NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:375k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 - Dokter Hadi

Nama Prof. Hadi Santoso pertama kali muncul dari Nadia.

Mereka sedang membahas laporan Bimo ketika Nadia tiba-tiba menaruh satu map lain di meja apartemen Alina.

"Ada sesuatu yang mungkin bisa menjadi penting."

Alina mengangkat alis. "Soal Bimo?"

"Bukan. Soal Vania."

Alina membuka map itu.

Di dalamnya ada salinan artikel medis, profil dokter, dan catatan singkat tentang sebuah pusat riset swasta di Bogor. Nama Prof. Hadi Santoso tercetak di halaman pertama.

Kertas-kertas itu tidak terlihat seperti senjata. Tidak ada kata kasar di sana, tidak ada foto memalukan, tidak ada tangkapan layar yang bisa membuat orang berteriak di kolom komentar. Namun bagi Alina, map itu lebih tajam daripada semua unggahan gosip.

Selama ini semua orang meminta ia percaya pada air mata. Untuk pertama kalinya, ia ingin meminta mereka percaya pada laboratorium, dokter, dan angka yang tidak bisa pura-pura lemah.

Jika Vania benar, pemeriksaan itu akan menolongnya. Jika Vania salah, pemeriksaan itu akan menolong semua orang berhenti dibodohi.

Ahli imunologi dan terapi penyakit langka.

Konsultan beberapa rumah sakit internasional.

Pemilik laboratorium riset herbal-modern yang sangat tertutup.

Alina membaca cepat. "Apa hubungannya dengan Vania?"

"Penyakit yang disebut Vania di beberapa unggahan publik termasuk jenis yang pernah ditangani Prof. Hadi. Bukan selalu sembuh total, tapi bisa dikontrol. Saya punya kenalan pasien lama beliau."

"Lalu?"

"Kalau Vania benar-benar sakit seperti klaimnya, Prof. Hadi mungkin bisa memberi second opinion. Kalau tidak, kita akan tahu."

Alina menatap dokumen itu.

Selama ini penyakit Vania menjadi dinding yang tidak boleh disentuh. Setiap kali Alina bertanya, ia disebut kejam. Setiap kali ia terluka, semua orang berkata Vania lebih menderita.

Bagaimana jika dinding itu punya pintu?

"Apa beliau mudah ditemui?"

Nadia tertawa pendek. "Tidak. Sangat sulit. Tapi..."

"Tapi?"

"Damar mengenal cucu beliau."

Alina memejamkan mata sebentar. "Tentu saja."

"Aku tidak bermaksud mendorongmu meminta bantuan Damar."

"Tapi kamu tahu itu jalan tercepat."

"Ya."

Alina menatap map.

Ia tidak ingin bergantung pada Damar. Tidak ingin setiap langkah keluarnya dari rumah Adrian tampak ditopang pria lain. Tapi ia juga tidak bodoh. Jika ada cara membongkar kebenaran Vania, ia harus mempertimbangkannya.

"Aku akan bicara dengannya," kata Alina.

*****

Damar mendengar penjelasan Alina malam itu tanpa banyak ekspresi.

Mereka duduk di kedai kopi kecil dekat apartemen, sementara Nara mengikuti kelas menggambar di lantai atas. Alina membawa map Prof. Hadi, menyiapkan diri untuk menjelaskan panjang.

Namun Damar hanya berkata, "Aku bisa menghubungi keluarga Hadi."

Alina terdiam. "Semudah itu?"

"Tidak semudah itu. Tapi bisa dicoba."

"Aku tidak ingin merepotkan."

"Kamu sudah mengatakan itu beberapa kali sejak kita kenal."

"Karena aku serius."

"Aku tahu."

Damar menatapnya. "Membantu bukan selalu berarti mengikat. Kalau aku suatu hari menggunakan bantuan ini untuk memintamu melakukan sesuatu, kamu boleh menamparku."

Alina hampir tersedak kopi.

"Aku tidak suka kekerasan."

"Baik, lempar kopi. Tapi jangan panas."

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Alina tertawa tanpa rasa bersalah.

Damar tersenyum kecil, lalu mengambil ponselnya. "Aku akan minta pertemuan, tapi Prof. Hadi terkenal sulit. Dia tidak suka pasien yang datang karena drama keluarga."

"Ini memang drama keluarga."

"Tapi ada aspek medis dan hukum."

"Dan mungkin kebohongan."

Damar mengangguk. "Itu yang menarik."

Ponsel Alina bergetar.

Adrian.

Ia menatap layar, lalu mengangkat karena Nadia memintanya tidak mengabaikan semua komunikasi terkait Arka.

"Ada apa?"

Suara Adrian terdengar lelah. "Bimo akan meminta maaf."

"Kepada siapa?"

"Kepadamu."

"Lewat pengacara."

"Alina."

"Aku tidak mau bertemu dengannya."

"Baik."

Jawaban itu terlalu cepat. Alina sedikit terkejut.

Adrian melanjutkan, "Aku juga akan memastikan dia tidak mendekatimu lagi."

"Terima kasih."

Ada jeda.

"Arka bertanya apakah akhir pekan ini bisa bertemu langsung."

Alina menatap Damar sebentar, lalu berkata, "Sesuai jadwal, Sabtu depan."

"Dia kecewa."

"Aku tahu."

"Dia sakit."

"Tangannya retak, bukan alasan untuk mengubah semua batas."

Adrian diam.

"Aku tidak sedang menghukumnya," kata Alina. "Aku sedang membangun jadwal yang bisa dia percaya. Kalau setiap kali dia menangis jadwal berubah, dia belajar menangis untuk mengontrol orang."

Di seberang, Adrian menarik napas. "Kamu terdengar seperti psikolog."

"Aku terdengar seperti ibu yang terlambat belajar."

Kalimat itu membuat Adrian diam lebih lama.

Lalu ia berkata, "Vania ingin meminta maaf."

Alina menutup mata.

Damar melihat perubahan wajahnya, tapi tidak menyela.

"Untuk apa?"

"Karena Arka jatuh. Karena unggahan-unggahan itu."

"Bagus. Dia bisa menulis surat dan mengirim lewat pengacara."

"Semua harus lewat pengacara?"

"Selama kalian memakai air mata sebagai alat komunikasi, ya."

Adrian tidak menjawab.

Alina hendak menutup, tapi ia teringat map Prof. Hadi.

"Adrian."

"Ya?"

"Kalau kamu benar-benar ingin membantu Vania, ajak dia second opinion ke Prof. Hadi Santoso."

Di seberang, sunyi.

"Kamu tahu Prof. Hadi?"

"Saya tahu beliau menangani penyakit langka."

"Vania sudah punya dokter."

"Kalau kondisinya separah yang kalian katakan, second opinion tidak merugikan."

Adrian berkata pelan, "Kenapa kamu peduli?"

Alina menatap kopi di depannya.

Pertanyaan itu menarik.

Apakah ia peduli pada Vania?

Tidak.

Ia peduli pada kebenaran.

"Karena selama ini penyakitnya digunakan untuk membenarkan semua hal. Kalau memang benar, kita semua tahu batas medisnya. Kalau tidak, kita juga tahu."

Adrian memahami maksudnya.

Suaranya menjadi dingin. "Kamu curiga dia berbohong soal sakit?"

"Aku curiga semua hal yang tidak boleh diperiksa."

Telepon berakhir beberapa detik kemudian.

Damar menatapnya. "Kamu langsung menusuk."

"Terlalu cepat?"

"Tidak. Tepat."

Alina menyesap kopi. Tangannya sedikit dingin, tapi pikirannya jernih.

Jika Vania benar-benar sakit, ia akan mendapatkan dokter yang tepat.

Jika Vania berbohong, topengnya akan retak.

Dalam dua kemungkinan itu, Alina tidak kalah.

*****

Adrian berdiri di balkon rumahnya setelah telepon itu.

Nama Prof. Hadi bukan nama yang bisa disebut sembarangan. Pria itu terkenal nyentrik, menolak banyak pasien kaya, dan hanya menerima kasus yang menurutnya menarik secara medis.

Adrian pernah mencoba menghubunginya untuk Ratna, tapi gagal.

Sekarang Alina menyebut nama itu dengan tenang.

Dari mana ia tahu?

Damar?

Pikiran itu membuat dadanya panas.

Vania masuk ke balkon sambil membawa selimut. "Adrian, udara malam dingin."

Ia hendak menyampirkan selimut ke bahu Adrian, tapi pria itu mundur sedikit.

Gerakan kecil.

Cukup membuat Vania berhenti.

"Ada apa?"

"Alina menyarankan second opinion ke Prof. Hadi."

Wajah Vania berubah.

Sangat cepat.

Terlalu cepat.

"Prof. Hadi?"

Adrian menatapnya. "Kamu tahu?"

"Aku pernah dengar. Dokter itu... sulit."

"Sulit bukan berarti tidak mungkin."

Vania menunduk. "Adrian, aku sudah lelah dengan pemeriksaan. Setiap dokter menanyakan hal yang sama. Setiap hasil membuatku takut."

"Kalau dia bisa membantu?"

"Bagaimana kalau dia tidak bisa? Bagaimana kalau dia bilang waktuku memang tidak banyak?" Air matanya mulai jatuh. "Aku tidak sanggup mendengar itu dari dokter lain."

Dulu, Adrian akan memeluknya.

Malam ini, ia tidak bergerak.

"Vania, kalau kamu sakit, kita cari cara terbaik."

"Aku tahu. Tapi kenapa sekarang? Karena Alina menyuruh? Jadi kamu lebih percaya kecurigaannya daripada perasaanku?"

Adrian menatapnya.

Pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan yang dikenalnya.

Jika ia meminta bukti, berarti ia tidak menyayangi.

Jika ia bertanya, berarti ia menyakiti.

Lima tahun, ia memakai logika itu pada Alina tanpa sadar.

Sekarang logika yang sama diarahkan padanya.

"Ini bukan soal percaya Alina," kata Adrian. "Ini soal memastikan kamu mendapat perawatan terbaik."

Vania menangis lebih keras. "Aku merasa diinterogasi."

"Tidak ada yang menginterogasi."

"Ada. Alina. Pengacaranya. Internet. Sekarang kamu."

Adrian diam.

Vania melangkah mundur. "Kalau keberadaanku membuat semua orang curiga, mungkin aku memang harus pergi."

Ia berbalik, berharap Adrian menahannya.

Namun Adrian hanya berkata, "Besok aku akan mencoba menghubungi Prof. Hadi."

Langkah Vania berhenti.

Untuk pertama kalinya, air matanya gagal menghentikan keputusan Adrian.

Dan di tempat lain, Alina belum tahu bahwa satu nama dokter telah membuat retakan pertama yang nyata di benteng Vania.

1
Fi Fin
tadinya ku berharap lina jadian sama damar eeeee tau2 hamil anak riven makin ga jelas ceritanya
Emily
Dulu merasa berkuasa dan berfikir Alina gak akan melawan..
ternyata di luar ekspektasi
Emily
Adrian mau aja di goblokin vania
Runi Hardaningsih
cape baca nya, tapi benar benar benar
Santi Seminar
kapan bikinnya woy,belum nikah pula🤔
Santi Seminar
katanya kata2 adalah doa,kapan kata2 Vania terkabul tidak akan melihat dunia lagi
Santi Seminar
ini kapan Vania nya kena karma ,sih aman2 wae wong iku😡
Santi Seminar
lha Bimo Kuwi sopo Jan jane
An'ra Pattiwael
biar zj vania mampus
Yati Syahira
rasain sekaran andrian ,lakor zerta cs mulai kalang kabut
Yati Syahira
rasain lakor
Yati Syahira
bagus alina
Yati Syahira
korban dari seorang laki yg arogan dan lakor licik
Yati Syahira
pelakor licik lakinya murahqn
Yati Syahira
rasain laki egois demi lakor
Yati Syahira
lakor licik mainin peran
Yati Syahira
lakor jahat lakinya bodoh
Yati Syahira
jijik lihat pasangan munafik ,alina sdh tepat amvil langkah
Yati Syahira
jijik ama adrian
Yati Syahira
jgn luluh alina cuma di jadiin babu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!