Karya pertama.
Masih tahap revisi.
Banyak typo bertebaran.
Hana seorang gadis yang cantik dan lembut, dirinya harus berurusan dengan Reihan, pria yang mencintainya tapi tidak suka di bantah.
Nb: Aku buat ceritanya enggak berat-berat tapi ringan dan datar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia.l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 18
"Uuhhh......" Hana terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 12 siang dan itu berarti ia sudah tertidur cukup lama, karena mungkin efek obat yang di berikan dokter membuatnya jadi mengantuk.
Hana beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan meninggalkan kamarnya.
"Nona... Kenapa kau keluar kamar? ucap Jo begitu panik langsung menghampiri Hana yang sedang menuruni anak tangga.
"Tuan Jo... kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Hana.
"Tolong panggil saya Jo saja Nona," pinta Jo.
"Oh... Baiklah Kak Jo...." ucap Hana sambil tersenyum.
Apa aku tidak salah dengar? kau memanggilku apa? ya ampun Nona... panggilanmu untukku itu imut sekali...
"Oya Nona. Sebelum Tuan Reihan berangkat ke kantor siang tadi, ia memerintahkan saya untuk menjaga anda, Nona." jawab Jo menjelaskannya kepada Hana.
"Biarkan saja dia pergi, aku juga tidak menanyakannya!" ucap Hana begitu kesal mengingat Reihan pergi tanpa pamit padanya.
"Nona, sebaiknya kau duduk di meja makan, karena para pelayan sudah menyiapkan makan siang anda." pinta Jo.
Hana menengok ke arah dapur. Dirinya begitu kaget melihat beberapa pelayan yang sedang berlalu lalang di dalam rumahnya.
"Astaga... apa ini ulahmu membawa begitu banyak pelayan ke rumahku? lihatlah, satu, dua, tiga, ya ampun... empat!" ucap Hana sambil menunjuk dengan jarinya, menghitung semua pelayan di dapur.
"Hehehe.... Nona, kau lucu sekali..." melihat kelakuan Nonanya membuat Jo tertawa geli.
"Ih! malah ketawa... Ku sunat baru tau rasa kau." seketika Jo terdiam, membayangkan dirinya akan di potong "Itunya" oleh Nonanya sendiri.
Hana menepuk bahu Jo, menyadarkan dirinya yang masih melamun. "Sedang memikirkan sunat ya? xixixi...." tanya Hana tertawa geli lalu berjalan meninggalkannya.
"Nona .... kau jahil sekali." Jo yang kesal langsung menghampiri Hana yang sudah duduk di meja makan.
"Aku hanya bercanda... begitu saja sudah kesal. Lebih baik Kak Jo duduk di sini makan bersamaku." ajak Hana menarik lengan Jo, menyuruhnya untuk duduk bersama di meja makan.
Hana membulatkan matanya ketika melihat ada berbagai macam hidangan di mejanya seperti sayuran, daging, buah-bahan dan masih banyak lagi.
"Apa ini? kenapa banyak sekali masakannya? padahal kan cukup masak mi instan atau bakso satu porsi saja sudah membuatku kenyang, dan tidak perlu memasak sebanyak ini..." protes Hana.
"Nona, mulai sekarang kau harus mengikuti pola makan sehat. Tuan Reihan tidak ingin anda salah makan." ucap Jo menjelaskan kepada Hana.
"Baiklah... tapi kau juga harus ikut makan." pinta Hana.
"Saya sudah kenyang, Nona," tolak Jo.
"Jangan menolak... ini rumahku, jadi kau harus menuruti aku, oke?"
Bagaimana aku bisa menolak mu Nona, lihat saja ekspresi wajahmu itu, sangat menggemaskan bukan?
Mereka berdua makan bersama dalam satu meja. Jo tampak terlihat begitu senang berada dekat dengan Nonanya, rasanya seperti mimpi. Belum tahu saja kalau Tuan Reihan melihat kekasihnya berada dalam satu meja dengan jo, akan jadi apa dia? apalagi kalau Tuannya sampai tau Jo menaruh hati pada Hana, bisa habis dia di telan hidup-hidup.
Selesai makan Hana duduk di ruang tengah untuk menonton drama Korea kesukaannya.
Hana menoleh ke arah Jo yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Astaga Kak Jo... Kau tidak pegal apa, berdiri terus seperti itu? kenapa tidak sekalian saja kau berdiri menjadi manusia patung di kota tua?" tanya Hana begitu heran
"Tidak Nona... aku sudah terbiasa seperti ini," jawab Jo.
"Duduk tidak?!" ancam Hana menatap Jo dengan tajam.
Seperti terhipnotis, Jo langsung mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Aku bukan Tuan Reihanmu yang suka menyiksa orang. Aku ini adalah Hana... gadis yang baik hati dan tidak sombong..." sambung Hana lagi menekan kan kata-katanya.
"Iya Nona... saya tau anda itu gadis yang sangat baik hati dan tidak sombong..." jawab Jo sembari menahan senyumnya mendengar kata-kata terakhir yang Hana ucapkan.
Di sela-sela menonton acara favoritnya, Hana merasa mulutnya begitu pahit. lngin... sekali ia memakan sesuatu yang segar dan masam.
Hana melirik ke luar jendela. Ia melihat pohon mangganya yang ternyata sudah berbuah. Sudah cukup lama Hana menunggu pohon mangga itu menghasilkan buah, dan sekaranglah waktu yang tepat untuk memetiknya.
Hana bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju halaman rumahnya.
"Nona Hana, anda mau kemana?" tanya Jo langsung mengikutinya.
"Anda mencari apa, Nona?" tanya Jo lagi, melihat Hana yang ingin mengambil tangga besi, namun Jo mencegahnya.
"Nona, apa yang mau anda lakukan dengan tangga ini?" tanya Jo untuk yang kesekian kalinya.
"Itu... aku mau mengambil buah mangga itu," tunjuk Hana ke atas pohon.
"Buah itu terlihat sangat masam, Nona... nanti perutmu bisa sakit. Lebih baik kita beli buahnya di toko saja, malah lebih manis." ucap Jo memberi saran.
"Aku tidak mau. Sudah ada buah yang gratisan, malah mau cari yang berbayar... buang-buang uang saja." gerutu Hana.
Saat mereka berdua masih berdebat, tiba-tiba dari arah pagar Amel, Tika dan Mira berteriak memanggil Hana.
"Mba Hana...." panggil ketiganya dengan suara cempreng.
"Eh, kalian bertiga sudah datang.... Ayo masuk." ajak Hana menyuruh masuk mereka.
"Mari duduk. Kita gelar tikar." sambungnya lagi.
Memang tadi siang Hana sempat berkirim pesan kepada anak buahnya kalau hari ini ia tidak bisa datang ke toko roti di karenakan sedang sakit. Mereka pun berniat untuk menjenguknya.
"Mba Hana, kau masih sakit? wajahmu terlihat pucat sekali." tanya Amel begitu khawatir.
"Ah... kalian tidak perlu cemas, aku baik-baik saja." jawab Hana.
"Ngomong-ngomong Mba Hana sedang apa berada di luar? tanya Tika ingin tau.
"Aku ingin memetik mangga itu. Kalian bisa tolong ambilkan?" pinta Hana kepada kepada mereka bertiga.
"Tenang saja Mba... kami akan ambilkan buah mangga itu." ucap Tika.
"Ah, benarkah..." Hana begitu bahagia.
"Nona, nanti Tuan Reihan bisa ma__" ucap Jo terhenti karena Mira menarik tangannya. "Kakak ih! jangan mengganggu Nona Hana. Memangnya mau aku adukan kepada Tuan Reihan kalau Kakak menyukainya?" bisik Mira di telinga Jo.
"Iya iya..." jawab Jo pasrah mendengar ancaman dari Adiknya.
Mereka berlima duduk di bawah pohon beralaskan tikar, sembari menikmati rujak mangga yang mereka buat.
Tanpa mereka sadari seseorang yang baru saja datang dan berdiri di belakang mereka menatap tajam ke arah mereka berlima.
"Ehem..."
Seketika mereka semua menoleh ke asal suara.
Jo yang melihat Tuan Mudanya sudah ada di hadapannya, sontak ia langsung berdiri dan menunduk.
"Sedang apa kalian?" tanya Reihan begitu dingin.
"Kau, kenapa berada di luar? bukankah aku menyuruhmu untuk istirahat? cepat masuk!" perintah Reihan kepada Hana.
Juna yang baru datang langsung menghampiri mereka semua. "Wah... ada piknik rupanya... Boleh aku ikut?" tanya Juna begitu semangat.
"Juna..." pekik Reihan.