NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Puncak Rantai Makanan (Lanjutan)

Waktu adalah ilusi yang paling kejam di dalam labirin ini.

Di sini, langit tidak pernah berubah, matahari tidak pernah terbit, dan bulan tidak pernah bersinar. Hari-hari tidak lagi dihitung melalui pergantian siang dan malam, melainkan diukur semata-mata melalui jumlah esensi yang telah diserap, darah yang telah tumpah, dan lapisan lantai yang berhasil kami taklukkan satu per satu.

Setelah demonstrasi kekuatan mutlak Yudha yang dengan mudahnya menghapus keberadaan Guardian raksasa di lantai 54, ritme perjalanan kami tidak melambat sedikit pun. Justru sebaliknya. Ia berakselerasi berubah menjadi sebuah maraton kematian yang brutal dan tanpa ampun.

Lantai 55 hingga 99 menjadi satu kesatuan siklus kehancuran yang tak berujung.

Tempat itu berubah menjadi sebuah dapur peleburan raksasa, sebuah kawah ujian di mana kami bukan lagi sekadar dipaksa untuk bertahan hidup. Kami dipaksa untuk melampaui batas-batas kemanusiaan kami sendiri, meleburkan rasa takut, kelemahan, dan keraguan menjadi kekuatan murni yang mampu menundukkan akal sehat.

Yudha tidak pernah sekalipun membagikan kekuatan Void-nya kepada kami.

Kekuatan itu adalah otoritas tunggal miliknya. Sebuah hak istimewa mutlak sang predator puncak, sesuatu yang sakral, tak tersentuh, dan sama sekali tidak bisa diwariskan maupun dipinjamkan kepada makhluk lain. Itu adalah wilayah kekuasaan yang hanya dia miliki.

Namun, alih-alih memberikan ikan, dia mengajarkan kami cara memancing dengan cara yang paling kejam.

Ia menggunakan tekanan luar biasa dari kekuatan kehadirannya sendiri untuk menekan Lyra dan Carmelia terus-menerus, mendorong mereka melewati batas kesakitan dan kelelahan, hingga akhirnya mereka terpaksa menggali dan menemukan potensi maksimal yang terpendam di dasar inti kekuatan mereka sendiri.

Ia memaksa mereka berevolusi melalui tekanan yang nyaris menghancurkan jiwa dan raga.

Dalam perjalanan panjang yang tak henti-hentinya ini, Yudha perlahan berhenti bertarung di garis depan. Ia mundur selangkah, mengambil peran sebagai pengawas mutlak. Ia berdiri di tengah lautan kehancuran yang kami ciptakan, matanya yang gelap mengamati setiap gerak kami dengan ketelitian seorang ilmuwan yang memantau eksperimen paling penting dalam hidupnya.

Tangannya sesekali terbuka, celah kegelapan di telapak tangannya berputar perlahan, siap melepaskan hisapan Void yang dahsyat untuk menghapus apa pun yang luput dari jangkauan timnya. Namun, ia jarang melakukannya belakangan ini.

Ia lebih sering membiarkan Lyra dan Carmelia yang “melahap” esensi musuh-musuh mereka.

Ia sengaja memastikan bahwa perut kekuatan mereka tidak pernah merasa kenyang. Ia menjaga rasa lapar itu tetap tajam dan menggerogoti pikiran mereka, rasa lapar akan kekuatan mentah yang tersedia melimpah di setiap lantai.

Yudha tidak memanjakan kelemahan. Ia tidak membiarkan kami beristirahat dalam kenyamanan. Ia memaksa kami untuk mengonsumsi kematian orang lain agar kami sendiri tidak berakhir mati dan dikonsumsi oleh orang lain. Itu adalah hukum pertama dan satu-satunya yang berlaku di sini.

Di bawah asuhan yang mengerikan ini, perubahan drastis mulai terlihat nyata.

Lyra tidak belajar bagaimana cara menggunakan kekuatan Void. Itu bukan jalannya. Sebaliknya, ia belajar bagaimana nada dan resonansi dari biolanya bisa menjadi katalisator utama bagi keruntuhan struktural apa pun yang ada di dunia ini.

Frekuensi yang ia hasilkan kini telah berevolusi. Itu tidak lagi sekadar suara yang memberikan dampak fisik. Itu telah berubah menjadi hukum fisika baru yang berlaku di seluruh area jangkauannya.

Setiap kali ia memainkan nada tertentu, realitas di sekitarnya dipaksa untuk menyesuaikan diri.

Buff yang ia berikan kepada Carmelia kini mencapai tingkat yang tidak masuk akal. Ia mampu memanipulasi persepsi waktu di sekeliling rekannya, membuat setiap gerakan Carmelia menjadi terlalu cepat hingga tak terbaca oleh mata maupun insting musuh.

Sementara itu, nada-nada destruktifnya mampu memecah struktur pertahanan sihir maupun fisik musuh hingga ke tingkat molekuler. Sebelum pertarungan fisik bahkan dimulai, ia sudah meruntuhkan fondasi kekuatan lawan, memaksa mereka jatuh ke dalam zona kerusakan yang tak terelakkan hanya dengan mendengarkan lagunya sendiri.

Dan di sampingnya, Carmelia mengalami transformasi yang sama mengerikannya.

Ia tidak lagi sekadar seorang petarung yang lincah. Ia telah berevolusi menjadi gabungan sempurna antara defender tipe penghindar yang mustahil untuk disentuh, sekaligus assassin mematikan yang mampu mengakhiri pertarungan dalam satu kedipan mata.

Ia tidak sekadar bergerak cepat. Ia bergerak dengan presisi yang mengerikan, seolah ia telah menghitung setiap milimeter ruang dan setiap detik waktu. Statistiknya kini menunjukkan rasio Critical Chance 10:0, sebuah angka yang mustahil bagi makhluk biasa. Artinya, setiap sentuhan tajam belatinya adalah vonis mati absolut bagi targetnya.

Latihan keras di bawah tekanan konstan Yudha telah membuka mata batinnya. Ia kini mampu melihat aliran energi musuh, memprediksi arah serangan mereka bahkan sebelum musuh itu sendiri memutuskan untuk menggerakkan otot mereka.

Di medan perang, ia bukan lagi manusia. Ia adalah hantu yang tak terlihat, yang tiba-tiba muncul tepat di titik buta lawan, mengeksekusi targetnya dengan ketajaman bedah yang tak bisa ditandingi siapa pun.

[POV: Yudha]

Langkah kakiku akhirnya terhenti.

Di depanku menjulang gerbang raksasa setinggi lima belas meter, terbuat dari logam hitam yang dingin dan berat, diukir dengan ribuan simbol sihir kuno yang bersinar redup dengan cahaya merah darah. Ini adalah pintu gerbang menuju Lantai 100. Puncak dari segalanya.

Di belakangku, aku bisa merasakan keberadaan dua sosok yang berdiri tegak.

Aura yang mereka pancarkan saat ini begitu berbeda, begitu jauh dibandingkan dengan keadaan mereka saat kita pertama kali menginjakkan kaki di lantai dasar waktu itu. Jika dulu mereka hanyalah dua nyawa kecil yang gemetar ketakutan di hadapan bahaya, sekarang mereka adalah sesuatu yang lain sepenuhnya.

Lyra memegang biolanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya beristirahat santai di samping tubuhnya. Instrumen kayu itu kini memancarkan resonansi murni yang begitu kuat hingga udara di sekitarnya terus bergetar halus, seolah ruangan ini takut runtuh hanya karena keberadaannya.

Di sisi lain, Carmelia berdiri diam bagai patung kematian. Dua belati kembarnya terselip di pinggang, namun ujungnya memancarkan kilatan dingin yang memotong cahaya sekitar. Matanya tajam, waspada, dan penuh dengan keyakinan mutlak bahwa ia adalah yang terkuat.

Mereka bukan lagi sekadar aset yang aku kumpulkan.

Mereka adalah dua pedang legendaris yang telah aku tempa sendiri dalam tungku ribuan pertarungan pasca lantai 54. Aku yang memukul, aku yang memanaskan, dan aku yang mendinginkan mereka hingga mencapai ketajaman yang tak tertandingi.

Aku perlahan mengaktifkan kemampuan mataku—Gluttony Sight.

Dunia seketika berubah di depanku. Warna-warna normal memudar, digantikan oleh aliran energi yang kompleks dan padat. Mataku memindai tubuh mereka secara mendalam, menelusuri saluran mana, organ dalam, hingga ke inti jiwa mereka.

Aku melihat dengan jelas akumulasi esensi yang telah mereka serap dari ribuan mayat monster yang telah mereka telan sepanjang perjalanan ini.

Namun, yang paling memuaskanku bukanlah jumlahnya, melainkan kualitasnya. Aku tidak lagi melihat mereka sebagai manusia yang rapuh. Aku melihat mereka sebagai wadah kekuatan yang sempurna, sistem biologis canggih yang terus-menerus mengonversi kematian menjadi energi murni bagi kelangsungan hidup mereka sendiri.

Inti mana mereka yang dulu berantakan dan lemah, kini telah menjadi stabil dan terisi padat hingga batas maksimal. Itu bukanlah kekuatan yang aku berikan secara cuma-cuma. Itu adalah kekuatan yang mereka kumpulkan sendiri, dengan keringat, darah, dan air mata mereka.

Sebuah kesempurnaan predator yang murni. Sebuah mahakarya yang berhasil aku cetak menggunakan sistem pelatihan tanpa ampun yang aku rancang sendiri.

Saat menatap mereka, bayangan wajah-wajah lama mulai melintas di kepalaku.

Aku teringat hari kelam itu. Hari ketika terjadi PHK massal di perusahaan kami. Hari di mana para manajer senior dengan sombong menunjukku sebagai sampah, membuangku keluar seolah aku tidak lebih dari serangga yang mengotori lantai kantor mereka.

Mereka melihatku sebagai komoditas yang gagal dan bisa dibuang. Sebagai parasit lemah yang pantas dimangsa oleh sistem kejam yang mereka bangun.

Senyumku perlahan melebar, dingin dan penuh penghinaan.

Jika mereka bisa melihatku sekarang. Jika mereka bisa melihat apa yang telah aku capai, dan apa jenis kekuatan yang telah aku lahirkan dari tangan-tanganku sendiri.

Aku tidak perlu memberikan kekuatan Void pada siapa pun. Itu terlalu murah. Aku hanya perlu memberikan mereka ketajaman mental dan fisik yang cukup, sehingga nantinya, mereka berdua akan mampu meruntuhkan sistem busuk apa pun yang ada di luar sana, hanya dengan menggunakan kekuatan dari tangan mereka sendiri.

“Kalian tidak terlihat lagi seperti dua mantan pegawai kantor yang malang dan tak berdaya,” kataku, suaraku bergema di ruang hening ini sementara senyum tipis namun menakutkan tersungging jelas di bibirku.

“Kalian bukan lagi korban keadaan. Kalian adalah hasil sempurna dari sistem yang aku ciptakan sendiri.”

[POV: Carmelia]

Mataku tak lepas menatap permukaan logam raksasa gerbang lantai 100 itu.

Jantungku berdetak tenang dan stabil, namun belati di pinggangku bergetar pelan. Itu bukan getaran ketakutan. Itu adalah respon senjata yang merasakan kehadiran lawan yang layak di balik sana, dan hasratnya untuk menumpahkan darah semakin menjadi-jadi.

Aku teringat kembali perasaanku saat pertama kali melihat Yudha di lantai bawah.

Dulu, aku benar-benar takut padanya. Ketakutan itu bukan sekadar rasa cemas biasa. Itu adalah insting purba yang berteriak di dalam kepalaku, memberi peringatan agar aku tidak pernah, dalam keadaan apa pun, mendekati makhluk ini. Dia adalah predator puncak yang mampu melahap seluruh eksistensi seseorang dalam hitungan detik.

Namun sekarang, rasa takut itu telah mati, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.

Ketakutan itu telah bermutasi menjadi kesetiaan mutlak dan tak tergoyahkan. Sebuah kesetiaan yang lahir murni dari rasa hormat terhadap kekuatan yang nyata.

Yudha tidak menyelamatkan kami hanya karena belas kasihan. Dia menyelamatkan kami karena dia melihat potensi. Dan kemudian, dia memaksa kami tumbuh menjadi monster agar kami tidak akan pernah lagi menjadi mangsa bagi dunia yang jauh lebih besar, lebih kejam, dan lebih jahat di luar labirin ini.

“Apa yang sebenarnya ada di balik pintu ini?” tanyaku. Suaraku terdengar datar, tenang, namun mengandung nada mematikan yang sama persis dengan nada bicaranya.

Yudha tetap berdiri tegak membelakangi kami. Ia tidak menjawab pertanyaanku dengan kata-kata.

Sebagai gantinya, ia perlahan mengulurkan tangan kanannya ke depan. Aura kegelapan mulai memancar dari tubuhnya, membuat suhu udara di ruangan ini turun drastis. Dengan gerakan santai namun penuh otoritas, ia mendorong kedua daun gerbang raksasa itu.

KRAKKKK... BRUUMMM!!

Logam bergesekan dengan logam, menciptakan dentuman yang begitu berat hingga seluruh lantai di bawah kaki kami bergetar hebat seolah terjadi gempa bumi.

Gerbang itu terbuka lebar. Dan seketika itu juga, cahaya putih yang sangat menyilaukan memancar keluar, menyelimuti kami bertiga dan menghapus kegelapan di sekitar kami. Di balik cahaya itu, kami akhirnya melihat wujud dari apa yang menjadi tujuan akhir kami selama ribuan jam perjalanan ini.

[POV: Narasi]

Tanpa perlu memberi aba-aba lagi, tiga sosok predator puncak itu melangkah maju bersamaan. Langkah mereka serempak, berat, dan penuh keyakinan bahwa tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu menghentikan mereka.

Di tengah kiri, Lyra membawa biolanya yang siap memutarbalikkan hukum alam dengan nada-nada kematiannya.

Di tengah kanan, Carmelia mengintai dengan belati kembarnya yang siap memotong nasib siapa pun yang berdiri di jalannya.

Dan di tengah paling depan, berjalan Yudha. Penguasa Void, Sang Pemakan Dunia, yang siap melahap apa pun dan siapa pun yang berani menghalangi ambisinya.

Lantai 100 ini bukanlah akhir dari perjalanan panjang kami.

Ini bukanlah garis finis. Ini hanyalah garis awal yang baru.

Karena di sini, di puncak labirin ini, di mana kami telah menjadi yang terkuat... di sinilah awal mula pembalasan dendam yang sebenarnya baru akan dimulai.

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!