NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Naya

Bab 7 – Naya

Aku duduk di depan Bima! Bima DEWANTARA! AAAAAA! Gila ganteng ganteng ganteng. Kalau ini film kartun, kali aku udah guling-guling keliling kafe. Terus keluar kafe dan teriak senang seperti pemain bola lagi selebrasi.

Tapi nggak mungkin. Ini bukan kartun. Ini kehidupan nyata. Aku harus bisa mengatur raut wajahku untuk tetap tenang. Cool. Jaga image. Jangan keliatan banget kalau lagi deg-degan. Harus anggun dan profesional.

Eh, dia bisa denger suara jantung aku nggak ya? Nggak mungkin, kataku dalam hati sambil menggelengkan kepala.

Bima yang cuma celana jins belel dan jumper polos warna hitam, duduk di hadapanku. Menatapku sambil tersenyum.

Kok ada ya, cowok kaya gini. Cuma pake celana jins belel dan jumper polos warna item doang, tapi keliatan kayak orang abis mandi pake air tujuh kembang! Udah mana tinggi, kulitnya putih, bersih. Rambutnya lebat, kayak selalu pake lidah buaya. Hemmm, apa dia pake lidah buaya ya? Nicholas Saputra aja, rambutnya udah mulai botak, tapi ini masih keliatan tebel.

Tapi kenapa dia diem aja ya? Kenapa dia cuma ngeliatin aku aja. Apa sih maksud dia ngajak aku ketemuan?

Aku miringkan kepala sedikit sambil menatapnya. Mencoba memberikan kode.

Bima balik menatapku sambil tersenyum.

Astaga malah senyum dianya! Heh, jangan ganteng-ganteng amat napa sih!

Aku pejamkan mata sejenak, ambil napas, lalu menatapnya, cool, tenang, profesional, “Kamu mau pesan acara pernikahan sama WO aku?”

“Oh. Nggak!” Bima menegakkan duduknya dan menyimpan kedua tangannya di atas meja.

“Jadi?”

“Aku….” Bima menggantungkan kalimatnya, seperti sedang menyusun kata-kata yang tepat.

Aku menatapnya dengan serius, menunggu jawabannya.

“Aku pengen kenalan aja sama kamu,” jelasnya dengan suara nada mantap.

What the heck! Maksudnya apa? Kenalan gimana nih. Kenalan ngapain nih? Ini bercanda apa serius. Aku melongo ke belakang Bima, ke kanan, kiri, dan sekeliling, berusaha mencari apakah ada kamera tersembunyi?

Pelayan datang membawakan pesanan.

“Makasih,” kata Bima pada pelayan itu.

Pelayan itu pergi. Aku masih bengong, mencari tahu apakah pelayan itu adalah kru film, yang kemudian akan bilang ke aku, kena deh!

“Boleh nggak?” tanyanya membuyarkan segala overthinkingku.

“Maksudnya. Kenalan gimana ya?”

“Ya kenalan dalam artian aku pengen kenal kamu lebih lanjut. Jadi temen atau…”

“Tunggu dulu!” aku stop supaya Bima nggak ngomong lebih lanjut atau aneh-aneh. “Kamu ngontak aku, cuma pengen jadi temen?”

Bima mengangkat kedua bahunya, “Ya kalau bisa sih, lebih.”

Wow! Ada nih cowok kaya gini nih, nggak kenal nggak apa, tiba-tiba pengen jadi temen terus ngajak lebih. Ya tapi ini Bima sih, kalau jamet, mungkin udah aku siram air kopi. Tapi…

“Itu juga, kalau kamu masih single. Sori kalau ternyata kamu udah menikah, tapi aku liat kamu nggak pake cincin kawin, jadi…”

Aku menggelengkan kepala, “Sori. Sori. Sori!” Biar kata dia itu Bima, Sang Bima! Aku bukan cewek murahan. Aku punya harga diri. “Aku baru aja putus tunangan.”

“Oh,” wajahnya tampak lebih gembira, alis matanya naik sebelah.

“Kayaknya aku nggak bisa semudah itu pacaran dengan yang baru,” walau dalam hati aku, aku memaki diriku sendiri, sok jual mahal, sontoloyo!

“Oh, aku ngerti. Kita bisa pelan-pelan, temenan dulu aja.”

“Hummm…”

“Sebagai temen, aku pengen tau aja, kalau kamu mau cerita. Kapan putusnya dan kenapa putus tunangan?”

“Dua minggu yang lalu. Di nikahan Nanda.”

“Oh! Yang kamu nangis di toilet itu?” katanya agak sedikit kencang, karena semangat sekali.

“Sssh! Nggak usah kenceng-kenceng juga kali.”

“Oh, sori!” katanya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Jadi kamu nangis bukan gara-gara nabrak aku, tapi gara-gara abis diputusin?” tanyanya dengan suara normal, sambil memajukan badannya agar bisa bicara lebih dekat denganku.

“Iya. Pake WA doang pulak.”

“Wah, sangat gentleman ya.”

“Padahal baru tunangan seminggu, rencananya nikah lima bulan lagi. Aku sekarang bingung harus gimana. Dia bahkan belum bilang sama orang tua aku, kalau aku batal nikah. Mana orang tua aku nanyain mulu, udah pesen gedung, udah pesen katering, pake adat sunda kan? Pusing aku jadinya,” aku nggak sadar kalau jadi terlalu curhat sama Bima.

Semoga dia nggak bosen dengerin aku ngomong, kataku dalam hati.

“Oh! Gini aja.”

“Gimana?”

“Nggak usah dibatalin pernikahannya, nikah sama aku aja!”

“Hah?” aku kaget mendengar ajakannya.

“Hah?” dia sepertinya jadi kaget mendengar aku kaget.

“Hah?” aku jadi kaget karena dia ikutan kaget.

Aku dan Bima saling berpandangan. Kami saling diam, lalu sama-sama menundukkan kepala.

Dia bercanda apa gimana sih? Aku bicara dalam hati.

“Sori, kayaknya aku bikin kamu bingung ya?”

Menurut loh! Aku mengangguk dan berkata dengan suara tenang, “Iya.”

“Kalau gitu aku minta kamu pikirin dulu aja. Sebetulnya aku memang sedang serius mau berkeluarga. Aku nggak akan maksa siapa pun, tapi aku minta kamu pikirin apa yang aku bilang tadi.”

--

Oh tentu saja. Aku pasti mikirin. Semaleman aku nggak bisa tidur. Gulang guling di kasur. Diajak nonton film di TV sama Papa dan Mama, malah nonton filmnya Bima. Scrolling medsos, munculnya iklan Bima lagi minum air kelapa.

“Aaaaaarrrhh!” aku teriak di bawah bantal.

Aku ambil ponselku, lalu aku telepon Devi.

“Udah tidur?” tanyaku.

“Kalau udah, nggak aku angkat telepon kau, neng!” Devi terdengar kesal. “Ada apa?”

“Heeemm…”

“Alfian kenapa lagi?’

“Bukan soal dia.”

“Terus?”

“Gimana ya. Elu pasti nggak percaya.”

“Ya udah, nggak usah cerita.”

“Eh! Jangan dong, masa nggak jadi cerita?”

“Eh, buruan. Ini udah jam satu. Gue kan kerja besok. Nggak kaya elu yang freelance. Gue harus di kantor jam delapan!”

“Tau deh, yang ASN!”

“Nay, apaan buruan?” Devi menghela napas kesal.

“Oke, tapi jangan ketawa.”

“Iyaaa, cepet!”

“Aku kenalan sama Bima. Terus Bima ngajak aku nikah.”

“Hah? Bima siapa?”

“Bima Dewantara.”

Hening. Tidak ada suara dari Devi.

“Dev, elu tidur ya?”

“Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?”

“Iya kan!”

“Udah ah. Udah malem, tidur dulu baru mimpi!”

Aku matikan sambungan telepon dan termenung sampai subuh. Setelah solat subuh, aku baru bisa tidur.

Alhasil, mama masuk ke kamar dan marah-marah, “Udah mau jadi istri orang, kok masih aja kayak anak SMA. Abis subuh malah tidur. Bangun! Beberes!”

Ya udah, aku mandi terus nyapu. Tentu saja nyapu sambil bengong.

Alhasil, mama marah lagi, “Kamu itu kalau nyapu yang bener, mau suaminya berewokan? Eh, Alfian sih nggak berewokkan ya?”

Aku bengong, malah mikirin gimana tampang Bima kalau berewok. Pasti ganteng sih.

Oke, ini udah nggak sehat. Aku ambil ponselku dan mengirimkan pesan pada Bima.

Naya    : Nanti sore bisa ketemu?

Bima    : Bisa dong. Di mana? Jam berapa?

Naya    : Sama kaya kemaren?

Bima    : Oke. See you.

1
Q. Adisti
menyala bimaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!