Alundra Kylie patah hati saat mengetahui Arsenio Ghaisan, cinta pertamanya, ternyata dijodohkan dengan sepupunya, Alora Eleandra.
Untuk melupakan cinta pertamanya itu, Alundra memutuskan untuk kembali ke luar negeri menyusul orang tuanya yang menetap di sana. Namun, saat perjalanan menuju bandara, Alundra tidak sengaja menabrak seseorang hingga mengalami koma.
Masalah kian rumit saat orang yang Alundra tabrak ternyata adalah kekasih Qireia Zhavara, seorang Nona kaya yang terkenal arogan.
"Aku akan mengampunimu, tapi dengan satu syarat, kamu harus menggantikanku menemui calon tunanganku. Kamu harus berpura-pura menjadi aku." Qireia Zhavara.
Apa yang akan terjadi, jika tunangan Qireia tahu Alundra menyamar sebagai Qireia?
Apa yang akan Alundra lakukan saat mengetahui tunangan Qireia ternyata dosen killer baru di kampusnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Apa sebaiknya aku beritahu Alora saja? Batin Roland.
Roland tidak menyukai sikap putrinya yang egois. Padahal biasanya Alora tidak pernah sekalipun menyakiti hati orang lain, terlebih lagi Alundra. Roland sangat tahu seberapa berartinya Alundra untuk Alora, putrinya itu begitu menyayangi Alundra, bahkan melebihi sayangnya pada Allano, adik kandungnya sendiri.
Namun, entah mengapa sikap Alora tiba-tiba berubah, seperti bukan Alora.
"Maksud Daddy apa?" Desak Alora. Rasa penasaran semakin menguasainya, tatkala melihat sang daddy tiba-tiba bungkam. "Apa Daddy tahu alasan sebenarnya Alora pergi?" Tanyanya lagi.
Roland tetap mengunci rapat mulutnya. Ia tidak ingin ucapannya berimbas buruk pada hubungan Alora dan Alundra nantinya. Lagipula ia belum memastikan sendiri jika pernyataan Ardy itu benar adanya, bisa saja hanya akal-akalan Ardy saja.
Sebaiknya aku tidak mengatakannya dulu, sebelum aku memastikannya sendiri, gumam Roland dalam hati.
Walaupun dugaannya sangat yakin, tapi Roland tidak ingin gegabah. Ia tidak ingin satu kalimat yang keluar dari mulutnya menghancurkan keluarganya.
"Daddy tidak tahu pasti penyebabnya, tapi kamu harusnya tahu bagaimana perasaan Alundra. Walaupun Alundra sendiri yang mengakhiri hubungannya dengan Arsen, tapi apa kamu tega membuat Alundra sedih?"
Roland berusaha menyadarkan putrinya. Ia tidak ingin hubungan Alora dan Alundra hancur berantakan hanya gara-gara Arsenio. Jika mengikuti logikanya, Roland justru tidak ingin Alora dan Arsenio bersatu.
"Tapi, Dad---"
"Daddy mengerti perasaan kamu, sangat mengerti. Tapi demi kebaikan kita semua, Daddy minta kamu bersabar. Tunggu waktu yang tepat."
Roland mengusap surai putri kesayangannya itu dengan lembut, ia berharap putrinya itu luluh dan mau mempertimbangkan lagi keputusannya. Roland sendiri belum paham apa sebenarnya yang Alora pikirkan. Namun, dari tatapan Alora ia bisa melihat, ada banyak ketakutan di sana.
Alora menundukkan wajahnya, ia tidak lagi membantah ucapan Daddynya. Apa yang Daddynya katakan memang benar, tidak seharusnya ia buru-buru mengambil keputusan, apalagi di saat emosi.
Kalau aku harus menunggu, aku akan semakin kehilangan Kak Arsen. Aku harus mencari cara supaya Daddy mau mengabulkan keinginanku, gumam Alora dalam hatinya.
Alora sendiri menyadari sikapnya sangat egois dan mungkin akan menyakiti Alundra. Tapi ia melakukan semua ini karena tidak ingin kehilangan Arsenio. Karena cepat atau lambat Arsenio pasti menyadari perasaannya. Sebelum itu terjadi, Alora harus membuat Arsen menjadi miliknya.
Maafkan aku, Lundra. Batin Alora.
"Kenapa tidak bilang saja ini perjodohan?" Cletuk Alora. "Alundra pasti akan mengerti," tambahnya lagi.
"Maksud kamu---"
"Saya setuju dengan Alora," potong Ardy. " Bilang saja aku yang menjodohkan Arsenio dengan Alora. Lagipula, hubungan Alundra dan Arsenio sudah berakhir, jadi, tidak ada salahnya, kan?"
Roland mengepalkan tangannya. Ia tidak suka dengan ucapan Ardy yang terkesan memaksa.
"Aku sudah bilang, tunggu waktu yang tepat. Apa kalian tidak mengerti?" Geram Roland.
Roland sangat kecewa pada Alora dan juga Ardy. Keduanya seperti kompak mengeroyoknya. Dan di saat seperti ini ia sangat membutuhkan Allano. Putranya itu selalu bisa diandalkan, namun sayangnya, Allano tidak berada di dekatnya. Putranya itu sedang pergi menyusul Alundra.
Saat mengetahui Alundra pergi tanpa pamit, Allano memutuskan untuk menyusulnya. Kebetulan, saat itu Kalandra baru saja tiba dari Paris, keduanya pun sama-sama pergi menemui Alundra bersama-sama.
"Aku mengerti, Dad. Tapi, aku takut," lirih Alora.
Pada akhirnya, Alora memilih untuk mengatakan kekhawatirannya. Dengan begini, ia berharap Daddynya mau mengabulkan keinginannya.
"Apa yang kamu takutkan? Bukankah kamu bilang, Arsenio sangat mencintaimu? Harusnya tidak masalah, Daddy yakin dia akan paham."
Masalahnya, yang aku takutkan itu Kak Arsen lebih dulu menyadari perasaannya pada Alundra, gumam Alora dalam hati.
Wanita itu hanya mampu mengatakannya dalam hati. Andai Roland tahu alasan yang sebenarnya, Alora yakin, selamanya daddynya itu tidak akan merestui hubungannya dengan Arsenio.
...----------------...
"Huh... akhirnya aku selamat," ucap Alundra sambil mengusap-usap dadanya.
Setelah terjebak oleh perkataan Sabiru, wanita cantik itu akhirnya bisa bernapas lega karena bisa terbebas dari pria dingin dan menakutkan itu.
"Semoga aku tidak bertemu lagi dengan kulkas 12 pintu itu," gumamnya lagi.
Alundra tidak menyangka, fakta tentang Sabiru yang pernah ia baca dalam surat kabar, ternyata semuanya palsu. Pria tampan yang dikabarkan sangat ramah dan humoris itu, nyatanya bertolak belakang dengan sikapnya yang sesungguhnya.
Menurut Alundra, Sabiru sangat dingin dan mudah tersinggung. Sangat bertolak belakang dengan Alundra yang hangat dan selalu ceria.
Alundra tidak pernah tahu, ada alasan di balik sikap dingin Sabiru. Pria tampan itu dulu memang sangat ramah dan pandai menghidupkan suasana. Akan tetapi, setelah kepergian kekasihnya beberapa tahun silam, sikapnya berubah drastis.
Sabiru yang ramah, Sabiru yang selalu berisik, seolah ikut bersama kepergian sang kekasih. Tak ada lagi tawa Sabiru yang selalu menghibur, tak ada lagi celetukan pria tampan itu yang selalu berhasil mengocok perut. Yang tersisa hanyalah pria dingin tak berhati, tak berperasaan.
"Hai, aku Nafisa."
Seorang wanita cantik duduk menghampiri Alundra yang duduk di kursi paling pojok. Setelah memperkenalkan diri, Alundra sengaja mengambil tempat duduk yang tidak mencolok supaya tidak menjadi pusat perhatian.
Namun tetap saja, kecantikan Alundra selalu menjadi sorotan. Tidak hanya pria saja yang enggan mengalihkan tatapannya, para wanita pun sangat kagum oleh kecantikan seorang Alundra.
"Hai, aku Alundra."
Alundra membalas uluran tangan Nafisa sambil tersenyum. Senyuman tipis, namun mampu menggetarkan hati seorang pria yang duduk tak jauh dari Alundra.
"Katanya hari ini ada dosen baru," ucap Nafisa.
Nafisa terkenal dengan sikap ceplas-ceplosnya. Wanita itu juga dijuluki lambe turah kampus. Itu karena, Nafisa selalu menjadi orang pertama yang tahu berbagai gosip di kampusnya.
Alundra hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Nafisa. Ia baru masuk kampus hari ini, dosen lama ataupun baru menurut Alundra sama saja, karena ia sama-sama belum mengenalnya.
Tidak lama kemudian, seorang dosen masuk ke dalam ruangan diikuti seorang pria gagah di belakangnya.
"Selamat pagi, semuanya! Kenalkan, beliau adalah Pak Sabiru Arzen Ardeo. Kalian pasti sudah tahu, kan?"
Semua mahasiswa bersorak, tentu saja karena di hadapan mereka adalah Sabiru Arzen Ardeo. Seorang pengusaha terkenal dan saat ini begitu digandrungi.
Sosoknya yang tampan acapkali membuat para mahasiswi berteriak histeris. Kecuali, wanita cantik yang duduk di pojok sana. Sejak kedatangan dua orang di depan sana, Wajahnya berubah pucat.
"Mulai hari ini Pak Sabiru akan mengajar mata kuliah bisnis manajemen menggantikan saya," ucap dosen bernama Pak Rama itu.
Semua mahasiswa bersorak, tidak sabar menantikan pelajaran dari sosok pengusaha sukses itu.
Yaa Tuhan... cobaan apalagi ini, batin Alundra.
Namun, tidak dengan Alundra, wanita cantik itu justru tampak tidak suka. Bibirnya mencebik, wajahnya memberengut saat menatap dosen barunya di depan sana. Bahkan, Alundra langsung memalingkan wajahnya saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan tatapan dosen baru itu.
Kenapa wajahnya sangat menggemaskan, apa dia sengaja menggodaku?
Tidak ada yang tahu, Sabiru diam-diam tersenyum tipis, sangat tipis sampai tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.
To be continued
sementara alundra sedang berada diambang menuju ke move on an dari arsenio karena dia GK bakal sempet mikirin masa lalu kalo udh mulai dipepet SM pk dosen 🤣
ayo pk dosen jerat pak jerat biar alundra cepet move on dari si kadal buntung itu 🤣
ayo land bilang ke anakmu itu sebabnya krna alundra udh tau kebohongan mereka gtu 🙄