Renata, seorang istri yang sudah berumah tangga lima tahun lamanya bersama sang kekasih yang di pacarinya sedari dulu.
Dani, sang suami yang sangat mencintai Renata sekaligus sebagai orang yang manjadi mandat dari ayah mertua untuk selalu menjaga Renata di akhir hayatnya.
Namun sayangnya, sang Suami memiliki kelemahan yang sering membuat sang istri menangis karena kenormalannya sebagai seorang wanita muda yang bergairah.
Bermacam cara pun di tempuh Renata bersama sang suami agar bisa menyelesaikan masalah tersebut, namun sayang, hasilnya sama saja. Para ahli dalam bidangnya tidak bisa mengobati kelemahan yang di miliki Dani.
Lalu bagaimana Renata dan Dani menangani masalah ini ??
__________
Ditunggu kritik dan sarannya..
Tolong gunakan bahasa yang baik saat memberi kritik dan sarannya ya..
Makasih..
Selamat membaca 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idhan Kusmana The'a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Tiga hari sudah Mama di Jakarta.
Dan ini adalah hari terakhirnya.
Nanti sore,jam 15.30 Renata akan mengantarkan Mama ke stasiun,karena Mama keukeuh mau naik kereta saja.Padahal, Denis dan Dani,beserta Renata menawarkan naik mobil mereka saja,dan menyewa seseorang untuk menyetiri.
🐣🐣🐣🐣🐣
"Ma,aku berangkat kerja dulu ya,maafkan kami gak bisa nganterin Mama ke Stasiun."
"Ia Ma, aku juga minta maaf.
Mama hati-hati ya, semoga perjalanannya lancar."
Dani dan Denis memeluk Mama dengan erat, merasakan kehangatan tubuh Mama.
Mereka tidak bisa ikut mengantarkan Mama,
alasannya karena mereka baru ambil cuti kerja, dan banyak pekerjaan juga di kantor.
Pagi ini menjadi pagi yang cukup sedih untuk mereka.Tapi bagi Denis, bukan hanya sedih, dia juga merasa berat hati di tinggalkan Mama. Bagaimana tidak, dia baru saja merasakan kehadiran sosok seorang Ibu yang sudah lama tidak ia rasakan. Saat baru beberapa hari ia rasakan kini sudah harus kehilangannya lagi.
Lagi-lagi air matanya menetes.
Renata yang melihat itu langsung menyeka air mata Denis.
"Tidak apa Sayang.
Nanti, besok, dan kapan pun kamu kangen sama Mama tinggal Video Call'an aja." Bujuk Renata pada Denis.
Dani tersenyum melihat adegan di pagi hari sebelum keberangkatan mereka ke kantor.
"Benar apa yang di ucapkan Renata.
Nanti, 3 atau 4 bulan lagi kita susul Mama ke kampung"
"Ia Nak. Yang di ucapkan Dani dan Renata itu benar sekali." timpah Mama sambil mengelus punggung Denis yang masih memelukinya.
Denis pun perlahan melepaskan pelukannya, dan menyeka air matanya sendiri.
"Mama jangan lupain aku ya." ucapnya.
Terdengar dengan jelas suara Denis bergetar menahan sesak dan air mata yang hendak menetes lagi.
"Tidak Nak.
Tidak akan.
Mama tidak akan melupakanmu.
Mama sudah janji pada Ibumu.
Mama akan selalu menyayangimu seperti Mama menyayangi Dani dan Renata" Mama mencoba meyakinkan Denis.
Kini air mata Mama pun menetes juga, mengingat kemalangan Denis sebagai anak Yatim Piatu.
"Ayo kita berangkat.
Sudah telat 10 menit" ajak Dani pada Denis sambil melihat arloji di tangan kirinya
"Kamu naik mobil Dani saja.
Aku khawatir dengan keadaan mu yang seperti ini bila di paksakan menyetir" ucap Renata sambil mengelus pundak Denis
Akhirnya mereka berdua pung berangkat ke kantor.
Mama dan Renata memandangi mobil berwarna hitam itu sampai tidak terlihat lagi.
"Ayo Ma masuk"
"Ia Nak"
🐣🐣🐣🐣🐣
"Ma sudah siap?" tanya Renata pada Mama di depan pintu kamarnya.
"Tunggu sebentar Nak.
Kamu masuk saja"
Renata pun membuka pintu kamarnya,
Kemudian duduk di kasur kesayangannya.
"Semuanya sudah masuk kedalam koper Ma?"
"Sudah" jawab Mama singkat,sambil menepukkan spons bedak di pipinya.
"Yasudah, aku bawa koper dulu ya Ma.
Mau aku masukkan ke dalam mobil"
"Apa mobol sudah sampai?"
"Ah ia.
Aku lupa bilang sama Mama.
Gak jadi naik mobol Ma,
aku bawa mobil Denis aja" jawab Renata.
Tadinya mereka mau naik mobol (mobil online).
Karena Denis tidak membawa mobilnya, akhirnya Renata memutuskan untuk menggunakan mobil Denis saja.
🐣🐣🐣🐣🐣
Dalam perjalanan menuju Stasiun, tiba-tiba rambu lalulintas menunjukkan lampu merahnya.
Renata pun menginjak rem mobilnya.
Dia melihat seorang bocah SD yang tengah duduk di jok motor bagian belakang sambil memakan sesuatu yang kelihatannya enak sekali.
"Ma, coba lihat anak SD itu" tunjuk Renata pada motor yang sedikit terhalang Bajay.
"Yang mana Nak?
Mama tidk melihat ada anak SD"
"Itu lho Ma,
Yang di samping mobil Bajay" tunjuknya lagi.
"Ah ia Mama lihat.
Kenapa memang Nak?"
"Apa Mama tahu apa yang di makan anak itu?
Kelihatannya dia sangat menikmatinya.
Aku jadi mau"
Mama pun langsung mengamati bocah SD itu.
Dibuka kaca mobilnya.
Kepalanya pun sedikit keluar, agar bisa melihat anak tersebut dengan jelas.
Terlihat si Bocah menggigit makanan yang berlumur saos , dan "pluk" terlihat dengan jelas BIHUN yang jatuh dari gigitannya.
Mama pun langsung yakin dengan apa yang di lihatnya.
"Itu HUNLOR Nak" Mama memberitahukan apa yang di yakininya.
"Hunplor?" tanya Renata bingun.
"Bukan.
Tapi HUN LOR" jelas Mama dengan sedikit penekanan.
"Ah lampu hijau" Renata pun melajukan mobilnya lagi.
"Apa itu HUNLOR Ma?" tanyanya penasaran.
"Itu adalah bihun goreng yang di kasih telur kocok, kemudian di gulung pake tusukan, seperti yang tadi kamu lihat"
"Aku mau.
Dimana aku bisa mendapatkannya?"
"Biasanya di depan sekolahan ada yang jual"
"Baiklah.
Nanti setelah mengantar Mama, aku akan mencarinya" ucap Renata antusias.
🐣🐣🐣🐣🐣
Setelah mengantarkan dan menemani Mama menunggu jam keberangkatan kereta yang hendak Mama naiki, Renata terus membicarakan Hunlor yang tadi dia lihat di lampu merah.
Hingga tak terasa waktu keberangkatan pun 15 menit lagi, nampak para penumpang sudah mulai menaiki kereta dan menduduki kursi mereka.
"Mama pamit dulu ya Nak" Mama bangun dari duduknya.
Di peluknya menantu dari kedua anaknya itu penuh kehangatan.
"Ia Ma.
Hati-hati ya.
Jangan lupa ngasih kabar"
"Ia.
Mama titip kedua anak Mama ya Nak.
Tolong sayangi mereka.
Tolong bersikap adil pada mereka, jangan sampai ada rasa iri di antara Denis dan Dani terhadap mu" pesan Mama sambil menepuk punggung Renata.
"Ia Ma.
Aku akan berusaha sekuatku." janjinya pada Mama.
Mama pun melepaskan pelukannya.
Berjalan sambil membawa koper kecil berisi beberapa pakaian dan keperluannya selama di Jakarta.
"Dadah Ma" Renata melambaikan tangan kanannya.
Mama yang melihat lambaian Renata langsung membalasnya dengan lambaian yang lembut "Daah" sambungnya.
🐣🐣🐣🐣🐣
Renata menginjak gas mobil dengan kaki kanannya.
Mengejar abang-abang Hunlor di sekolahan dekat lampu merah tadi.
"Aduh" dia menepuk jidat dengan telapak tangan kanan
"Ini jam berapa hah?
Mana mungkin ada abang-abang yang masih berjualan di depan sekolah" Gerutunya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 17.00
🐣🐣🐣🐣🐣
Denis dan Dani yang sudah sampai duluan di rumah,sekarang mereka sedang menunggu kedatangan istrinya.
Jarak rumah ke Stasiun memerlukan waktu sekitar 45 menit sekali perjalanan, itu pun kalau tidak macet.
Dan kebetulan, Renata menghadapi kemacetan jalanan, juga kemacetan kemauannya.Kemauan akan jajanan yang bernama HUNLOR tadi.
Tepat pukul 18.15 Renata sampai di halaman rumahnya.
Di bukanya pintu rumah dengan lemas.
Dani yang pertama melihatnya langsung menghampiri Renata dengan berlari.
"Macet ya?" tanyanya sambil meraih pinggul dan mengangkat kedua kaki Renata.Kini posisi tubuh Renata berada di gendongan tangan Dani.Di lingkarkan tangannya pada leher Dani.
Renata tidak menjawab pertanyaan Dani.
Dia hanya menunjuk ke arah sofa di depan TV.
Dani mengerti dengan maksud Renata.
Dia pun menidurkan tubuh Renata di atas sofa.
Tiba-tiba.
"Heu.. Eu. Eu. Eu. Eu. Eu. Eu. Eu" Renata menangis dengan kencang.
Sekencang-kencangnya.
Membuat Denis yang berada di kamar langsung berlari menghampiri Renata dengan panik
"Ada apa Sayang?" tanyanya panik sambil mengusap air mata di pipi Renata.
Bukannya tenang.
Suara tangisan Renata semakin menjadi
"Aaaaaaaa. A. A. A. A. A. A. A. A. A"
"Sayang kamu kenapa?" kini Dani semakin panik
"Aku mau hunlor"
"Apa?" tanya Dani dan Denis kompak.
"Hunlor"
"Hunlor?" kedua orang itu kembali bertanya dengan kompak,seperti yang janjian saja.
"Ia hunlor"
"Apa itu hunlor?" kini hanya Denis yang bertanya.
Sementara Dani,dia sedang berpikir,
"Hunlor?
Bukan hal yang asing,tapi aku lupa apa itu" gumamnya.
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Denis membuat Renata semakin kesal.
Dia berlari ke kamarnya.
Menutup pintu dengan kencang.
Menjatuhkan tubuhnya di kasur.
Memendamkan wajahnya di bantal.
Denis menatap tajam Dani yang sedari tadi sedang bengong tanpa memperhatikan kemarahan Renata.
"Hei" teriak Denis sambil menepuk pundak Dani.
Dani tersadar dari lamunannya,dia melihat ke sekeliling ruangan
"Dimana Renata?"
"Dia ke kamarnya.Dia terlihat kesal" jelas Denis.
"Apa kamu tau apa itu hunlor?
Kenapa dia sampai seperti itu?" sambungnya.
"Aku lupa.
Tapi nama itu tidak asing di telingaku." Dani mencoba mengingat sambil mengetuk-ngetuk pipinya dengan telunjuk tangannya.
APAKAH INI PENGALAMAN DARI AUTHOR SENDIRI. .. KRYA SPERTI GK MUNGKIN HNY SKEDAR CERITA HALU DOANK... PSTI PNGALAMAN PRIBADI..
semangat
mksh