JANGAN DI TUNGGU..
UPDATE TIDAK MENENTU KAPANNYA.. KARENA KESIBUKAN...
Saat SMA di pandang sebelah mata, di permalukan oleh orang yang disukai,di jadikan bahan tawaan karna penampilan yang culun dan di anggap miskin .
hingga memilih pergi, dan melupakan.
kembali dengan identitas asli, dan membuat banyak orang kagum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Ferdina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCA Ep17
tidak terasa, hari ini mereka akan pulang, alena dan julian semakin dekat dalam artian pertemanan.
bertahap untuk mendekati seorang alena kembali, apa lagi di mata alena dulunya ia sangatlah buruk.
alena selalu menghindar jika berdua dengan julian, bukan masih benci, hanya saja jantungnya kembali berdetak seperti dulu jika julian di dekatnya.
cinta itu datang kembali dan semakin besar, seberapa usaha alena untuk melupakan cintanya ,tetap saja tidak bisa.
apa lagi julian sudah masuk kembali dalam kehidupannya, dan dekat dengannya sebagai teman.
"semua sudah siap kan?, ayo kita pulang, banyak pekerjaan yang harus aku tangani" ucap julian.
"dasar... kau hanya memikirkan pekerjaan saja, pikirkan masa depanmu lian, jangan sampe kau menjadi perjaka ting ting" ucap mama helena.
"mama tenang saja, masa depan sudah di depan mata, tinggal ke rumahnya dan melamar, itu sudah bereskan ma," kata julian dengan tatapan tertuju pada alena.
nyonya helen dan tuan agastara melihat tatapan putranya yang begitu memuja pada alena, dan ikut tersenyum dan bahagia jika pemikiran mereka itu benar adanya.
"papa harap alena akan menjadi menantu papa" bisik tuan agastara pada istrinya.
"mama juga begitu pa" kata helen pelan.
julian dan alena sudah masuk ke dalam mobil mereka, tia bersama dengan ray, karna permintaan julian. sedangkan yang lainnya memakai mobil keluarga masing masing dengan memakai supir pribadi.
"apa kau mau mampir dulu?" tanya julian
"mampir kemana?" sahut alena
"tidak tau, tapi aku akan mengantarmu kemanapun"
"tidak perlu, aku ingin segera pulang, aku merindukan rumahku" ucap alena
"kau hanya berpisah sebentar tapi sudah sangat merindukan orang tuamu, jika kau menikah nanti apa kau akan seperti ini?" tanya julian yang mulai ngelantur .
alena merasa bingung untuk menjawab pertanyaan julian, dilihatnya pria tampan yang fokus menyetir mobil untuk mengantarnya pulang.
"itu sesuatu yang berbeda, jika aku menikah itu sudah kewajibanku untuk bersama suamiku, dan sekarang aku belum menikah, aku masih bersama kedua orang tuaku"
"apa kau ada pemikiran menikah ditahun ini?"
"kenapa kau menanyakan hal hal aneh seperti ini? ada apa denganmu?"
"hah... ti....tidak ada, aku hanya bosan dan ingin mengobrol saja" kilah julian.
"hmmm... jika kau, kapan kau akan menikah?" tanya alena sengaja ingin membalikan pertanyaan julian.
"aku?" tunjuknya, dan kembali fokus menyetir
julian sedang menyetir mobil, dan tidak ingin sesuatu terjadi, apa lagi ia tidak sendiri.
"bagaimana jika kita mampir makan, aku sudah mulai lapar" kata julian membuat raut wajah lemas.
alena melihat wajah melas julian merasa lucu, sejak kapan julian pintar memainkan ekspresi seperti itu.
"baiklah"
julian langsung berhenti di dekat sebuah cafe, ia langsung keluar mobil dan membuka pintu mobil untuk alena.
"tidak perlu berlebihan seperti ini, aku bisa sendiri" kata alena, merasa sikap julian sangat aneh hari ini.
"Tidak masalah, ayo..."
Julian menarik tangan alena lalu menggenggamnya dengan erat, seolah takut jika miliknya hilang atau bahkan di ambil orang.
Alena hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan julian padanya. Tidak mau berdebat, tidak mau merusak mood julian ,bisa bisa ia akan di suruh pulang sendirian nanti.
"Kau mau pesan apa?" tanya julian.
"Samakan saja denganmu"
Julian mengangguk dan melambaikan tangannya untuk memanggil salah satu pelayan cafe tersebut.
Pelayan wanita terus tersenyum pada julian, entah dia fokus atau tidak mencatat pesanan yang dikatakan ,alena merasa panas melihatnya.
Tentu saja, dia juga pernah seperti sang pelayan ,setiap melihat julian selalu diam dan menatapnya. Tapi itu dulu ,jika sekarang hanya alena dan tuhan yang tau.
"tadi kau bertanya soal pernikahan bukan? aku ingin menjawabnya" ucap julian menyambung obrolan yang sempat tertunda di dalam mobil.
"sebentar..." alena menatap sinis ke arah pelayan yang masih berdiam diri sambil tersenyum senyum ke arah julian.
"aku sudah lapar, kenapa anda masih berdiri disini?" tanya alena, membuat sang pelayan gelagapan dan merasa tidak enak.
"ba...baik nona, maafkan saya"
"pergilah"
julian tersenyum melihat bagaimana alena menegur sang pelayan, seperti cemburu melihat kekasihnya di goda saja.
wajah alena menekuk kesal, entah kenapa ia masih kesal saja melihat tatapan sang pelayan pada julian, apa perasaannya saat ini karna cemburu, apa dia gagal menghilangkan cintanya untuk julian.
rasa takut jika terulang hal di masa lalu, membuat alena sangat menjaga jarak dengan lian.
"kenapa wajahmu masam begitu?, dia sudah pergi alen" ucap julian ,lalu mendekatkan wajahnya ke alena dan berkata.
"dia tidak akan bisa merebutku darimu" bisik julian pelan.
wajah alena langsung memerah malu, kenapa julian bisa berfikir seperti itu, tapi sikap alena memang terlihat seperti seorang kekasih yang cemburu.
alena menjadi salah tingkah karna tatapan julian kepadanya, apa lagi di sertai senyum yang begitu menawan.
"kenapa aku bisa sebodoh ini, ingat alena, jangan mengulangi hal seperti masa lalumu lagi" batin alena
alena tidak menjawab bisikan julian dan hanya diam sampai mereka selesai dengan makannya.
yang ada dalam pikiran gadis cantik itu hanya segera sampai di rumah dan bertemu dengan kedua orang tuanya serta kakaknya.
***
"kenapa alena lama sekali sampainya?" tanya romi pada arlan sang papa.
"entahlah, apa terjadi sesuatu pada putriku?" ucap arlan merasa cemas.
mereka sudah berada di kediaman keluarga agastara, semua sudah sampai dengan selamat, namun lain halnya dengan julian dan alena. semua menunggu keduanya.
"aku yakin mereka akan segera sampai, seharusnya mereka sudah sampai" ucap helena.
"putramu pasti bersinggah singgah dulu" sahut papa julian.
"awas saja jika julian berbuat macam macam pada alen kita, aku tidak akan mengampuninya" kata romi dengan wajah kesal.
"aku percaya, jika putra kalian bisa menjaga putriku" kata arlan, membuat sam berdecak kesal.
pengawal yang selalu ikut bersama arlan, sudah siaga untuk menjemput sang nona muda kesayangan, nona muda mereka sudah seperti sebuah berlian termahal yang harus dijaga, bahkan mereka digaji untuk mengutamakan anak gadis keluarga mahesa.
20 menit kemudian, sebuah mobil memasuki rumah agastara, semua menghela nafas dengan lega, yang di tunggu tunggu akhirnya pulang.
"alen..." romi langsung memeluk alena saat baru saja keluar dari dalam mobil.
"rom... maksudku kak romi" ucap alena membalas pelukan romi.
"apa kau baik baik saja, apa kau terluka? kami menunggumu sangat lama alen, aku dan papa menghawatirkanmu" kata romi.
"aku baik baik saja, ada apa denganmu?" tanya alena merasa bingung.
"kenapa kau lama sekali? mamamu selalu menelpon papa, kemana saja kau singgah" kali ini arlan sang papa yang bertanya
"papa, aku merindukanmu" alena melepas pelukan dari romi, lalu memeluk papanya.
"papa lebih merindukanmu sayang," arlen membalas pelukan sang putri dengan erat, mencium pucuk kepala alena dengan penuh kasih sayang
julian dan kedua orang tuanya tersenyum melihat kedekatan ayah dan anak itu, alena benar benar sangat di sayangi dan dijaga di keluarga mahesa.
"kau bawa kemana anak orang hmmm .. mama sudah ingin jantungan melihat wajah kesal kaka alena" bisik helen pada putranya.
"kita singgah makan saja sambil mengobrol soal pernikahan" kata julian.
helena dan sang suami saling melirik, lalu tersenyum senang. mereka berfikir bawah julian dan alena sedang merencanakan pernikahan mereka.
skali2 pebinor lah stlh Yudis munculkan lagi Sam buat Julian cemburu masak Alena trs yg cemburu
Elin hanya mau hartanya saja, tidak mau Prianya
sukses...semangat
mksh