[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merayu Tante Asti
Mama menyambut kedatangan mereka. Mayang berganti bajunya miliknya sendiri. Tadi ia memang berencana ke studio Bima, jadi dia membawa baju ganti. Mereka makan siang bersama.
Tante Asti sudah tak memakai krug lagi. Tapi jalannya belum sempurna seperti dulu. Mayang memintanya duduk saja. Biar dia yang membereskan piring-piring. Bima pergi ke studio duluan.
"Tante, Mas Bima boleh ikut camping nggak?" Mayang mengawali pembicaraan.
"Camping? Kemana?"
"Acara sekolah, Tante. Anak-anak sekelas. Ke kebun teh. Dimana ya Mayang nggak ngerti banget tempatnya. Tapi katanya dekat. Di kebun teh Papanya temen sekelas Mayang juga. Ada yang jagain. Ada karyawan Papanya. Aman kalau menginap."
"Oh, boleh dong. Seneng Tante. Bima itu nggak pernah punya temen. Apalagi acara rame-rame begitu. Mana pernah dia diajak. Semua orang diberantemin sama dia." Tante Asti menimpali sembari tertawa. Ah anaknya itu. Kehadiran Mayang tampaknya membawa pengaruh baik untuk Bima. Ia nampak senang.
"Boleh dong berarti. Tapi Mas Bimanya nggak mau katanya," Mayang memasang wajah sedih. Tangannya gesit mengelap piring-piring lalu meletakkannya kembali ke rak.
Tante Asti tak terkejut. Memang anak itu sulit sekali bergaul.
"Kata Bima kenapa dia nggak mau."
"Ngak tau. Padahal Mayang kepengin ikut. Mayang belum pernah soalnya. Pasti seru. Nggak tau sama Papa boleh enggak. Soalnya Mayang belum pernah nginep-nginep."
"Bukannya Mayang sering ya camping sama Papa."
"Iya, Tante. Tapi kan sama Papa. Tante tahu kan Papa gimana. Mungkin dibolehin kalau Papa ikutan. Atau Papa ngizinin tapi diem-diem ngawasin. Ah, Mayang males. Malu. Tante bantuin Mayang ngomong sama Papa ya kalau nanti Papa jemput?" Mayang memasang wajah merajuk.
Tante Asti hanya mengiyakan sambil tertawa.
***
Bima duduk di depan komputernya. Mayang menghampirinya setelah selesai membereskan alat-alat makan.
"Mayang, Fransisca Gilbert ini teman kamu?"
Mayang menghampiri. Kedua alisnya naik. Wajahnya lucu kalau sedang begitu.
"Siapa?"
"Ini. Kemarin aku lupa bilang. Pas kita ke bukit kemarin kan aku ambil video juga, pas sunset. Terus aku gabungin sama yang kemarin pakai drone. Nah ada kamu juga pas aku foto. Pas kamu jalan aku video dari belakang," Bima nyengir, takut Mayang marah. Ia mengambil gambar tanpa seizinnya dan mengunggahnya ke youtube tanpa persetujuannya.
"Nah, di thumbnail video ada Mayang lagi senyum ke kamera."
Mayang mengamati layar itu. Judul videonya "Sunset and You".
"Kenapa judulnya ini?" Mayang menunjuk layar.
"Pas sama lagunya," Bima menjawab singkat. Dalam hatinya ada debaran kecil. Ia pasti tahu apa artinya saat mendengarkan lagunya.
Mayang memutar video singkat itu. Bergumam, "Keren Mas Bima."
Lalu video mendekati akhir.
"Ini Mayang?"
"Iya , hehehe. Nggak apa-apa kan? Kalau Mayang nggak suka bisa Mas Bima edit. Dihapus bagian Mayang, nanti diupload ulang."
Mayang masih menikmati videonya. Dia berjalan menyusuri jalan setapak. Sesekali menghadap belakang sambil tersenyum, tertawa. Ia lupa waktu itu apa yang ia bicarakan dengan Bima. Ia terlihat bahagia sekali. Dia pikir Bima sedang menyeting kamera, tak tahunya merekamnya diam-diam. Musik melambat, nampak cocok sekali dengan suasana senja. Siluet Mayang, hidungnya yang mancung, rambutnya berkibar pelan diterpa angin. Perlahan ia menghadap ke belakang, pasti Bima memanggilnya waktu itu. Ia tersenyum.
"Gimana?"
"Bagus. Nggak papa kok Mayang ada di situ."
"Mayang sekarang lihat komentarnya."
Video itu baru beberapa hari diunggah. Penontonnya lumayan banyak. Komentarnya rata-rata menyebut tempatnya indah, mengagumi momen yang pas, pengambilan gambar yang bagus, musik yang sesuai. Dan tentu saja Mayang. Yang paling cantik menyita perhatian.
"Ini. Fransisca Gilbert," Bima menunjuk kolom komentar dan memperlihatkannya kepada Mayang.
Mayang mengigat-ingat. "Oh ini, Fransisca."
Ia bertemu dengannya di Praha beberapa tahun lalu saat mengikuti turnamen catur. Dia tinggal di Brisbane. Gadis ramah itu akrab dengannya tapi begitu turnamen selesai, mereka berpisah begitu saja. Apalagi tahun berikutnya Mayang memutuskan untuk berhenti. Dia tidak ikut turnamen lagi. Itu terakhir kali mereka bertemu.
Dia seneng sekali tak sengaja menemukan Mayang di chanel ini. Ia meminta untuk berkontak dengannya. Dia bilang belum lama ia berkunjung ke Bali. Ia meninggalkan akun instagramnya di kolom komentar. Memintanya berkontak via Direct Message kalu berkenan.
"Ah, Mayang nggak punya instagram."
"Kemarin Papa Mayang bilang ada. Dia yang bikin."
"Nanti Mayang tanya Papa deh." Mayang seneng juga. Ia ingin mengontak teman lamanya. Ia sering menjumpai beberapa teman di turnamen atau olimpiade. Tapi hanya pertemuan singkat, dan berlalu begitu saja.
"Ah, ini Papa," Mayang terlihat sedang mengetik pesan di ponselnya.
Papa menghubunginya. Menanyakan Mayang sudah pulang sekolah atau belum, sydah makan atau belum. Mayang membalas, dia bilang dia sudah makan sama Tante Asti. Ia meminta agar Papanya tak usah khawatir.
Mayang meletakkan ponselnya ke meja. Lalu mengambilnya lagi. Ah, kenapa nggak tanya sama Papanya. Ia ingin membuka instagram katanya.
Bima asyik mengedit video yang kemarin mereka ambil bersama Mbok Jum.
Mayang memasukkan sandi yang Papanya beritahu. Lalu pesan tambahan muncul lagi. Papanya meminta Mayang mengganti sandinya dengan kata sandi yang baru. Sekarang akun itu punya Mayang, Papanya tak bisa membukanya lagi, agar Mayang punya privasi.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹