Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posisi
Setelah hampir seharian tak melihat Ara maupun Lusi, akhirnya kedua gadis itu kini ada di rumah. Pantas saja sejak siang tak terlihat, rupanya mereka berdua diajak Ambu jalan-jalan. Kata Ambu sih buat misahin Ara sama Abah, soalnya kalo nggak salah satu yang diajak pergi bakal ribut terus. Ara yang cenderung nggak terima kenapa perkara orang tua mereka yang ribut jadi dirinya yang tak boleh berteman? sedangkan Abah? tentu teguh dengan keputusannya.
"Papi, Uci abis mewarnai nih. Bagus nggak, Pi? Lusi memamerkan gambarnya yang jauh dari kata bagus.
"Wah luar biasa, Uci. Keren, lain kali kita pergi mewarnai bareng yah." Pujinya yang membuat Lusi senang. Gadis kecil itu lantas pergi ke Aki Dikun untuk pamer juga.
Setelah Lusi pergi, Ziano beranjak menghampiri Ara yang duduk di kursi samping warung sambil memakan cimol dengan level pedas yang kelewat pedas mungkin karena warnanya begitu merah.
"Jajan nggak ajak-ajak." ucap Ziano basa-basi sambil duduk di samping Ara.
Tanpa suara, Ara malah menyodorkan cimol kepada Ziano.
"Nggak, makasih. Nggak kuat pedes." tolak Ziano.
"Kirain nggak bisa makan kayak ginian, takut bisa mati." balas Ara, cuek.
Ziano memutar bola matanya, jengah. Rasanya telingannya sudah terlalu bosan mendengar kalimat itu. Perempuan emang gitu yah, salah ngomong sekali aja bakal diulang berkali-kali, pikirnya.
"Nggak usah diungkit terus kali. Sekarang udah terbiasa sama makanan disini." tegas Ziano.
"Btw, maaf soal tadi yah. Kalo gue bikin lo sama Aki jadi ribut." lanjutnya so empati, padahal dalam hati bodo amat, itu bukan urusannya. Hanya saja berkaitan dengan tugas baru yang diberikan Aki, dirinya perlu membangun chemistry yang baik dengan Ara. Harusnya tak terlalu sulit, ia sudah terbiasa menjaga Jeli di rumah. Malah mungkin lebih mudah karena Ara cenderung dewasa dibanding adiknya yang super manja. Minus dirinya harus jadi babu aja kalo disini.
"Nggak apa-apa, A." jawab Ara, lirih.
Ara nampak menghela nafas panjang, "maafin aku juga."
Ziano balas tersenyum. Sesuai dugaannya, gadis ini memang lebih dewasa dari adiknya.
"Harusnya tadi aku nggak marah-mara sama Aa. Gimana pun A Ano nggak tau apa-apa. Aa cuma jawab sesuai apa yang Aa tau. Maaf yah, A..."
Ziano makin salut mendengarnya. Meminta maaf itu hal yang hebat tapi mengakui kesalahan sendiri dan tak menyalahkan orang lain merupakan hal yang luar biasa. Kebanyakan anak seusia Ara mungkin alih-alih minta maaf kadang mereka akan menolak sadar jika dirinya salah dan tetap mencari pembenaran dengan cara menyalahkan orang lain, ataupun alasan lain yang bisa memvalidasi jika kesalahannya pun atas dasar tertentu sehingga dirinya tak mutlak bisa disalahkan.
"Nggak apa-apa, santai aja sama gue mah." jawab Ziano.
"Jujur tadi gue bingung juga sih. Tiba-tiba Aki main bentak aja, lo juga nggak kalah tinggi ngomongnya." lanjutnya.
Ara hanya tersenyum malu karena hari ini bertambah satu orang lagi yang tau sifat buruknya, selain Yudi tentunya. Marcelino, meskipun dekat tapi ia tak pernah menunjukan sedikit pun kekurangan di mata lelaki itu. Pokoknya jangan sampai deh.
"Kalo lo nggak keberatan, anggap aja gue ini sebagai kakak lo." Awalnya males, lama-lama kasihan juga melihat Ara yang tampak tak punya tempat untuk berbagi cerita.
"Kebetulan di rumah gue juga punya adek yang mungkin seusia sama lo, sama-sama kelas dua belas. Bedanya dia SMA, lo SMK. Dia manja, lo-" Ziano menggantung kalimatnya.
"Aku kenapa A?"
"Lo lumayan mandiri. Mungkin karena dia bisa dapat apa-apa dengan mudah jadi manja banget."
"Karena anak orang kaya raya?" sela Ara. Ia ingat betul karena Ziano sering ngaku-ngaku kaya.
Ziano tersenyum, "gue nggak mau bahas keluarga gue lah. percuma, lo nggak bakal percaya. Bisa-bisa nganggap gue mau nipu lagi. Cape gue dianggap penipu mulu!"
"Sebenernya sih bisa aja, sekarang gue nelpon bokap terus nyuruh orang jemput kesini. Tapi berhubung gue udah terlanjur nyemplung sama kehidupan yang unik ini, jadi gue udah mutusin mau disini dulu beberapa waktu. Lumayan, pengalaman nyari duit sendiri. Banyak hal baru yang gue temuin, bahkan gue jadi tau kalo ternyata makanan yang kelihatannya nggak seberapa pun ternyata seenak itu."
"Tuh kan lo ketawa!" Ziano menyikut lengan Ara, padahal dirinya sedang serius membahas betapa banyaknya perubahan yang perlahan mulai ia terima disini.
"Lo pasti nganggap gue mau nipu lagi kan?" lanjutnya.
Ara langsung menahan tawanya, "maaf, abisnya Aa tuh ceritanya lancar banget. Pasti udah biasa yah nipu pake modus ginian."
"Kalo Aa beneran orang kaya mah nikahin aja aku lah A, biar bisa manja-manja terus apa pun yang aku mau langsung diturutin nggak pake nanti, apalagi harus usaha dulu." lanjutnya sambil terbahak.
"Nggak deh, makasih. Nggak siap punya mertua kayak Aki." balas Ziano.
"Lagian aku juga nggak mau nikah sama Aa. Nggak bisa ngapa-ngapain."
"Bukan nggak bisa apa-apa, lo aja yang belum tau." tegas Ziano, "udahan bahas soal gue nya. Kita balik topik utama aja."
"Topik anaknya bi Adah, A?"
"Elah! gue serius ini, Ra!"
"Iya, maaf."
"Soal tadi, kalo lo nggak keberatan, bisa lo ceritain semua. Soalnya mulai sekarang gue ada tugas baru. Bukan cuma ngasuh Lusi tapi harus ngasuh Tebi nya juga."
Ara menunjuk dirinya sendiri,"aku?"
"Emang Tebi nya Uci siapa lagi selain lo?"
"Ya cuma aku sih. Tapi kan aku udah gede ngapain juga diasuh."
"Bukan diasuh kayak Uci. Lebih ke mastiin lo nggak bareng Marcel sih." jelas Ziano.
Ara menghela nafas panjang, "udah aku duga."
"Makanya disini biar sama-sama enak, gue harus tau titik masalah kayak gimana. Kalo perlu dari awal mulanya. Supaya gue jelas harus memposisikan diri seperti apa. Masa iya gue harus nahan-nahan bocah seusia lo buat nggak ketemu dia. Kalian sama-sama udah gede pasti punya banyak cara buat ketemu diam-diam."
"Aku mau cerita tapi ada syaratnya!"
"Asal lo nggak minta duit aja deh, gue kagak ada."
"Itu mah aku juga udah tau, A." balas Ara, "aku mau cerita asal jelas dulu nih posisinya. A Ano pro aku apa Abah?"
"Gue pro sama yang bayarannya lebih tinggi aja deh kalo gitu." ledek Ziano, "bercanda. Gue nggak pro mana pun. Gue harus denger cerita keseluruhan dulu." ralatnya cepat.
"Ah nggak mau kalo gitu. Nggak ada jaminan." tolak Ara.
"Intinya aku sama Marcel yang anak-anak tapi malah orang tua kita yang sikapnya kekanak-kanakan!" lanjutnya dengan wajah murung kemudian pergi begitu saja. Cimolnya yang masih sisa setelah plastik saja ditinggal.
Ziano jadi mikir keras sambil mengulang kalimat Ara, "Intinya aku sama Marcel yang anak-anak tapi malah orang tua kita yang sikapnya kekanak-kanakan!"
Ziano menggaruk rambutnya yang tak gatal, "inti macam apa itu. Nggak paham gue. Bapaknya nggak cerita apa-apa, anaknya juga sama. Gimana gue bisa ngejalanin tugas kalo kayak gini?"
Jadi salah sangka deh semua gara2 Marcel
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣