"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Mau ke mana Rin?"
Mas Aga melihatku menatap koper, dia langsung menghampiri ku saat melihat aku merapikan bajuku ke koper.
"Kamu nangis?" Tanyanya yang melihat sisa air mataku di pelupuk mata.
"Tidak mas, tadi cuma kemasukan debu, sekarang masih terasa perih, jadi terlihat merah" Dusta ku.
"Maaf ya kamu tadi nunggu aku lama di resto, tapi kenapa tidak makan? Bukankah aku minta kamu makan tadi?"
"Aris sudah kenyang mas, Arin juga kurang suka menu di sana, jadi Arin makan di warteg dekat resto tadi" Dia mengagguk pelan.
Aku tidak tahu kenapa hari ini dia sedikit banyak bicara dengan ku, biasanya dia juga enggan dan selalu pergi begitu saja saat aku mendekatinya.
"Oooh lain kali aku ajak makan di tempat langganan ku ya? Makanan di sana enak-enak, tapi sebelum itu, terima kasih sudah merawat mas selama di rumah sakit"
"Itu memang sudah kewajiban Arin mas"
Aku merasa mas Aga lebih lembut siang ini, apa dia sedang merayuku untuk mengizinkan dia poligami? Pagi tadi dia bicara begitu lama dengan Rahma dan juga keluarganya. Mungkin kah dia bersikap aneh untuk membuatku rela dia menikah lagi?
Aku tahu harusnya aku senang dengan sikap normal mas Aga, tapi hati ini terlanjur sakit dengan harapan ku sendiri. Pertemuan keluarga tadi benar-benar membuatku banyak berpikir tentang hubungan kami. Jika memang dia ingin bersama Rahma, aku tidak akan menghalangi, asal dia bicara dengan ibu dan ibu menyetujuinya, aku akan langsung pergi dari sini.
"Lho koh nangis lagi? Apa aku salah bicara?"
"Tidak mas, aku hanya kangen ibu, kata bapak ibu sedang tidak enak badan, jadi aku hawatir"
Dia menatapku, mungkinkah dia kasihan?
Mas Aga tak kunjung beranjak, aku memilih melanjutkan lagi menatap baju ku.
"Kamu mau pulang sekarang? kenapa kamu menata baju begitu?"
"Jika di izinkan Arin memang mau pulang sekarang mas"
Aku tidak tahu dia kenapa hari ini, tapi aku terkejut saat dia memeluk pundakku dari samping, dia bahkan mengelus pelan pundak ku agar aku merasa lebih tenang. Jujur aku tubuh ku menegang saat dia melakukannya. Kami jarang sekali melakukan kontak fisik, apalagi dia yang mulai duluan. Ini seperti mimpi bagiku.
"Maaf ya? Mas bukannya tidak mengizinkan, mas juga tidak berniat memanfaatkan kamu, tapi bisakah kamu nemenin mas lebih lama?"
Tutur lembutnya sungguh makin membuat aku curiga, ada apa dengan dia? dia seperti lelaki lain yang berbeda. Apa dia terbentur sesuatu di rumah sakit? kenapa dia jadi begitu ramah dan lembut? Aku harus lebih waspada dengan perubahan sikapnya ini. Bisa saja dia menyanjung ku setinggi langit lalu menjatuhkan ku begitu saja ke tanah. Aku tidak ingin sakit hati lebih dalam padanya, jadi aku tidak akan terpengaruh dengan kata-kata lembutnya.
"Iya Arin tahu, Arin akan pulang jika keadaan sudah memungkinkan. Tapi jika mas izinkan Arin pulang hari ini, Arin akan sangat bahagia sekali"
Mas Aga nampak menghembuskan nafas berat tangannya masih bersandar dengan santai di pundak ini.
"Kalau ibu pulang bagaimana? Mas bilang apa kalau ibu nanyain kamu?"
"Nanti Arin sendiri yang akan mengabari ibu mas"
Sikap lembut mas Aga benar-benar membuat ku curiga dan ingin pergi. Aku sudah membereskan semuanya tinggal berangkat saja.
"Rin mas masih sakit, mas belum bisa jalan tegak. Kamu tega ninggalin mas di sini sendiri?"
Aku menghela nafas berat, jika di butuhkan dia baru ingat aku, apa tadi dia ingat betapa hancurnya hati ku saat dia bertemu dengan keluarga Rahma? Wanita idaman hatinya. Kenapa tidak dia saja yang merawat mas Aga? Bukankah ini kesempatan bagus? Dia bisa berduaan dengan Rahma di rumah ini, Ibu tidak ada dan aku pergi. Bukankah ini kesempatan emas? Kenapa dia justru menahan ku? kenapa aku yang harus merawat nya sedangkan cinta dan perhatian nya selalu dia berikan ke wanita lain.
"Mas bisa bayar perawat kan? Aku hanya pulang menemui ibu ku"
Aku mengatakan itu sambil menangis, entah kenapa air mata ini harus jatuh di saat seperti ini.
Dia bangkit dan memelukku erat, rasanya hangat sekali, ini kali pertamanya kami sedekat ini. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Rasanya aku ingin membalas pelukan dan menyandarkan kepala ini di pundaknya. Tapi aku tidak mau terperangkap makin dalam. Aku tidak mau lebih sakit lagi saat melihat mas Aga dengan wanita itu.
"Aku mau pergi mas"
Dia justru memelukku makin erat.
"Kamu marah ya waktu di resto tadi?" Tanyanya.
Deg
Aku terkejut karena dia bisa tahu apa yang membuat hati ini lara.
Aku hanya diam, tak menjawab. Aku tidak mau mendengar penjelasan nya, itu mungkin akan membuat hatiku makin sakit.
"Rin, aku dan keluarga Rahma sudah lama membuka bisnis Resto bersama. Resto yang tadi pagi kita datangi itu milik mas Rin, tapi penyumbang dana terbesar nya ya Papanya Rahma. Beliau ingin menyerahkan Resto itu seutuhnya sama mas. Jadi mas minta kamu ke tempat lain. Ibu tidak pernah mengizinkan mas terjun di dunia bisnis, dia ingin mas jadi seperti papa. Jadi mas melakukan ini diam-diam. Kamu jangan marah lagi ya?"
Aku terdiam, kalau memang itu yang mereka bicarakan, kenapa mas Aga tidak mau mengakui ku sebagai istri di depan teman-temannya? Apa dia tengah merencanakan sesuatu? Duh gustiiii maafkan hambamu yang terlalu negatif thinking pada suami sendiri. Tapi hamba seperti ini juga karena dia.
"Jangan pergi ya? Jangan bilang ke ibu juga kalau mas punya usaha ini"
Apa dia sedang memintaku tutup mulut? untuk apa dia menyembunyikan usahanya? Atau dia hanya ingin menyembunyikan Rahma? Apa ini tujuannya bersikap lembut padaku? Dia tidak ingin perselingkuhan nya dengan Rahma ketahuan oleh Ibu.
Aku melepas pelukannya, aku masih kekeh ingin pergi, aku perlu menenangkan hati ku yang sudah hancur berkeping-keping.
"Aku ingin pulang mas"
Dia kembali menggenggam tanganku, kelihatannya dia masih tidak ingin aku pergi.
"Satu bulan lagi ku antar, Oke?"
"Aku kangennya sekarang, kenapa harus nunggu bulan depan?"
"Hanya satu bulan Rin, gimana kalau kita ke Monas? Kamu sangat ingin ke sana kan?"
Baru kali ini kau melihat mas Aga mencoba merayuku, dia sampai mengajak ku keluar atas dasar kemauan nya sendiri. Dulu saja saat ibu minta kamu jalan-jalan berdua, dia justru meninggalkan aku di toko swalayan. Sekarang tidak ada angin tidak ada hujan, dia mengajakku jalan-jalan. Apa dia takut aku bilang ke orang tuaku tentang sikapnya? Ini memang pertama kalinya aku meminta pulang semenjak pernikahan kami.
"Arin tetap ingin pulang mas"
Dia kembali menghela nafas, dia juga kembali memeluk pundakku dengan erat.
"Gimana kalau aku masakin kamu di resto ku? Kamu bisa lihat sendiri bagaimana mas masak"
Aku terdiam, sepertinya ajakan yang cukup langka, kapan lagi seorang Letnan TNI seperti dia mau memasak untuk ku?
"Baiklah, tapi satu Minggu lagi aku pulang"
Setelah berpikir lama, kamipun sepakat. Mas Aga kembali mengajak ku ke restoran tadi. Aku sangat penasaran sekali bagaimana rasa masakannya.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...