“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Malam yang Tidak Akan Terulang
Malam itu… berbeda. Bukan karena suasana rumah. Bukan juga karena sesuatu yang terlihat jelas. Tapi karena, Kaisyaf pulang… seperti dulu.
Langkahnya tidak tergesa. Wajahnya tidak setegang biasanya.
Saat pintu terbuka, Alvian yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.
“Abi!”
Bocah itu berlari kecil. Kaisyaf menyambutnya. Mengangkatnya sebentar… seperti kebiasaan yang entah sejak kapan jarang ia lakukan. Atau mungkin sudah lama tak ia lakukan.
“Udah makan?” tanyanya.
Alvian menggeleng cepat. “Belum.”
“Bagus.” Kaisyaf tersenyum tipis. “Kita makan bareng.”
Ayza yang berdiri di dekat dapur terdiam sejenak. Menatap pemandangan itu.
Ada sesuatu yang… terasa hangat. Dan anehnya, justru itu yang membuat dadanya sedikit sesak.
Meja makan terisi. Tidak mewah. Namun malam itu… terasa istimewa.
Kaisyaf duduk di sebelah Alvian. Ayza di seberang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kini terasa tak ada jarak.
Kaisyaf mengambilkan nasi untuk Alvian. Lalu lauk. Memisahkan bagian yang terlalu panas.
“Pelan makannya,” ucapnya lembut.
Tangannya sesekali mengusap kepala bocah itu. Gerakan kecil… yang dulu terasa biasa. Namun malam ini… berbeda.
Alvian tersenyum lebar. Lebih banyak bicara dari biasanya. Menceritakan hal-hal kecil yang mungkin sering terlewat.
Dan Kaisyaf mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Tanpa memotong. Tanpa mengalihkan perhatian. Seolah… tidak ingin melewatkan satu kata pun.
Di seberang meja, Ayza diam. Matanya beberapa kali tertuju pada Kaisyaf.
Cara pria itu tersenyum. Cara ia menatap Al. Cara ia kembali… menjadi seseorang yang dulu ia kenal.
Hangat. Tenang. Seolah semua yang terjadi sebelumnya… tidak pernah ada. Namun justru itu, yang membuat dadanya semakin tidak nyaman.
“Al.”
Suara Kaisyaf membuat bocah itu langsung menoleh.
“Iya, Bi?”
Kaisyaf menatapnya. Dalam. Lebih lama dari biasanya.
“Al laki-laki, 'kan?”
Alvian mengangguk cepat. “Iya!”
Senyum kecil muncul di wajah Kaisyaf.
“Berarti harus kuat.”
Alvian mengangguk lagi. Lebih semangat.
“Harus bisa jaga Umi.”
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa… nada suaranya lebih dalam. Lebih berat.
“Dan jaga diri sendiri,” lanjut Kaisyaf pelan. “Apa pun yang terjadi nanti.”
Alvian tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia tetap mengangguk.
“Al janji, Bi.”
Jawaban itu polos. Yakin.
Dan justru itu… yang membuat sesuatu di mata Kaisyaf sempat goyah.
Namun hanya sesaat. Tangannya kembali mengusap kepala Alvian.
“Anak Abi.”
Beberapa saat kemudian, Kaisyaf bersandar sedikit di kursinya.
“Ke depan… Abi mungkin bakal lebih sibuk.”
Nada suaranya tetap tenang. Namun cukup untuk membuat Ayza mengangkat wajah.
“Sibuk?” ulangnya pelan.
Kaisyaf mengangguk.
“Mungkin jarang pulang.”
Kalimat itu jatuh ringan. Namun tidak terasa ringan bagi yang mendengar.
“Maaf," katanya singkat.
Namun kali ini… ia tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya bergantian antara Alvian dan Ayza.
“Tapi percayalah…” suaranya lebih pelan sekarang, “Abi sayang Al… dan Umi.”
Alvian langsung mengangguk. “Al tahu, Bi.”
Ia bahkan tersenyum. Tidak ragu sedikit pun.
Namun Ayza, tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kaisyaf. Lama. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik kalimat itu.
Namun yang ia temukan… justru sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Hangat. Tapi terasa seperti… jauh.
Malam itu ditutup dengan sederhana. Namun tanpa mereka sadari, itulah terakhir kalinya mereka duduk bersama seperti itu.
Tanpa jarak. Tanpa rahasia yang terungkap. Dan tanpa tahu… bahwa salah satu dari mereka… sedang mengucapkan selamat tinggal.
Malam semakin larut.
Alvian sudah terlelap di kamarnya.
Lampu kamar Kaisyaf hanya menyisakan cahaya temaram.
Ayza berdiri di dekat lemari saat Kaisyaf masuk. Ia sempat menoleh. Tatapannya bertemu.
Ada jeda kecil. Namun terasa. Berbeda dari biasanya.
Kaisyaf mendekat. Tidak terburu. Tidak juga ragu. Tangannya terangkat… menyentuh lengan Ayza. Lembut. Seolah memastikan sesuatu yang masih ada di tempatnya.
“Ayza…” Suaranya rendah.
Ayza menatapnya. Dalam. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tentang perubahan. Tentang sikap dingin. Tentang kata “cerai” yang masih terasa menggantung.
Namun sebelum semua itu keluar, Kaisyaf sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan. Pelan. Namun erat.
Ayza terdiam. Tubuhnya sempat kaku… sebelum akhirnya perlahan luluh.
Pelukan itu… terasa berbeda. Bukan sekadar dekat. Tapi seperti… menahan. Menahan sesuatu agar tidak benar-benar lepas.
“Maaf…”
Bisikan itu jatuh di dekat telinganya.
Ayza mengernyit sedikit. “Abi—”
“Maaf…" potong Kaisyaf. "...kalau akhir-akhir ini aku menyakitimu.” Suaranya tetap tenang. Namun lebih dalam dari biasanya.
Ayza menahan napas. Tangannya perlahan terangkat… membalas pelukan itu.
“Abi kenapa…?” tanyanya pelan. Hati-hati. Seolah takut jawabannya akan menghancurkan sesuatu.
Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas… lalu sedikit menjauh. Menatap wajah Ayza. Lama. Seolah mencoba menghafal lagi.
“Boleh…” suaranya lebih pelan sekarang, “…malam ini saja… kita gak bahas apa-apa?”
Ayza terdiam. Tatapan itu. Nada itu. Semuanya terasa… seperti permintaan yang tidak biasa.
“Aku…” lanjut Kaisyaf lirih, “aku ingin… nikmatin kebersamaan kita malam ini.”
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa… membuat dada Ayza terasa sesak.
Seperti ada sesuatu yang akan hilang. Namun belum ia mengerti apa.
Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil. Dan itu… sudah cukup.
Kaisyaf mengusap pipi Ayza perlahan. Gerakan yang dulu sering ia lakukan. Yang sempat hilang. Kini kembali. Dan justru karena itu… terasa lebih dalam.
Ia menunduk sedikit. Mendekat. Kening mereka bersentuhan. Diam. Hanya napas yang saling berbaur.
Tidak tergesa. Tidak liar. Hanya… dekat. Sangat dekat.
Ayza memejamkan mata. Dan untuk beberapa saat… ia memilih tidak bertanya. Tidak mencari jawaban. Hanya merasakan.
Bahwa pria ini, masih di sini. Masih miliknya.
Perlahan, bibir Kaisyaf menyentuh bibir Ayza. Lembut. Seperti menghapus jarak yang sempat ada di antara mereka.
Ayza tidak menolak. Tangannya justru terangkat, mencengkeram pelan kemeja pria itu.
Dan tanpa banyak kata, mereka saling mendekat. Lebih dekat. Hingga akhirnya, tubuh itu berbaring dalam satu ranjang yang sama. Saling menemukan kembali.
Bukan dengan tergesa… tapi dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keinginan.
Seperti… mengingat. Seperti… menegaskan bahwa mereka masih satu.
Malam itu berlalu tanpa banyak kata. Namun dalam diam, ada genggaman yang tidak dilepas. Ada pelukan yang bertahan lebih lama.
Seolah keduanya, tanpa benar-benar sadar, sedang menahan waktu.
Agar tidak cepat pergi.
Dan ketika jarak itu akhirnya benar-benar hilang… Ayza tidak lagi mencoba bertanya.
Ia hanya memejamkan mata. Membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang sudah lama ia rindukan.
Dalam kedekatan yang terasa utuh… seolah semua yang retak sebelumnya perlahan menyatu kembali.
Jantung mereka berdetak tidak beraturan. Napas saling berkejaran. Hangat tubuh itu kembali terasa… familiar, namun entah kenapa juga terasa berbeda.
Tatapan mereka saling mengunci. Bukan sekadar keinginan, tapi seperti memastikan. Bahwa mereka masih saling memiliki.
Malam itu… mereka kembali menjadi sepasang suami istri.
Tanpa jarak. Tanpa dinding. Tanpa rahasia -- setidaknya… untuk malam ini.
Beberapa waktu kemudian, di bawah selimut yang hangat, mereka terbaring saling mendekap.
Napas perlahan kembali tenang. Namun pelukan itu… tidak langsung terlepas. Justru semakin erat.
Seolah salah satu dari mereka… takut jika dilepas, semuanya akan benar-benar berakhir.
Ayza memejamkan mata. Tanpa tahu… bahwa pria yang ia peluk malam itu, sedang mengingatnya.
Dengan cara yang berbeda.
Dan di saat Ayza terlelap dalam hangat yang ia percayai akan tetap ada…
Kaisyaf justru terjaga. Menatapnya lama. Dalam diam yang… terlalu penuh. Karena ia tahu, ini bukan sekadar kembali.
Ini perpisahan.
Dan besok...ia akan pergi tanpa membangunkannya.
Karena jika Ayza terbangun… ia tahu, ia tidak akan sanggup benar-benar pergi.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang perpisahan paling menyakitkan bukan yang diucapkan,...
...tapi yang disembunyikan dalam kehangatan terakhir."...
..."Tidak semua selamat tinggal diucapkan....
...Sebagian... hanya dirasakan setelah semuanya terlambat."...
..."Ia memilih mencintai sepenuhnya malam itu,...
...karena besok… ia harus belajar melepaskan."...
..."Yang paling kejam bukan kehilangan,...
...tapi diberi satu malam sempurna sebelum semuanya diambil."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
ataubpalingbtifak saat2 terakhir ia tidak sendiri tapi di kelilingi orang2 tercintanya... jangan sedih ah...
Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.
langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺