Amira yang sedang sibuk bermain handphone di samping tempat aku merebahkan tubuh.

"Apa sih Mas, ambil sendiri sana, aku capek tau," ucap Amira sambil mengubah posisi memunggungiku.

Selalu seperti ini Amira, tidak menurut jika aku hendak menyuruhnya. Berbeda jauh dengan Rianti, yang tanpa harus aku suruh, ia selalu menyiapkan segelas air di atas nakas dekat tempat tidurku. Ia sangat tau kebiasaanku yang akan haus jika terbangun di tengah malam.

Akhirnya tanpa mau bicara lagi dengan Amira, aku bangkit dari tidurku dan menuju dapur. Kesal juga marah, tapi aku tidak mau menunjukkannya pada Amira, bisa-bisa ia akan balik marah padaku dan setelahnya pertengkaran akan tercipta antara kami. Dan aku bukan tipe orang yang ingin terlalu lama berdebat.

Ia akan lebih dominan dalam pertengkaran. Berteriak bahkan akan sampai menggigit tubuhku. Ingin sekali rasanya aku menamparnya, tapi sayangnya aku bukan tipe laki-laki yang gampang main tangan. Jadi aku putuskan untuk mengalah dan menjauhi dia.

Aku terus berjalan kearah dapur. Sejenak teringat akan Rianti dan anak-anak. Sepertinya aku mulai merindukan mereka. Haahh, aku mendesah.

Namaku Galih Pratama Wijaya seorang lelaki dengan prestasi luar biasa. Tampan dan juga kaya raya. Yah walaupun dulu aku hanyalah laki-laki biasa, namun berkat kegigihanku dan semangat berjuangku, kini aku berada di puncak kesuksesan yang tinggi.

Menikah dengan perempuan cantik, ternyata bukanlah modal utama dalam sebuah pernikahan. Nyatanya cantik saja tak mampu membuatku nyaman.

Kunyalahkan lampu dapur dan berjalan pelan -pelan menuju kulkas, kemudian mengambil air mineral kemasan botol kecil dan meneguknya sampai habis. Rasanya segar sekali saat air itu menyentuh tenggorokanku yang telah mengering.

Berbalik lagi, namun kali ini aku tidak langsung ke kamar, aku putuskan untuk ke ruang kerjaku. Menghempaskan kasar tubuhku di kursi sofa.

Sebatang rokok dengan merek termahal sudah terselip di antara jemariku. Dentuman bunyi korek api gas menandakan bahwa aku sudah membakar rokok tersebut.

Wussshh, asap mengepul dari mulutku seiring dengan pikiranku yang mulai menerawang jauh ke masa lalu.

Rianti Nandita, perempuan yang menemaniku dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan ini. Yang mendampingiku dalam masa-masa tersulitku. Seorang perempuan yang telah memberiku tiga jagoan kecil dan dua bidadari dunia.

Dulu aku sangat tergila-gila padanya. Perempuan dengan level kecantikan yang teramat tinggi. Hidung mancung, kulit mulus dan putih bersih, wajahnya benar-benar mengingatkanku dengan aktris india Aishwarya Ray. Ia sangat sempurna menurut penglihatanku saat itu.

Namun segalanya terasa berbeda. Perlahan perasaanku padanya menguap begitu saja. Semenjak ia mulai mengandung anak kami yang ke empat. Entah kenapa aku merasa mulai bosan melihatnya, ia seperti tidak menarik lagi untukku.

Bagi sebagian lelaki mungkin kecantikan menjadi nomor satu dalam memilih pasangan. Plus juga menginginkan perempuannya tetap terlihat cantik di hadapannya setiap waktu.

Rumah akan terasa indah dipandang jika wanita di dalamnya juga ikut indah dipandang. Bagiku kecantikan istriku adalah hal penting dalam rumah tanggaku.

Tapi kini kusadari bahwa bukan kecantikan Rianti yang memudar, tapi pandanganku yang tidak bisa aku tundukkan. Aku menikmati kecantikan wanita yang bukan mahramku, itu sebabnya tidak mampu lagi menakar betapa besar kecantikan istriku. Aku hanya tersihir dengan dosa belaka, pada akhirnya setelah halal, baru aku tau tidak ada yang lebih cantik dari Riantiku.

Kupejamkan mata, sedikit bulir bening menetes dari sudut netraku. Aku benar-benar menyesali perbuatanku dulu, harusnya aku sadar dan tidak meninggalkan mereka. Bahkan kini pun aku mulai merindukan kehadiran anak di rumah ini. Rindu tangis bayi dan kenakalan mereka.

Amira istriku tidak ingin mengandung, alasannya nanti badannya gemuk, wajahnya akan berjerawat dan semua hal buruk yang akan terjadi pada tubuhnya jika perempuan mengandung. Hal ini dulu yang menjadi alasanku meninggalkan Rianti, yang akhirnya Amira pun bersiaga akan hal itu.

Setelah cukup lama berdiam diri di ruang kerja. Aku pun berdiri dan hendak balik untuk ke kamar.

"kamu darimana?" Tanya Amira yang kini sudah duduk di depan cermin. Ia baru selesai mandi ternyata dan sedang berdandan. Bahkan mau tidurpun ia masih menjaga penampilannya.

"Aku tadi minum air Mir," ucapku cuek dan melompat ke ranjang. Kemudian mengambil handphoneku.

"Memangnya minum air harus butuh setengah jam gitu," ketusnya.

"Tadi aku merokok dulu di ruang kerja," balasku malas. Aku mulai tidak nyaman berada di sampingnya, padahal dulu aku begitu bersemangat kalau hendak bertemu dengannya secara diam-diam. Memuaskan hasrat lelakiku yang sudah enggan ku lakukan bersama Rianti waktu itu. Meski tak sampai pada perbuatan zina.

Amira kini sudah berdiri, rambut indahnya tergerai begitu saja, ia masih memakai jubah mandinya dan sejurus kemudian melepasnya untuk berganti pakaian. Aku berbalik memunggunginya, aku tau ia sedang menggodaku, tapi saat ini aku tidak sedang bergairah untuk menyentuhnya.

Aku segera menutup mata dan berkelana di dunia mimpi, berharap bisa bertemu Rianti dan anak-anak dalam mimpiku.

💞💞💞

Waktu sudah memasuki senja, adzan Maghrib mulai berkumandang di seluruh pelosok negeri. Amira sedari tadi sudah sibuk memilih dan memilah baju yang akan dia pakai ke acara reuni sekolahku sebentar. Terhitung ada sepuluh baju mahal yang ia beli tadi pagi. Begitulah Amira ia akan sangat protektif kalau soal penampilannya. Tapi soal pakaianku dia ogah-ogahan untuk mengurusinya.

"Mbok setrika semua bajunya yah, aku masih bingung mau pakai yang mana," sahutnya pada Mbok Alfa, pembantu rumah tangga kami yang sudah cukup berumur.

"Iyah Nyonya." Dengan cepat mbok Alfa menunaikan perintah Amira, ia tau jika ia terlambat sedikit saja maka Amira akan memarahinya.

"Pakaianku, sudah kau siapkan Mir?" Tanyaku pada Amira.

"Gitu ajah apa harus aku juga yah Mas, kamu kan bisa ambil sendiri di lemari, aku sibuk nih, " ucapnya tanpa menatapku. Kali ini ia sibuk memilih sepatu hak tingginya yang berjejer rapi di lemari khusus ia menyimpan sepatu-sepatunya.

Tanpa banyak bicara aku langsung menuju ruang pakaian, membuka lemari dan memilah sendiri pakaian yang ingin kupakai. Kembali aku teringat pada Rianti, yang begitu telatennya mengurusiku. Menyediakan semua keperluanku saat aku hendak pergi ke sebuah acara. Yang aku tau hanya duduk mengangkat kaki dan menunggu semuanya beres.

"Mbok, tolong setrika punya saya juga yah," sahutku pada Mbok Alfa yang dengan hati-hati menyetrika baju Amira.

"Baik tuan."

Setelahnya aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Sedang Amira sibuk sendiri dengan aksesoris yang akan dia pakai. Bisa kutebak, nanti ia akan memakan waktu cukup lama untuk berganti pakaian plus berdandan.

***

"Amira, cepat dong, lama banget sih." Seperti yang kuduga tadi, Amira akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk berpakaian sampai memoles wajahnya. Aku seperti bosan menungguinya, ingin rasanya aku tinggal saja, kalau tidak mengingat tentang perang dunia ketiga kalau sampai aku melakukannya.

"Iya Mas, tunggu bentar kenapa sih," balasnya tak kalah berteriak besar.

***

Dengan setelah dress batik tanpa lengan dan panjang selutut Amira menuruni anak tangga. Pahanya yang mulus terlihat menggoda, inilah Amira dengan style fashion nya yang cukup terbuka. Jika dulu sewaktu masih pacaran aku baik-baik saja dengan penampilannya, tapi setelah menikah aku menjadi tidak suka dengan gaya pakaiannya ini. Terlalu terbuka untuk pakaian seorang perempuan. Menggundang Banyak mata lelaki nakal untuk menikmatinya juga.

"Terlalu terbuka, ganti pakaianmu," sahutku padanya.

"Apa'an sih Mas, jangan mulai lagi deh. Kita akan terlambat nanti kalau kau mulai mempermasalahkan penampilanku lagi." Ia menjawab dengan gerakan memakai anting di kedua telinganya.

"Amira, kamu terlihat begitu menggoda, aku tidak ingin ada laki-laki lain yang menikmati kecantikanmu. Cukup aku saja sebagai suamimu yang menikmatinya," jawabku mulai kesal.

"Mulai lagi deh. Justru aku begini untuk mengangkat harga dirimu Mas. Dari penampilanku orang-orang akan berpikir bahwa kau telah menjadi suami terbaik karena begitu baiknya mengurusiku. Kau paham?" Lagi dia tidak mau dan tidak akan pernah mengalah.

"Oh ayolah Mas, tidak usah banyak berkomentar buruk, hanya nikmati saja kecantikanku ini, dan mari kita berangkat."

Aku pun sekali lagi mengalah. Akan sangat panjang ceritanya kalau aku tetap bersikukuh dengan pendapatku.

***

Hotel tempat berlangsungnya acara begitu ramai dengan banyaknya kendaraan serba mewah yang ikut parkir di sebelah mobilku. Sebelum turun Amira begitu panik, dan terus mananyakan padaku apakah ia sudah terlihat cantik dan sempurna. Aku hanya diam tidak menggubris perkataannya. Segera membuka pintu mobil dan turun, kemudian membuka pintu dimana Amira duduk..

"Sayang, apakah aku sudah terlihat sempurna?" Lagi sebelum turun ia menanyakan hal itu lagi kepadaku.

"Iyah," jawabku malas.

Seperti yang kuduga bahwa penampilannya akan mengundang banyak suara sumbang. Para lelaki mulai melihat kearah kami, memperhatikan penampilan Amira dengan pandangan mesumnya. Amira bahkan terlihat lebih percaya diri dengan banyaknya perhatian dari mereka. Aku hanya bisa mendesah kesal melihat tingkah Amira, melempar pandanganku pada keadaan sekitar hotel. Sesaat kemudian mataku menangkap satu sosok yang selama ini aku rindukan.

Rianti, sosok itu ada di depan pintu masuk hotel bersama dengan seorang pria yang aku kenal sebagai sahabatnya dulu. Ia begitu mempesona dengan penampilannya yang sederhana. Ia benar-benar telah menjadi Riantiku dulu yang begitu aku kagumi. Mataku tidak lepas dari memandangnya, hingga lupa bahwa kini Amira sedang terlibat perbincangan dengan beberapa teman seangkatanku.

Kami pun melangkah masuk, dengan beberapa teman yang kukenal baik. Amira masih terus bersikap manis di hadapan mereka. Beberapa kali aku memberinya kode untuk tak terlalu dekat dengan mereka, namun Amira tidak mendengarku dan terus mencari perhatian mereka.

***

Sepanjang acara, aku hanya terus memperhatikan Rianti dengan beberapa kawannya. Ia terlihat begitu bahagia saat ini. Apakah ia benar-benar telah melupakanku? Ah aku yakin ia masih menyukaiku. Buktinya ia bahkan belum menikah sampai saat ini.

"Sayang, aku mau ke toilet," sahut Amira.

Aku menganggukkan kepala dan berjalan mengikuti Amira dari belakang.

Tepat setelah berada di depan toilet umum khusus wanita, Amira langsung melangkah masuk. Sementara aku menunggu di luar dengan memainkan handphoneku. Tidak berselang lama terlihat Rianti berjalan menuju kearahku. Sepertinya aku memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya.

Kini ia berada tepat di depanku, aku langsung menggenggam tangannya. Ia terlihat begitu tidak terima akan perlakuanku. Menghempas kasar tanganku.

"Ri, aku ingin bicara sebentar," sahutku pada Rianti.

"Mau bicara apa lagi Mas. Diantara kita tidak ada yang perlu dibicarakan."

"Rianti, aku rindu anak-anak. Aku ingin bertemu mereka." Menatap lekat pada wajah Rianti

"Cih, Untuk apa lagi kau bertemu mereka Mas, bahkan untuk menafkahi mereka saja tidak kau lakukan." Senyum simpul tersungging dari kedua bibir manisnya.

"Aku menyesal Ri, tolong maafkan aku."

"Aku dan anak-anak sudah memaafkanmu Mas. Sudahlah, kami sudah bahagia tanpamu. Dan kau berbahagialah dengan istri cantikmu itu."

Rianti tersenyum kecil. Aku tau ia begitu masih sama mencintaiku, hanya saja ia tidak mau menunjukkannya padaku sebab ia begitu kecewa padaku.

"Tapi aku ingin kembali. Kembali berkumpul bersamamu dan anak-anak."

"Hahahaha. Kamu lucu Mas. Dulu kami kau campakkan. Sekarang ingin kau pungut kembali. Maaf Mas, sayangnya aku ataupun anak-anak tidak ingin lagi hidup bersamamu."

Rianti hendak melangkah pergi. Tapi dengan cepat tangan kokohku menarik tangannya.

"Jujurlah padaku Ri, kau saat ini hanya sedang meluapkan emosimu kan? Sejujurnya kau masih mencintaiku Ri. Aku tau itu," ucapku penuh percaya diri, berharap ia luluh dan kemudian memelukku.

Plaaaak.

Satu tamparan mendarat di pipiku. Aku tidak menyangka Rianti akan menamparku. Selama menjadi suaminya ia bahkan tidak pernah berkata kasar padaku.

"Cinta kau bilang. Pede sekali kau Mas. Apa kau tau, kalau aku akan segera menikah?" Ia menatap tajam diriku dan kembali melemparkan senyum penuh arti padaku.

"Dan yah, tamparan itu bukan untuk rasa sakitku. Tapi karena kekurangajaranmu yang sudah memegang paksa tanganku."

Ia memberikan sedikit peringatan padaku dan kemudian pergi meninggalkanku. Aku hanya terpaku menahan rasa pedih pada pipiku.

💞💞💞

Setelah kejadian Rianti menamparku semalam tidak sedikitpun menyurutkan langkahku untuk menemuinya hari ini. Aku akan berusaha membujuknya, agar mau menerimaku kembali. Aku sangat yakin ia hanya melampiaskan kekecewaannya semalam sehingga sampai menamparku. Sedang pernyataannya tentang ia akan menikah, aku yakin itu hanya untuk menggertakku saja. Yang sebenarnya aku tau ia merindukanku, aku begitu percaya diri sebab aku merupakan cinta pertamanya yang selamanya tidak akan pernah bisa ia lupakan.

Sengaja masih pagi buta aku sudah bersiap-siap, agar aku bisa mengkondisikan waktuku untuk pergi menemui Rianti dan kemudian pergi ke kampus.

Amira masih terlelap tidur. Ini bukan jam bangunnya. Bahkan ia tidak pernah sedikitpun menyiapkan segala keperluanku sebelum berangkat ke kampus. Sarapanpun hanya mbok Alfa yang menyediakannya.

Setelah menikmati sarapan aku pun pergi. Melajukan mobilku membelah jalanan ibu kota yang sudah mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan para pekerja. Senyum terkembang dari wajahku, membayangkan akan sebahagia apa nanti ketika Fatih dan adik-adiknya bertemu denganku. Pasti mereka sangat merindukanku.

Drrrrt, drrrrt

Handphoneku bergetar, sebuah pesan masuk ke aplikasi chat milikku.

[Sayang, kamu dimana?] Pesan dari Amira. Tumben jam begini Amira sudah bangun. Pasti ia hanya merasa ingin buang hajat kemudian melanjutkan tidurnya.

Aku biarkan saja. Dan terus melanjutkan perjalananku.

***

Saat ini sudah berada tepat di depan rumahku dulu. Rumah tempat tinggalku bersama Rianti dan anak-anakku.

Dengan percaya diri aku memasuki pekarangan rumah. Rianti sudah berdiri manis di depan pintu. Dengan senyum manisnya yang dulu selalu ia pasang saat menungguiku pulang dari kerja.

Aku turun dan berjalan santai kearah Rianti yang sudah di temani anak-anak dan seorang baby sitter kedua anak kembar. Apa ini anakku kembar? Dan perempuan juga? Ahh aku sangat bahagia.

"Hai nak, kalian tidak rindu Abi?" Aku bertanya pada Fatih yang kini sudah berpindah ke belakang Rianti, diikuti Syamil dan Syafiq. Mereka bahkan menunjukkan wajah tidak sukanya padaku.

"Usir dia Ummi, Fatih tidak suka melihatnya," sahut Fatih keras.

Sedikit kaget karena Fatih berkata demikian. Tapi aku tidak terlalu mengambil hati ucapannya, Ia hanya anak-anak yang sedang marah kepada bapaknya.

"Fatih sayang, ini Abi nak, Abi pulang." Aku berjongkok dan merentangkan kedua tanganku, memberi kode kepada Fatih untuk datang mendekat dan memelukku. Namun nyatanya Fatih tetap tidak beranjak dari tempatnya, ia bahkan semakin kuat menggenggam pakaian Rianti.

"Mau apa lagi kamu Mas?" Cercah Rianti.

"Aku hanya ingin bertemu anak-anak Ri," jawabku sambil bangkit dari berjongkok.

Pandanganku kini tertuju pada kedua anak kembar yang sedang di peluk seorang perempuan yang kuyakini sebagai pengasuhnya.

"Ini anak kita Ri?" Berjalan pelan mendekati mbak Ani.

Aku sangat bahagia melihat mereka, sebab dari dulu aku sangat mengharapkan kehadiran anak perempuan dalam pernikahanku dan Rianti.

"Tidak! Mereka hanya anakku!" Jawab Rianti tegas.

"Pergi Mas. Kau tidak berhak lagi atasku dan anak-anak!" Ucapnya lirih.

"Kau jangan lupa Ri, sampai kapanpun aku tetap menjadi Bapaknya anak-anak!"

"Bapak macam yang tega meninggalkan anak-anaknya."

"Seharusnya kau malu Mas, anak-anak bahkan tidak ada yang merindukanmu."

"Aku minta maaf Ri. Tolong berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanku," ucapku memohon.

Aku terlalu bodoh meninggalkan Rianti dulu. Kini aku benar-benar menyesal dan ingin kembali padanya.

"Aku menyesal Ri telah meninggalkanmu dan anak-anak."

Rianti tidak menggubris perkataanku. Ia diam dan tidak memandangku. Seperti hendak berpikir tentang sesuatu.

"Sudahlah Mas. Aku tidak secantik Amira. Bukankah dulu kau bilang aku tidak lagi menarik untukmu?" Ia menyeringai.

"Aku salah Ri. Kamu tetap yang terbaik." Kembali aku memperlihatkan wajah memohon padanya.

Belum sempat ia menjawab perkataanku. Sebuah taksi melaju memasuki pekarangan rumah Rianti. Hafizh mantan suami Amira, lelaki itu turun dari dalam taksi dengan sebuah tas kresek berisi banyak mainan. Ia melempar senyum kepada Rianti dan anak-anak. Kenapa dia kesini?

"Om Afis," anak-anak berlarian menuju kepadanya. Bahkan Syafiq pun merengek minta digendongnya.

Hatiku benar-benar panas melihat adegan ini. Anak-anak bahkan tidak memelukku tadi, kenapa mereka kini memeluk pria yang tidak ada hubungan darah dengan mereka. Amarahku semakin memuncak saat melihat Hafizh yang sok perhatian pada anak-anakku kemudian memandang Rianti penuh arti.

"Kau lihat Mas, anak-anak sudah menemukan penggantimu." Kembali Rianti melempar kata padaku.

"Jadi jangan terlalu percaya diri, Jika aku masih berharap padamu apalagi sampai masih mencintaimu."

"Kamu salah Mas. Mudah saja bagiku untuk melupakan segala sakit yang kau torehkan padaku dulu."

Aku menatap marah kearah Rianti. Tidak terima ia memperlakukanku dengan buruk hari ini.

"Hai Galih, apa kabarmu?" Lelaki itu menyapaku.

Aku tidak menggubrisnya dan memilih angkat kaki dari tempat ini.

Bersambung 😁😁

1
Maritza Hanan
asik gerah juga akunya🙊🙊
Nuraini Nuraini
ayo lanjut ko lama
Senja🌻
semangat ❤️ ditunggu feedback nya kk ♥️
Senja🌻
semangat ❤️
Ishiba Aoi
semangat thor!
Khai Rudin
gila parah banget aku nangis dan meleleh terus air mataku
Ishiba Aoi
semangat thor! next
Ishiba Aoi
semangat thor!
vi
knp ga ada lanjutannya ???
Baca Aja
kenapa thor ngga lanjut?
Baca Aja
ini pindah atau bagaimana ?
Baca Aja
seprrtinya kira harus kasih vote rame rame biar lanjut
Baca Aja
smg semua sehat ya thor ..bisa lanjut ceritanya... suka nih ma novel beda dari y lain. sarat makna..
Baca Aja
seneng ni novel banyak hikmah.. ingin belajar mrnulis tlg di bimbing ya
Baca Aja
puaa bisa, nampar galih....
Endang Purwati
wweeuuhhh.....26 M itu tas harganya...
Endang Purwati
sungguh...rahasia Alloh memang tidak ada yg pernah bisa menebak...

dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...

karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....

banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...

keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...

lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
Endang Purwati
dan terima kasih author...sudah menghibur kami para readers dengn cerita indah ini...

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
A͙y͙u͙💖DA
kok g d lanjut kan kk
Endang Purwati
gak mau komentar...lagi osi saya sama suami Rianti...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!