NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kesepakatan di Ujung Taring dan Demam Sang Penengah

​Hawa panas yang menguar dari tubuh Sutan Agung terasa seperti tekanan atmosfer yang menindih tulang belulang. Di pelataran Rumah Gadang yang diterangi oleh obor-obor berapi kebiruan, Sang Harimau Hitam menunggu jawaban dari gadis manusia di hadapannya.

​Dara Kirana memejamkan mata selama sepersekian detik. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan rasa pahit dari ramuan Ruruhi di tenggorokannya menjadi jangkar yang menahannya pada realitas. Ketakutan adalah hal yang wajar, tetapi tunduk pada ketakutan di tanah ini berarti mati.

​Gadis itu membuka matanya, menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat gelap Sutan Agung. Ia tidak menunduk.

​"Karena jika Tuan membunuhku malam ini," suara Dara mengalun, awalnya bergetar, namun perlahan menguat, membelah kesunyian malam di perkampungan Cindaku itu, "Tuan sama saja dengan membuka gerbang Lembah Marapi dan menyerahkannya secara sukarela kepada Willem van Deventer."

​Kata-kata itu membuat udara di sekitar mereka berdesir. Beberapa pemuda Cindaku di pelataran menggeram rendah, merasa terhina oleh kelancangan seorang manusia di hadapan tetua absolut mereka. Bujang, sang panglima perang yang berdiri di sebelah Sutan Agung, meletakkan tangannya di hulu keris yang terselip di pinggangnya, siap menebas kepala Dara jika Sutan Agung memberikan satu kedipan mata.

​Namun, Sutan Agung justru mengangkat tangannya, mengisyaratkan Bujang untuk diam. Sudut bibir pria paruh baya itu berkedut—sebuah ekspresi yang bisa diartikan sebagai kemarahan, atau justru sebuah ketertarikan.

​"Kau memiliki lidah yang tajam untuk ukuran makhluk yang lehernya bisa kupatahkan hanya dengan dua jari, Gadis Kota," geram Sutan Agung perlahan. Ia menuruni satu anak tangga lagi, kini jaraknya dengan Dara hanya tersisa dua meter.

​"Willem adalah mayat hidup yang terjebak oleh matahari," lanjut Sutan Agung, nada suaranya menggemakan wibawa purba. "Dia lemah. Selama berabad-abad, kaumku telah mengoyak pengikut-pengikutnya yang berani melangkah keluar dari bayang-bayang. Membunuhmu justru akan memastikan Willem tidak pernah mendapatkan darah murni yang ia butuhkan untuk berjalan di siang hari. Tanpa darahmu, dia tidak akan pernah bisa aklimatisasi. Jadi, katakan padaku, mengapa melenyapkanmu bukan solusi yang paling logis?"

​Dara menelan ludah. Logika Sang Tetua sangat brutal dan sangat masuk akal. Namun, Dara memiliki satu kartu as yang baru saja ia peroleh beberapa jam yang lalu.

​"Karena Tuan tidak bisa terus-menerus membohongi diri sendiri," balas Dara berani, mengepalkan tangan kanannya hingga kuku-kukunya menusuk perban elastisnya. "Klan Tuan sedang sakit. Kutukan Nafsu Rimba menggerogoti akal sehat pewaris kalian. Sore ini, Indra menabrakkan dirinya ke sebuah truk logging yang remnya blong hanya untuk menyelamatkanku."

​Mata Sutan Agung seketika menyipit tajam. Bujang terkesiap keras. Kakek Danu yang berdiri di belakang Dara memejamkan mata, bersiap menghadapi badai.

​"Dia mengekspos kekuatannya," Dara melanjutkan, tidak membiarkan jeda itu mematahkan momentumnya. "Dia menghancurkan moncong baja truk itu dengan tangan kosong. Darahnya... darah seorang pewaris Cindaku, tertinggal di atas baja yang penyok itu."

​Hawa panas meledak dari tubuh Sutan Agung. Obor-obor bambu di sekitar pelataran berkobar dua kali lipat lebih besar. Kemarahan murni memancar dari sosok tetua itu. "Bocah bodoh! Dia mengoyak Perjanjian Kesunyian!"

​"Tapi rahasia kalian tetap aman!" sergah Dara, suaranya naik satu oktaf, memaksa Sutan Agung mendengarkannya. "Karena aku yang menghapus darah itu! Aku menggunakan jas hujanku untuk mencuci bersih logam panas itu sebelum sopirnya sadar dan sebelum siapa pun datang! Aku berdiri di sini bukan sebagai parasit, Sutan Agung. Aku berdiri di sini sebagai penjaga rahasia kalian!"

​Keheningan yang luar biasa berat kembali jatuh menimpa perkampungan itu.

​Dara menatap Sutan Agung dengan dada yang naik turun dengan cepat. "Indra mempertaruhkan nyawanya dan rahasia klannya untukku. Jika Tuan membunuhku sekarang... Tuan bukan hanya membuang satu-satunya obat penawar yang bisa menenangkan Nafsu Rimba Indra, tetapi Tuan juga akan menghancurkan jiwa keponakan Tuan sendiri. Indra akan selamanya dihantui oleh insting binatangnya, dan Willem akan memanfaatkan celah kehancuran klan Tuan untuk menyerang. Tuan membutuhkanku untuk menyatukan kembali kewarasan Indra."

​Sutan Agung menatap gadis di hadapannya lekat-lekat. Angin malam berhembus, menerbangkan ujung pakaian adat hitam yang dikenakan tetua itu. Di balik sikap arogan dan tatapannya yang sedingin es, Sutan Agung sedang melakukan kalkulasi taktis yang rumit.

​Manusia di hadapannya ini rapuh, namun di dalam nadinya mengalir kekuatan yang pernah menaklukkan leluhurnya. Nyai Ratih. Dara Kirana menatap kematian tepat di matanya dan justru menawarkan kesepakatan militer.

​Setelah keheningan yang terasa seperti berjam-jam, Sutan Agung mengembuskan napas panjang. Udara panas di pelataran itu perlahan menurun kembali ke titik normal. Obor-obor kebiruan mereda.

​"Garis keturunan Nyai Ratih rupanya memang mewariskan sifat keras kepala yang memuakkan," gumam Sutan Agung. Ia memalingkan wajahnya, menatap ke arah Kakek Danu.

​"Kau beruntung cucumu memiliki sedikit otak untuk menutupi kecerobohan Indra, Danu. Jika darah itu sampai ditemukan oleh manusia kota, aku sendiri yang akan membumihanguskan pemukimanmu malam ini juga."

​Kakek Danu menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Terima kasih atas kebijaksanaan Tuan."

​Sutan Agung kembali menatap Dara. Sorot matanya kini berubah menjadi sebuah ultimatum absolut.

​"Dengar baik-baik, Anak Manusia," titah Sutan Agung, suaranya tak lagi meninggi namun ancamannya jauh lebih nyata. "Bulan baru akan mencapai titik puncaknya lusa malam. Malam di mana langit tidak memiliki setitik pun cahaya. Itu adalah malam di mana sisi harimau di dalam diri Indra akan mencoba mengambil alih tubuhnya sepenuhnya. Dia tidak akan diizinkan keluar dari wilayah Hutan Larangan."

​"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Dara.

​"Kau akan membuktikan kata-katamu," jawab Sutan Agung dingin. "Jika kau mengklaim dirimu sebagai Pawang yang bisa menyembuhkan pewarisku, maka lusa malam, kau akan masuk ke dalam gua persembunyiannya. Kau akan menghadapi wujud terliarnya. Jika kau berhasil menenangkannya dan membawanya kembali ke wujud manusia, aku akan mengakui keberadaanmu di Lembah Marapi dan membiarkanmu hidup di bawah perlindunganku dari ancaman Opsir Darah."

​Sutan Agung memajukan wajahnya, matanya menggelap. "Namun... jika energi Pawangmu gagal... jika Indra kehilangan akal sehatnya dan merobek tubuhmu... kami tidak akan menolongmu. Dan mayatmu akan kami jadikan pupuk untuk akar pohon beringin ini. Sepakat?"

​Pilihan itu bukanlah sebuah pilihan, melainkan vonis mati yang ditunda. Namun, bagi Dara, menunda kematian berarti memiliki waktu untuk melawan.

​"Sepakat," jawab Dara mantap.

​Sutan Agung mengangguk pelan. "Bujang. Kawal mereka kembali ke perbatasan pemukiman manusia. Pastikan tidak ada serigala rendahan atau lintah pucat yang menyentuh mereka di perjalan pulang. Aku ingin gadis ini hidup sampai lusa malam."

​Tanpa mengucapkan salam perpisahan, Sutan Agung berbalik dan kembali menaiki tangga Rumah Gadangnya, menghilang ke balik pintu ukiran kayu jati yang tebal.

​Dara merasa seluruh persendiannya kehilangan perekat. Begitu tatapan Sang Harimau Hitam terputus darinya, adrenalin yang sejak tadi menopang tubuhnya menguap habis. Pandangan gadis itu mulai berkunang-kunang.

​"Kita pulang, Nduk," Kakek Danu merangkul bahu Dara dengan cepat sebelum gadis itu ambruk ke tanah.

​Perjalanan kembali ke rumah Kakek Danu terasa seperti halusinasi panjang bagi Dara. Hujan telah berhenti, digantikan oleh kabut malam yang membekukan. Ramuan Ruruhi di dalam tubuhnya mulai kehilangan khasiat, memicu reaksi penolakan dari sistem imunnya. Rasa mual berubah menjadi demam yang menyerang tiba-tiba.

​Dara tidak ingat bagaimana ia melewati Jembatan Merah. Ia hanya ingat suara langkah kaki Bujang yang berat di depannya, dan lengan Kakek Danu yang terus memapahnya sembari menggumamkan mantra-mantra pelindung.

​Begitu mereka tiba di rumah dan pintu depan dikunci rapat, pertahanan tubuh Dara runtuh sepenuhnya. Gadis itu jatuh pingsan di atas lantai kayu ruang tamu, diiringi teriakan panik kakeknya.

​Malam itu dan sepanjang hari berikutnya, Dara terkurung dalam labirin demam yang menyiksa.

​Tubuhnya terbakar dari dalam, namun kulitnya sedingin es. Dalam ketidaksadarannya, ia terus-menerus didatangi oleh penglihatan-penglihatan ganjil yang terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut mimpi.

​Ia melihat seorang wanita cantik berkebaya putih kuno—Nyai Ratih—berdiri di tepi kawah gunung berapi yang menyala merah, merapalkan mantra dengan air mata darah. Ia melihat seekor harimau putih raksasa yang dirantai oleh duri-duri besi, meraung kesakitan memanggil namanya. Ia melihat seekor serigala berbulu kecokelatan yang berlari mengelilinginya, melindunginya dari bayangan hitam tinggi berkulit pucat yang terus mencoba merobek lehernya dengan taring panjang.

​Nafsu Rimba... Darah Penengah... Kutukan Abadi...

​Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya bagaikan mantra yang didengungkan oleh ribuan roh hutan.

​Ketika Dara akhirnya berhasil membuka kelopak matanya, ia disambut oleh cahaya matahari sore yang keemasan menyusup dari celah tirai beludru kamarnya.

​Pening di kepalanya masih tersisa, namun demamnya telah turun. Pakaiannya telah diganti dengan piyama kering, dan di keningnya menempel sebuah kompres herbal yang berbau daun mint.

​Dara mencoba duduk. Seluruh ototnya terasa kaku dan nyeri, seolah ia baru saja ditabrak oleh truk yang ia bersihkan kemarin. Ia menoleh ke arah nakas. Jam weker menunjukkan pukul 16.30.

​Lusa malam, ingatan tentang kesepakatan dengan Sutan Agung langsung menghantam kesadarannya. Jika sekarang adalah sore hari berikutnya, berarti malam puncak Bulan Baru adalah... besok malam.

​Tok. Tok. Tok.

​Suara ketukan pelan itu tidak berasal dari pintu kamarnya, melainkan dari arah jendela kaca yang menghadap ke halaman belakang.

​Dara terkesiap. Instingnya langsung waspada. Ia menyingkap sedikit selimutnya dan berjalan mengendap-endap menuju jendela. Dengan hati-hati, ia menarik ujung tirai merah marun tersebut.

​Di luar sana, bertengger santai di dahan pohon damar yang tebal tepat di depan jendelanya, adalah Bumi Arka.

​Pemuda berseragam varsity merah marun itu sedang mengunyah sebuah apel hijau. Saat melihat wajah pucat Dara muncul dari balik kaca, Bumi tersenyum lebar hingga matanya menyipit ramah, lalu memberikan isyarat dengan tangannya agar Dara membuka jendela.

​Mengingat bahwa hari masih sore dan sinar matahari masih cukup terang, Dara memberanikan diri membuka slot kunci jendelanya sedikit. Angin pegunungan yang sejuk langsung masuk, membawa aroma dedaunan dan aroma khas Bumi—kombinasi wangi pinus basah dan sinar matahari.

​"Kukira kau mati terbunuh akar beracun kakekmu," sapa Bumi tanpa basa-basi, masih dengan senyum jahilnya. Ia melompat turun dari dahan dengan sangat lincah , mendarat tanpa suara di atas rumput di bawah jendela Dara. "Aku mencium bau Ruruhi dari tubuhmu sejak di sekolah kemarin. Dan hari ini kau tidak masuk. Kau membuat seisi kelas heboh, tahu."

​"Aku hanya demam biasa," jawab Dara pelan, suaranya masih serak. Kehadiran Bumi di tengah sore yang sepi ini entah mengapa memberikan kelegaan luar biasa di dadanya. Pemuda ini adalah kontras yang sempurna dari kegelapan yang dibawa Indra maupun Kakek Danu. Bumi terasa nyata. Bumi terasa aman.

​Bumi memiringkan kepalanya, menatap Dara dengan pandangan yang tiba-tiba berubah serius. Hidung pemuda itu berkedut halus, mengendus udara.

​"Kau bau harimau tua, Anak Kota," gumam Bumi, nada suaranya merendah. "Kau pergi ke Lereng Utara semalam? Ke sarang Sutan Agung?"

​Dara tertegun. Ia lupa bahwa penciuman kaum Ajag jauh melampaui manusia. "Bagaimana kau tahu?"

​Bumi menghela napas panjang, bersandar pada dinding kayu di bawah jendela Dara, melipat kedua lengannya di dada. "Santi mencarimu seharian ini. Dia menitipkan catatan pelajaran untukmu padaku. Aku ke sini berniat memberikan buku catatannya... tapi kemudian aku mendengar rumor dari para penjaga perbatasan kawananku. Mereka mencium aromamu yang dikawal oleh Bujang semalam."

​Bumi menengadahkan wajahnya, menatap lurus ke mata Dara. Kilat merah kecokelatan berkelebat sekilas di iris matanya. "Kenapa kau ke sana, Dara? Hutan Larangan itu bukan tempat bermain. Kalau Sutan Agung sedang dalam suasana hati yang buruk, kakekmu pun tidak akan bisa menyelamatkanmu."

​Dara mencengkeram kusen jendela. "Aku harus membuat kesepakatan dengannya, Bumi. Willem... Willem mendatangiku di perpustakaan sekolah pagi kemarin."

​Tubuh Bumi langsung menegang kaku. Senyum santainya lenyap tanpa bekas. Sisa apel di tangannya tanpa sadar ia remas hingga hancur menjadi bubur. Hawa hangat yang memancar darinya seketika berubah menjadi hawa panas yang mengancam—bukan panas api seperti Indra, melainkan panas dari darah yang mendidih karena amarah.

​"Opsir Darah itu menyentuhmu?" desis Bumi mematikan.

​"Indra datang tepat waktu. Dia mengusirnya," Dara buru-buru menambahkan, tidak ingin memicu perang baru.

​Mendengar nama Indra, rahang Bumi mengeras. Pemuda itu memalingkan wajahnya sejenak, menguasai emosinya. Fakta bahwa rival abadinya yang berhasil melindungi Dara saat Bumi tidak ada, jelas melukai harga diri sang Alpha muda.

​"Aku juga mendengar tentang kecelakaan truk kayu di jalan tikungan atas kemarin sore," kata Bumi perlahan, nadanya kini penuh selidik. "Polisi mengatakan remnya blong dan truk itu menabrak tebing. Tapi... ada yang aneh. Tio dan Adi memeriksa lokasi kejadian tadi malam sebelum hujan menghapus semua jejak. Mereka bilang, logam bumper truk itu melengkung ke dalam, dan ada bau ozon khas ledakan tenaga Cindaku di sana."

​Bumi menatap Dara tajam. "Baja tidak bengkok ke dalam oleh tebing batu, Dara. Apa yang Kucing Besar itu lakukan padamu?"

​Dara terdiam. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi rahasia Indra. "Bukan apa-apa, Bumi. Indra hanya kebetulan lewat dan menarikku menghindar."

​Bumi mendengus pelan, jelas tidak mempercayai kebohongan itu, namun ia memilih untuk tidak mendesak. Ia tahu ada rahasia besar yang sedang disembunyikan gadis ini.

​Pemuda itu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul biru milik Santi dan meletakkannya di ambang jendela.

​"Besok malam adalah puncak Bulan Baru," ucap Bumi, nada suaranya kini dipenuhi oleh peringatan yang tulus. "Kawananku akan berjaga di perbatasan timur dan selatan desa. Kami akan memastikan pasukan bayangan Willem tidak masuk ke pemukiman saat langit benar-benar gelap."

​Bumi mengambil satu langkah mendekat ke jendela, menatap Dara dengan sorot mata yang meluluhkan. "Sutan Agung memintamu mengendalikan Indra besok malam, kan? Itu adalah ujian mematikan, Dara. Nafsu Rimba di puncak Bulan Baru bukanlah sesuatu yang bisa dijinakkan hanya dengan sentuhan biasa. Indra akan kehilangan sisi manusianya. Dia hanya akan melihatmu sebagai sumber energi... atau sebagai mangsa."

​"Aku harus mencobanya, Bumi. Kalau aku gagal, Sutan Agung tidak akan melindungiku dari Willem."

​"Kalau kau merasa tidak sanggup," Bumi mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh punggung tangan Dara yang menggenggam kusen jendela. Kehangatan kulit pemuda itu seketika menjalar, menenangkan sisa-sisa gigil demam di tubuh Dara. "Larilah ke arah timur. Ke wilayah Ajag. Kawananku dan aku tidak butuh kesepakatan politik untuk melindungimu. Aku akan merobek leher siapa pun yang berani menyentuhmu, entah itu harimau atau mayat hidup."

​Dara menatap mata cokelat terang Bumi. Ada ketulusan yang murni di sana. Sebuah tawaran perlindungan tanpa syarat. Sangat kontras dengan cinta yang posesif dan mematikan milik Indra.

​"Terima kasih, Bumi," bisik Dara.

​Bumi tersenyum tipis, melepaskan tangannya. "Istirahatlah, Anak Kota. Siapkan tenagamu untuk besok malam."

​Dengan gerakan lincah, Bumi melompat mundur dan berlari menghilang ke dalam rimbunnya perkebunan kol di samping rumah, menyatu dengan kabut senja.

​Dara menutup jendelanya rapat-rapat. Tawaran Bumi memang menggoda, namun melarikan diri ke wilayah Ajag berarti menyatakan perang terbuka dengan Sutan Agung, dan yang terburuk: ia akan membiarkan Indra hancur sendirian di dalam gua persembunyiannya.

​Dara tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia harus mencari tahu bagaimana persisnya kekuatan Pawang Rimba bekerja. Kakek Danu terus merahasiakan detail pelatihannya dengan alasan 'terlalu berbahaya'.

​Jika Kakek tidak mau mengajariku, aku akan mencari tahu sendiri, batin Dara dengan tekad bulat.

​Gadis itu berjalan keluar dari kamarnya. Rumah terasa sangat sepi. Kakek Danu rupanya sedang pergi keluar, mungkin ke warung Bu Mirna atau berpatroli di perbatasan halaman.

​Ini adalah kesempatan emas.

​Dara menyelinap menyusuri lorong menuju ruang kerja kakeknya yang biasanya terkunci. Ia memutar kenop pintu kuningan itu. Klik. Tidak dikunci. Kakek Danu mungkin lupa menguncinya karena terlalu panik mengurus demam Dara seharian ini.

​Dara melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang pengap dan berbau kemenyan. Ia langsung menuju rak buku di bagian paling sudut, tempat di mana Kakek Danu mengambil jurnal bersampul kulit berlambang sulur dan tetesan darah pada malam saat ia membangkitkan segelnya.

​Mata Dara memindai deretan buku-buku tebal tersebut. Tangannya bergerak mencari buku yang tepat.

​Besok malam, ia akan masuk ke dalam sarang sang monster sendirian. Dan ia menolak untuk masuk dengan tangan kosong. Rahasia untuk menjinakkan Sang Harimau Putih pasti tertulis di salah satu halaman usang di ruangan ini, menantinya untuk ditemukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!