NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan untuk Elena

​V berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pusat perbelanjaan paling mewah di Neovault. Ia memutar-mutar sebuah ponsel sekali pakai di tangannya, sementara layar di depannya menampilkan profil Elena yang sedang sibuk berbelanja. Aroma parfum mawar yang mahal seolah terbayang di benak V, aroma yang selalu Elena gunakan untuk menarik perhatian Arlan.

​"Semuanya sudah siap, Paman. Agen properti gadungan kita sudah berada di posisinya untuk menghubungi wanita rakus itu," ujar V dengan nada suara yang tenang.

​Nelayan tua itu memeriksa sambungan telepon yang telah dienkripsi agar tidak bisa dilacak oleh tim keamanan Arlan. "Elena sedang berada di butik perhiasan sekarang. Ini waktu yang tepat karena hormon adrenalinnya sedang tinggi akibat belanja."

​V segera menekan tombol hijau pada panel kontrol, memerintahkan bawahannya untuk memulai drama penipuan ini. "Pastikan dia merasa ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk memiliki aset pribadi tanpa sepengetahuan Arlan. Elena tidak akan pernah menolak kemewahan."

​Di seberang sana, Elena sedang mencoba sebuah kalung berlian saat ponsel pribadinya bergetar di dalam tas bermereknya. Ia mengerutkan kening sejenak sebelum mengangkat panggilan dari nomor yang tidak ia kenali namun terlihat sangat eksklusif. "Halo, dengan siapa saya berbicara dan dari mana Anda mendapatkan nomor pribadi saya?"

​"Selamat siang, Nyonya Valeska. Saya dari agensi properti Prime Horizon, mohon maaf mengganggu waktu berharga Anda," jawab suara di telepon dengan nada sangat profesional.

​Elena segera menjauh dari pelayan butik agar pembicaraannya tidak terdengar oleh orang lain yang mungkin mengenalinya. "Properti? Saya tidak sedang mencari rumah baru, Arlan sudah memberikan semua yang saya butuhkan di pusat kota."

​Suara di telepon itu terkekeh pelan, sebuah tawa yang telah dilatih untuk terdengar sangat meyakinkan bagi orang kaya. "Ini bukan sekadar rumah, Nyonya. Ini adalah sebidang tanah di pesisir utara yang baru saja dilepas oleh kolektor rahasia karena krisis likuiditas."

​Elena terdiam, matanya mulai berbinar saat mendengar kata kolektor rahasia dan pesisir utara yang sangat prestisius. "Berapa harganya? Dan mengapa Anda menawarkan ini kepada saya, bukan langsung kepada suami saya, Tuan Arlan?"

​V yang mendengarkan melalui penyadap tersenyum sinis di balik topeng ketenangannya saat mendengar keraguan Elena mulai terkikis. "Katakan padanya bahwa ini adalah aset eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi wanita dengan selera tinggi," bisik V pada mikrofon komando.

​"Pemiliknya ingin transaksi ini bersifat sangat privat dan cepat, Nyonya. Jika Arlan terlibat, birokrasi perusahaan akan memperlambat segalanya," jawab agen itu sesuai instruksi V.

​Elena menggigit bibir bawahnya, ia membayangkan betapa bangganya ia jika memiliki aset raksasa atas namanya sendiri tanpa campur tangan Arlan. "Kirimkan detailnya ke email pribadi saya sekarang juga. Jika tempat itu sesuai dengan selera saya, kita bisa bicara lebih lanjut."

​V melihat notifikasi bahwa email berisi brosur digital palsu telah terkirim dan segera dibuka oleh Elena di dalam butik tersebut. Di dalam brosur itu, terdapat foto-foto manipulasi AI tentang sebuah resor mewah yang sebenarnya hanyalah tanah rawa tidak berharga. Bau kertas baru dan aroma kemewahan digital seolah membius pikiran Elena yang memang haus akan validasi sosial.

​"Dia sudah memakan umpannya, Paman. Lihat bagaimana matanya tidak lepas dari layar ponselnya sekarang," ujar V dengan kepuasan dingin.

​Nelayan tua itu menggelengkan kepala melihat betapa mudahnya wanita itu terpedaya oleh visual kemewahan yang palsu. "Keserakahan memang membutakan logika. Dia bahkan tidak memeriksa keaslian sertifikat digital yang kau lampirkan di sana."

​V melangkah menuju meja kerjanya dan mulai memantau arus kas perusahaan Arlan yang bisa ia akses melalui celah keamanan. "Arlan sedang sibuk mengurus kerugian logistik, dia tidak akan menyadari jika Elena menarik dana darurat perusahaan untuk membeli sampah ini."

​Di butik, Elena tampak sangat terburu-buru menyelesaikan pembayarannya dan segera melangkah keluar menuju mobil jemputannya dengan wajah berseri. "Hubungi saya lagi dalam satu jam. Saya akan menyiapkan dana muka agar aset itu tidak jatuh ke tangan sosialita lain."

​Panggilan berakhir, dan V segera memberikan instruksi kepada timnya untuk menaikkan harga penawaran agar Elena merasa aset itu sangat diperebutkan. "Berikan tekanan sedikit lagi. Katakan ada istri menteri yang juga sedang menawar tanah rawa tidak berguna itu."

​"Nyonya Elena, mohon maaf, ada pihak lain yang baru saja menaikkan tawaran mereka sebesar sepuluh persen dari harga awal," lapor agen itu kembali menelepon.

​Elena yang sudah berada di dalam mobil mewah Arlan tampak panik dan langsung memukul jok kulit mobilnya dengan kesal. "Berani sekali mereka! Saya akan membayar dua puluh persen lebih tinggi sekarang juga, asalkan kontraknya ditandatangani sore ini!"

​V tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar menyeramkan di dalam ruangan apartemennya yang sunyi dan gelap. "Dia benar-benar bodoh. Dia akan menghabiskan hampir lima puluh juta dolar milik Arlan untuk sebidang tanah yang bahkan tidak bisa dibangun gubuk."

​"Apakah Arlan tidak akan mencarinya jika uang sebanyak itu hilang dari rekening cadangan operasional?" tanya nelayan itu dengan nada sangsi.

​V menggelengkan kepala sambil terus mengetik kode untuk mengaburkan transaksi perbankan yang akan dilakukan oleh Elena nanti. "Aku sudah menyiapkan skema pencucian uang yang akan membuat transaksi ini terlihat seperti biaya promosi luar negeri yang gagal."

​Beberapa jam berlalu, dan Elena terlihat memasuki sebuah kantor mewah yang disewa V hanya untuk satu hari di distrik bisnis utama. Bau ruangan yang masih baru dan aroma pengharum ruangan lemon menyambut kedatangan Elena yang tampak sangat angkuh dengan kacamata hitamnya. Agen gadungan itu membungkuk hormat, menyambut mangsa yang sudah masuk ke dalam perangkap dengan sempurna.

​"Silakan ditandatangani di sini, Nyonya Valeska. Setelah ini, aset di pesisir utara itu akan sepenuhnya menjadi milik pribadi Anda," ujar agen itu ramah.

​Elena tanpa ragu membubuhkan tanda tangannya di atas tablet digital, merasa dirinya baru saja naik kasta menjadi pengusaha properti mandiri. Ia segera melakukan transfer dana dari akun rahasia perusahaan Arlan yang selama ini ia kelola untuk kebutuhan gaya hidupnya. Angka nol yang banyak berpindah dari rekening Arlan menuju rekening penampungan yang dikelola oleh V.

​"Terima kasih atas kerja samanya. Anda adalah wanita paling visioner yang pernah saya temui di kota ini," puji agen itu sambil tersenyum palsu.

​Elena keluar dari kantor itu dengan kepala tegak, tidak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan peluru bagi V untuk menghancurkan Arlan. Ia masuk ke mobilnya dengan perasaan menang, membayangkan bagaimana ia akan memamerkan aset barunya itu pada pesta sosialita minggu depan. Arlan pasti akan marah, tapi Elena yakin ia bisa merayunya setelah aset itu terbukti menguntungkan.

​Di markas V, layar monitor menunjukkan transaksi telah berhasil dilakukan dan dana tersebut sudah tersebar ke ratusan rekening anonim. "Selesai. Elena baru saja menggali lubang kubur untuk reputasi keuangan Arlan Valeska dengan tangannya sendiri."

​"Sekarang tinggal menunggu waktu sampai Arlan menyadari bahwa uang operasionalnya telah digunakan untuk membeli tanah kosong," sahut nelayan tua itu.

​V berdiri dan berjalan menuju papan strateginya, menghapus foto Elena dari daftar target yang perlu dimanipulasi secara langsung. "Elena sudah tidak berguna lagi sekarang. Dia akan menjadi beban terberat Arlan saat krisis dewan direksi dimulai nanti."

​Bau kemenangan mulai tercium di ruangan itu, namun V tidak membiarkan dirinya merasa terlalu senang karena rencana besar masih panjang. Ia menatap bekas luka di bahunya, sebuah pengingat bahwa setiap sen yang Elena habiskan adalah bentuk pembalasan atas setiap tetes darahnya. Manipulasi ini baru tahap awal untuk membuat Elena merasa setinggi langit sebelum dijatuhkan ke dasar jurang.

​"Paman, hapus semua jejak kantor itu sekarang juga. Jangan biarkan ada satu pun bukti fisik yang tersisa di sana," perintah V dengan tegas.

​"Semua sudah dibersihkan. Agen kita sudah menghilang dan sistem keamanan kantor itu telah diformat ulang secara total," lapor nelayan tua itu.

​V mengambil sebuah gelas berisi air putih dan meminumnya dengan perlahan, merasakan ketenangan yang dingin mengalir di dalam tubuhnya. Elena mungkin sedang merayakan kepemilikan barunya dengan segelas sampanye, namun V sedang merayakan kehancuran mental yang akan Elena alami. Keserakahan adalah pintu masuk paling mudah bagi V untuk menghancurkan benteng pertahanan Arlan dari dalam.

​"Arlan akan melihat istrinya sebagai pengkhianat finansial, dan Elena akan melihat Arlan sebagai penghalang impiannya," gumam V pelan.

​Kegelapan malam kembali menyelimuti Neovault, namun kali ini V merasa cahaya kemenangannya sudah mulai tampak di ufuk timur rencana besarnya. Ia telah berhasil mengubah Elena menjadi senjata makan tuan yang akan meledak tepat di wajah Arlan Valeska. Bagi V, tidak ada kepuasan yang lebih tinggi daripada melihat musuhnya saling menghancurkan karena keserakahan mereka sendiri.

​"Selamat menikmati aset barumu, Elena. Tanah rawa itu akan menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengubur egomu," batin V dengan penuh kebencian.

​Mobil Elena melaju kencang menuju penthouse, tanpa ia sadari bahwa setiap putaran roda itu membawanya semakin dekat pada kemiskinan yang ekstrem. V menutup layar monitornya dan duduk bersandar, membiarkan pikirannya beristirahat sejenak sebelum menghadapi guncangan di dewan direksi. Manipulasi properti palsu ini hanyalah satu dari sekian banyak jebakan yang telah ia sebar di seluruh penjuru kota.

​"Istirahatlah, V. Besok Arlan akan menyadari ada sesuatu yang hilang dari brankas digitalnya," ujar nelayan tua itu sambil mematikan lampu.

​V mengangguk singkat, matanya tetap menatap kegelapan seolah-olah ia bisa melihat masa depan yang penuh dengan kehancuran bagi Arlan dan Elena. "Malam ini Elena bermimpi menjadi ratu properti, namun besok dia akan terbangun sebagai penyebab kebangkrutan suaminya sendiri."

​Ruangan itu pun menjadi sunyi, menyisakan gema suara V yang penuh dengan kepastian akan rencana-rencana berikutnya yang jauh lebih kejam. Kehilangan uang hanyalah awal, karena yang V inginkan adalah kehancuran total dari martabat dan harga diri pria yang pernah ia cintai. Dan Elena adalah alat paling sempurna yang pernah diciptakan oleh keserakahan manusia untuk mewujudkan hal itu.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!