Hai readers sekalian, ini novel author yang selanjutnya.
Season 1
Novel ini mengisahkan seorang gadis desa yang merantau ke kota mencari kehidupan yang lebih baik, tapi naas sebelum sampai ke kota dia beserta adiknya mengalami kecelakaan sayangnya pula dia meninggal di tempat sedang sang adik tak sadarkan diri.
Beralih ke tempat lain yaitu di tengah hutan terdapat dua orang pria sedang membawa satu jasad yang sudah tak bernyawa.
Kembali ke tempat kecelakaan sang gadis desa yang mulanya tak bernafas perahan membuka matanya.
Terdapat juga sebuah sistem transparan dan hanya terlihat oleh si pemilik.
Dea yang di wajibkan untuk menjalankan misi-misi yang semakin sulit membuat Dea merasakan sedih, senang bercampur aduk.
Ayo ayo penasaran...
Baca ya...
Gambar cover bersumber dari Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nor Laila Rahmah Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.18
Meyla amat syok melihat siapa orang yang bersama dengan seorang pria di dalam foto itu. Dia adalah dirinya, tapi dia merasa tak pernah bertemu dengan pria yang ada di foto pernah bertemu aja enggak apalagi mengenal.
Meyla hendak menjelaskan, tapi selalu dihalangi oleh Meysha, dia tak ingin memberi celah kepada Meyla, dia ingin membuat nama Meyla hancur dan di benci oleh seluruh keluarga dan pastinya dia ingin pertunangan Meyla dan Yosi di batalkan dan dirinya yang akan menggantikan Meyla menjadi tunangan Yosi.
Siang hari sudah berganti malam, saat sedang asik mendengarkan drama di ruang tamu keluarga Robert, Seluler phone Dea berdering menandakan ada yang menghubunginya.
Kebetulan sekali yang menelepon adalah Kenzo, waktu yang tepat untuk di mintai bantuan.
"Halo, kalian dimana? ini sudah malam kenapa tidak kembali?" tanya Kenzo di seberang.
"Kami sebelum pulang mampir dulu ketukan calon besan mu," ucap Dea.
"Besan?" suara lain yang terdengar.
"Siapa itu? apakah Yosi?" tanya Dea.
"Ya, ini aku," sahut Yosi.
"Kebetulan, sekarang aku perlu bantuanmu," ucap Dea.
"Bantuan apa?" tanya Yosi.
"Nanti ku jelaskan, kau datang saja dulu ke rumah calon mertuamu," ucap Deh dengan candaan. "Jangan lama, ini mendesak, kalau tidak akan bahaya untuk calon istrimu," lanjut Dea.
"Dia sudah pergi," ucap Kenzo.
"Oh, baiklah, kami akan telat pulangnya. Kau tak perlu khawatir dengan Zio, karena sekarang saja dia sudah tidur," jelas Dea.
"Baiklah, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," ucap Kenzo.
"Ok," setelah mengatakan itu sambungan telepon langsung di putus Dea.
Lima menit, sepuluh menit, akhirnya Yosi sampai juga.
"Diraba?" dengan tergesa-gesa Yosi hendak masuk, tapi di tahan oleh Dea.
"Tunggu dulu, aku akan jelaskan dulu. kronologinya," ucap Dea.
Dia pun menceritakan masalah yang di perdebatkan di dalam dan saat-saat dia, Zio dan Meyla menunggu Meysha di taman bermain sampai hampir malam. Dea pun menyusun rencana apa yang harus mereka lakukan untuk membantu Meyla yang kena tuduhan.
Mereka bersiap-siap dengan meninggalkan Zio di dalam mobil Yosi.
Dea dan Yosi meminta salah satu pelayan memberitahukan jika mereka datang dan langsung saja pelayan itu masuk dan memberitahu kepala keluarga Robert.
"Oh nak Yosi, ada apa gerangan datang malam-malam kasini?" tanya tuan Robert dengan seramah mungkin.
"Tidak ada apa-apa, cuman mau cari Meyla, tadi katanya pengasuh Zio, mereka bermain di taman bermain bersama dan tak sengaja membawa mainan kesayangan Zio, kebetulan saya yang menjemput mereka, jadi sekalian saja silaturrahmi dan mengambilkan mainannya, karena dia akan marah nanti setelah mendapati mianannya gak ada," jelas Yosi. "Meyla nya ada?" lanjutnya.
Karena tuan Robert menemui Yosi dan Dea di depan pintu mencegah agar mengetahui situasi di dalam jadi tuan Robert berbasa-basi.
"Eh? Kenapa berbeda dengan penjelasan Meysha. Jadi Meyla benar-benar dari taman bermain," batin tuan Robert. "Mari masuk, saya tidak menyiapkan apa pun, jadi maklum ya," ucap tuan Robert mempersilahkan masuk.
Di ruang tamu terlihat sudah tenang, mungkin ada yang menguping saat pembicaraan tuan Robert dan Yosi tadi. Meyla menunduk dalam, sedangkan lainnya seperti tak terjadi apa-apa berbicara seperti biasanya.
"Eh Yosi, silakan duduk," ucap ramah nyonya Dona.
Sebelum Yosi sempat duduk, Dea menarik lengan baju Yosi mengisyaratkan duduk lebih dekat dengan Meyla. Akhirnya mereka duduk berdekatan dan tanpa mengulur waktu lagi Dea langsung menadahkan tangannya kehadapan Meyla, tentu saja Meyla dan yang lainnya bingung kecuali Yosi.
Meyla mengangkat wajahnya menatap Dea bingung. Terlihat mata merah dan sembap dan juga ada cap lima jadi di pipi kirinya.
Dea mengisyaratkan dengan kedua kalinya menunjuk ke tangannya dan berkata. "Mainan,"
"Mainan? Mainan apa?" tanya Meyla masih tak paham.
"Mainan Zio yang tak sengaja kau bawa di saku bajumu," ucap Dea langsung.
Baru deh Meyla paham dan langsung merogoh saku bajunya dan benar saja ada mainan dinosaurus di saku bajunya.
"Oh maaf tadi hak sengaja memasukkan nya di saku ku saat jatuh di taman," sambil mengucapkan itu Meyla memberikan mainan itu ke tangan Dea.
Setelah urusan Dea selesai, Yosi pun pamit.
Kenapa gak langsung membantu menjelaskan? Karena kalau langsung akan di anggap terlalu ikut campur. Dan lagi mereka jug terlihat sudah percaya dengan kejadian sebenarnya.
"Oh ya Meyla, ini amplop siapa ya tadi aku nemu di depan," ucap Dea seraya menyerahkannya dengan Meyla, Dea mengedipkan sebelah matanya pada Metal, tapi Meyla tak tahu maksudnya. "Buka aja tuh kalau penting," lanjut Dea. "Kami permisi," sambil melambaikan tangan mereka masuk mobil Yosi.
Tak tahu dengan kabar Meyla sekarang yang penting sudah membantu dan menghilangkan keraguan dan kesalahpahaman keluarganya.
...
Tak terasa Dea telah merawat Zio selama satu bulan lebih. Kesehatan Zion sekarang sudah sangat baik dan juga dia lebih terbuka dengan orang baru.
Pertunangan Meyla dan Yosi pun berjalan lancar dan mereka sudah menggelar pertunangan tersebut. Sedangkan Meysha pergi ke luar negeri untuk menghilangkan matinya akibat ketahuan berbohong dalam tuduhan Meyla.
Zio pun sudah akrab dengan Meyla, jadi Dea akan lebih mudah untuk meninggalkan Zio
Tugas selesai, Merawat Zio juga hampir selesai. Tinggal dua minggu lagi Dea akan berhenti mengurus Zio.
Seperti sekarang Dea, Zio, Meyla, Yosi, dan Kenzo sedang adik piknik di taman.
"Dea kau akan berhenti bekerja sebentar lagi kan! Apakah tidak bisa jangan berhenti," harap Yosi. "Kau lihat sendiri Zio yang tak bisa lepas denganmu bukan," lanjutnya.
"Tidak bisa, karena aku memiliki urusan lain lagi, tidak bisa menetap di satu tempat dengan lama," jelas Dea.
"Apa alasannya?" tanya Kenzo yang sedari tadi diam mendengarkan.
"Aku tidak bisa mengatakan alasannya, tapi yang pasti aku memiliki kewajiban yang tak di miliki oleh orang lain," jelas Dea. "Jadi seberusaha apa pun aku tak ingin pergi, tetap saja aku harus pergi," lanjutnya.
"Mama mau pergi?" suara imut terdengar berketar mengatakan itu.
Terkejut? Pasti. Dengan refleks mereka menatap arah suara.
"Z zio," panggil Dea, Kenzo dan Yosi.
Mata Zio berkaca-kaca hampir menangis dan saat tak mendapat jawaban dari Dea, tangis Zio pecah.
"Huesca, mama mau menggalin Zio lagi," terduduk di atas rumpun sambil mengusap air mata yang tak berhenti keluar.
"A ahh, mama gak bakal ninggalin Zio kok, cuman mama gak akan setiap hari saja ke sini, jangan nangis dong," ucap Dea sambil merangkul Zio.
Zio masih saja menangis. "Jangan nangis lagi ya, kan Zio bisa video call an sama mama kapan pun, dan juga Zio bisa ke rumah mama jika ingin bertemu," bujuk Dea menenangkan tangisan Zio.
"Hik Hik, b baiklah, j janji ya hik hik," sambil sesegukkan Zio mengatakan itu. Dea mengelap air mata Zio, ada perasaan tak rela, tapi apa boleh buat memang begini keharusannya.
^
^
^
Happy Reading