NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Hening Setelah Badai

Mansion megah itu kembali ke setelan awalnya: sunyi senyap, dingin, dan kaku.

Namun, kesunyian kali ini terasa sangat berbeda di telinga Kinara.

Jika dulu sunyi itu tercipta karena pengabaian dan keangkuhan Arlan, kini sunyi itu terasa mencekam karena ada hati yang sedang berusaha menyembunyikan luka di balik pintu yang tertutup rapat.

​Kinara terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman di ulu hatinya.

Sisa amarah semalam masih membekas di dadanya, namun ada rasa bersalah yang perlahan merayap seperti kabut pagi yang dingin.

Ia ingat betul wajah Arlan semalam—pucat pasi, mata yang merah berkaca-kaca, dan bahu yang merosot seolah seluruh beban dunia baru saja dijatuhkan ke pundaknya saat Kinara membentaknya habis-habisan.

​Kinara melirik ke sisi tempat tidur yang luas.

Kosong.

Dingin.

Tidak ada lagi tangan besar yang memeluk pinggangnya secara paksa, tidak ada lagi rengekan manja Arlan yang memintanya untuk tidak beranjak dari ranjang.

Biasanya, jam segini Arlan akan melakukan seribu satu cara agar Kinara tetap berada di pelukannya.

​"Mungkin dia sudah pergi ke kantor," gumam Kinara pelan.

Ia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya bahwa inilah yang ia inginkan.

Bukankah ia yang meminta ruang? Bukankah ia yang menginginkan privasi? Namun, kenapa hatinya justru terasa kosong saat ruang itu benar-benar diberikan?

​Saat Kinara turun ke bawah untuk memulai harinya, ia tidak mendapati Arlan di meja makan panjang itu.

Meja itu sudah tertata rapi seperti biasa, namun kursi kebesaran di ujung meja tampak begitu sunyi.

Hanya ada satu piring sarapan favorit Kinara—nasi goreng dengan telur mata sapi yang matang sempurna—lengkap dengan secangkir teh melati yang masih mengepulkan uap tipis.

​"Di mana Pak Arlan, Bik?" tanya Kinara pada Bibi yang sedang merapikan vas bunga di sudut ruangan.

​Bibi menoleh dengan wajah yang sedikit khawatir.

"Bapak sudah berangkat dari jam enam pagi tadi, Bu. Bapak tidak sarapan sama sekali, hanya minum air putih sedikit. Beliau berpesan agar Ibu jangan sampai melewatkan sarapan. Bapak juga bilang... jangan ada yang mengganggu Ibu jika Ibu sedang berada di balkon atau sedang menyalakan laptop."

​Kinara tertegun di tempatnya.

Kalimat itu terasa seperti tamparan halus.

Arlan benar-benar melakukan apa yang ia minta semalam. Pria itu menjaga jarak seolah Kinara adalah area terlarang yang tidak boleh disentuh lagi.

​Di kantor pusat Arlan Group, suasana berubah dari tegang menjadi sangat mencekam.

Para karyawan berjalan dengan langkah terburu-buru dan kepala menunduk, tidak berani bersuara lebih keras dari bisikan.

Kabar bahwa sang CEO kembali masuk kantor setelah "cuti mendadak" menyebar cepat, namun diikuti dengan peringatan darurat bahwa suasana hatinya sedang berada di titik nadir yang paling bawah.

​Maya, sekretaris pribadinya, masuk ke ruangan Arlan dengan tangan yang sedikit gemetar memegang tumpukan berkas.

Ia melihat bosnya duduk tegak di kursinya, menatap jendela besar yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta dengan tatapan kosong.

Tidak ada lagi Arlan yang malas; yang ada hanyalah Arlan yang kaku, dingin, dan memancarkan aura yang sangat gelap—aura yang jauh lebih menakutkan daripada saat ia marah-marah dulu.

​"Ini berkas yang harus ditandatangani hari ini, Pak," ucap Maya dengan suara yang sangat pelan.

​Arlan mengambil pulpennya tanpa suara.

Ia menandatangani semua berkas satu per satu tanpa menanyakan satu detail pun—sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang Arlan yang perfeksionis.

Ia bahkan tidak memarahi Maya meskipun ada kesalahan tipografi di laporan bulanan. Ia hanya bergerak seperti sebuah robot yang sudah diprogram.

​"Maya," panggil Arlan pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas.

​"I-iya, Pak?"

​"Apakah aku... terlihat seperti parasit dalam hidup seseorang?" tanya Arlan dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bicara pada diri sendiri.

​Maya ternganga, matanya membelalak kaget.

"Maksud Bapak? Tentu saja tidak, Pak. Bapak adalah pemimpin perusahaan besar ini. Semua orang bergantung pada keputusan Bapak."

​Arlan hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan dan rasa benci pada dirinya sendiri.

"Begitu ya. Batalkan semua janji makan siang. Aku ingin di sini saja. Sendiri."

​Sepanjang hari, Arlan bekerja tanpa henti.

Ia tidak makan, tidak menyentuh kopi, dan tidak membalas satu pun panggilan masuk yang bukan urusan pekerjaan.

Ia hanya menatap layar ponselnya setiap sepuluh menit, berharap ada satu pesan singkat dari Kinara—meskipun itu hanya pesan berisi kemarahan atau makian lagi.

Namun, layar ponselnya tetap gelap dan hening.

Kinara tidak menghubunginya.

​Sementara itu di mansion, Kinara justru merasa produktivitasnya menurun drastis.

Meskipun tidak ada lagi pria manja yang mengganggunya, meskipun laptopnya kini bisa ia gunakan dengan bebas tanpa ada yang menutup layarnya secara paksa, pikirannya terus melayang pada kejadian semalam.

Penyesalan mulai merayap di hatinya. Apakah ia terlalu kasar? Apakah kata-katanya tadi malam sudah merobek harga diri Arlan sebagai seorang pria?

​Pukul dua siang, sebuah kurir datang membawa sebuah paket besar.

Kinara membukanya dengan dahi berkerut bingung.

Isinya adalah sebuah meja kerja baru yang lebih ergonomis, sebuah lampu baca dengan desain minimalis namun sangat mahal, dan sebuket besar bunga lili putih—bunga kesukaannya yang dulu pernah ia ceritakan sekilas.

​Di dalamnya ada sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan Arlan yang sangat rapi namun terlihat sedikit bergetar di beberapa bagian:

​"Maaf kalau selama ini meja di balkon tidak nyaman untukmu bekerja. Aku membelikan yang baru agar punggungmu tidak sakit. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Makanlah yang banyak, jangan lupa istirahat. Jangan bekerja terlalu keras. - Arlan"

​Kinara memeluk catatan itu tanpa sadar, dan tanpa ia sadari, air mata mulai jatuh di pipinya. Dadanya terasa sangat sesak.

Arlan sedang mencoba "memberi ruang" dengan cara yang paling menyakitkan—dengan menjauh sepenuhnya dan tetap berusaha memperhatikan kebutuhannya dari kejauhan.

​Hingga malam tiba, Arlan belum juga pulang.

Kinara sengaja menunggu di ruang tengah, tidak berani masuk ke kamar utama.

Ia mencoba membaca buku, namun matanya terus tertuju ke arah pintu besar setiap kali mendengar suara mesin kendaraan di kejauhan.

​Pukul sepuluh malam, suara mobil baru terdengar di halaman.

Arlan masuk dengan langkah gontai.

Jasnya tersampir di lengan, dasinya sudah ditarik longgar, dan wajahnya terlihat sangat, sangat lelah.

Saat melihat Kinara masih berdiri di tengah ruangan, Arlan langsung menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.

Ia tidak lagi berlari mendekat untuk memeluk Kinara seperti hari-hari sebelumnya.

Ia justru menunduk dan tetap menjaga jarak sekitar tiga meter dari Kinara.

​"Kau belum tidur?" tanya Arlan lirih.

Suaranya terdengar sangat formal dan asing di telinga Kinara.

​"Aku menunggumu. Kenapa pulang selarut ini? Kau bahkan tidak membalas pesan singkatku tadi siang," ucap Kinara.

​"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku... aku masuk ke kamar tamu saja malam ini. Supaya kau bisa tidur dengan tenang tanpa terganggu oleh kehadiranku," ucap Arlan sambil berbalik arah menuju koridor kamar tamu tanpa menatap mata Kinara.

​"Arlan!" panggil Kinara, suaranya sedikit meninggi.

​Arlan berhenti melangkah, namun ia tetap memunggungi Kinara.

Ia seolah tidak berani menoleh karena takut pertahanannya akan runtuh jika melihat wajah wanita itu.

"Iya?"

​"Terima kasih untuk meja kerjanya. Dan... maaf untuk bentakanku semalam. Aku hanya sedang lelah," ucap Kinara dengan nada tulus yang bergetar.

​Bahu Arlan tampak bergetar sedikit.

Ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.

"Tidak apa-apa. Kau benar, aku memang egois dan kekanak-kanakan. Maaf karena aku tidak tahu bagaimana cara mencintaimu tanpa membuatmu sesak. Selamat malam, Kinara."

​Arlan kembali melangkah dan menutup pintu kamar tamu dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar.

Kinara berdiri sendirian di tengah ruang tengah yang luas, menyadari sesuatu yang sangat ironis.

Ternyata, ruang yang ia minta justru berubah menjadi penjara baru yang sangat sepi dan menyakitkan.

Arlan yang dingin dan "tahu diri" ternyata jauh lebih menakutkan daripada Arlan yang manja, karena pria itu seolah sedang mempersiapkan diri untuk benar-benar pergi dan menghilang dari hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!