NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DERU MESIN DAN DOA YANG TERBANG

Udara pagi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta tidak hanya dingin. Ia menggigit. AC menggantung di langit-langit seperti kabut tipis, dan deru koper yang diseret orang-orang terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur.

Clarissa berdiri mematung di depan pintu keberangkatan internasional. Gamis cokelat tua yang ia kenakan bukan sekadar kain. Itu adalah tameng. Jilbab panjang senada menutup dadanya dengan anggun, menyembunyikan selang port kemoterapi yang baru dipasang minggu lalu. Di pergelangan tangannya, tasbih biru dari Adrian melingkar. 33 butir. Dingin. Menjadi satu-satunya benda yang terasa nyata saat lututnya gemetar.

"Jangan melamun, Sayang," suara lembut Adrian memecah keheningan yang bising itu.

Clarissa menoleh. Adrian berdiri terlalu dekat, tapi tidak menyentuh. Seolah tahu, satu sentuhan saja bisa meruntuhkan benteng yang Clarissa bangun sejak Subuh. Rambut Adrian sedikit berantakan. Ia pasti begadang lagi menyiapkan dokumen, memastikan semua surat rujukan dokter sudah dialihbahasakan dengan benar. Di balik mata lelahnya, ada ketakutan yang ia bungkus rapi dengan senyum.

"Aku cuma merasa... semuanya berjalan begitu cepat," Clarissa berbisik. Suaranya kalah dengan pengumuman boarding yang menggema. "Baru kemarin aku merasa bisa kembali ke kampus, duduk di perpustakaan, denger kamu debat sama dosen. Sekarang aku harus pergi lagi ke lingkungan rumah sakit. Bau antiseptik, selang infus, bel perawat..."

Adrian akhirnya melangkah. Jarak satu napas. Ia tidak memeluk. Ia hanya mengangkat tangannya, merapikan anak jilbab Clarissa yang tersibak angin AC. Sentuhan itu sopan, tapi bagi Clarissa, itu lebih intim dari pelukan mana pun.

"Kamu pergi untuk menjemput kesembuhan yang lebih baik," kata Adrian. Kalimatnya pelan, tapi tegas. Seperti orang yang mengulang afirmasi setiap malam. "Anggap saja ini investasi. Investasi supaya nanti, saat kamu kembali, kamu sudah benar-benar bebas. Bebas dari rasa sakit yang suka datang jam 3 pagi. Bebas dari mual yang bikin kamu benci bau nasi. Bebas untuk... lari pagi sama aku tanpa bawa kantong obat."

Clarissa tertawa. Pahit. "Investasi ya? Sejak kapan kapten basket ngomong kayak manajer keuangan?"

"Sejak dia jatuh cinta sama calon ekonom syariah yang keras kepala," balas Adrian.

Pak Gunawan dan Bastian berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Pak Gunawan pura-pura sibuk menelepon, padahal ponselnya mati. Bastian jongkok, mengikat tali sepatu yang sebenarnya tidak lepas. Dua pria Gunawan itu memberi ruang, memberi waktu, tapi bahu mereka sama-sama tegang.

Bastian akhirnya berdiri. Ia menyodorkan paspor, boarding pass, dan map plastik berisi hasil MRI terakhir Clarissa. Map itu sudah lecek ujungnya karena ia bolak-balik buka-tutup sejak di mobil.

"Adrian," panggil Clarissa. Ia mengalihkan pandang dari map itu. Ia tidak mau lihat hasil MRI lagi. "Selama aku di sana, kamu janji satu hal."

"Apa aja," jawab Adrian cepat.

"Jangan terlalu sering begadang buat ngerjain tugas basket sama skripsi. Jangan cuma minum kopi. Aku nggak ada di sana buat maksa kamu makan sayur atau naruh bekal di tas kamu."

Adrian menunduk. Menahan senyum yang berair. "Aku janji. Asal kamu juga janji. Setiap selesai tindakan medis, setiap kemo ringan, setiap hasil lab keluar... kamu harus kabari aku. Jangan ada yang disembunyikan. Aku mau tahu kondisi kamu yang sebenarnya. Bukan 'aku baik-baik saja' yang biasa kamu ucapkan biar aku nggak khawatir."

Clarissa mengangguk. Air mata yang ia tahan sejak di tol akhirnya lolos satu tetes. Jatuh di atas kain gamisnya, meninggalkan titik gelap kecil. "Aku bakal kangen banget sama suara kamu yang manggil aku 'Sayang' di kampus. Yang suka ngejek aku kalau aku salah nyebut nama pemain NBA."

"Aku bakal kirim pesan suara setiap pagi dan malam," Adrian berbisik. "Sampai kamu bosan. Sampai kamu blokir nomor aku karena berisik."

"Ngawur," Clarissa memukul lengan Adrian pelan. Pukulan itu tidak bertenaga. Tapi cukup untuk membuat Adrian memejamkan mata sesaat, menyimpan sensasinya.

Bastian berdeham. Kasar. Sengaja. "Sudah waktunya, Dri. Pesawatnya nggak akan nunggu kalian kelar bikin sinetron."

Ia menepuk bahu Adrian, lalu menatap adiknya. Topeng cuek Bastian retak. "Dek. Papa udah di depan. Imigrasi ngantri."

Clarissa menarik napas. Ia memeluk Bastian. Erat. Ia mencium bau kemeja kakaknya: campuran parfum mahal dan asap rokok yang Bastian pikir tidak ada yang tahu. "Jagaan Papa ya, Kak. Jangan biarin Papa kerja sampai tengah malam lagi. Tensi Papa naik terus."

Bastian membalas pelukan itu, satu detik lebih lama dari biasanya. "Urus aja diri lo di sana. Jangan mikirin kita. Lo sembuh, itu aja tugas lo."

Lepas dari Bastian, Clarissa berbalik. Menatap Adrian untuk terakhir kalinya sebelum garis kuning imigrasi memisahkan mereka.

"Adrian... jaga diri ya. Jaga hati kamu juga... buat aku."

Adrian tidak menjawab dengan kata. Ia membuka telapak tangannya. Di sana ada gantungan kunci kecil berbentuk bola basket. Sudah usang. "Ini jimat aku dari SMA. Nggak pernah aku kasih ke siapa-siapa. Sekarang kamu yang pegang. Kalau kamu takut, genggam ini. Artinya aku lagi genggam tangan kamu juga."

Clarissa menerima. Genggamannya gemetar. "Hati aku sudah dikunci sama kamu, Clar," ucap Adrian. Suaranya parau. "Pergilah dengan tenang. Aku tunggu kamu di depan gerbang ini lagi. Bukan sebagai orang yang sakit. Tapi sebagai Clarissa yang sudah dinyatakan benar-benar sembuh. Kamu dan aku, kita ke kampus lagi. Pakai jaket almamater. Mau?"

Clarissa tidak sanggup jawab. Ia hanya mengangguk, lalu melambaikan tangan. Setiap langkah menjauh dari Adrian terasa seperti menarik plester dari luka basah. Ia berjalan mengikuti Ayah dan Kakaknya, masuk ke area steril. Adrian tetap berdiri di sana. Sampai sosok gamis cokelat itu hilang ditelan kerumunan koper dan air mata orang lain. Sebagian dari jiwa Adrian seolah ikut lepas landas.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!