Season 2 novel SANG PENGASUH
Arya, Ricky, Rendi, dan Wiliiam, adalah empat pria tampan sold out yang telah menjalani senasib sepenanggungan gagal malam pertama karena kejahilan diantara mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga tidak selancar jalan tol. Keempatnya mengalami ujian.
Diantaranya, Arya. Kemunculan salah satu keluarga yang dikira telah meninggal, hadir mengusik ketenangan rumah tangganya.
Pun dengan Rendi. Kedatangan adiknya dari Turki dan kini tinggal bersamanya malah membuatnya was-was.
Kisah kehidupan keempatnya, author kemas dalam satu bingkai cerita.
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat/perusahaan itu hanya kebetulan semata.
Selamat menikmati kisah yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri.
Cover free by pxfuel
Edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Pelet Penjaga Keharmonisan
Suasana hangat pertemanan terasa melingkupi ruang kerja Arya. Steve adalah temannya dikomunitas moge yang ia ikuti dulu. Sudah hampir tiga tahun Arya vakum mengikuti kegiatan touring club moge. Karena waktu itu pikirannya fokus membenahi rumah tangganya yang hambar dengan mami nya Athaya.
"Bro Steve, lama tidak berjumpa. Apa kabar, bro?" Arya terlebih dulu menyapa kedatangan tamunya. Mereka berjabat tangan erat dan berpelukan, saling menepuk punggung.
"Kabar baik, Bro Arya. Kemana saja bro? Anak-anak nanyain kamu terus. Kapan-kapan kita kopdar yuk!" Steve mewakili anak-anak moge menyakan kabar Arya yang menghilang tidak pernah lagi kumpul-kumpul apalagi ikut touring.
"Ha ha ha. Motornya sudah aku jual, bro. Daripada jadi pajangan di garasi, akhirnya aku lepas karena ada yang menawar."
"Ck. Beli lagi lah bro. Gampang buat boss Arya mah tinggal indent, tak lama langsung angkut." Steve mengompori Arya agar kembali aktif di klub moge.
"Nanti aku pikirkan ya, bro. Tapi tidak dalam waktu dekat ini."
Satu cubitan di pinggang Steve, membuatnya tersadar dan melirik gadis berambut panjang berwarna coklat yang mendelik padanya.
"Aku sampai lupa. Bro, kenalkan ini Laura, adik aku. Kalau kamu ingat, dia pernah ikut waktu touring ke Anyer." Steve mencoba mengingatkan Arya dengan adik yang dulu ikut diboncengnya.
Gadis bermata kelabu blasteran Indo Australia itu tersenyum manis menatap Arya. Tangannya terulur untuk berjabat tangan.
"Laura."
Arya menyambutnya dengan menyebutkan namanya dan senyum ramah selaku tuan rumah.
"Maaf aku lupa lagi kalau kita pernah ketemu sebelumnya." Arya berkata apa adanya karena dia sama sekali tidak mengingatnya. Ditambah dia juga bukan tipe mata jelalatan yang mudah tertarik kala melihat perempuan-perempuan cantik di luaran.
"It's okay Pak Arya. Waktu itu kan banyak orang." Dengan gaya anggun, menggoyangkan rambut indahnya, Laura menjawab sambil tersenyum. Memaklumi perkataan Arya.
Ricky yang dari tadi menjadi pendengar, sekilas melihat jam yang melingkar di tangannya dan memberikan interupsi.
"Ehm. Reuniannya disudahi dulu ya Pak Steve, Bu Laura. Karena waktu kita terbatas. Satu jam lagi ada satu meeting lagi yang harus kami hadiri di luar." Dan Ricky pun mempersilakan semuanya duduk di sofa.
Steve mengangguk faham. Ia langsung menjelaskan kedatangannya untuk mengontrak tempat di lantai 3 food court.
"Aku dan Laura sekarang terjun ke dunia kuliner. Kami mau membuka cabang ke empat resto korea. Dan untuk cabang Bandung, aku tertarik membuka di sini. Meskipun kelas supermarket, tapi Galaksi pusat ini mempunyai pengunjung yang ramai melebihi mall-mall yang ada di Bandung." Steve menjelaskan usaha kulinernya yang sudah berjalan dua tahun dan berjalan pesat karena trend Korea lagi booming di negara ini.
Giliran Laura yang berbicara. Ia mengeluarkan Tab mahalnya dari dalam tas. Dan permisi pindah duduk ke sisi Arya. Mereka duduk bersisian dengan jarak kosong 10 cm karena Arya sedikit menggeser tubuhnya menjauh agar tidak duduk rapat dengan tubuh perempuan pemilik aroma parfum yang membuai.
Tangan lentiknya menggeser layar Tab. Memperlihatkan foto-foto resto Korea cabang Jakarta yang buka di 2 mall. Tampak di layar, suasana resto yang ramai pengunjung. Dia pun menjelaskan space yang diinginkan untuk keperluan resto barunya.
Mata Arya fokus menatap layar Tab dan mendengarkan presentasi, tanpa melirik perempuan di sampingnya yang menjelaskan dengan semangat.
"Jadi kesepakatannya mau bagaimana, Pak Arya?" Apakah mau kerjasama bagi hasil atau kontrak tempat saja?" Laura mengakhiri uraiannya dan menatap lembut sang presdir Galaksi.
"Untuk saat ini aku belum bisa memberi jawaban. Tapi asisten aku sudah mencatat semuanya. Nanti aku kabari untuk meeting berikutnya." Arya melirik Ricky dengan isyarat mata yang hanya dimengerti keduanya.
"Pak Steve, Bu Laura. Saya akan konfirmasi segera untuk jawabannya. Kita akan bahas di meeting kedua untuk finalnya. Untuk saat ini dicukupkan dulu. Mohon maaf, kami harus bertemu klien di luar kantor." Ricky mengakhiri meeting yang sudah dijadwalkan dua hari yang lalu itu.
.
.
.
William masuk ke ruangan Arya saat kedua tamu sudah pergi dan sempat berpapasan di koridor.
"Hei, kalian kenapa pada mengurut pelipis?" Willi mengerutkan kening menatap dua sahabatnya yang kompak bersandar di sofa, tampak pusing.
"Si boss baru saja meetimg dengan bule bening, makanya pening." Ricky menegakkan punggungnya. Membereskan Tab dan berkas ke dalam tasnya.
"Lo juga sama pening." Arya melempar bantal sofa ke tubuh Ricky, namun berhasil ditangkapnya.
Willi manggut-manggut. Ikut duduk di sofa dan mendengar penjelasan Ricky tentang meeting barusan.
"Memangnya mau meeting di mana lagi? Perasaan sekarang free."
"Itu mah akal-akalan si Ricky. Biar tamu cepet pulang. Kalau gak bawa cewek sih aku masih betah ngobrol sama Steve." Arya yang menjawab pertanyaan Willi.
"Tapi beneran kok gak bohong. Sekarang waktunya meeting lagi. Meeting sama bini. Wil, lo gak ngerasain sih gimana sesaknya di sini. Iman sih kuat, tapi imin memberontak terus melihat paha tak terbungkus. Gue cabut duluan ya, si imin mau meeting. Ar, terima nasib aja. Lo masih puasa kan!?"
Tanpa menunggu jawaban, Ricky langsung ngacir sebelum bantal sofa kembali melayang ke tubuhnya.
****
Saat Andina pulang.
Baru juga membuka pintu mobil, Athaya sudah berlari menyongsongnya. Andina tersenyum bahagia melihat keceriaan Athaya yang kini mendongak, dengan kedua tangan memegang erat ujung baju tuniknya.
"Ma, es kim nya mana?"
Rupanya bocah menggemaskan itu menagih oleh-oleh yang dipesannya. Sekanton es krim yang Andina beli di minimarket pas masuk komplek, diserahkannya pada Athaya.
"Kakak bagi-bagi ya!"
"Ini buat pa Adang." Athaya menyerahkan satu es krim yang ia rogoh dari dalam kantong plastik. Kang Adang mendapat jatah lebih dulu karena berada dekat dengannya.
"Wah asyik dapat bagian. Nuhun kasep." Kang Adang berbinar menerima pemberian es krim dari tangan mungil Athaya.
"Kak, mana buat Om Zaki!" Zaki yang sedang bermain game berseru dari kursi teras.
"Iya bental--"
.
.
.
"Aqila gak rewel, Bu?" Andina menilik Baby Aqila yang terlelap di dalam boxnya.
"Cuma nangis sebentar karena haus. Dikasih satu dot langsung habis dan bobo lagi." Jawab Ibu yang mengikuti Andina masuk ke dalam kamar.
Andina menyimpan tasnya di atas meja rias. Ia ikut duduk di sofa di samping Ibunya sambil merebahkan punggung di sandaran sofa.
"Teh, masa nifasnya sudah selesai belum?"
"Tiga hari lagi, Bu. Tapi hari ini sudah mulai bersih." Andina memiringkan badannya menghadap Ibu yang sedang membuka tasnya. Jadi penasaran Ibu mau mengambil apa.
"Ini teteh pakai mulai sekarang. Ini mengandung herbal dan khasiatnya banyak. Seperti keputihan dan merapatkan kembali organ kewanitaan." Ibu memberikan satu bungkus pantyliner ke tangan Andina yang langsung membaca merk dan katerangannya.
"Kita sebagai istri harus pandai merawat diri untuk menjaga keharmonisan juga menjaga godaan wanita di luar sana. Teteh kalau rajin pakai pantyliner ini akan kembali sepet, kayak perawan. Nanti suamimu yang akan merasakannya." Ibu menaikkan alisnya, menggoda anaknya yang menjadi merona.
"Ibu benar. Mas Arya kan lingkungan pergaulannya luas. Sudah biasa ketemu perempuan cantik dan seksi. Aku sih percaya sama Mas Arya, tapi tidak dengan perempuan di luar sana." Andina teringat kembali sosok perempuan angkuh yang tadi tidak sengaja ditabraknya.
"Hm, berarti Ibu juga suka pakai ya? Soalnya Ayah selalu lengket sama Ibu." Kini Andina yang menggoda Ibunya sambil terkekeh.
"Eh meskipun sudah tua, keharmonisan harus tetap dijaga. Anggap saja sebagai pelet, biar si ayah tidak larak lirik di luar. Bahaya soalnya, si ayah sering bolak balik ke Garut. Namanya di luar, akan ketemu banyak perempuan berbagai jenis."
Tawa Ibu dan anak terlepas dengan pelan, takut membangunkan si kecil yang anteng bobo dengan kedua tangan merdeka di samping kepalanya.
Ibu selalu pandai memposisikan diri. Saat ini, ibu ibarat teman bicara untuk Andina, anak sulungnya. Tanpa risih memberikan sex education kepada sang anak sejak remaja sampai kini dewasa sebagai bekal rumah tangga sakinah. Ibu mendengarkan curhat sang anak tentang ketakutannya akan godaan di luar sana. Dengan lembut, Ibu pun memberikan tipsnya.
"Ingat ya Teh. Teteh harus rajin memanjakan suami, memujinya. Agresip 'meminta' duluan, suami akan senang. Itu menjadi pelet alami agar suami tergila-gila sama istri. Godaan pelakor tak akan mempan, teh."
Andina bersyukur memiliki Ibu yang bisa diajak sharing and caring, seolah sahabat. Ada waktunya perannya kembali menjadi ibu yang bijak memberikan nasihat kebaikan untuk anak-anaknya, Andina dan Zaki.