" Tanda tangani surat pengalihan perusahaan Wisesa Grup, kalau tidak mau, kalian semua akan kami siksa "Gertak Vera, ibu tiri Hardiansyah.
Dengan disaksikan istrinya Kiara, Hardiansyah menandatangani pernyataan penyerahan pengelolaan perusahaan.
Juna menantu Hardiansyah mendengar dibalik pintu baja, ia bersembunyi di lorong bersama Alissa istrinya yang baru melahirkan satu minggu.
Aruna Putri Permana yang baru berusia satu minggu dibawa Jono dan Isah, supir serta pengasuh setia keluarga Hardiansyah, mereka telah menunggu Juna yang lewat lorong di rumah kecil disebelah rumah utama sampai dua jam tak kunjung datang, sehingga mereka berpendapat kalau keluarga Hardiansyah telah dibunuh maka untuk menyelamatkan Aruna sebagai keturunan Wisesa, Jono dan Isah lari ke Jogja.
AFfandra cowok tampan anak Ferdiansyah harus pindah sekolah ke Jogja di SMA Aruna sekolah bahkan sekelas dengan Aruna.
Tasya, ikut pindah ke sekolah Ffandra dan sekelas dengan Ffandra juga Runa.
Penasaran? baca ya cerita ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika77h, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19 Ffandra ke Rumah Runa
" Ke ruang tamu yuk Ffand," pinta Aruna.
" Lebih suka duduk disini ditemani bunga bunga wangi Run, biar mereka jadi saksi kita," tandas Ffandra.
" Ngelindur kamu ya Ffand, kok puitis banget sih,".
" Iya lah, karena bicara di depan seorang putri,".
" Aaahhhh jangan nggombal lah kamu, oh ya bentar ya ku bikinkan minuman, bundaku juga lagi buat cemilan tela tela, mau ya," Ffandra mengangguk, perasaan gundah tak berujung terus menggelitik hatinya, ia sering menjadi kesal pada Aruna karena pesan pesan menggarah pada love tak pernah ditanggapi serius, semua dianggap bercanda atau ngegombal.
" Kamu itu apa tak tergerak sedikitpun hatinya padaku Run," gerutunya, ia menatap punggung Aruna yang berjalan menuju ruang makan.
Aruna sambil berjalan menuju ruang makan juga membatin.
" Ffand, kamu selalu ngegombal terus dasar cowok ngeplay sudah nikah sama Tasya yang cantik juga lebih modis dariku masih saja ngejar ngejar aku, aaah kalau aku tak ingat ia yang nolong aku kecegur kolam tentu kusemprot habis habisan, aku juga lagi kesal kemaren waktu hari Kamis saat Sholat Dzuhur sepatuku bisa raib bahkan sampai sekarang tak ketemu, sampai pulang aku tak menggunakan sepatu, dan aku tak mau mencari siapa pelakunya, CCTV nya juga tak bisa mendeteksi," Aruna membawa nampan diletakan di meja taman, Ffandra menyeruput teh hangat yang Runa buatkan.
" Na, duduk donk deket sama aku."
" Sudahlah ini juga sudah deket kok Ffand."
" Aku ngomong serius ini lho Na, tolong jangan dianggap ngegombal terus," Aruna sempat menatap mata Ffandra, matanya seperti berembun.
" Iya, sudah ngomonglah aku mencoba mendengarkan."
" Tolong Na tanggapi pesan pesanku dengan serius, dan bukalah hatimu untukku." menunduk wajah Ffandra, tangannya gemetar dengan daadaa bergemuruh, bahkan jantung detakkannya tak teratur.
" Uuuummmm, maksudnya?" Aruna kaya orang begoo, ia masih saja tak ngeehh dengan kata kata Ffandra, apalagi pada memorinya kalau Ffandra cowok yang telah beristri.
" Kenapa sih kamu enggak tahu, lihat donk mataku!" desak Ffandra, Runa menatap kembali matanya yang masih berembun.
" Na, kamu lihat mataku yang banyak emogi love you," bibirnya bergerak gerak cepat, tangan ia takupkan untuk mengurangi gerakan gerakan refleknya.
" Ffand, nyadar donk," tangan Aruna menonyor lengannya lirih.
" Nyadar gimana?"
" Dari ngehalu!"
" Kok kamu nganggap aku kek gitu terus sih, aku seriuuuuuus Naaaa, aku harus gimanaa sih biar kamu ngertiii klo di dalam sana banyak emoji hatiii ke kamuuuu."
" Ffand ngomongnya jangan keras keras donk malu aahh di dengar Bunda sama Ayah."
" Makanya segera jawab donk."
" Ffand, ok ku jawab, tapi kamu jangan kecewa ya, siiiaap ya dengerin omonganku."
" Ok siaap!"
" Ok, uuuummm Ffand aaakkku tak bisa, tak bissaa menurutimu," Aruna tak enak hati untuk mengatakan sebenarnya tentang Ffandra dengan Tasya.
" Na, kamu tega banget ke aku, kurangku apa Naa padamuu."
" Ffanddd, aakuu tak mau mengganggu kebahagiaanmu dengan Tasya."
" Aapaaaa, kamu menganggap aku punya hubungan dengan Tasya????" wajah Ffandra memanas, tangannya mengepal kencang dan ia berusaha menekan kepalan tangan ke meja taman.
" Ok ok ok Na, ku terima kata katamu," Fandra dalam hati ingin tahu yang beredar di sekolah tentangnya dengan Tasya, satu satunya tentu minta bantuan Dani si detektif sekolah yang sering juga dimintai bantuan sekolah untuk membongkar hilangnya bunga bunga di taman atau di greenhause sekolah, dan selalu sukses, Ffandra percaya kalau sikap Aruna karena si Tasya, bahkan sepatu Aruna sampai sekarang belum ditemukan Dani telah menemukan titik terang, di saat semua Sholat hanya Tasya yang tak Sholat dengan alasan lagi ada tamu bulanan, terus dia pulang pesan kendaraan roda dua online, Dani otaknya saat itu langsung tertuju dulu pada Tasya, dengan tanya pada Danis lewat wa, dan jawabannya Tasya tak dijemput sopir karena sudah memberitahu pulangnya naik ojeg online.
" Ffand kamu cari sepatunya Runa di kamar Tasya lewat yu Tari yang bersihin kamarnya," pinta Dani, saat Ffandra mau datang ke rumah Runa ketemuan dulu sama Dani.
Aruna melambai lambaikan tangan di depan wajah Ffandra yang lagi fokus pada satu titik, Runa tahu kalau Ffandra sedang mikir sesuatu.
" Hallooooo bangun donk," Runa menggoyang telapak tangan di depan mata Ffandra, tangan Ffandra menangkap tangan mungil Aruna kesal karena rasa love nya tak pernah Runa sambut, dianggap saja sebagai lelucon dan yang lebih nyesek di daadaa Ffandra dikira sedang nggombal.
" Run, jadi kamu suka ke sapaaa?" kesal Ffandra tangan Runa ia penggang erat.
" Haaaiii lepasss, sakiit Ffand," Runa berusaha melepas sekuat tenaga.
" Jawab dulu pertanyaankuuu baru kulepass," warna merah jambu terpancar di wajah Ffandra, sedang Aruna sebenarnya tak bergetar hatinya, ia memang mengakui si Ffandra tampan tapi setelah mengetahui cerita Sesil hubungannya denga Tasya semakin membentengi diri untuk tidak tergerak hatinya kecantol padanya.
" Ffand, aku masih klas 11, tentu belumlah kepikiran ke hal begitu, jalan hidupku masih panjang Ffand, tak ingin mikir berat berat dulu, ingin ber ha ha hi hi sama teman temannya,"
" Ok, aku lepas tanganmu, tapi ingat Run, aku tak akan memperbolehkan kamu dimiliki oleh cowok lain," tegas Ffandra.
" Iiiihhh enak saja kamu menjeratku, stoppp jangan ngomongin yang membuat hidupku terbebani," ucap Aruna.
Bunda mendekati kami dan menyelamatkanku dari sikap Ffandra yang menjadi menyebalkan di depanku.
" Uuuuummm baunya seger banget bunda," hidung Ffandra mengembus embus dua piring di nampan yang di dekatkan di meja taman.
" Aaakuuu pecel lontong sama mendoan, miyumii bun," ucap Runa terus bangkit mengambil es teh yang telah dibuat bunda di dapur.
Ayah dan bunda Jono ikut menemani makan juga di kursi teras dekat taman, lalu mereka menyuapkan makanan ke mulutnya sendok demi sesendok, suara denting sendok dengan piring terdengar nyaring diiringi obrolan ayah Jono yang membuat pada betah bersamanya, sebenarnya ceritanya biasa sih, cuman ayah memang mampu mengemas cerita itu menjadi menarik.
****
" Aruna Aruna, kamu tentu sangatlah malu pulang sekolah tanpa sepatu, kamu pengin ku kerjain melebihi dari sekedar mendorong ke kolam yang bisa membuatmu mati karena kamu tak bisa berenang, tapi aku belum menghendaki itu, aku menginginkan kamu di hadapan orang sampai akhirnya kamu menjadi seteres," guman Tasya, dan ia merasa tak akan ada yang tahu kalau dia yang ngumpetin sepatu sekolahnya, karena ia bisa menutup cctv di klas.
Pagi ini niatan Tasya ingin jalan pagi bersama keluarga Ffandra, dia sangat kecewa karena Ffandra pagi pagi sudah keluar rumah,
" Satu satunya cara meminta bantuan Sesil, ia berterimakasih pada Tasya karena membuat Bagas melupakan Aruna dan mendekatinya," batin Tasya, ia ambil ponsel di saku training terus menekan tombol dan membuka password, lalu menyentuh warna hijau, mencari kontak Sesil.
' Sil, tolongin aku cariin Ffandra di rumah Aruna," suara Tasya.
Sesil naik motor melewati rumah Runa, tak ada motor Ffandra, iapun terus pulang ke rumah lagi.
" Tak ada lho Sya si Ffandra di rumah Runa," itu karena Sesil menuju ke jalan depan rumah Runa jam 6 sementara Ffandra datang ke rumah Runa sekitar jam 9.
Tasya sedikit lega hatinya mendengar pesan dari Sesil.
" Mba Tasya jadi enggak ikut jalan jalan?" tanya Danis yang sudah nyusul orang tua keluar gerbang, Tasya berlari menyusul ketiganya, tetapi daadaanya sangat dongkol karena keberadaan Ffandra, ia berharap bisa berlari bersebelahan dengannya.
Sampai mereka kembali ke rumah Ffandra belum pulang juga, sehingga di tinggal sarapan paginya.
Hati Tasya sangatlah sakit, disini Ffandra selalu mengabaikannya tidak seperti di Jakarta, juga ia sudah hampir satu bulan pindah di Jogja hanya Sesil sama Bagas yang dekat dengannya, dia cari teman untuk bisa ngerjain Aruna sama sekali tak memiliki keberanian, karena ia belum percaya pada teman teman, disamping itu menang tak ada seorangpun siswa yang berkelompok hanya untuk ngerjain teman, mereka anak anak yang lebih fokus pada ilmu untuk masa depan, rasa sirik sesama teman tak berkembang disini, nyaris Tasya hanya bergerak sendiri, bagaimanapun teman teman tak mau hidup hanya cari gara gara yang ujung ujungnya malahan akan menyusahkan sendiri.
" Sya, kamu kaya teman teman yang lain, otak cerdas sayang kalau tidak dibarengi dengan iman," Dani sengaja duduk di kursi sebelahnya, Tasya wajahnya cemberut.
" Ngaji kek, kalau dekat dengan yang di Atas rasanya hidup lebih nyaman lho, kata Ffandra setiap dua hari sekali Ustadz Rafiq datang, ikut donk mengaji," ucap Dani lagi.
" Hafal enggak kamu dengan bacaan Sholat?" tanya Dani, dikarenakan Tasya tak mau bicara sehingga Dani yang nyerocos terus walau sangat hati hati.
" Kok diam saja!"
" Aaahhh Dan, apa kamu juga melaksanakan yang keluar dari mulutmu, atau hanya bisa nasehatin tak bisa melakukannya," jawab Tasya, dia menjadi merah pipinya, dan kesel hatinya pada Dani.
" Ha ha ha," Dani tertawa terkekeh dengan ucapan Tasya, dasar Dani tak merasa sakit hati dikatain begitu. Sementara Tasya menjadi dongkol dan selama Dani duduk di belakangnya ia tak mau tegur sapa.
" Sya, istirahat mau ke kantin?" ajak Dani.
" Males sama kamu,"
" Marah nich ye padaku," akhirnya Dani dengan yang lain ke kantin.
" Pengin apa nanti kubawakan ya Sya," ucap Dani, Tasya hanya mencebikkan bibirnya, dalam hati Dani tertawa geli lihat kelakuan Tasya.
" Sya, aku dah tahu sepatunya Aruna di kasihkan sama driver yang ngantar kamu," batin Dani.
Dani sendiri punya bukti sepatu itu di pakai sama Driver, kemaren ia sengaja pulang pakai kendaraan online, dan mas Tomo namanya sering mangkalnya dekat sekolah.
" Dan, sepatuku tak perlu diminta sama mas Tomo, dipakai saja aku sudah seneng koh, berarti bermanfaat," tadi pagi saat jalan bareng dari gerbang menuju ke halaman upacara Dani sempat cerita, dan ia menunjukkan fotonya.
" Jadi, kamu harus hati hati ya sama Tasya, dan cerita dia seringnya bohong terutama yang berhubungan dengan berita yang berkaitan dengan Ffandra, apapun ceritanya kamu jangan seratus persen percaya, dia pandai banget ngayal," tandas Dani.
Aruna sama Ferdi dan Mia, di mulai dgn keakraban sm Jono dan isah, juga Ffamdra, sehingga hati nya sudah tertata, bahkan sebelum ketemu Juna sama Alissa, Aruna tidak tahu kalau mereka masih saudara.