"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"
Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.
Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!
Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Ketika laut menjerit
Gelombang setinggi gedung masih bergulung liar di sekitar kapal Phoenix setelah tembakan Dragon’s Breath menghantam lautan. Air laut yang tadi terangkat kini jatuh kembali seperti hujan raksasa, menghantam dek dan puing-puing logam dengan suara memekakkan telinga.
Langit di atas Pasifik berubah aneh.
Awan gelap berputar membentuk pusaran besar, sementara kilatan merah samar menari di baliknya seperti bara yang terkubur. Udara dipenuhi aroma asin, ozon, dan sesuatu yang lebih tua dari semua itu—bau tanah purba yang baru dibelah.
Jet Astra-X melintas rendah di atas kapal, meninggalkan jejak cahaya biru di belakangnya.
Di kokpit, Lin Qingyan masih menahan napas berat. Tangan kanannya bergetar hebat akibat tekanan sinkronisasi dengan sistem Dragon’s Breath. Urat-urat tipis muncul di sepanjang lehernya.
Rasa sakitnya belum hilang.
Namun ia bahkan tak memedulikannya.
Matanya hanya tertuju pada sosok pria di bawah sana.
Gu Beichen berdiri di tengah dek yang hancur, tubuhnya dikelilingi darah hitam yang bergerak seperti asap hidup. Di hadapannya, empat Sentinel tersisa membentuk setengah lingkaran, tak lagi menyerang membabi buta.
Mereka sedang mengukur ancaman.
Dan untuk pertama kalinya sejak muncul, mereka tampak ragu.
“Target musuh menyesuaikan taktik,” suara AI pesawat berbunyi.
Qingyan menyeka darah tipis yang keluar dari hidungnya.
“Bagus,” gumamnya. “Berarti mereka bisa takut.”
Di dek kapal, Beichen mengangkat wajah menatap jet yang berputar di atasnya.
Ia tahu istrinya keras kepala.
Tapi datang ke medan perang seperti ini tetap di luar dugaan.
Suara Qingyan masuk melalui saluran komunikasi.
“Jangan marah dulu. Kita bertengkar nanti kalau masih hidup.”
Beichen mendecak.
“Aku tidak marah.”
“Kau bohong.”
“Aku sedang menghitung berapa lama hukumanmu nanti.”
Qingyan terkekeh pendek, lalu sambungan terputus oleh gangguan frekuensi.
Sentinel tertinggi melangkah maju. Tubuh logam putihnya dipenuhi retakan halus akibat serangan sebelumnya, namun cahaya biru di matanya justru semakin terang.
“Unit manusia tambahan teridentifikasi.”
“Ancaman meningkat.”
“Eksekusi dipercepat.”
Suara itu keluar dari empat tubuh sekaligus, namun terdengar sebagai satu kalimat.
Beichen memutar bahunya perlahan.
“Kalau kalian selesai bicara...” katanya datar, “giliranku.”
Ia menginjak dek.
BRAKK!
Seluruh lantai logam ambles. Tubuhnya melesat seperti peluru, menghantam Sentinel terdepan dengan bahu kanan. Benturan itu melempar makhluk logam tersebut ratusan meter hingga menembus ombak.
Dua Sentinel lain bergerak dari sisi kanan dan kiri.
Mereka terlalu cepat.
Telapak tangan logam menghantam rusuk dan punggung Beichen hampir bersamaan.
Suara retakan tulang terdengar samar.
Tubuh Beichen terdorong beberapa meter, tetapi ia tidak jatuh.
Ia justru meraih lengan salah satu Sentinel, memelintirnya hingga sendi logam patah, lalu menggunakan tubuh musuh itu sebagai senjata untuk menghantam rekannya sendiri.
DUAARR!
Dua tubuh logam terlempar ke pagar kapal dan menghancurkannya.
Sentinel terakhir mengangkat kedua tangan ke langit.
Laut di sekitar kapal bergetar.
Empat pilar air raksasa bangkit dari permukaan samudra, berputar seperti tombak cair dan melesat ke arah Beichen.
Ia melompat mundur.
Satu pilar menghancurkan menara komunikasi kapal.
Dua lainnya menembus dek hingga dasar lambung.
Yang terakhir menghantam bahu kirinya dan meledak.
Beichen terhempas keras, berguling beberapa kali sebelum berhenti di dekat reruntuhan kabin.
Darah merah kali ini mengalir dari bahunya.
Ia menatap luka itu sejenak.
Lalu tersenyum.
“Sudah lama sekali,” bisiknya, “aku tidak dipaksa serius.”
Jauh di bawah Svalbard Sanctuary, keadaan jauh lebih buruk.
Alarm darurat meraung tanpa henti. Lorong-lorong bawah tanah dipenuhi personel yang berlari membawa data dan perlengkapan. Sebagian besar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka hanya tahu sesuatu di bawah fasilitas telah bangun.
Professor Aris berdiri di ruang observasi utama dengan napas tersengal. Tiga layar raksasa di depannya menampilkan suhu inti gunung es yang naik drastis.
“Tidak masuk akal...” gumamnya.
“Makhluk itu seharusnya tertidur selama beberapa abad lagi.”
Chenyu masuk sambil menggendong Qingyu.
“Aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian.”
Aris menoleh, wajahnya pucat.
Qingyu tampak tenang. Bayi itu bahkan memainkan jari kakaknya seolah tak ada kekacauan di sekitar mereka.
Namun saat mata bayi itu bertemu mata Aris, lelaki tua itu merinding.
Ia pernah mempelajari legenda kuno tentang garis darah tertentu.
Tentang anak yang lahir membawa kunci.
Tentang penjaga dunia lama yang hanya mau bangun jika dipanggil pewarisnya.
“Profesor...” suara Chenyu bergetar. “Apa Ayah akan baik-baik saja?”
Aris tidak langsung menjawab.
Ia menatap data yang baru muncul di monitor.
Gelombang energi dari Pasifik.
Resonansi dari bawah Sanctuary.
Dan frekuensi biologis Qingyu.
Ketiganya... identik.
“Jika ayahmu gagal,” kata Aris pelan, “maka tidak akan ada tempat aman di bumi ini.”
Chenyu menggigit bibir menahan takut.
Qingyu justru tertawa kecil.
Lalu dari kedalaman tanah, terdengar suara auman panjang yang membuat seluruh dinding bergetar.
Bukan suara mesin.
Bukan gempa.
Sesuatu yang hidup.
Kembali di Pasifik, Astra-X berputar dan menukik tajam.
Qingyan mengunci satu Sentinel yang sedang bangkit dari laut.
“Meriam utama sedang mendingin. Gunakan mode sekunder,” kata AI.
“Lakukan.”
Dua sayap pesawat terbuka, mengeluarkan peluncur proyektil kecil berlapis kristal merah.
Qingyan menekan pelatuk.
Enam proyektil melesat beruntun, menghantam permukaan air di sekitar Sentinel dan menciptakan ledakan cahaya yang membutakan.
Makhluk itu mundur sesaat.
Cukup lama bagi Beichen untuk muncul di belakangnya.
Tinju Beichen menembus dada logam putih itu.
Retakan menjalar ke seluruh tubuh Sentinel.
Lalu tubuhnya pecah menjadi serpihan cahaya.
Tersisa tiga.
“Lumayan,” suara Beichen masuk ke radio.
Qingyan mendengus. “Itu baru pemanasan.”
“Pendarahan di hidungmu bagaimana?”
Qingyan terdiam sesaat. “Kau bisa lihat dari sana?”
“Aku hafal cara kau berbohong.”
Untuk sesaat, di tengah perang dan kehancuran, ia ingin menangis.
Namun salah satu Sentinel mengangkat tangan ke arah langit.
Jet Astra-X mendadak kehilangan kendali.
Semua panel berkedip liar.
“Gangguan elektromagnetik ekstrem!” teriak AI.
Pesawat berputar tak terkendali.
Qingyan menarik tuas sekuat tenaga, tetapi sistem tak merespons.
Di bawah, Beichen menatap ke atas.
“Qingyan!”
Jet itu jatuh menukik ke arah laut.
Waktu seolah melambat.
Qingyan melihat permukaan samudra mendekat cepat di kaca depan.
Tangannya masih berusaha menstabilkan pesawat.
Tidak berhasil.
Ia memejamkan mata sepersekian detik.
Maaf, pikirnya.
Namun sebelum benturan terjadi, sesuatu menyambar dari bawah.
Bayangan hitam besar muncul dari laut, bergerak lebih cepat dari jet.
Sebuah cakar raksasa menopang badan Astra-X dan melemparkannya kembali ke udara.
Pesawat terguncang keras namun selamat.
Qingyan membuka mata dengan napas terputus.
Di bawahnya, permukaan laut pecah.
Air setinggi puluhan meter terpental ke segala arah.
Lalu makhluk itu muncul sepenuhnya.
Tubuh bersisik hitam keemasan.
Leher panjang.
Sepasang sayap raksasa membentang, menutupi cahaya langit.
Mata emas menyala seperti dua matahari.
Seekor naga.
Bukan simbol.
Bukan mesin.
Bukan ilusi.
Makhluk hidup purba berdiri di atas samudra seperti raja yang kembali ke tahtanya.
Empat Sentinel tersisa langsung mundur bersamaan.
Untuk pertama kalinya, suara mereka berubah.
“Unit Primordial teridentifikasi.”
“Prioritas ancaman maksimum.”
Beichen menatap makhluk itu tanpa berkedip.
Ia tidak terlihat terkejut.
Seolah sebagian dirinya sudah tahu ini akan terjadi.
Naga itu menoleh perlahan ke arah kapal.
Lalu menatap Beichen.
Tak ada permusuhan di sana.
Hanya pengakuan.
Kemudian makhluk raksasa itu menundukkan kepala.
Kepada Gu Beichen.
Qingyan yang melihat dari kokpit sampai kehilangan kata-kata.
“Beichen...” bisiknya.
Pria itu menghela napas pelan.
“Masalah baru,” katanya datar.
Di Sanctuary, seluruh layar monitor menyala bersamaan.
Satu pesan kuno muncul dalam bahasa yang diterjemahkan otomatis oleh sistem.
Pewaris Darah telah diakui.
Professor Aris jatuh terduduk.
“Tidak... jadi selama ini legenda itu benar...”
Chenyu menatap layar, lalu ke arah adiknya.
“Qingyu yang membangunkannya?”
Aris menelan ludah.
“Bukan.”
Ia menatap data genetik keluarga Gu yang terbuka di depannya.
“Dia membangunkan... pelindung ayahnya.”
Di Pasifik, naga itu membuka mulut.
Cahaya merah keemasan berkumpul di tenggorokannya.
Tiga Sentinel mencoba kabur ke langit.
Terlambat.
Semburan api energi melesat lurus, menelan lautan dan awan sekaligus.
Langit malam berubah siang sesaat.
Saat cahaya padam, tak ada jejak Sentinel yang tersisa.
Hanya abu berkilau jatuh seperti salju.
Laut mendidih.
Kapal Phoenix bergoyang keras.
Qingyan menahan napas.
Beichen tetap berdiri tenang sambil menatap naga itu.
Makhluk raksasa tersebut menurunkan kepalanya sekali lagi... lalu menghilang ke dalam laut seolah tak pernah ada.
Keheningan turun.
Suara ombak kembali.
Angin kembali berembus.
Namun semua orang di sana tahu satu hal.
Dunia yang mereka kenal telah berakhir malam ini.
Karena sesuatu yang lebih tua dari peradaban baru saja membuka mata.
BERSAMBUNG