NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

...Tidak semua rasa datang untuk dimiliki.....

...Ada yang hadir hanya untuk di uji.....

...Kemudian dilepaskan begitu saja.....

...Meski hati belumlah siap.....

Hati itu berjalan,..tapi untuk ketiga orang yang ada dikelas itu. Masing masing seolah berperang dengan pikirannya masing masing.

Koridor masih ramai dengan tawa yang masih terdengar. Obrolan ringan yang saling bersahutan dan dunianya yang masih tetap berputar seperti biasa.

Akan tetapi tidak untuk Syahira. Langkahnya masih sama, tapi tidak ada jarak antara tubuh dan jiwanya sendiri.

Ia berhenti didepan tangga, menatap kosong ke bawah dengan tangannya yang memeluk kitab tapi genggamannya itu tidak seerat seperti biasanya hari itu.

"Kenapa sih ya Robb, susah banget,.." gumamnya lirih. Depresot akan apa yang ia rasakan saat ini, bukan tentang hafalan ataupun lainnya melainkan hal.yang seharusnya tidak ia rasakan.

Deg.

Ia langsung memejamkan mata lagi. Menarik napasnya dalam seraya menghembuskannya perlahan.

"Ini harus selesai,..bukan nanti, tapi sekarang."

Disisi lain, Bilal berjalan cepat melewati koridor berbeda. Langkahnya lebih panjang dari biasanya.

Seolah ingin segera menjauh dari sesuatu ataupun seseorang.

Beberapa mahasiswa menyapa. "Assalamualaikum, ustadz."

"Wa'allaikum warahmatullahi." jawabnya singkat dan tidak menoleh lama. tangannya mengepal disisi tubuhnya. Ia masuk ke ruang dosen..lalu langsung menutup pintu.

Sunyi, baru kali ini ia merasakan sesaknya luar biasa. Ia bersandar di kursi, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Ini nggak bisa dilanjutin,.." batin Bilal. Ia tau selama mereka masih diruangan yang sama rasa itu tidak akan hilang juga. Dan itu berarti ia harus segera memutuskan untuk membuat jarak diantara keduanya.

Sementara itu, diparkiran Kaizan masih berdiri ditempat yang sama seperti tadi. Tapi kali ini ia tidak sekedar mengamati.

Ia terus berpikir keras dan kedua matanya menyapu ke arah gedung, lalu kembali tidak ada siapapun.

"Kalau gue diem aja, ini bakal makin parah." ia menghela napas panjang. "Dan kalau gue ikut campur, bisa makin kacau."

Kaizan mengacak rambutnya frustasi akan instingnya sendiri, bergelut antara ikut campur atau tidak, bertidak atau tidak ia dibuat pusing sendiri. Tapi dirinya tidak bisa tidak peduli.

Karena dua pilihan itu sama sama beresiko menurut pemikirannya itu. "Anjir..kenapa jadi gue yang pusing mikirin sih, haish masalah bukan masalah gue,.. argh."

Biasanya yang sudah sudah, dia tinggal lempar kalimat, selesai dan orang lain yang ribet sendiri setelah ditebak olehnya, tapi sekarang malah Kaizan yang seperti terjebak akan tebakannya sendiri dan yang paling mengganggu adalah ia sangat peduli dan tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Didalam.kelas lain, Syahira duduk sendirian meskipun bukan di jam pelajaran. Tapi ia memilih tetap disana.

Lebih aman, dari pada harus berpapasan lagi. Dan kitabnya terbuka. Tapi matanya malah kosong. Beberapa detik sampai ke menit dan endingnya ia menunduk dengan kedua tangannya yang menutup wajahnya.

"Nggak boleh,.." suaranya bergetar "Aku nggak boleh kayak gini.." dan untuk pertama kalinya, air matanya jatuh begitu saja. Ia pun sadar ini bukan sekedar rasa yang biasa tapi melainkan ujian yang sedang ia hadapi saat ini.

Langka kakinya terdengar di luar, Syahira langsung mengusap cepat wajahnya. seraya merapikan diri. Dan menarik napasnya.

Pintu pun terbuka, kemudian seseorang pun masuk dengan langkah santai seperti biasa.

Deg. Kaizan berhenti didepan pintu, namun tidak langsung masuk lebih dalam lagi. Matanya langsung menatap satu hal.

Syahira sendiri, dan jelas baik baik saja. Untuk beberapa detik. Ia tidak bicara lalu akhirnya "Lo lari terus capek nggak sih?"

Kalimat itu keluar pelan, tidak setajam biasanya. Syahira menegang dengan menatap refleks sambil memegang kitab.

"Gue nggak lari dari siapa siapa" jawabnya cepat. Kaizan hanya mengangguk cepat. "Dari orang mungkin nggak,.." ia melangkah satu langkah masuk."

"Tapi dari diri sendiri?"

Deg.

Syahira pun langsung terdiam membeku, Kaizan menghembuskan napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya di meja terdekat.

"Gue nggak peduli Lo mau ngaku atau nggak." Nada suaranya tetap santai, tapi kali ini lebih dalam.

"Tapi kalau Lo terus kayak gini,..yang hancur bukan cuma Lo Ra." dan baru kali ini ucapan Kaizan benar benar bikin Syahira membeku bukan lagi menyindir melainkan memperingatkan.

Dan ditempat lain, Bilal masih duduk diam di ruang dosen. Matanya terpejam dengan tangannya yang mengepal erat.

Keputusan itu, mulai terbentuk perlahan tapi pasti dan kali ini ia bukan hanya mengucapkannya sekedar niat melainkan harus ia lakukan.

Sementara dirumah, Feryal duduk santai selonjoran di sofa ponselnya pun berada ditangannya. chat terakhir masih terbuka.

Tak lama Kaizan chat lagi, Feryal mengangkat alisnya heran "Aneh banget nih orang, ada ada aja."

ia hanya tersenyum tipis melihat Chatnya lalu ia taruh lagi di atas meja dan kembali ia merebahkan tubuhnya dengan satu tangan yang terlipat di atas dahinya seraya memejamkan kedua netranya.

Di kampus. Kelas masih berjalan seperti biasa, suara lantunan ayat terdengar saling bersahutan satu sama lain, sebagian ada yang lancar sebagian lagi masih putus putus. Namun dibalik itu semua ada hal yang tidak bisa nampak tapi tetap terasa didalam dada dan otak mereka satu sama lain yang merasakannya.

Perang tanpa suara, hanya berbisik lewat dentuman jantung yang tidak baik baik saja, meski nampak tenang terlihat. Syahira menunduk dengan. Bibirnya tetap bergerak mengikuti ayat yang sedang dibaca, tapi pikirannya jauh dari sana.

Setiap kali ia mencoba fokus, semakin jelas rasanya. Ia masih menggenggam kitab itu lebih erat. "Fokus Ra,..fokus ya Alloh."

Namun suara di depan kelas itu,..terlalu familiar. Terlalu dekat

Deg. Ia langsung menghentikan bacaannya sejenak, menarik napas panjang. Sementara di depan Bilal tetap berdiri dengan sikap tenangnya.

Ia menjelaskan seperti biasa, tidak ada yang berubah dari luar. Tapi didalam ia tahu dirinya sedang berada di titik yang berbahaya.

Matanya sempat terarah lagi, dan seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak kasat mata.

Deg. Sepersekian detik. Cukup untuk membuat napasnya tertahan. Ia langsung memalingkan wajah, melanjutkan penjelasannya seolah tidak terjadi apa apa.

"Ya Robb aku nggak boleh kelamaan kayak gini."

Dibangku belakang, Kaizan menghela napas panjang. "Parah sih,.." gumamnya pelan. Ia sudah tidak sekedar menduga. Ia meyakinkan halnya yang ia rasakan.

Dan itu justru yang bikin dia makin tidak nyaman. Ia mengusap wajahnya kasar. "Kalau gue diem,..bisa makin jauh."

"Tapi kalo gue ikut campur,..bisa makin kacau urusannya." Kaizan menatap dua sosok itu lagi lebih lama dan tak lama ia berdecak kesal.

"Kenapa gue yang harus dikasih liat ginian sih." gumam Kaizan ia jadi depresot sendiri dengan instingnya sendiri.

Bek tanda istirahat akhirnya berbunyi, kelas mulai ramai kembali, dan suara kursi pun bergeser dengan tawa kecil yang mulai terdengar lagi.

Syahira langsung berdiri, tanpa banyak bicara "Ra, kantin yok?" tanya Calysta. Syahira menggeleng pelan. "Nggak dulu,.."

Tanpa menunggu, ia langsung melangkah keluar kelas dengan cepatnya. Seperti menghindar dari sesuatu, dan lebih tepatnya dari seseorang.

Koridor terasa lebih lengang, ia melangkah lambat dan berhenti didekat jendela. Syahira menatap keluar tidak ada siapapun.

Tapi kali ini ia tidak menahan apapun, air matanya keluar begitu saja ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya "Ya Allah aku capek kalo kayak gini terus,.." bukanlah capek fisik melainkan hati yang terus ia paksa untuk terus lurus semetara arahnya semakin membuatnya goyah.

ia pun memejamkan kedua matanya dan tanpa sadar sebuah kalimat terlintas di benaknya saat ini, seolah ia pernah membacanya atau mungkin hatinya sendiri yang berbicara;

...Cinta tidak memberi selain dirinya,.....

...Dan tidak mengambil selain dari dirinya.....

...Ia tidak memiliki,.....

...Dan tidak pula ingin di miliki......

...Karena cinta telah cukup bagi cinta itu sendiri....

...(Kahlil Gibran)...

Deg.

Syahira membuka matanya perlahan. Napasnya tertahan ia diam membeku seraya membatin sambil menyeka airmatanya yang masih berjatuhan dari tadi.

"Kalau ini Cinta,..kenapa rasanya ini salah ya Alloh,.." bisiknya lirih. Kembali ia mencengkram kitab di dadanya lebih erat.

"Kalau ini ujian untukku, kenapa ini rasanya berat banget ya Allah." Syahira berusaha menghela napasnya seraya menghembuskannya perlahan meskipun rasa sesak ia rasakan saat ini.

Di sisi lain koridor..Kaizan berdiri tidak terlalu jauh, ia tidak mendekat tapi cukup untuk dirinya melihat dan baru kali ini ia tidak melihat Syahira sebagai tebak tebakan melainkan seseorang yang sedang jatuh.

Dan itu tidak enak untuk ia lihat. Rahangnya kembali mengeras, "Gue kayaknya harus lakuin sesuatu." gumamnya bertekad meskipun langkahnya masih saja tertahan entah kenapa.

Sementara itu, di dalam ruang dosen, Bilal duduk sendirian dengan kedua tangannya saling mengunci dengan kepalanya menunduk.

"Aku tau ini salah,.." ia menarik napasnya dalam dan berbisik pelan akan tetapi "kenapa sih hati ini masih ngebangkang mulu Yallah." dan baru kali ini ia merasakan takut pada dirinya sendiri. Ia pun memejamkan matanya sebentar.

Ditempat lain Feryal duduk diatas motornya, helm sudah terpasang, mesinnya pun sudah menyala akan tetapi yang belum jala yaitu dia pikirannya yang masih melayang ke mana mana. Bahkan ke semalam pada seseorang yang tawanya saja sudah berasa ada yang beda dari biasanya.

Drrrrttt

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!