Gea keluar dari taksi dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar kosannya. Gea melihat ada sepatu Sarah sahabatnya sekaligus teman 1 kamarnya. Apa Rendy ada di dalam?, sepatunya ada di sini juga. Gea bicara di hatinya.
Gea mendorong sedikit pintunya yang tidak dikunci, mendengar desahan Sarah sedang berhubungan intim Gea menarik kembali pintunya dan berniat untuk pergi.
Sarah memang sudah biasa melakukan itu dengan pacarnya. Tiba-tiba langkah Gea terhenti ketika mendengar suara pria tersebut tidak asing baginya.
Tubuh Gea gemetaran terlintas di pikirannya takut kalau yang dia dengar barusan itu adalah pacarnya.
Gak mungkin Rendy dan Sarah memiliki hubungan di belakangnya.
Perlahan-lahan Gea membuka pintunya, dan matanya terbelalak terkejut melihat pacar dan sahabat sedang hubungan intim di sofa ruang tamu.
Dada Gea terasa sakit, dan napasnya merasa sesak, hatinya sangat hancur tidak sanggup menerima kenyataan yang di lihatnya langsung.
"Apa yang kalian lakukan hah!!" teriaknya sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delita Shira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Balik Candaan
Aksan tetap bersikap cuek menanggapi sikap dingin Karisa. Berkali-kali ia mencoba mencairkan suasana dengan menawarkan makanan atau minuman kesukaan wanita itu, namun Karisa terus "jual mahal". Ia tetap teguh pada pendiriannya: menunggu Aksan meminta maaf dan menyatakan cinta.
Setelah sesi pemotretan berakhir, Karisa bergegas menuju parkiran. Aksan berlari kecil mengejarnya. "Sa, tunggu dulu!"
Karisa tidak menoleh sedikit pun. Ia menuntut sebuah permintaan maaf dan janji manis untuk menjalin hubungan.
"Sa, aku tidak bisa memenuhi syarat itu. Aku sayang padamu, tapi hanya sebagai kakak kepada adiknya," ucap Aksan tegas.
Karisa berhenti melangkah, lalu menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Apa susahnya sih menjadi pacarku? Kita bisa memulainya dari nol! Lagi pula, Bara sudah menikah, tidak mungkin kan dia masih mau menerimaku?"
"Bukan masalah itu, Sa. Ini menyangkut hati. Aku tidak pernah memiliki rasa cinta padamu dalam kapasitas itu!" sahut Aksan jujur.
"Cukup, Aksan! Kamu sudah melukai perasaan saya terlalu dalam!" Karisa membanting pintu mobilnya dengan keras hingga suaranya menggema di area parkir.
Aksan hanya terpaku menatap kepergian Karisa. Sementara di dalam mobil, Karisa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kali ini aku tidak akan kalah, Aksan. Waktunya kamu sadar bahwa kamu harus menjadi milikku, gumam Karisa penuh dendam.
Aksan kemudian melajukan mobilnya dengan pikiran kalut. Karisa sempat sengaja memelankan laju mobilnya dan mampir ke sebuah kafe, berharap Aksan akan mengejarnya seperti dulu. Namun, setelah menunggu 30 menit, sosok yang ia tunggu tak kunjung datang. Harapan Karisa hancur berkeping-keping. Kamu sudah berubah, Aksan, batinnya perih.
Sementara itu, di kantor, Bara merasa jenuh dengan pekerjaannya. Ia memutuskan untuk pulang lebih cepat. Saat berjalan menuju lobi, ia berpapasan dengan Karisa.
"Bara!" panggil Karisa. Namun, Bara yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak mendengar dan langsung masuk ke mobilnya. Karisa mencoba berlari, tapi mobil Bara sudah melesat jauh.
Sesampainya di rumah, Bara tidak mendapati Gea yang biasanya menyambut di depan pintu. Ia merasa ada yang aneh. Bara mencari ke seluruh rumah hingga bertemu dengan salah satu asisten.
"Nona keluar, Tuan. Kalau tidak salah, beliau tadi dijemput oleh Tuan Aksan," lapor asisten tersebut.
Apa?! Kenapa dia tidak bilang kalau mau pergi?! Bara hendak menelepon Gea, namun ia urungkan. Kalau dia tanya aku sedang apa, aku harus jawab apa? Sial! Bara membanting ponselnya ke tempat tidur dengan perasaan kesal yang memuncak.
Di sebuah kafe, Aksan sedang mencurahkan isi hatinya tentang Karisa kepada Gea. Gea mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menyela.
"Sudah ceritanya?" tanya Gea setelah Aksan berhenti bicara.
Aksan tersenyum tipis. "Sudah."
"Ya sudah, ayo dimakan makanannya, keburu dingin," ajak Gea polos. "Perempuan memang begitu. Saat emosi, mereka bersikap dingin, tapi sebenarnya mereka sangat ingin diperjuangkan."
Aksan menatap Gea lekat-lekat. "Oh ya? Apa kamu juga begitu?"
Gea menunjuk dirinya sendiri. "Saya? Ya tentu saja! Siapa sih perempuan yang tidak mau diperjuangkan?"
Aksan mencondongkan tubuhnya, menatap Gea dengan tatapan yang sangat serius. "Kalau begitu, kamu harus bersiap-siap. Karena mulai hari ini, aku akan memperjuangkan kamu."
Gea tertawa terbahak-bahak, mengira itu hanya candaan. "Hahaha! Kamu lucu deh, Aksan."
Aksan tidak tertawa. Ia menatap Gea dengan pandangan yang dalam, menyadari bahwa gadis di depannya ini benar-benar tidak paham betapa seriusnya niat yang ia miliki.
BERSAMBUNG.