Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Malam ini tania terlihat anggun dengan kebaya putih yang ia kenakan, siapa yang tau kebaya ini adalah kebaya kesayangan bu lenasari almarhum ibunya dulu.
Kebaya yang memang dengan harga yang cukup bernilai ini memang di jaga betul oleh bu tania, bukan karena mahalnya. tapi, karena kebaya ini pun menjadi kenangan khusus untuknya.
"Cantik, persis seperti almarhumah bu lena" puji bu prita sambil mengelus punggung tania
"Tania harap almarhumah mamah juga seneng, dihari pernikahan tania. tania menikah dengan anak dari orang yang mamah sama papah kenal, dan tania pake baju kesayangan mamah" jawab bu tania tersenyum lebar menatap tubuhnya di cermin
Sedangkan pak dario uring-uringan di halaman besar rumah bu tania, ia dari tadi menelepon beberapa orang untuk mencari gatra.
Tamu undangan mulai hadir, satu persatu mereka duduk di kursi tamu yang sudah disiapkan. karena, memang acara pernikahannya di gelar di halaman rumah.
"Pah?" bu prita tiba tiba sudah berdiri di sisi pak dario sambil menepuk pundak pak dario pelan "gatra mana?"
"Nah itu masalahnya, anaknya gak tau kemana" jawab pak dario bingung
"Kan udah mamah bilang jangan suruh dia keluar rumah, papah malah nyuruh dia kerja" omelnya ketus
"Mah, gatra bahkan cuma ketemu sama satu klien aku. itu pun hasilnya nihil, payah dia. marisa sendiri yang bilang sejak ke perusahaan pak restu gatra gak balik lagi ke kantor" jawab pak dario membela diri
Mamah tersenyum kecut sambil berjalan pergi "kamu cari tuh anak kamu" omel nya
Bu tania tidak tau kalau gatra belum pulang padahal ini sudah jam tujuh malam, bukan hanya kedua orangtuanya tetapi pegawai di rumah pun sedang bingung kenapa tuan mudanya belum juga pulang.
"Tidd...tid...tid"
Suara klakson berbunyi dengan keras, pengemudi didalamnya seperti sudah tidak sabar untuk masuk.
"Eh den gatra" teriak salah seorang satpam pada beberapa pegawai yang memang cemas menunggu di dekat pintu gerbang
"Mana?" tanya nya girang sambil langsung menyerbu keluar menatap mobil gatra
"Loh, rame amat?" tanya haris bingung yang duduk di samping gatra
"Kenapa ini?" tanya juga raka yang bingung
"Beloon banget sih!!!" gerutu gatra sambil membuka kaca mobilnya "buka gerbang!!! malah pada disitu" teriak gatra ketus
"Maaf den, kata pak dario kalau den gatra sudah pulang. disuruh segera ke rumah bu tania, sudah di tunggu" beritahu seorang satpam sambil tersenyum kecil
Gatra menghamburkan nafasnya kesal sambil melihat jam ditangannya, karena memang pernikahan dimulai pukul delapan malam. wajar saja kalau semuanya takut gatra kabur, apalagi mereka tau gatra awalnya menolak.
"Gue bilang juga apa, pasti lo dicariin. paling kita nih yang disalahin ya ris?" gerutu raka di bagian belakang
"Terus gimana?" tanya haris menatap gatra yang malah diam mematung
"Kalo lo gak mau nikahin, gue aja deh yang nikahin" saut raka sambil tertawa cekikikan menggoda gatra
Haris pun ikut tertawa oleh celotehan raka "semangat banget loh"
"Berisik lu pada, gue mandi dulu lah. masa iya gak mandi" omel gatra pada kedua sahabatnya yang selalu bercanda
Namun, raka dan haris melarangnya karena pikiran kotor keduanya yang berpikir nanti juga kotor lagi. namun karena mereka tau gatra orangnya gampang murka alhasil mereka mencari alasan lebih bagus seperti, takut telat lagian kan gak tau ini orang lain kalo lo belum mandi.
Gatra pun setuju ia langsung menancap gas pergi ke rumah bu tania, masih dengan kemeja dan jasnya.
"Gatra dimana mah? udah hampir jam delapan" tanya tania saat berjalan keluar untuk sedikit berbincang dengan para keluarga.
"Ada" jawab mamahnya berbohong, ia tak mau bu tania malah kepikiran
Tak lama gatra turun dari mobil setelah ia parkir di luar, ia berjalan beriringan bersama kedua sahabatnya yang menenteng kado. tentunya titipan kedua orangtuanya.
"Om dario" tunjuk haris ketika melihat pak dario memegang sebuah gelas berisi jus bersama beberapa lelaki seumuran nya yang lain, mereka. bertiga pun langsung menghampirinya "pah"
Pak dario menatap ketiganya marah "di lanjut aja ya, saya permisi sebentar" ucapnya pada beberapa rekan bicaranya
"Ikut" pak dario menarik lengan gatra kasar "aduh, apaan si?!!!" gatra menepisnya dengan segera tak kalah marah
"Kemana aja kamu jam segini baru datang?" tanya pak dario pada gatra sambil matanya menyoroti tajam haris dan raka
"Eh tra kita naro kado dulu ya, om" ucap raka karena merasa bingung di keadaan seperti ini "duluan om, nanti kita duduk paling depan" saut haris
Pak dario hanya memasang wajah datarnya, pikirannya hanyalah satu. apakah setelah menikah gatra bisa lebih bertanggungjawab?
Gatra tersenyum sinis menatap pak dario "papah udah nyuruh aku nikahin wanita tua itu dan aku mau, tapi jangan larang aku bergaul sama siapapun" ucap gatra dengan jelas karena ia tau papahnya tak menyukai haris dan raka, walaupun pertemanan mereka sudah bertahun-tahun.
"Papah gak larang kamu berteman sama siapapun, tapi kamu harus tau diri" jawab pak dario kesal
Tiba-tiba terlihat jelas bu prita melambaikan tangannya saat matanya melihat gatra, akhirnya dia datang.
"Gatra mau kemana kamu?" teriak pak dario saat gatra berjalan pergi
Tanpa menjawab gatra terus melangkahkan kakinya ke arah bu prita "apa?" tanya gatra cuek
"Duduk sana, sebentar lagi acaranya dimulai" suruh bu prita sambil membenarkan jas yang di gunakan gatra "kamu gak pake jas sama kemeja yang udah mamah siapin?" tanya bu prita menyelidik
"Hah?" gatra mengerutkan keningnya "mamah kan udah siapin pakaian buat kamu, ada di rumah di lemari. emang gak di kasih sama si bibi?" tanya mamah kesal, jelas pakaian gatra terlihat tidak rapih apalagi beberapa kerutan yang menggaris disisi jasnya
"Udah lah gak penting juga" jawab gatra menepis tangan mamahnya dan berjalan ke arah bu tania duduk
Bu tania menundukkan kepalanya sambil tersenyum, ia tak menyangka akhirnya dirinya akan menikah.
"Sudah hapal?" tanya seorang penghulu yang sedang menyiapkan beberapa lembar kertas
Gatra menggelengkan kepalanya pelan sambil menarik selembar kertas berisi apa yang harus dia ucapkan nanti "hapalkan, bismillah dulu" ucap penghulu itu
Gatra hanya membacanya sekali, ia sebenarnya sudah tau dari papahnya. namun, ia malas untuk membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan menjadi suami. suami bu tania, yang sama sekali belum ia cintai.
"Karena papah atau wali nikah dari tania sudah meninggal, jadi wali nikah tania bisa saya gantikan" ucap penghulu itu sambil tersenyum ke arah bu tania
"Kita mulai saja acaranya sekarang" suara pak dario dengan tegas sambil melirik gatra yang menatapnya jengkel
"Bismillahirrahmanirrahim, Gatra ariyo pamungkas bin dario pamungkas saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan tania ranisa ahmad binti hardiyanto ahmad dengan maskawin seperangkat alat sholat, tunai" kata penghulu itu
"Saya terima nikah dan kawinnya tania ranisa ahmad binti hardiyanto ahmad dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai" jawab gatra dengan satu tarikan nafas dan jelas
"Alhamdulillahhirabbilalamin" doa pun di panjatkan, pemakaian cincin pun di lakukan.
Tania menarik lengan gatra untuk mencium tangannya sambil tersenyum, gatra masih memasang wajah datarnya.
"Cium kening istrinya boleh, kan sudah sah" ucap penghulu itu yang membuat gatra mengerenyitkan wajahnya
Dengan cepat gatra mencium kening bu tania, tanpa kelembutan sama sekali. mungkin menempel pun hanya sebentar.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek