Aku adalah rajamu
Kau harus menuruti segala yang ku perintahkan
Jadilah wanitaku dan hidupmu akan bahagia
Layla tertawa mendengar semua kata-kata rayuan kuno yang sedang ditampilkan di sebuah drama kolosal. Bagaimana bisa manusia jahat dan selalu merendahkannya itu memerankan raja yang karismatik dan romantis dalam drama.
Tapi ... terpaksa Layla harus selalu menundukkan kepala pada Raja itu. Karena Layla adalah pembantunya.
"Sial ... kenapa dia tidak bisa sedikit mencontoh sikap perannya di drama?" keluh Raya sambil tterus membersihkan kamar Tuannya.
"Kau bisa jatuh cinta paddaku kalau aku melakukan itu"
Layla melihat Tuannya yang sedang bertelanjang dada dan tersenyum padanya. Debaran jantung yang tiba-tiba meningkat menandakan bahwa Layla memang sedang jatuh cinta padanya.
Bisakah Layla keluar dari pesona sang Raja atau semakin tenggelam di dalamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Layla sedang sibuk merubah tampilan taman belakang rumah ketika ada seseorang bertamu ke rumah majikannya. Pak Boni tidak pernah memberitahu kalau hari ini ada tamu yang akan datang ke rumah pak Zahid. Atau ibu pak Zahid datang lagi kemari. Senangnya kalau itu terjadi. Karena rumah besar yang sepi ini akan menjadi ramai. Tapi, bukan ibu pak Zahid yang tampak di interkom. Melainkan seorang pria yang memakai setelan jas hitam dengan manset yang dikenal oleh Layla. Itu adalah manset yang dipakai oleh semua pengawal ayahnya.
Dengan segan Layla membuka pintu dan masuklah beberapa pengawal ke rumah pak Zahid. Membuat Layla tidak senang.
"Jangan disini. Ini rumah orang. Kalian tidak boleh berada disini"
"Ayah mengenal pemilik rumahnya, bukankah itu cukup?"
Layla melihat seorang laki-laki yang sangat ditakuti dan dihormatnya berdiri di depannya.
"Mau apa ayah kemari?"
"Aku akan mengatakannya di dalam. Ayah yakin majikanmu tidak akan keberatan dengan hal itu"
Layla terkejut ayahnya mengetahui pekerjaan yang dia lakukan selama ini. Pasti ayahnya juga sudah tahu untuk siapa Layla bekerja.
"Apa yang ingin ayah bicarakan?" tanya Layla ketika mereka ada di dalam rumah. Layla merasa tidak nyaman karena menerima ayahnya di rumah yang bahkan bukan miliknya.
"Pulang dan kuliah lagi dalam dua bulan. Ayah tidak akan terima kalau kuliahmu tertunda hanya untuk masalah seperti ini"
"Aku tidak ingin pulang" Layla menegaskan keinginannya lagi.
"Jangan keras kepala. Ayah sudah memutuskan untuk segera menikahkanmu. Kau boleh melakukan apapun keinginanmu setelah itu"
Masalah inilah yang membuat Layla pergi dari rumah. Tapi sepertinya ayahnya tidak akan mengerti dan berpikir kalau dia adalah anak yang merengek karena tidak mendapatkan keinginannya.
"Tidak mau. Layla tidak akan menikah sampai Layla mencapai yang Layla inginkan"
Ayah tampaknya kehabisan kata-kata dan tidak ingin berdebat lagi dengannya. Mungkin bagi ayahnya keinginan Layla tidak penting. Tapi berbeda dengannya. keinginan untuk didengar dan diakui merupakan sesuatu yang penting.
"Ayah sudah bicara ada calon suamimu, dan dia setuju untuk menikah denganmu tepat enam bulan dari sekarang. Ayah juga akan mengenalkannya pada semua orang saat ualng tahun ibumu dua bulan dari sekarang. Frank akan segera menjemputmu pulang dua bulan lagi. Nikmatilah liburanmu disini"
Ingin sekali Layla menolak keinginan ayahnya tapi dia tidak berdaya. Kalau Frank sampai menjemputnya itu berarti ayah tidak punya jalan lain lagi. Kecuali Layla lari ke tempat yang tidak akan ditemukan. Tapi ... itu juga tidak mungkin. Layla tidak memiliki uang sebanyak itu untuk kabur. Merasa kesal pada dirinya sendiri, Layla hanya bisa jatuh terduduk di ruang tamu pak Zahid.
Zahid pulang ke rumah ibunya sekitar pukul tujuh malam. Ibunya segera mengerti saat dia datang dengan mobil lain dan seorang sopir. Bahkan Boni juga memakai pakaian yang berbeda dengan sebelumnya.
"Apa Tuan Graham sudah datang ke rumahmu?"
"Tidak, Direktur yang memerintahkan kami untuk datang ke perusahaan Tuan Graham hari ini"
"Jadi, apakah semua akan terjadi tidak lama lagi?"
Wajar kalau ibnya khawatir, Zahid akan menjadi seseorang yang tidak akan bebas selama hidupnya nanti. Dan itu semua terjadi karena ibunya saat itu membutuhkan bantuan Tuan Graham yang juga teman ayah Zahid.
"Enam bulan lagi Zahid akan segera menikah. Hanya itu yang harus ibu khawatirkan sekarang"
"Maafkan ibu Zahid. Maafkan ibu"
Zahid memeluk ibunya yang mulai menangis. Seharusnya Zahid mengambil tanggung jawab ini sejak lima tahun lalu. Tapi saat itu, Zahid lebih memilih untuk bebas menjalani hidupnya.
Setelah ibunya keluar dari kamar, Boni masuk dan muali bertanya tentang apa yang terjadi hari ini.
"Apa kau tahu, ada beberapa orang dengan pakaian jas yang sama denganku sedang berjaga. Saat aku bertanya siapa mereka, ternyata mereka adalah pengawal yang dikirim Tuan Graham. Sungguh ini seperti di drama tentang pangeran yang akan berubah menjadi raja"
Zahid melihat ke arah asisten yang sudah mengikutinya sejak awal karirnya sebagai pemusik sampai sekarang.
'Aku sengaja memintamu tetap menjadi asisten pribadiku kepada Tuan Graham. Jangan pernah berkomentar sesukamu mulai sekarang"
Zahid perlu memperingatkan Boni tentang apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Tapi, bukannya kau hanya akan menikah dengan putrinya. Kenapa sampai ada pengawalan seperti ini?"
Sebenarnya Zahid juga bertanya-tanya pada awalnya alasan pengawalan sebanyak ini. Tapi setelah melihat daftar upaya pembunuhan Tuan Graham selama ini, Zahid mulai mengerti. Singkatnya, ada banyak sekali orang termasuk bawahan dan saingan bisnis Tuan Graham yang ingin menghilangkan puncak pimpinan hanya untuk membuat perusahaan tersebut hancur. Dan Zahid sebagai pengganti Tuan Graham merupakan aset yang harus diamankan. Dan lagi, keberadaan pengawal di sekitar selebritis lebih mudah disamarkan tujuannya.
"Tidak perlu bercerita dan mencari tahu. Semua ini telah diatur oleh Tuan Graham dan pengawal pribadinya. Kita hanya perlu beradaptasi dengan semua ini"
Boni mengangguk tanda setuju lalu ingin keluar dari kamar Zahid.
"Boni, aku butuh bantuanmu"
"Apa itu?"
"Kemarilah"
Zahid berbisik dan menyuruh Boni untuk menyelidiki siapa sebenarnya putri dari Tuan Graham. Selama ini tidak ada artikel tentang nama ataupun wajah putri Tuan Graham itu.
"Aku juga merasa aneh, tapi memang sama sekali tidak ada artikel tentang namanya. Kebanyakan hanya menulis putri Tuan Graham, itu saja. Dan tentang tampilannya, tidak ada artikel satupun yang menjelaskannya"
Hal ini merupakan sesuatu yang aneh bagi Zahid. Hampir menikahpun, Zahid masih belum mengenal siapa sebenarnya putri dari Tuan Graham. Hanya satu nama yang terbesit di pikirannya. Layla Graham, asisten rumah tangganya. Tapi Zahid telah memastikan Layla berasal dari sebuah daerah yang bisa dibilang miskin. Saat memikirkan Layla, tiba-tiba Zahid ingat pakaian dalam merah tua yang dibelikannya. Pasti Layla sedang memakainya sekarang karena Zahid tidak pulang. Zahid kembali membayangkan Layla hanya dengan pakaian dalamnya berjalan-jalan di dalam rumah.
"Kenapa wajahmu memerah?" taya Boni membuatnya waras lagi. Dia akan segera menikah dengan perempuan lain. Seharusnya Zahid tidak pernah memiliki pemikiran seperti ini.
"Tidak ada. Putri Tuan Graham kuliah di luar negeri. Bisakah kau mencari informasi tentang ini dari seseorang yang kau kenal?" tanya Zahid penasaran.
"Aku sudah mencoba mencari informasi itu karena penasaran saat perempuan itu menolak untuk bertemu denganmu dulu. Tapi nihil. Semuanya rahasia. Dan sepertinya Tuan Graham yang membuatnya seperti itu"
Jawaban Boni semakin membuat Zahid kesal. Bagamana bisa keberadaan perempuan itu suit untuk diketahui.
"Cobalah mencari informasi lagi. Aku tidak bisa menikah tanpa mengenal wajah pengantinku terlebih dahulu" kata Zahid.
"Apa kau akan membatalkan semua ini kalau wajah putri Tuan Graham jelek?"
Senuah kenyataan yang harus dihadapi Zahid ternyata membuatnya tidak bisa bicara. Entah kenapa, perkataan Boni terasa seperti hukuman mati untuknya.
"Itu tidak mungkin, kan?" tanya Zahid dengan suara bergetar.
"Mungkin putri Tuan Graham sedang menjalani operasi plastik agar tampak sesuai ketika berdiri disebelahmu saat menikah"
Keterangan Boni semakin membuat Zahid ketakutan. Bagaimana kalau itu memang terjadi?
"Kalau begitu kita tidak perlu mencari tahu. Akan menakutkan kalau aku mengetahui wajahnya sebelum operasi plastik"
Akhirnya Zahid dan Boni sepakat untuk tidak mencari tahu tentang putri Tuan Graham yang misterius. Padalah, putri Tuan Graham yang mereka cari memang sedang mengenakan pakaian dalam berwarna maroon dan sedang melihat badan dan parasnya yang semakin cantik di depan cermin.
suka author nya buat cerita seru tapi kok digantung .kesian kami para readers
😂😂😂
lama tak update.... Semoga author sehat selalu. up lagi y Author 🌹💖💖
kangen Layla
lanjutkeun, cemungut author ☺️💪💪👍
sepertinya pemikiran mrk berdua yg hrs di perbaiki