NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Kamar utama mansion itu tidak lagi terasa seperti dirinya sendiri.

Aroma kayu dan parfum maskulin yang biasanya mendominasi ruangan itu kini bercampur dengan bau antiseptik dan plastik medis, bau yang tidak pernah seharusnya ada di tempat ini, tapi malam ini terasa seperti satu-satunya hal yang nyata.

Pearl terbaring di atas ranjang dengan selang infus menancap di punggung tangannya. Matanya terpejam, tapi itu bukan tidur yang tenang, kelopak matanya bergetar sesekali, napasnya pendek dan tidak beraturan, seperti seseorang yang bahkan dalam ketidaksadarannya masih belum merasa aman.

Lorcan duduk di kursi di samping ranjang.

Ia tidak berpindah sejak semalam.

Kemeja hitamnya kusut, lengannya masih tergulung ke siku dari tadi malam, rambutnya tidak teratur untuk pertama kali yang Pearl akan lihat jika ia membuka matanya. Lingkaran gelap di bawah matanya dalam tanda seseorang yang tidak tidur bukan karena tidak sempat, tapi karena tidak mengizinkan dirinya.

Semua panggilan dari kantor sudah ia matikan.

Semua pesan dari asisten tidak ia baca.

"Maafkan aku," bisiknya untuk kesekian kalinya ke ruangan yang tidak menjawab. Kata-kata yang dulu tidak pernah bisa keluar dari mulutnya kini keluar berulang-ulang, seperti seseorang yang baru menemukan kosakata baru dan tidak tahu cara menghentikannya. "Pearl, maafkan aku."

**

Dokter yang datang pagi tadi sudah pergi, tapi kata-katanya masih menempel di kepala Lorcan seperti duri yang tidak bisa dicabut.

"Kondisi fisiknya bisa dipulihkan dengan istirahat dan nutrisi yang baik, Tuan Lorcan. Tapi yang lebih saya khawatirkan adalah kondisi psikisnya. Ia mengalami syok yang cukup berat, seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk menutup diri agar tidak merasakan lebih banyak sakit. Jika ia terbangun, jangan paksa ia untuk berbicara."

Lorcan mengepalkan tangannya di atas lututnya.

Ia mengingat betapa mudahnya ia membuka pintu ruang bawah tanah itu dan menguncinya kembali. Mengingat betapa dinginnya suaranya saat mengucapkan kata-kata yang sekarang tidak bisa ia tarik kembali. Mengingat betapa ia merasa benar benar-benar yakin bahwa ia sedang melakukan hal yang tepat.

Dan betapa salahnya ia.

**

"Jangan... jangan kunci pintunya..."

Suara serak itu memecah keheningan kamar.

Lorcan langsung mendongak.

Pearl mengigau, jari-jarinya mencengkeram sprei dengan kekuatan yang tidak proporsional untuk seseorang yang baru saja dirawat karena kelelahan ekstrem. "Gelap... Lorcan, jangan..."

Lorcan bergerak dari kursinya tanpa berpikir, berlutut di sisi ranjang, tangannya meraih tangan Pearl dengan sangat hati-hati, sangat berbeda dari cara tangannya biasanya bergerak di dekat perempuan ini.

"Pearl." Suaranya turun menjadi sesuatu yang ia sendiri hampir tidak kenali. "Aku di sini. Pintu tidak terkunci. Tidak ada yang akan menguncimu lagi."

Pearl membuka matanya.

Pandangannya butuh beberapa detik untuk fokus dan saat fokus itu datang, saat matanya menemukan wajah Lorcan dari jarak yang sangat dekat, tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya sempat memproses apa pun.

Ia tersentak mundur.

Keras, tiba-tiba, hingga hampir terjatuh dari tepi ranjang, Lorcan menangkapnya dengan refleks, tapi sentuhan itu justru membuat Pearl semakin panik.

"Pergi!" Suaranya pecah, parau, tidak seperti suara Pearl yang biasa Lorcan kenal. "Jangan sentuh aku! Aku akan melakukan apa pun, tapi jangan kunci aku lagi.. jangan..."

"Pearl, aku tidak akan menyakitimu." Lorcan mengangkat kedua tangannya, mundur dari ranjang, memberikan ruang. "Aku salah. Aku sangat salah. Dengarkan aku..."

"Kamu bilang aku ular!" Air mata mengalir deras di pipinya yang tirus, tangannya menutupi telinganya sendiri. "Kamu bilang aku sampah! Kamu bilang--" Suaranya patah di tengah. "Ibu... aku ingin Ibu... tolong bawa aku ke Ibu..."

Lorcan membeku di tempatnya.

Ia menatap perempuan di depannya perempuan yang ketakutan padanya, yang menutup telinganya agar tidak mendengar suaranya, yang bahkan dalam kondisi ini masih menyebut satu nama yang sama dan menyadari sesuatu yang menghantamnya jauh lebih keras dari semua hal yang pernah menghantamnya sebelumnya.

Ia adalah sumber dari semua ini.

Kehadirannya adalah hal yang paling menakutkan bagi Pearl saat ini.

Lorcan menarik napas panjang. Ia mundur lebih jauh, duduk di kursi yang jaraknya sekarang lebih dari satu meter dari ranjang.

"Baik," katanya pelan. "Aku di sini, tapi aku tidak akan mendekat. Dengarkan dulu, ibumu ada di kamar sebelah, Pearl. Aku memindahkannya ke sini tadi malam. Dengan tim medis terbaik. Kamu bisa menemuinya segera setelah kamu cukup kuat untuk berdiri."

Keheningan.

Pearl menurunkan tangannya dari telinganya perlahan.

"Ibu... ada di sini?" bisiknya.

"Di kamar sebelah. Aku tidak akan memindahkannya lagi. Tidak akan menjauhkannya darimu." Lorcan menatap Pearl langsung. "Aku bersumpah."

Pearl menatapnya lama.

Di matanya, Lorcan bisa melihat dengan jelas, kepercayaan yang dulu mulai tumbuh sudah tidak ada di sana. Yang ada sekarang hanya kewaspadaan, jarak, dan kehati-hatian seseorang yang sudah tahu betul apa yang bisa terjadi jika ia lengah.

Dan Lorcan tidak punya hak untuk menyalahkan itu.

**

Malam itu, Lorcan berdiri di balkon kamar, menatap hujan tipis yang turun membasahi kota.

Vanya masuk membawa teh panas yang tidak ia minta tapi ia terima tanpa kata-kata.

Perempuan tua itu berdiri sebentar di sisinya sebelum berbicara, dengan nada yang sangat jarang ia gunakan, nada seseorang yang sudah melihat terlalu banyak untuk bisa diam sepenuhnya.

"Nyonya Pearl sudah sedikit lebih tenang setelah melihat ibunya tadi. Hanya dari kursi roda, sebentar saja, tapi matanya berbeda setelahnya."

"Terima kasih, Vanya," jawab Lorcan tanpa menoleh. "Pastikan dia mendapat semua yang ia butuhkan. Apa pun yang ia minta."

Vanya tidak langsung pergi.

*Tuan," katanya akhirnya, pelan tapi jelas, "luka di kulit bisa diobati. Tapi luka yang lain... butuh sesuatu yang berbeda untuk sembuh. Dan Nyonya Pearl adalah orang yang paling tulus yang pernah saya lihat masuk ke rumah ini."

Lorcan tidak menjawab.

Vanya pergi.

Larut malam, Lorcan kembali masuk ke kamar.

Pearl sudah tertidur lagi, kali ini lebih tenang dari sebelumnya, napasnya lebih teratur, cekungan di antara alisnya tidak sedalam tadi. Cahaya lampu tidur yang redup jatuh di wajahnya dengan lembut.

Lorcan duduk di lantai di samping ranjang.

Bukan di kursi. Di lantai, posisi yang sama persis dengan posisi Pearl di malam-malam pertama di mansion ini, saat ia tidur di sofa dan kemudian di lantai beton karena tidak ada pilihan lain yang ia berikan.

Ia menatap wajah Pearl lama.

Ada sesuatu yang ia lihat malam ini yang tidak pernah ia izinkan dirinya untuk melihat sebelumnya, bukan Orla, bukan keluarga Rowan, bukan musuh yang harus ia hancurkan. Hanya seseorang yang datang ke dalam hidupnya tanpa meminta, menanggung semua yang ia lemparkan tanpa membalas, dan masih, masih, meminta satu hal yang sama dari awal.

Ibunya.

Lorcan meraih tangan Pearl yang bebas dari selang infus, sangat pelan, seperti menyentuh sesuatu yang bisa hancur jika ia tidak hati-hati.

Ia menggenggamnya sebentar.

Lalu dalam tidurnya, Pearl menarik tangannya perlahan.

Menjauh.

Bahkan dalam bawah sadarnya, tubuhnya sudah belajar untuk tidak mempercayai sentuhan itu.

Lorcan melepaskannya.

Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang sudah melakukan terlalu banyak hal yang salah kepada perempuan yang tidur di atasnya dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang dan penuh dengan kemenangan yang tidak pernah benar-benar memuaskan, ia tidak tahu harus melakukan apa.

Mendapatkan kepercayaan Pearl kembali akan jauh lebih sulit dari membangun semua yang sudah ia bangun selama ini.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, Lorcan duduk di lantai di samping seseorang dan tidak merasa bahwa itu di bawah martabatnya.

Justru sebaliknya.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!