Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Hari ini Rara kembali keaktivitas seperti biasanya setelah kemarin meliburkan diri, sejak kemarin Rara dan Angga sudah berbaikan dan melupakan kesalah pahaman itu. Rara tidak lagi menjaga jarak, namun untuk menerimananya ia masih merasa enggan. Rara hanya belum siap untuk dikecewakan meskipun kemarin sebenarnya Rara tak berhak merasa kecewa, tapi entahlah, Rara sendiripun tidak mengerti.
Rara sampai lebih pagi dari biasanya dan seperti biasa menyapa semua karyawannya dengan ramah, mengecek persiapan didapur, dan tidak lupa juga untuk meminta laporan penjualan kemarin kepada salah satu karyawan kepercayaannya yang tidak lain adalah sepupunya sendiri. setelah selesai memastikan bahwa semuanya sudah siap Rara menyuruh karyawannya yang belum sarapan untuk sarapan terlebih dahulu karena Cafepun baru akan dibuka sekitar tiga puluh menit lagi, masih ada waktu untuk semua karyawannya beristirahat setelah selesai membersihkan dan membereskan Café, menunggu sampai waktunya membuka Café.
Hari ini mood Rara sangat bagus hingga sampai saat ini senyum manisnya tak pernah luntur barang sedetikpun, dan itu membuat karyawan yang melihatnya ikut mengembangkan senyum juga melihat kebahagian sang bos. Rara melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya dan mulai menyalakan laptopnya untuk mengecek perkembangan Café. Meskipun jam masih menunjukan pukul 07:45 dan cafenya pun bulum buka tapi Rara memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya dari sekarang agar cepat selesai dan bisa membantu karyawannya dibawah.
Ditengah sibuknya mengetik laporan di laptopnya, suara pintu terbuka mengalihkan kegiatan Rara sekaligus mengalihkan fokus Rara dari laptop kearah suara yang memanggilnya.
“Selamat pagi Ante Lala,” sapa gadis kecil berumur 2,5 tahun itu dengan suara cadel khasnya tidak lupa juga senyum menggemaskannya.
“Selamat pagi juga, Ara.” Jawab Rara lembut lalu memeluk dengan sayang gadis kecil dihadapannya.
“Mama kamu mana, sayang?” Tanya Rara saat tidak melihat keberadaan Tania, ibu dari gadis kecil itu.
“Mama lagi kedapul, bikin Jus uat Ante ama Ala.” Jawab Tiara cadel, Rara mengangguk saat mendengar jawaban Tiara yang memang sedikit sulit dipahami itu, lalu mengajak gadis kecil itu untuk duduk disofa. Tidak lama Tania muncul membawa nampan berisi minuman dan beberapa kue kesukaan Anaknya itu.
“Ini pesanannya tuan putri,” ucap Tania sambil menyodorkan kue kehadapan Tiara bak seperti seorang pelayan.
“Terima kasih babuku.” jawab Rara terkekeh membuat Tania mendengus kesal.
“Tumben kamu ajak Ara kesini?” Tanya Rara heran.
“Iya, Neneknya lagi sakit makanya aku ajak Ara kesini.” jawab Tania sedih.
“Terus kamu kenapa malah kesini kalau Mama kamu lagi sakit? Bukannya diurusin malah ditinggalin, dasar kamu anak durhaka!” Omel Rara.
“Tadinya aku juga maunya gitu, tapi Mama malah nyuruh aku kesini, Mama bilang katanya kasian Rara di cafe harus ngurusin pekerjaan sendirian apa lagi akhir bulan kayak gini lagi sibuk-sibuknya, kesel aku sama Mama malah lebih khawatirin kamu dari pada aku anaknya sendiri.” Keluh Tania sambil cemberut membuat Rara tidak tahan untuk tidak tertawa. Rara heran kepada sahabatnya ini, padahal dia sudah menikah bahkan sudah mempunyai anak tapi kelakuannya masih saja kayak anak kecil.
“Emang deh aku itu kesayangan semua orang tua, jadi terharu gini deh,” ucapku. Tiara memutarkan bola matanya jengah namun kemudian tertawa.
Setelah asik mengobrol-ngobrol dan bermain dengan Ara tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12:00 siang, itu artinya waktu makan siang sudah tiba, Rara beranjak dari duduknya berniat untuk kebawah melihat keadaan Café, sekaligus untuk membuatkan makan siang untuk Tania, Ara dan juga dirinya sendiri, ditambah mungkin sebentar lagi Angga akan datang untuk makan siang. Karena seperti yang pernah dikatakan, bahwa Angga makan disini maka wajib harus Rara yang membuatkannya, menyusahkan memang, tapi Rara senang melakukannya.
Setelah berpamitan kepada Tania, Rara bergegas ke depan dan melihat keadaan cafenya yang saat ini lumayan ramai oleh pengunjung, namun setelah Rara perhatikan sekitar ternyata Angga tidak ada, ‘mungkin dia belum datang’ pikir Rara, tapi setelah membalikan tubuhnya berniat untuk kedapur Rara kaget karna hampir saja ia menabrak seseorang yang berada tepat didepannya saat ini sedang tersenyum manis, membuat Rara terpesona dibuatnya, namun Rara segera mengendalikan diri dan menatap Angga tajam.
“Ngagetin tahu gak!” kesal Rara, namun Angga tak menggubrisnya dan malah cengengesan.
“Kak Angga kapan datangnya, kok tiba-tiba ada dibelakang aku?”Tanya Rara heran.
“Dari tadi.”
“Terus duduk dimana? Tadi aku cariin gak ada?” Tanya Rara lagi.
“Dari tadi aku didapur, sayang.” Jawabnya santai, namun membuat Rara menjadi salah tingkah, dan wajahnya sedikit menghangat karna ucapan terakhir Angga, tapi Rara segera menyembunyikannya dan berusaha agar terlihat biasa saja.
“Ngapain didapur?” Tanya Rara sebiasa mungkin.
“Masak.” Jawabnya singkat, membuat Rara mengerutkan dahi tak percaya, melihat Rara yang sepertinya tidak percaya akan perkataannya tanpa menunggu lama Angga menarik tangan Rara pelan menuju dapur, dan Rara bisa melihat ada dua piring nasi goreng di meja.
“Itu kakak yang masak?” Tanya Rara tak percaya, dan dijawab anggukan oleh Angga.
“Enak gak?”
“Cobain aja.” Angga memberikan sepiring nasi goreng yang dibuatnya pada Rara untuk perempuan cantik itu coba, dan dengan ragu Rara menyendokan nasi goreng tersebut, perlahan memasukan kedalam mulut dan dikunyahnya. Rara menatap Angga dengan mata berbinar.
“Enak banget, Kak,” puji Rara.
“Iya lah pasti enak, orang yang masaknya ganteng gini.” Sombongnya, membuat Rara memutar matanya jengah, menyesal telah memujinya.
“Kak Angga cuma masak buat dua piring aja?” Tanya Rara, yang di ‘iya’kan oleh Angga.
“Tapi ada Tania sama Ara, gimana dong?”
“Ya udah kita bikin lagi aja. Gak akan lama juga kok.” jawab Angga santai.
“Kakak yang bikin nasi gorengnya, aku bikin jusnya, ya?” Usul Rara yang disetujui oleh Angga, dan tanpa menunggu lama lagi Angga dan Rara mengerjakan tugasnya masingmasing .
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Angga selesai dengan nasi gorengnya begitu juga dengan Rara yang selesai membuat jus jeruk untuk Tania, Angga dan juga dirinya sendiri dan tidak lupa juga membuatkan susu coklat untuk Tiara. Setelah siap Rara dan Angga membawa masing-masing nampan berisi nasi goreng dan juga minumannya keruang kerja Rara, dimana Tania dan Anaknya menunggu.
Baru saja membuka pintu Tiara sudah menyambut dengan teriakannya membuat Rara sedikit kaget dan hampir saja nampan yang di pegangnya tumpah jika saja Rara tidak cepatcepat memegangnya lebih erat.
“Ara, jangan teriak-teriak! Tente Rara jadi kaget nih?” omel Rara masih di depan pintu namun Ara malah cengengesan tak berdosa.
Rara masuk dengan diikuti Angga dibelakangnya, lalu meletakan nampan berisi jus dan juga nasi goreng yang dibawa Angga dan Rara di atas meja. Belum sempat Angga duduk tapi Ara sudah merengek meminta digendong, Tiara memang sangat akrab dengan Angga, dari awal bertemu beberapa bulan yang lalu Tiara sudah sangat menyukai Angga, dan begitupun juga Angga yang memang menyukai anak kecil, membuat Angga tidak risih dengan tingkah gadis kecil itu.
Angga justru senang melihat tingkah anak 2,5 tahun itu yang sangat aktif dan cerewet, dan tidak jarang pula jika Angga mengajak Rara kencan, Angga tak akan lupa untuk menculik Tiara dari orang tuanya untuk diajak ke taman bermain atau jalan-jalan di mall jika hari libur. jika orang lain kencan itu berdua maka Angga dan Rara malah bertiga dengan gadis kecil itu.
Tidak sedikit juga orang-orang yang melihat mereka bertiga akan mengira bahwa mereka adalah orang tua baru yang bahagia, padahal kenyataanya jangankan orang tua baru, sepasang kekasih saja bukan, tapi Angga dan Rara hanya tersenyum menanggapinya.
“Om Anteng kapan au ajak Ala alan-alan agi?” Tanya Ara yang berada dalam gendongan Angga, ucapan cadelnya itu membuat Angga gemas.
“Nanti ya kalau Om libur kerjanya. sekarang Ara makan dulu ok,” ucap Angga yang diangguki oleh Tiara, lalu dengan telaten Angga menyuapi Tiara bergantian dengan dirinya sendiri.
“Dokter Angga udah cocok loh jadi Papa,” ucap Tania yang sedari tadi memperhatikan Angga dan Tiara dan diangguku juga oleh Rara, sedangkan Angga hanya menanggapi dengan senyuman dan kembali menyuapi bocah didepannya itu.
“Gak pengen cepat-cepat nikah gitu, Dok?” Tanya Tania, Angga tersenyum sebelum menjawab.
“Gimana mau cepat-cepat Tan, perempuan yang mau saya nikahinnya aja belum nerima saya sampai saat ini.” Jawab Angga sambil menatap Rara sekilas. Rara menundukan kepalanya tak enak hati, karna ia tahu bahwa ucapan Angga memang ditujukan padanya.
“Mungkin dia gak suka sama Dokter, atau mungkin karna belum move on!” ucap Tania menyindir Rara yang kini tengah menatap Tania tajam, namun tak dihiraukannya.
“Entahlah, saya juga tidak tahu.” Jawab Angga lesu.
“Kenapa gak nyari yang lain aja, Dok? Emangnya gak lelah menunggu yang gak pasti?” Tanya Tania tanpa memperdulikan Rara yang sudah tak nyaman.
“Sebenarnya lelah Tan, tapi mau gimana lagi saya sudah terlanjur cinta sama dia.” Jawab Angga lemah sambil sesekali menatap kearah Rara yang kini juga tengah menatapnya.
“Yang sabar ya, Dok semoga saja ada keajaiban,” ucap Tania prihatin.
Setelah selesai mengobrol dan juga selesai makan, Angga melirik jam tangannya yang ternyata waktu istirahatnya sudah akan habis. Angga menatap Rara yang sedari tadi hanya diam, sedangkan Tiara kini sudah tertidur dipangkuan Tania, Angga lalu menghampiri Rara untuk pamit kembali kerumah sakit, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Rara bangkit dari duduknya dan mengikuti Angga keluar dari ruangannya. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara, Angga maupun Rara masih membisu hingga akhirnya sampai didepan pintu keluar café barulah Angga mengeluarkan suaranya.
“Aku kembali kerumah sakit dulu ya, Ra. Terima kasih untuk makan siangnya.” Pamit
Angga , dan hanya di jawab anggukan oleh Rara. Setelah mendapat persetujuan dari Rara, Angga melangkahkan kakinya meninggalkan Rara yang masih diam dengan kepala menunduk, namun baru beberapa langkah suara Rara kembali menghentikannya, Angga membalikan tubuhnya dan menatap Rara dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Maksud kamu?” Tanya Angga tidak mengerti.
“Iya, kalau emang kamu serius mau nikahin aku, aku tunggu kedatangan kamu beserta orang tua kerumah, nemuin orang tua ku minggu ini.” Rara mengulang perkataannya dengan lebih jelas agar dimengerti oleh Angga yang masih menatapnya dengan wajah tak percaya.
“Kamu serius?” Tanya Angga memastikan.
“Aku gak pernah seserius ini.” jawab Rara penuh keyakinan, lalu masuk kedalam café meninggalkan Angga yang masih mematung ditempatnya, namun setelah beberapa menit mencerna ucapan Rara, Angga tersadar dari keterkejutannya lalu tersenyum. Saat disadarinya Rara sudah tidak berada didepannya, ia melihat kedalam café terlihat disana Rara berjalan yang sudah bisa Angga tebak bahwa Rara akan kembali keruangannya.
“TUNGGU KEDATANGANKU, RA, AKU PASTI AKAN DATANG BERSAMA ORANG
TUAKU!” teriak Angga dari luar café membuat semua orang yang berada disana melihat karahnya dengan pandangan heran, namun Angga tak menghiraukannya, saat ini dirinya sedang bahagia karna ucapan Rara beberapa menit lalu, dan dengan semangat penuh Angga berjalan menuju rumah sakit, berharap waktu akan cepat berlalu agar dirinya bisa cepat-cepat pulang kerumah untuk menyampaikan kabar ini kepada orang tuanya.
Rara yang baru melangkahkan kakinya menaiki anak tangga berhenti beberapa saat ketika mendengar teriakan Angga, ia tersenyum dan tanpa menengok lagi kebelakang Rara melanjutkan langkah menuju ruangannya dengan senyum yang belum juga luntur dari bibir tipisnya.
“Kenapa kamu senyum-senyum gitu Ra?” Tanya Tania saat Rara baru saja menutup pintu hendak duduk dikursi kerjanya, Rara hanya menggelengkan, tanda bahwa ia tidak apaapa, tapi Tania yang tidak mudah percaya kini berjalan mendekati Rara dan bertanya kembali, sekaligus menanyakan maksud dari teriakan dibawah tadi yang juga terdengar olehnya, namun Rara tak juga menjawab dan malah tersenyum-senyum sendiri mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu. Hingga membuat Tania kesal sendiri dan kembali kemeja kerjanya dengan kesal, namun mau bagaimana lagi, sebenarnya ia bisa saja memaksa sahabatnya itu untuk bercerita tapi Tania juga tidak mau membuat anaknya bangun karna teriakan dirinya, maka dari itu ia lebih baik diam dulu dan kembali menanyakannya nanti setelah pekerjaannya selesai dan anaknya sudah bangun.
Ditengah pekerjaannya Tania sesekali menengok kearah Rara yang masih saja mempertahankan senyum lima jarinya, membuat Tania yang penasaran dengan apa yang terjadi kepada sahabatnya itu semakin penasaran lagi saat mengingat teriakan dibawah tadi, membuat Tania berpikir apakah ada sangkut pautnya dengan tingkah sahabatnya yang kini tengah tersenyum-senyum sendiri itu.
Merasa ada yang memperhatikannya, Rara mengalihkan pandangannya dari arah laptop kepada Tania yang kini sedang menatapnya dengan penasaran, namun lagi-lagi Rara mengabaikan tatapan penasaran dari sahabatnya itu. Rara sangat tahu sifat kepo Tania yang sudah akut itu. Tania tidak akan pernah bisa fokus pada apapun sebelum kekepoannya itu terjawab, namun Rara sengaja belum bercerita karena ia ingin membuat Tania ketar ketir karena rasa penasarannya.
Karena tidak juga mendapat jawaban dari Rara dan bekerjapun menjadi tidak fokus, akhirnya Tania kembali menghampiri meja kerja Rara, berdiri didepan Rara dan kembali bertanya, namun lagi-lagi Rara hanya menjawabnya dengan tersenyum dan gelengan kepala, membuat Tania frustasi dibuat penasaran seperti ini.
“Kamu tega Ra, buat aku mati penasaran kayak gini, kamu tahu sendiri aku gak akan bisa fokus ngapa-ngapain sebelum kekepoan aku terjawab?” Kesal Tania
“Aku tahu kok, makanya aku sengaja belum cerita.” Jawab Rara santai.
“Kamu tega banget sih Ra!” MelasTania, membuat Rara tertawa dan merasa tidak tega melihat sahabatnya frustasi seperti itu, akhirnya memutuskan untuk menceritakan kejadian dibawah tadi kepada sahabatnya itu.
“Kamu serius, Ra dengan ucapan kamu?” Tanya Tania tak percaya.
“Aku serius Tan, aku juga udah dari lama mikirin ini. Tadinya dua minggu yang lalu aku udah mau nerima dia, tapi kamu tahu sendirikan tentang kesalah pahaman antara kami tempo hari? Dan semenjak itu aku gak punya keberanian untuk menyampaikan ke Kak Angga, dan tadi itu keluar dari mulut aku begitu aja, padahal beberapa hari ini aku mencoba menyampaikannya tapi aku tak cukup berani. Selama setahun ini aku kenal dia, aku bisa merasakan ketulusan dan kasih sayangnya sama aku , dan jujur aku nyaman sama dia, aku merasa terlindungi saat berada disampingnya dan beberapa minggu lalu saat Kak Angga pergi keluar kota di saat itu juga aku mulai merasa kehilangan dia, dan aku gak mau kehilangan lagi untuk kedua kalinya.” jelas Rara lirih.
“Tapi kenapa kamu gak mutusin untuk pacaran dulu aja gitu?Iini kamu nyuruh dia kerumah kamu sama keluarganya itu berarti kamu nyuruh dia untuk ngelamar kamu, dan bisa dipastikan akan langsung merencanakan pernikahan. Apa kamu udah yakin dengan keputusan yang kamu ambil Ra?” Tanya Tania hati-hati, Rara tersenyum, mengerti dengan kecemasan sahabatnya itu, tapi kini Rara memang sudah sangat yakin dengan keputusannya, dan Rara hanya berharap semoga keputusannya itu memang sudah tepat.
“Aku yakin dengan keputusan aku Tan, toh aku juga udah cukup mengenal Kak Angga dan keluarganya. Umurku juga sudah gak muda lagi, Tan bukan lagi saatnya untuk mainmain tentang cinta, dan mungkin begitu juga dengan Kak Angga.” jawab Rara.
“Tapi kalian belum lama kenal Ra! Setahun itu belum cukup untuk mengenal sifat masing-masing, apalagi kalian selama setahun ini hanya berteman dan aku yakin kamu belum tahu sifat dia yang sebenarnya begitupun juga sebaliknya,” ucap Tania memperingati, lagilagi Rara hanya tersenyum, ia tak sedikitpun tersinggung dengan semua ucapan-ucapan yang Tania lontarkan, Rara tahu bahwa sahabatnya itu kini tengah mencemaskannya, tapi keputusan Rara sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
“Untuk apa pacaran dulu, kalau selama berteman ini aku sudah merasa seperti pacaran, dulu aku kenal dan dekat sama Devan hampir dua tahun dan kami pacaran selama lima tahun tapi dia nikahnya sama orang lain bukan sama aku, jadi meski sudah mengenal lama itu belum menjamin akan berakhir dipelaminan.” Jawab Rara dengan senyum miris, mendengar itu membuat Tania merasa bersalah lalu memeluk sahabatnya itu yang kini sudah meneteskan air matanya.
“Ra maaf, aku gak bermaksud…”
“Iya gak apa-apa, Tan, aku ngerti kekhawatiran kamu. Aku juga gak sembarang ambil keputusan, aku sudah mikirin ini matang-matang dan aku juga sudah bicarain ini dengan keluargaku. Dan inilah sekarang keputusan terakhir yang aku ambil, aku sengaja nyuruh kak Angga untuk langsung ngelamar aku, agar aku tahu seberapa serius dia sama aku, dan sekarang tugas kamu sebagai sahabatku adalah mendoakan aku, agar tidak berakhir seperti dulu lagi,” ucap Rara meyakinkan sahabatnya itu.
Mendengar ucapan Rara yang serius dan penuh keyakinan seperti itu, membuat Tania akhirnya kembali memeluk sahabat karibnya itu. Ia tahu Rara memang keras kepala, dan apapun keputusan yang sahabatnya itu ambil tidak akan pernah bisa dibantah oleh siapapun, tapi jangan salah, Rara meskipun keras kepala dia tidak pernah mengambil keputusan tanpa pertimbangan, ia selalu memikirkan dengan matang apalagi bersangkutan dengan masa depannya. Maka Tania harus percaya kepada sahabatnya itu, dan mungkin ini memang yang terbaik.
“Apapun keputusan kamu, aku akan tetap mendukung, Ra.” Tania kembali memeluk sahabatnya itu.
“Terima kasih. Semoga Kak Angga yang Allah takdirkan untuk aku.”
Ya, ini adalah keputusannya, keputusan yang tidak ia ambil begitu saja. selama setahun ini Rara memang sudah melihat keseriusan Angga, namun Minggu ini lah yang akan menjawab benar atau tidaknya keseriusan yang Angga janjikan kepadanya. Namun Rara berharap laki-laki itu menepatinya karena Rara sudah terlanjur jatuh sedalah ini pada Dokter muda tampan itu.
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤