Narendra Putra Aryan. CEO muda yang tampan, berkharisma, genius, dan, dingin.
Bertemu dengan seorang gadis yang cantik, ceria, dan pemberani.
Namanya Syeira, gadis yang berprofesi sebagai wartawan pemburu berita media onlin.
Zico saudara Narendra, tumbuh menjadi si pria pirang yang yang tampan. tabiatnya sedikit buruk jika berurusan dengan wanita. Ia selalu berurusan dengan mereka sebagai partner ranjang.
Hingga takdir mempertemukannya dengan Cellin, gadis berkerudung yang lembut dan penyayang.
Ikuti kisahnya dalam cerita Love and Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Sejak kejadian malam itu di jalan. Zico dan Cellin saling menjaga jarak. Seringkali mereka berpapasan saat di kantor, dan mereka sama-sama diam tak bertegur sapa. Atau Cellin yang menunggu kang ojek onlin di jalan. Dan Zico mendiamkannya.
Penolakan Cellin pada Zico malam itu sangat menampar hati Zico. Ia merasa begitu rendah melihat dirinya sendiri dalam pandangan mata Cellin. Dan saling menjaga jarak adalah keputusan yang tepat.
Cellin sudah sampai di rumah sepulang kerja. Rumah yang sederhana, yang berada di suatu komplek memasuki gang luas.
Cellin memberikan uang lembaran hijau pada kang ojek. Ia merasa sedikit bingung karna di depan rumahnya ada sebuah mobil terparkir, sedangkan keluarganya tak ada satupun yang memiliki mobil.
Cellin melangkah kan kaki memasuki rumah, tak lupa ia mengucapkan salam. Menyalami tangan Ibu dan Kakak laki-lakinya yang sudah ber istri dan memiliki seorang anak laki-laki yang masih kecil.
Ayah Cellin sedang sakit stroke. Dan hanya bisa berbaring di dalam kamar.
"Ini dia anaknya sudah datang,.!"
Seru ibu Cellin dengan nada suara yang riang.
"Assalamu'alaikum.!" Cellin mengucap salam pada para tamu yang duduk berkumpul bersama keluarganya di ruang tamu.
"Cantik ya, Pak?." Seru seorang ibu paruh baya yang menjadi tamu keluarganya kepada suami yang duduk di sampingnya. Di kursi lain ada seorang pria yang terus menatap Cellin dengan seutas senyum tersungging di bibirnya.
"Cellin, kamu masuk dulu gih. Bersihkan diri."
Ucap Kak Lala istri Kak Abhi Kakak nya Cellin.
Cellin pun mengangguk dan tersenyum, lantas melangkah masuk kedalam kamar. Kak Lala mengikuti.
"Siapa mereka, Kak?. Dan apa tujuan mereka kesini.?"
"Mereka keluarga teman ibu, Cellin. Dan mereka datang untuk melamar kamu, mereka ingin menikahkan anaknya sama kamu.?"
"Apa.?"
Jelas Cellin kaget. Bahkan kepalanya refleks menggeleng. Ibu Cellin sudah masuk ke kamar Cellin.
"Kamu harus menerimanya, Cellin. Nak Faisal itu orang nya baik, berprestasi, dia itu anak tunggal dan menjadi pewaris di usaha mebel Bapaknya, dia juga sudah bekerja menjadi PNS Cellin. Masa depan kamu akan terjamin jika hidup bersamanya."
"Bu, Cellin masih belum siap menikah,? Lagi pula, Cellin baru aja lulus kuliah dan baru bekerja, Cellin masih ingin sendiri dan membahagiakan ibu sama Bapak."
"Cellin, kebahagiaan orang tua itu ketika melihat putrinya yang sudah dewasa menikah dengan laki-laki yang tepat. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Cellin. Dan kamu juga akan mempermakukan ibu jika kamu tidak menerima lamaran mereka, karna ibu sudah menyetujui dan mengiyakan mereka, Cellin."
Perdebatan demi perdebatan pun terjadi, dan pada akhirnya Cellin yang harus mengalah dan patuh dengan keputusan ibunya. Cellin telah di jodohkan.
Keluarga Fasial berpamitan. Dan ibunya mengatakan jika mulai besok Faisal akan sering datang untuk sekedar menjemput atau mengantar Cellin kerja. Dengan begitu Cellin dan Faisal memiliki waktu lebih untuk bisa saling mengenal.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Hari berganti hari, pernikahan Syeira dengan Arend juga semakin dekat, Syeira akhirnya mengatakan rahasianya itu pada Bim. Jelas Bim merasa kaget, hati nya terasa nyeri tiba-tiba. Wanita yang di cintai nya sejak lama akan dimiliki oleh orang lain. Menutup kesempatannya.
"Hah? Kamu gak bohongin aku kan, Ra?."
Nara hanya menggeleng malas.
"Oh ya, ingat rencananya ya?? Kamu harus bisa mengambil gambar dengan baik. Jangan sampai ada yang curiga. Keamanan akan sangat ketat, aku yang akan membawa kameranya terlebih dulu, setelah itu kau bisa nenemuiku untuk mengambil alih. Dan jangan sampai kamu menyorot ke muka ku saat acara live."
Syeira sudah membicarakan kematangan rencananya dengan Bim. Jika ini semua berjalan sesuai dengan rencananya, maka ibarat menyelam sambil minum air.
Syeira bisa melunasi hutangnya pada Arend dan tetap bisa bekerja di *Melavers*, Dan mendapatkan promosi untuk ke depannya.
Bim merasa ada yang aneh, dia akan menikah dengan orang penting. Seorang CEO muda kaya raya yang selalu menjadi sorotan dunia. Bagaimana dia menginginkan Video nya viral di muat di channel *Melavers*. Dengan alasan demi pekerjaan. Bukankah jika sudah sah menjadi istri CEO hidupnya akan terjamin tanpa kekurangan?
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Cellin telah sampai di halaman depan *N~A Cell*. Ia di antar oleh Faisal sang calon suami menggunakan motor matic.
Cellin melepas helm, menganggukkan kepala lalu masuk ke dalam gedung tinggi itu.
Sudah beberapa kali Zico melihat Cellin datang ke kantor di antar Pria yang sama, dan juga di jemput saat pulang dengan pria itu. Zico mulai penasaran. Cellin yang tak bisa ia dekati, bisa di bonceng dengan pemuda yang menurut Zico bukanlah levelnya.
"Siapa Si J3l3k itu? Bagaimana dia bisa mengantar jemput Cellin setiap hari? Apa dia kang ojek? Kenapa tidak pakai baju hijau?"
Zico yang bergerak bergaya membersihkan kaca menggunakan lap handuk hanyut dalam pikirannya dengan banyaknya kemungkinan-kemungkinan.
Zico kini berada di pantry, ia malas dan lelah terus-terusan membersihkan ruang kantor. Pantas saja jika Syeira merasa tidak kuat dan memilih untuk menjadi wartawan.
Zico duduk di salah satu kursi, ia memainkan ponselnya. Melihat Video \+\+\+. Terkadang raut mukanya begitu menunjukkan jelas kenaikan libidonya karna Video itu.
Cellin tiba-tiba masuk. Zico dan Cellin sama-sama kaget. Zico mematikan ponselnya. Dan diam sedikit tegang mendapati Cellin yang tiba-tiba masuk kesana.
Cellin ingin kembali, namun kepalanya yang terasa sangat pusing memaksa dia tetap masuk untuk membuat segelas kopi.
Cellin hanya menunduk tanpa menyapa. Zico terus menatapnya, tiba-tiba hatinya jadi berdebar, pertama kali nya ini Zico alami. Jantung nya berdetak kencang hanya dengan melihat Cellin. Ini belum pernah ia rasakan sebelumnya dengan wanita manapun. Tapi diam dan tertutup nya Cellin seakan membuat Zico tertekan. Dan dia menyerah dengan ego nya untuk tetap diam.
"Kau membuat kopi?."
Zico membuka obrolan. Cellin dengan ragu mengangguk pelan tanpa menoleh.
'*Huuhh, ada respon*.'
Jantung Zico serasa tertimpa beban. Ia menggunakan akal bulusnya untuk bermain, paling tidak, ada kesempatan saat ini meski sangat kecil.
"Em? Boleh kah aku minta tolong untuk di buatkan sekalian? Aku ingin minum kopi, tapi aku tidak bisa membuatnya."
Kebohongan dan kejujuran terucap bersamaan. Zico memang tidak bisa membuat kopi. Tapi ia juga tidak pernah minum kopi.
Cellin mengangguk sekali lagi.
'*Yeah*.!' Batin Zico senang.
"Maaf.!" Ucap Zico tulus. Yang meskipun Zico sendiri tidak tahu apa salahnya pada Cellin sehingga ia harus mengucapkan kata itu.
"Kau tidak bersalah apapun padaku, Tuan? Kenapa kau meminta maaf.?"
Cellin membuka suara. Zico semakin antusias. Ia tidak sadar sampai berdiri cepat karna senang. Yang justru membuat Cellin kaget dan menatapnya takut.
"Ouh, Sorry. Please jangan takut, gua gak seburuk itu. Yah,,,? Maksudku, gua ngelakuin itu hanya atas dasar suka sama suka. Dan gua juga bayar sama mereka. Gua gak main jika karna terpaksa. Apalagi memaksa. Gua gak ada niatan ke arah situ sama kamu." Kalimat terakhir yang Zico ucapkan membuat pipi Cellin bersemu merah.
Yah, meskipun selama ini juga belum pernah ada yang di paksa, karna belum pernah ada yang menolak Zico. Hanya Cellin wanita pertama yang menjaga jarak dengannya. Percayalah. Bahkan Zico juga pernah dengan seorang wanita berhijab sebelumnya.
Cellin hanya diam. Ia lantas memberikan kopi buatannya pada Zico.
"Thank's"
Cellin mengangguk dan keluar, meninggalkan Zico yang terus menatapnya seolah tertantang.
"You're so mysterious, Babe.!"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...