- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.
- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.
- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: BAYANGAN LAMA YANG KEMBALI MENGHANTUI
Sudah lima tahun berlalu sejak kebahagiaan sempurna itu tercipta. Hamzah kini berusia enam tahun, tumbuh menjadi anak yang cerdas, pemberani, dan sangat disayangi semua orang. Ain, Nova, Sari, dan Fatimah sudah menua, tapi kesehatan mereka masih cukup baik, selalu duduk bersama di teras sambil menonton anak cucu mereka bermain riang. Rian dan Lira makin sukses dan dihormati, Dimas juga semakin kuat pengaruhnya untuk kebaikan di seluruh daerah.
Hidup mereka terasa begitu damai, seakan semua bahaya dan masalah sudah benar-benar terkubur dan tidak akan pernah muncul lagi. Tapi mereka lupa satu hal: masa lalu yang penuh dosa dan darah tidak pernah benar-benar mati, ia hanya tidur… dan saat ia bangun, ia akan jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Suatu malam yang gelap dan berangin kencang, suasana di Rumah Harapan terasa berbeda dari biasanya. Udara terasa dingin menusuk tulang, langit penuh awan hitam tebal menutupi cahaya bulan dan bintang, tidak ada satu pun suara serangga atau hewan yang terdengar. Seakan alam sendiri memberi peringatan bahwa sesuatu yang buruk sedang datang mendekat.
Rian baru pulang dari rumah sakit agak larut malam. Saat ia turun dari mobil, matanya tertuju pada selembar kertas merah yang tertempel di pintu utama. Tulisan di sana ditulis dengan tinta hitam tebal, hurufnya miring dan tajam seakan ditulis dengan penuh amarah:
“KEBAHAGIAAN KALIAN SUDAH TERLALU LAMA! WAKTUNYA MEMBAYAR SEMUA HUTANG DARAH YANG BELUM LUNAS! APA YANG KALIAN MILIKI SEKARANG ADALAH MILIK SAYA! SAYA AKAN AMBIL KEMBALI SEMUANYA, TERMASUK HAL YANG PALING BERHARGA DI HIDUP KALIAN! TUNGGU SAJA… MALAM INI ADALAH AWAL DARI KEHANCURAN KALIAN!”
Jantung Rian berdegup kencang, kertas itu terasa panas dan berat di tangannya. Ia langsung masuk ke dalam, membangunkan semua orang dan menunjukkan surat ancaman itu. Wajah semua orang langsung pucat pasi, kenangan buruk yang sudah lama hilang tiba-tiba kembali menyerbu masuk dengan kekuatan yang sama besarnya.
“Siapa yang berani kirim ini? Bukannya semua musuh kita sudah selesai dan dihukum?!” bentak Dimas marah, tangannya mengepal erat menahan amarah dan kekhawatiran.
“Ada yang belum selesai… ada yang masih bersembunyi di kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang,” kata Ain pelan, wajahnya penuh firasat buruk yang sangat kuat. “Saya merasa… ini bukan orang asing. Ini orang yang tahu segalanya tentang kita, tahu semua kelemahan kita, tahu semua rahasia kita.”
Belum sempat mereka bicara lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara jeritan panjang dari kamar Hamzah. Suara itu membuat darah mereka serasa berhenti mengalir. Rian dan Lira langsung berlari secepat kilat ke kamar anak mereka, diikuti yang lainnya.
Saat sampai di sana, mereka melihat jendela kamar terbuka lebar, tirai beterbangan ditiup angin, dan Hamzah… sudah tidak ada di tempat tidurnya. Di atas bantalnya tertinggal sebilah pisau tajam berlumuran darah sedikit, dan selembar kertas lain:
“TERIMA KASIH SUDAH BERIKAN SAYA HADIAH PALING INDAH! ANAK INI AKAN SAYA JADIKAN ALAT UNTUK MENGHANCURKAN KALIAN SATU PER SATU! JANGAN COBA LARI ATAU LAPOR POLISI… KALAU KALIAN LAKUKAN ITU, KALIAN AKAN MENEMUKAN MAYAT ANAK INI DI DEPAN PINTU KALIAN BESOK PAGI!”
Lira langsung jatuh pingsan di tempat, Rian memegang dinding dengan susah payah agar tidak ikut roboh, air matanya mengalir deras tanpa suara. Ain, Nova, dan Sari menangis tersedu-sedu, rasa sakit yang mereka rasakan kali ini jauh lebih parah daripada apa pun yang pernah mereka alami selama hidup. Mencabut anak atau cucu dari sisi mereka sama saja mencabut nyawa mereka sendiri.
“SIAPA YANG JAHAT SEPERTI INI?! KENAPA HARUS ANAK KECIL YANG TIDAK BERSALAH?!” teriak Dimas histeris, amarahnya membakar seluruh isi dadanya. “SAYA AKAN CARI DIA SAMPAI KE UJUNG DUNIA, SAYA AKAN BUAT DIA MENYESAL SUDAH BERANI SAKITI KELUARGA KITA!”
Malam itu mereka tidak tidur sama sekali. Mereka mencari ke seluruh penjuru rumah, halaman, dan sekitarnya, tapi tidak menemukan jejak apa pun. Orang yang menculik Hamzah sangat ahli dan cermat, tidak meninggalkan sedikit pun bukti atau petunjuk.
Saat matahari mulai terbit, mereka berkumpul di ruang tamu dengan wajah penuh kesedihan dan keputusasaan. Tiba-tiba Fatimah yang sejak tadi diam saja dengan wajah sangat pucat dan ketakutan, perlahan membuka mulutnya dengan suara gemetar.
“Saya… saya tahu siapa yang melakukan ini. Saya tahu siapa orang yang paling membenci kita semua, yang paling ingin melihat kita hancur dan menderita…” katanya pelan, membuat semua mata tertuju padanya.
“Siapa Bu Fatimah?! Katakan sekarang! Jangan sembunyikan apa pun lagi!” bentak Rian dengan suara parau, matanya merah padam karena marah dan sedih.
Fatimah menarik napas panjang, air matanya mengalir deras. “Dua puluh delapan tahun yang lalu… sebelum ayah ibumu kandung meninggal, ayahmu pernah punya sahabat karib yang sangat dekat, namanya Zulkarnain. Mereka seperti saudara sendiri, bekerja sama, saling bantu, tidak ada rahasia antara mereka. Tapi ternyata Zulkarnain pendendam dan serakah. Ia diam-diam mencintai ibumu, dan sangat iri hati melihat ayahmu hidup bahagia, kaya, dan dihormati semua orang. Ia merasa semua itu seharusnya miliknya.”
“Terus apa hubungannya dengan kecelakaan itu?” tanya Dimas tajam, firasat buruknya semakin kuat.
“Kecelakaan yang menimpa ayah ibumu… itu bukan kecelakaan biasa. Itu rencana jahat Zulkarnain. Ia yang merusak rem mobil mereka, ia yang mendorong mereka ke jurang, supaya ia bisa mengambil semua harta, nama baik, dan juga mendapatkan ibumu. Tapi rencananya gagal karena ibumu juga ikut meninggal, dan kamu Rian dibawa pergi oleh keluarga lain. Saat itu saya tahu kebenarannya, tapi Zulkarnain ancam akan bunuh seluruh keluarga saya kalau saya berani buka mulut, jadi saya terpaksa diam dan menyembunyikan semuanya sampai sekarang,” jelas Fatimah dengan suara terputus-putus.
“DI MANA DIA SEKARANG?!” teriak Rian keras, suaranya bergema di seluruh ruangan. “KITA PIKIR DIA SUDAH MATI ATAU PERGI JAUH, TERNYATA DIA MASIH HIDUP DAN SELAMA INI MENGAWASI KITA DARI KEGELAPAN!”
“Dia tidak pergi ke mana-mana,” jawab Fatimah dengan mata penuh ngeri. “Dia diam-diam tinggal di desa tidak jauh dari sini, menyamar sebagai orang biasa. Selama ini dia melihat kamu makin sukses, makin kaya, makin dihormati… sementara dia hidup miskin dan tidak ada apa-apa. Dendamnya makin membakar hati, dia bersumpah akan mengambil semua yang kamu miliki, dan menghancurkan semua orang yang kamu cintai sebagai balasan karena apa yang dia anggap sebagai ‘haknya’ yang diambil ayahmu dulu.”
Belum selesai Fatimah bicara, telepon di meja berdering keras dan tajam. Rian langsung menyambarnya dengan tangan gemetar.
“Halo… ini saya Rian! Di mana anak saya?! Kembalikan anak saya sekarang!” teriaknya langsung.
Suara berat dan dingin terdengar dari seberang, suara yang penuh kejahatan dan kepuasan yang mengerikan.
“Selamat pagi anak kecil. Akhirnya kita bicara juga. Kamu pasti sudah tahu siapa aku sekarang ya? Betul sekali… aku Zulkarnain, orang yang membunuh ayah ibumu, orang yang seharusnya jadi ayahmu, orang yang seharusnya punya semua harta dan kehormatan yang kamu nikmati sekarang!”
“KAU PENJAHAT! KAU PEMBUNUH! KEMBALIKAN HAMZAH SEKARANG! APA YANG KAU MAU DARI SAYA?! SAYA BERSEDIA BERIKAN SEMUANYA ASALKAN ANAK SAYA SELAMAT!” teriak Rian histeris, air matanya mengalir makin deras.
“Aku tidak mau uang atau harta kamu! Aku mau kamu merasakan rasa sakit yang sama seperti yang aku rasakan selama tiga puluh tahun ini! Aku mau kamu melihat orang yang paling kamu cintai menderita dan mati di depan matamu! Kalau kamu mau lihat anakmu hidup lagi, datanglah sendirian ke rumah tua di tengah hutan sebelah utara jam dua belas malam ini! Jangan bawa polisi, jangan bawa orang lain… kalau kamu langgar satu syarat saja, kamu akan dapat kepala anakmu dalam kotak besok pagi!” ancam Zulkarnain dingin, lalu sambungan telepon terputus seketika.