Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
“Aji… sekarang ada di Polsek,” ucap ibunya Aji cepat.
Sekar membeku. Meski semalam ia tahu laporan sudah dibuat, ia tidak menyangka prosesnya akan secepat ini. Dadanya langsung terasa sesak bukan karena menyesal, tapi karena realita itu akhirnya benar-benar terjadi.
“Kita ini keluarga,” lanjut ibunya Aji, kini menatap Sekar lekat. “Walau bagaimana pun, ada Sea yang mengikat kalian berdua. Janganlah main lapor-lapor segala.”
Kalimat itu seperti menyalahkan. Seperti semua yang terjadi… adalah keputusan yang berlebihan.
Sebelum Sekar sempat menjawab, ibunya sudah lebih dulu bersuara. Nada bicaranya tenang, tapi tegas dan tidak memberi ruang untuk dibantah.“Keluarga itu nggak saling menyakiti.”
Ruangan langsung hening.
“Anak kalian sudah sangat zalim sama putri saya,” lanjutnya, matanya tajam. “Dia selingkuh, dia memfitnah Sekar, dan sekarang dia memukulnya.” Setiap kalimat diucapkan dengan jelas, tanpa ragu. “Saya nggak bisa maafkan itu.”
Ibunya Aji terlihat tersentak, tapi ia belum menyerah. “Tapi… bagaimana dengan Sea?” suaranya melembut, mencoba memainkan sisi yang lain. “Apa kalian nggak apa-apa kalau Sea punya ayah di penjara?”
Pertanyaan itu… tepat mengenai titik lemah Sekar. Tangannya mengendur. Ia menunduk. Bayangan itu… tentu saja tidak mudah diterima. Seorang anak tumbuh dengan ayah di balik jeruji, bukan masa depan yang ia inginkan untuk putrinya.
Namun sebelum keraguan itu berkembang lebih jauh, ibunya kembali berbicara. “Itu resiko hidup,” katanya tegas. “Siapa yang salah, harus siap menanggung akibatnya.” Tidak ada kompromi dalam suaranya.
Ibunya Aji terdiam sejenak, lalu saling bertukar pandang dengan suaminya. Seolah mereka sudah menyiapkan sesuatu. “Kami… mau menawarkan jalan tengah,” ucapnya kemudian.
Sekar perlahan mengangkat kepala.
“Hak asuh Sea… kami serahkan ke kamu,” lanjutnya. “Tapi… Aji harus dibebaskan.” Ruangan kembali sunyi. “Dan saya jamin,” tambahnya cepat, “Aji nggak akan mengulangi lagi.” Janji itu terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang sudah berkali-kali dilanggar.
Sekar tidak langsung menjawab. Dan di detik itu, semua menjadi jelas. Ia tidak butuh janji. Ia tidak butuh perubahan dari Aji. Ia hanya butuh… anaknya. “Aku setuju,” ucap Sekar akhirnya, pelan tapi pasti.
Ibunya menoleh, memastikan. Tapi kali ini Sekar tidak goyah.
Hanya itu yang ia mau.
Akhirnya, sebuah perjanjian dibuat di atas kertas. Ditulis dengan jelas, ditandatangani kedua belah pihak, disaksikan langsung. Ibunya Sekar memastikan setiap poin tidak merugikan anaknya, tidak ada lagi ruang untuk kepercayaan kosong.
Setelah semuanya selesai, suasana sedikit melonggar. Tapi tidak benar-benar hangat. Ibunya Aji menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada yang berubah, lebih lirih, hampir seperti penyesalan. “Harusnya… kita bisa jadi keluarga yang hangat.”
Sekar diam.
“Aji dan Sekar… membesarkan Sea bersama,” lanjutnya, kini menoleh ke arah ibu Sekar. “Besan… apa nggak bisa dipertimbangkan lagi?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Namun jawabannya datang cepat. “Tidak.” Satu kata dari ibunya Sekar. Tegas. Tanpa celah. Tidak ada lagi yang perlu dibahas.
Ibunya Aji akhirnya menoleh pada Sekar. “Sekar… pikirkan baik-baik. Demi Sea.”
Sekar tidak menjawab. Karena untuk pertama kalinya ia merasa… ia justru sedang melakukan yang terbaik untuk anaknya.
Tak lama, mereka pun pergi. Pintu tertutup. Rumah kembali sunyi. Sekar masih duduk di tempatnya, pikirannya belum benar-benar tenang. Semua terjadi begitu cepat. Terlalu cepat.
Ibunya duduk di sampingnya, menepuk pelan pundaknya. “Nggak usah dipikirkan lagi,” katanya lembut, tapi tetap tegas.
Sekar menoleh.
Ibunya menatap lurus ke depan, lalu menambahkan dengan nada ringan yang sedikit berbeda dari sebelumnya, “Ada Damar… ngapain kamu balik ke laki-laki seperti itu.”
Sekar terdiam. Kalimat itu… seharusnya sederhana. Bahkan mungkin terdengar seperti solusi. Tapi bagi Sekar hidupnya tidak sesederhana memilih antara dua laki-laki.
***
Hari-hari pertama Sea resmi tinggal bersama Sekar tidak sepenuhnya dipenuhi kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Ada rasa lega, tentu saja akhirnya mereka kembali bersama. Tapi di balik itu, ada luka-luka kecil yang perlahan terlihat, luka yang tidak kasat mata, tapi terasa nyata dalam keseharian mereka.
Malam pertama, Sea tidur memeluk Sekar begitu erat, seolah takut jika sedikit saja ia melepas, ibunya akan menghilang lagi. Sekar tidak bergerak banyak, bahkan saat tangannya mulai pegal. Ia hanya menatap langit-langit kamar dalam diam, sesekali menunduk melihat wajah putrinya yang masih menyimpan sisa lelah.
Namun benar saja, tengah malam, Sea terbangun. “Ibu…” suaranya gemetar.
Sekar langsung tersadar. “Iya, sayang. Ibu di sini.”
Sea memeluknya lagi, lebih erat dari sebelumnya. Nafasnya tidak teratur. “Jangan tinggalin Sea…”
Hati Sekar seperti diremas. Ia mengusap punggung anaknya perlahan. “Nggak akan… ibu janji.”
Dan malam itu tidak hanya sekali. Dua kali. Tiga kali.
Hari-hari berikutnya pun tidak jauh berbeda. Sea menjadi lebih sensitif—suara pintu yang tertutup sedikit keras saja bisa membuatnya terkejut. Ia juga selalu memastikan Sekar ada di dekatnya, bahkan saat hanya ke dapur.
“Ibu ke mana?” tanyanya cepat setiap kali tidak melihat Sekar.
Sekar tidak pernah menjawab dengan kesal. Ia selalu kembali, selalu menjelaskan, selalu memastikan Sea merasa aman. Di tengah semua itu, Sekar mulai membangun kembali kehidupan kecil mereka. Perlahan, tapi pasti.
Ia mengurus pendaftaran sekolah Sea. Tidak mudah, karena sudah lama tertinggal, tapi Sekar tidak menyerah. Ia juga mendaftarkan Sea ke les tambahan, bukan untuk memaksa, tapi untuk membantu mengejar pelajaran yang sempat hilang.
Setiap pagi, Sekar mulai membiasakan rutinitas baru. Bangun bersama, sarapan bersama, memastikan Sea makan dengan cukup, sesuatu yang dulu bahkan tidak bisa ia pastikan. Ia juga lebih memperhatikan kesehatan Sea, jadwal makan, waktu istirahat, hingga hal-hal kecil seperti camilan dan susu.
Semua terasa sederhana, tapi bagi Sekar… ini adalah bentuk perjuangan. Bukan lagi melawan siapa-siapa. Tapi membangun kembali.
Suatu sore, setelah seharian membereskan kamar dan menyusun ulang barang-barang Sea, mereka duduk di lantai ruang tengah. Mainan baru masih berserakan, tapi wajah Sea terlihat lebih hidup dari sebelumnya.
Ia melihat sekeliling rumah itu dengan perlahan, seolah sedang memastikan sesuatu. Lalu ia menoleh pada Sekar. “Ibu…”
“Iya?”
Sea tersenyum kecil. “Ini rumah kita ya, Bu?”
Sekar terdiam. Pertanyaan itu sederhana. Tapi maknanya… begitu dalam. Ia menatap mata anaknya, lalu mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya lembut. “Ini rumah kita.”
"Ibu keren ya. Selalu membuat Sea bangga!" Sea langsung tersenyum lebih lebar, lalu memeluk Sekar tanpa ragu. Dan di pelukan kecil itu Sekar akhirnya merasa ia tidak hanya berhasil membawa pulang anaknya. Tapi juga… membangun kembali rumah yang selama ini hilang.
***
Hari itu benar-benar menguras tenaga Sekar. Sejak pagi ia sudah tenggelam dalam revisi terakhir kontrak novel terbarunya, deadline yang sempat tertunda karena semua kekacauan hidupnya. Tapi kali ini ia menyelesaikannya dengan perasaan berbeda. Lebih tenang, lebih terarah. Seolah hidupnya yang dulu berantakan, perlahan mulai menemukan ritmenya kembali.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗