NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog : Akad 5 Menit

KUA Kecamatan Setiabudi. 18 Juli 2026. Jam 10.05.

Ruangannya panas. AC mati. Kipas angin nyala tapi suaranya lebih kencang daripada anginnya. Di meja ada toples kue khong guan isi rengginang. Dindingnya poster "Sakinah Mawaddah Warahmah" yang pojoknya sudah ngelotok.

Penghulu buka buku nikah, batuk sekali. "Kita mulai ya. Saksi lengkap?"

Saksi satu, Ibu Ratna, 60 tahun, pakai gamis biru. Sehat, tegas. Tangannya genggam tasbih erat.

Saksi dua, dr. Hendra Amartya, 62 tahun, pemilik RS Sentral Nusantara. Jas mahal, dasi merah, jam Rolex. Wajahnya datar, tapi jempolnya getar mengetuk meja. Malu.

Pengantin pria, dr. Alvian Wira, 35 tahun. Kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu pantofel pinjaman. Rambut rapi, mata tenang.

Pengantin wanita, dr. Clarissa Amartya, Sp.JP, 32 tahun. Datang langsung dari jaga IGD. Jas putih masih dipakai, di dalamnya kaos hitam polos. Rambut diikat asal, tidak pakai makeup. Stethoscope masih melingkar di leher, di tangan ada map, isinya jadwal visite siang ini.

Tidak ada keluarga besar. Tidak ada foto. Tidak ada janur kuning. Hanya sopir Bu Diany yang disuruh tunggu di luar sambil ngedumel.

__

Tiga minggu sebelumnya. Klinik Aditya Medika, Tebet.

Tanah wakaf 200 meter. Bangunan semi permanen, triplek, seng. Tapi di sanalah 200 KK warga Kampung Rawa datang berobat. Setiap hari 40-60 pasien, gratis tanpa biaya.

Pagi itu, tiga mobil hitam terparkir di depan klinik. Delapan orang keluar dari dalamnya. Jas rapi, kacamata hitam, paling depan adalah bos mereka, Bos Rudi, developer. Sedangkan di belakangnya para debt collector bertubuh sangar nan kekar, kumpulan preman bayaran.

"Dok," Bos Rudi ketuk meja Alvian yang lagi jahit luka anak kecil. "Tanah ini sudah dibeli perusahaan saya dari ahli waris tidak kurang dari 1 Milyar. Minggu depan paling lambat, kamu harus kosongkan tempat ini atau saya kosongkan secara paksa."

Alvian selesai jahit, memberi permen ke anak itu, baru nengok tanpa reaksi yang berlebihan. "Ini tanah wakaf. Yang punya sudah komitmen tanahnya dibangun klinik. Ada akta yang sah," tuturnya.

"Akta bisa dibatalin, Dok. Yang punya tanah sudah mati dan ahli warisnya yang sekarang sudah tanda tangan." Bos Rudi tersenyum. "Lawan saya, klinik ini akan tetap saya tutup. Kamu saya penjarakan penyerobotan lahan. Warga di sini mau berobat ke mana?"

Malamnya, klinik dilempar molotov. Meskipun kecil dan padam dengan cepat, tetapi pesan itu dengan cepat sampai ke warga. Mereka panik, berkumpul di depan klinik takut tempat itu akan digusur.

Ibu-ibu nangis, bapak-bapak berkeluh kesah. "Dok, kalau klinik tutup anak saya berobat ke mana? Puskesmas jauh, Dok."

Alvian berdiri di depan warga. Paling sedikit ada sekitar 200 orang. "Tenang, Bu, Pak. Klinik nggak akan tutup. Saya janji."

Namun bicara lebih gampang daripada mewujudkannya. Alvian pergi ke LBH, tapi ditolak karena tidak ada uang. Ke polisi, disuruh mediasi. Ke notaris, biaya balik nama sangat mahal, nggak punya. STR-nya saat ini masih hidup, tapi SIP klinik belum jadi karena berdiri di atas tanah sengketa.

Dia bisa saja menghabisi 8 preman itu malam ini. Gampang. Tapi besok datang 20 lagi. Dan kalau dia bunuh orang, Ibu Ratna di Bekasi siapa yang jaga? Dia masuk penjara, warga tetap kehilangan klinik.

Hari keempat. RS Sentral, parkiran.

Alvian saat itu sedang mengantar Ibu Ratna untuk kontrol jantung. Penampilannya yang tenang, jas dokter umum yang lusuh, membawa kresek isi rontgen, dengan segera menarik perhatian Hendra Amartya yang bersiap masuk ke mobilnya.

"Apa dia juga dokter di sini? Wajahnya tampak asing."

Spontan dr. Hermawan, kepala tim bedah yang berdiri di samping ikut memperhatikan Alvian. "Bukan, Pak Hendra. Dia bukan dokter di sini. Jika tidak salah namanya Alvian Wira. Dia buka klinik di daerah Tebet untuk warga kurang mampu di sekitarnya. Dia cukup punya kemampuan, tapi sayang, kliniknya mungkin akan tutup karena bermasalah dengan developer."

"..."

Hendra diam beberapa saat. Gosip di IDI sudah sangat kelewatan. Mengatakan anaknya tidak laku, membuatnya sangat malu. Dia berpikir untuk mencarikan suami untuk anaknya sebelum Munas bulan depan. Sudut bibirnya terangkat samar seperti telah menemukan apa yang ia cari sejak lama.

___

Di depan ruang kontrol, Alvian hanya duduk di kursi tunggu sampai seorang pria datang kepadanya. Pria setengah baya itu berdiri tepat di depannya, tersenyum sambil mengulurkan tangan.

"Alvian Wira, kan? Saya dr. Hendra, kepala rumah sakit ini. Ada yang ingin saya bicarakan, berdua, di ruangan saya."

Alvian bahkan tidak mengenal Hendra. Dia sempat berniat mengabaikan pria itu sampai mendengar identitasnya sebagai kepala rumah sakit. Dalam hati berpikir, orang ini mungkin punya kemampuan untuk membantu masalahnya.

Mereka pun pergi ke ruang direksi.

"Sudah nikah?"

"Belum."

Hendra tersenyum dan berjalan ke arah meja. Mengambil sebuah foto dari dalam berkas. "Saya butuh mantu seorang dokter. Ini anak saya, Clarissa. 32 tahun, Sp.JP. Belum nikah. Bagaimana menurut kamu?"

Alvian kaget. "Bapak serius membicarakan hal ini?"

"Tentu saja. Syaratnya gampang. Kamu nikah sama Clarissa. Tinggal serumah, pisah kamar atau tidak terserah kalian. Setelah dua tahun mau cerai atau tidak juga terserah kalian. Setelah nikah, saya akan beli tanah sengketa tempat klinik kamu berdiri. 2 Milyar. Akan saya hibahkan atas nama kamu. Dengan begitu developer tidak akan berani macam-macam. Mereka juga akan takut dengan saya. Tapi yang perlu kamu ingat, jika kamu bercerai sebelum dua tahun, kamu harus membayar kompensasi 5 milyar. Sebagai jaminan agar kamu tidak macam-macam dengan anak saya."

Alvian menatap dr. Hendra. Pada saat yang sama dia mengingat muka warga yang menangis. Mengingat Ibu Ratna yang sendirian jikalau dirinya dipenjara.

"Baiklah. Saya setuju."

Ada savana di padang pasir. Alvian sangat bodoh jika menolaknya.

___

Seminggu sebelum akad. RS Sentral, Lorong IGD.

"Apa? Nikah? Sama dokter lepas yang kliniknya bahkan hampir digusur? Tidak, Pa, apa Papa bercanda?" Clarissa berdiri, map dibanting. "Aku tahu Papa pengen aku cepat menikah. Pengen punya menantu dokter, tapi juga tidak perlu mencari sembarang orang seperti ini. Aku tidak mau!"

"Kamu harus memikirkannya. Jika kamu tetap bersikeras, siap-siap saja SIP kamu akan Papa persulit. Kamu tau Papa kenal Kadinkes. Karir kamu akan tamat."

Clarissa menggigit bibir sampai berdarah. "Ini pemerasan."

"..."

___

Kembali ke KUA. 18 Juli 2026. Jam 10.08.

"Ananda Alvian Wira bin Sudarmono," Penghulu mulai. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Clarissa Amartya binti Hendra Amartya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 320 ribu rupiah dibayar tunai."

Alvian menoleh ke Clarissa. Clarissa menatap lurus ke Penghulu. Tidak menoleh.

"Saya terima nikah dan kawinnya Clarissa Amartya binti Hendra Amartya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Alvian. Jelas, tenang, sekali jadi.

"Sah?" tanya Penghulu ke saksi.

"Sah," jawab Ibu Ratna. Tegas.

"Sah," jawab dr. Hendra, cepat.

Penghulu stempel. "Alhamdulillah. Sah. Silakan salaman."

Alvian mengulurkan tangan, Clarissa hanya menatap tangan itu 3 detik. Lalu salaman satu detik. Detik berikutnya langsung dilepas. Dingin dan ketus.

"Foto?" tanya staf KUA sambil bersiap dengan kameranya.

"Tidak usah," jawab Clarissa dan dr. Hendra bersamaan.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!