Selamat membaca!!!
Kisah Duda Kere[N] Vs Gadis Somplak™
Namanya Chika, gadis dengan hobi nyleneh dari gadis seusianya. Dia suka memancing bersama teman-temannya, bahkan sering ikut kontes dan selalu juara satu dengan hadiah jutaan rupiah.
Dia gadis yang anti dengan duda, apalagi duren alias duda keren. Menurutnya, duda adalah status yang menyeramkan baginya, statment Chika tentang duda adalah pria dewasa yang kurang belaian dari seorang wanita.
Tapi nasib berkata lain, Chika mendapatkan kesialan bertubi saat harus menerima perjodohan online yang sangat merugikan dirinya.
Kedua orang tuanya, telah menentukan nasibnya yang harus berjodoh dengan duren!
Astaga! kek mana tuh?
Apa Chika mau ya nikah sama duda? secara dia tuh anti gitu?
Penasaran?
Yuk baca novel baruku ini, jangan lupa like, komen, fav dan vote.
Mari ber-haha hihi dengan neng othor 😂😂😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otw Pelaminan
Di kamar Chika, pagi hari yang cerah...
Pukul 06.00 waktu setempat...
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu membuat Chika membuka mata, dia menggeliat sebentar, beberapa detik kemudian berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Siapa sih pagi-pagi sudah berisik?" gerutu Chika yang merasa terganggu dengan suara dari balik pintu kamarnya.
Dia menyingkirkan selimut yang ada di tubuhnya, menurunkan satu demi satu kakinya ke lantai dan mencoba berjalan dengan masih mengucek matanya yang masih mengantuk itu.
Satu tangannya menggenggam gagang pintu, dan satunya lagi masih nyaman mengucek mata Chika yang terasa gatal, dia bahkan menguap, terasa sekali rasa kantuk yang belum ingin enyah itu.
KLEK!
Setelah ia menarik gagang pintu kamarnya, tiba-tiba suara seorang pria menyebalkan terdengar nyaring di telinganya.
"Masuk mobil!" pekik si pemilik suara.
"Masuk mobil? mau kemana? ini masih pagi, aku mau tidur lagi!" Chika berbalik, sang gadis ingin kembali ke peraduannya kembali.
Namun, langkahnya terhenti saat sang pemilik suara menarik tubuhnya dan menjatuhkan di dada bidang sang pemilik suara menyebalkan itu.
"Aw!" Sang gadis terbentur dada bidang, dia kira itu tembok, tapi matanya membulat sempurna saat mendapati dirinya berada di pelukan, Dante.
"Hey! apa yang kau lakukan padaku? tadi malam kau merenggut kesucianku, sekarang apa lagi?" Chika mengatakan hal yang tidak masuk akal, ini akan menjadi titik balik Dante meledek sang calon isteri. Mimpi Chika akan menjadi bahan untuk mengerjainya.
"Ha? merenggut kesucian? kau bermimpi hal itu denganku ya? wah pemikiranmu terlalu me*sum." Dante menjitak kening Chika, membuat gadis itu kesakitan.
"Ih! apa sih! hobi sekali menyiksaku!" Dante melepaskan pelukannya, membiarkan sang gadis berdiri dengan kedua kakinya.
"Hey! gadis me*sum, kau selalu mengataiku me*sum, tetapi kau sendiri lebih menyeramkan dari apa yang aku bayangkan!" Dante menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang ia dapati di pagi ini. Seorang gadis bahkan bermimpi tidur dengannya.
"Ha?" Chika berusaha meraih kesadarannya.
"Cubit aku!" pinta sang gadis, dia merasa belum sadar sepenuhnya.
Dante dengan senang hati mencubit lengan Chika. Seperti dendam kesumat, dia melakukannya dengan penuh semangat.
"Awwww! Dante!! ini sakit sekali kau tahu? sial! apa kau dendam kepadaku?" Sang gadis menarik lengannya dan menjauh dari jangkauan Dante, ia perlahan mengusap bekas cubitan Dante yang lumayan menyakitkan, bahkan ada bekas membiru di sana.
"Hahaha, rasakan! sakit kan!" Dante terlihat puas, dia selalu bersemangat untuk mengerjai Chika.
"Kejamnya!" ucap Chika kesal.
"Rasakan itu! mes*um sih!"
Saat Dante menertawakan Chika, Tuan Giveon datang menghampiri keduanya.
"Rame bener? ada apa?" tanya Tuan Giveon saat mendapati anak dan calon menantunya terlibat pembicaraan yang cukup seru.
"Tengok ni! Dante sudah membuat luka di lengan awak, macam mana nak jadi suami teladan? belum kahwin je, dah KDRT!" Gaya bicara Chika mendadak menjadi melayu sambil menjulurkan lengan yang membiru akibat cubitan Dante.
"Kau terkena kuase api boboiy ke? macam mana bisa tiba-tiba gaduh sangat? oleh sebab KDRT? mana, awak nak tengok, KDRT macam apa yang Dante perbuat." Bahkan Tuan Giveon 'pun berbahasa ala melayu.
"Kalian bicaralah, aku mau pergi saja!" Dante ingin kabur, dia seperti tidak memahami apa yang ayah mertua dan calon isterinya katakan, namun Tuan Giveon mencegahnya.
"Kita sedang berbicara bahasa melayu, kau tidak paham kah?" tanya Tuan Giveon, dia menatap wajah Dante yang kebingungan.
"Sikit-sikit je." Dante mampu berbahasa melayu ternyata membuat Chika berdecak kagum.
"Ck! bule Amerika Latin bisa berbahasa melayu juga ya? mantep dah!" Dua jempol Chika ia berikan kepada Dante yang luar biasa, bahkan dia sudah melupakan perkara KDRT.
Dante hanya bisa nyengir kuda sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dia cari, Dante menghampiri kotak P3K yang tertempel di tembok. Letaknya tak jauh dari televisi LCD yang juga nangkring di tembok ruang keluarga.
Dia membuka kotak itu, tangannya mulai bergerak mencari apa yang ia butuhkan.
"Ini dia, dah jumpa!" ucap Dante, saat menemukan sebuah plester dan botol kecil berisi obat merah.
Perlahan langkah kaki Dante kembali ke titik awal ia berdiri yaitu di depan kamar Chika.
"Apa yang kau lakukan? mondar-mandir, kesana kemari? merencanakan hal yang buruk ya?" cecar Chika, prasangkanya terlalu berlebihan.
"Haish! bahkan kau hanya melihatku seperti pria jahat, mana lenganmu! cepat berikan padaku!" Dante memaksa Chika menuruti ucapannya.
"Ogah! pasti mau di pukul kan? tidak mau!" Chika menyembunyikan lengannya di belakang punggungnya.
"Aku ingin mengobatimu, kau lihatkan? ada plester, obat merah juga ada. Ini bukan pisau atau golok!" Dante memperjelas niatnya untuk membantu mengobati luka Chika.
Awalnya Chika ragu, tapi perlahan dia mengulurkan tangannya ke arah Dante. Respon tak terduga dari om duda, dia mengobati luka akibat cubitan jarinya dengan perlahan dan telaten. Bahkan dia meniup luka itu, membuat Chika berhalu yang tidak mungkin.
Ayah Chika bahagia saat melihat pemandangan mengesankan ini. Akhirnya, Setelah sekian lama menjomblo, Chika otw ke pelaminan juga.
"Sudah ku obati, aku pria bertanggungjawabkan?" ucap pria sok ganteng dengan senyum sok manisnya.
"Terserah kau saja," ucap Chika yang berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar, namun kerah piyama sang gadis di tarik oleh om duda.
"Hey! kau ingin membawaku kemana?" Sang gadis bahkan tidak mengetahui maksud tindakan Dante yang berlebihan ini.
"Menikah, apalagi?"
Chika bahkan merupakan hari penting itu, hari dimana ia melepaskan masa lajangnya. Meskipun hanya pura-pura, tetapi di hadapan kedua orang tua, Tuhan dan negara, dia mengabdikan diri sebagai seorang isteri dari Dante Miquel.
"Aku belum mandi," ucap Chika ketus.
"Mandi di rumahku, acaranya akan dimulai jam 8. Jarak rumahmu dengan rumahku lumayan jauh, jika tidak segera berangkat, nanti kita akan terlambat."
Dante merasa kesal dengan Chika, Karena dia sudah membangunkan Gadis itu sejak pukul 05.30 pagi. Namun, sang gadis sama sekali tidak membuka pintu kamarnya. Sang duda melampiaskan kekesalannya dengan berteriak kepada Chika saat gadis itu membuka pintu.
"Ikut saja Chik, toh kurang dari 24 jam kau sudah menjadi istri sah dari Dante Miquel,bule Amerika Latin kesayanganmu."
Ayah Chika begitu gencar memprovokasi keduanya.
Dante merasa menang, Chika pasrah.
Sang gadis akhirnya mau mengikuti semua ucapan dari Dante yang juga dibumbui kata-kata Tuan Giveon yang membuatnya hilang semangat.
"Ya,ya, terserah kalian saja, aku mengikuti apapun arahan dari kalian berdua yang penting kalian bahagia!" ucap Chika menundukkan kepalanya, dia terkejut saat tangan om duda menggenggam tangannya erat.
'Tangannya hangat sekali," batin Chika, tanpa ia sadari, senyum manis mengembang di bibirnya.